Abock Busup Sesalkan Informasi Hasil Test Kesehatan Yang Bocor di Medsos

Calon Bupati Yahukimo, Abock Busup, MA saat memberikan keterangan pers kepada wartawan

 

JAYAPURA (PB.COM)—Calon Bupati Yahukimo, Papua Abock Busup, MA menyesalkan bocornya informasi hasil test swab yang beredar luas di media sosial, dimana dirinya dinyatakan sebagai salah satu dari 9 bakal calon kepala daerah di Papua yang terpapar Covid-19 yang maju pada Pilkada Serentak Papua 2020.

“Sampai hari ini, saya belum dapat hasil pemeriksaan kesehatan secara resmi dari dokter maupun pihak KPU. Tapi kok malah beredar luas di medsos. Kalau ada surat resmi, mana suratnya dan lalu langkah apa yang diambil pihak Satgas Covid untuk saya dan keluarga serta seluruh anak buah saya, baik sopir, ajudan, dan lain-lain yang biasa ikut saya,” kata Abock kepada wartawan, Senin (14/09/2020).

Menurut Abock, ada pihak tertentu yang bermain untuk membunuh karakternya di Pilkada kali ini. Sebab ada kejanggalan dalam informasi yang beredar dimana tak ada surat hasil pemeriksaan  kesehatan secara resmi dari kedua lembaga itu baik rumah sakit tempat pemeriksaan maupun KPU. Dan jika benar ia terkena Covid, kata Abock, pasti penanganannya akan dilakukan seperti di Supiori.

“Saya dapat informasi di Supiori para calon yang positif Covid langsung diberitahukan resmi, dikarantina di hotel dan semua orang yang kontak langsung diperiksa. Sementara saya sampai hari ini belum terima surat resmi dari dokter atau KPU, tapi beritanya sudah heboh di medsos. Ada apa ini? Lalu kenapa hanya saya yang disoroti media?,” kesal Abock.

Abock menegaskan pihaknya akan menempuh jalur hukum atas pencemaran nama baik yang dilakukan sejumlah pihak, di antaranya oknum anggota KPU Yahukimo dan pemilik salah satu akun kanal youtube yang menyebarkan informasi ini secara tidak bertanggung jawab dengan pernyataan yang menyudutkan dirinya.

“Saya berani datang ketemu teman-teman wartawan karena sejak periksa tanggal 10 September sampai hari ini, tidak terima surat hasil pemeriksaan dari pihak manapun, baik KPU maupun dokter yang memeriksa. Dan saya pun dalam keadaan sehat-sehat. Saya nilai ada kelompok tertentu yang bermain untuk jatuhkan saya. Saya tidak segan-segan akan laporkan ke Cyber Polda Papua,” katanya.

Ia meminta pihak KPU, baik KPU Provinsi Papua maupun KPU Yahukimo untuk bisa menjaga kerahasiaan data kesehatan dan bijaksana dalam melihat kondisi di Papua. Sebab keteledoran seperti ini bisa memicu konflik antarpendukung di tengah masyarakat di Yahukimo.

Data Pasien Covid Tak Dibuka Ke Publik

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, SpOG(K) dikonfirmasi papuabangkit.com Senin (14/09/2020) malam menegaskan bahwa secara Undang-Undang Kesehatan, data pasien yang menderita penyakit apapun, termasuk Covid tidak boleh dibuka ke publik, apalagi dengan penyebutan nama.

“Satgas tidak mengurus (pemeriksaan para calon) itu. Ini betul-betul ranah dari teknis medis, tempat dimana dilakukan pemeriksaan para calon kepala daerah. Tetapi sekali lagi, secara aturan main, ini rahasia medis yang tidak bisa dibuka ke publik. Bisa lakukan konfirmasi ke tempat pemeriksaan,” kata Silwanus via telepon selulernya.

Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengakui pihaknya selaku penanggung jawab fasilitas kesehatan rujukan tertinggi memang menjadi tempat pemeriksaan kesehatan bagi para bakal calon kepala daerah yang akan bertarung pada Pilkada Serentak di Papua.

“Tetapi kami tidak punya wewenang untuk mengumumkan hasil pemeriksaan. Tugas kami hanya periksa. Yang berwenang mengumumkan itu adalah KPU Papua. Dan kami sudah serahkan hasilnya ke KPU. Namun sekali lagi menyangkut data kesehatan seorang pasien, memang tidak boleh diumumkan ke publik. Secara aturan medis tidak boleh,” kata Aloysius.

Sebagaimana diketahui sepekan belakangan beredar informasi melalui whatssapp tentang hasil pemeriksaan kesehatan para bakal calon kepala daerah dalam bentuk pdf, dimana tertera ada 9 nama bakal calon kepala daerah di Papua yang dinyatakan positif. Anehnya, kop dari surat tersebut tanpa ada identitas, baik nama lembaga maupun penanggungjawabnya. (Gusty Masan Raya)

Dalam Dua Pekan, 841 Kasus Covid Baru dan 17 Orang Meninggal di Papua

 

Kepala Dinas Kesehatan Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes 

 

JAYAPURA (PB.COM)—Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, hingga Sabtu, 12 September 2020 tercatat jumlah angka kumulatif kasus Covid di Bumi Cenderawasih menembus angka 4.461 kasus, dimana 3.422 (77 %) dinyatakan sembuh, 980 pasien (19 %) sedang menjalani perawatan medis, dan 59 orang (1 %) telah meninggal dunia.

Artinya, dalam dua pekan terakhir, terhitung sejak 27 Agustus hingga 12 September 2020, terdapat tambahan 841 kasus baru di Bumi Cenderawasih dan jumlah kematian bertambah 17 kasus dari 42 menjadi 59 kasus. Sementara jumlah angka kesembuhan yang pada 27 Agustus mencapai 85 persen kini turun menjadi 77 persen.

Update pekembangan kasus Covid-19 di Provinsi Papua per 12 September 2020.

 

Mencermati hal ini,  Kepala Dinas Kesehatan Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes meminta para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan OKP di Papua untuk bahu membahu bersama pemerintah daerah untuk mengingatkan masyarakat agar disiplin mematuhi pr0tokol kesehatan demi menekan laju kasus Covid di Bumi Cenderawasih.

“Covid ini belum selesai, dan wabah ini mulai mengamuk. Untuk Papua, sejak 22 Maret hingga hari ini, justru puncak kasus tertinggi di dua pekan terakhir ini, bukan bulan Juni atau Juli tetapi di dua pekan terakhir ini. Hari ini ada 113 kasus baru. Pekan ini 367 kasus. Padahal sebelumnya kenaikannya tidak seberapa. Hampir di semua zona merah angkanya bertambah terus,” kata Robby Kayame saat menghubungi  papuabangkit.com melalui telepon selulernya, Sabtu (12/09/2020) malam.

Menurut Robby, kunci penanggulangan wabah ada di dalam diri masyarakat sebagai garda terdepan. Karena itu semua elemen masyarakat harus merapatkan barisan untuk saling mengingatkan agar kembali mematuhi protokol kesehatan secara dispilin, baik itu wajib memakai masker, wajib menjaga jarak, wajib menghindari kerumunan, wajib mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, wajib berdoa,  dan wajib periksa kesehatan.

Tim URC dari UP2KP memakamkan jenazah Ny. IM, pasien positif Covid, Senin (07/09/2020) di Pekuburan Buper Waena.

“Kalau tidak disiplin, kita akan kelabakan ke depan. Angka bakal naik terus. Apalagi jumlah kematian pun sudah mulai bergerak naik terus. Soal wacana penutupan bandara atau pengurangan jadwan penerbangan keluar masuk Papua, itu harus dibicarakan dengan Pemerintah Provinsi Papua dan Forkopimda dulu,” kata mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai. (Gusty Masan Raya)

Angka Covid Masih Melonjak, KKP Sarankan Penerbangan Keluar Masuk Papua Dikurangi

Antrian masuk para penumpang yang hendak berangkat di Bandara Sentani, 12 Juli 2020.

 

JAYAPURA (PB.COM)—Angka kasus penderita Covid-19 di Provinsi Papua masih terus bertambah. Dalam dua pekan terakhir, terhitung sejak 27 Agustus hingga 10 September 2020, terdapat tambahan 644 kasus baru di Bumi Cenderawasih.

Sementara kebijakan adaptasi New Normal telah diberlakukan di seluruh Papua setelah Wali Kota Jayapura pada awal September mulai mengambil kebijakan untuk memperpanjang aktivitas ekonomi dari Pkl. 06.00 hingga Pkl 21.00 WIT. Dalam rencana, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka bagi SMP, SMA dan perkuliahan pun mau dimulai pekan ini. Dan jumlah penerbangan keluar masuk Papua pun terus bertambah menuju situasi normal.

Mencermati hal ini, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Jayapura Harold M. Pical, SKM.M.Kes menyarankan kepada Forkopimda di Provinsi Papua untuk mengkaji kembali sejumlah kebijakan di tengah pandemic ini. Utamanya, Harold meminta pemerintah daerah mengurangi jumlah penerbangan keluar masuk Papua.

“Kalau saran saya, sebaiknya dikurangi ya jumlah penerbangan yang keluar masuk Papua. Sebab ini jadi salah satu sebab juga terjadinya penyebaran kasus baru. Sementara sejumlah maskapai seperti Batik dan Sriwijaya sudah dengan penumpang full seat. Kalau penerbangan regional, antardaerah di Papua tidak apa-apa,” kata Harold Pical kepada papuabangkit.com melalui telepon selulernya, Kamis (10/09/2020) malam.

Update pekembangan kasus Covid-19 di Provinsi Papua per 10 September 2020.

 

Menurut Harold, jumlah penerbangan yang semakin banyak keluar masuk Papua dengan  kursi penumpang terisi penuh seperti masa normal membuat physical distancing tentu tidak dipatuhi lagi. Oleh karena itu, ia meminta Pemerintah Provinsi Papua bersama Forkopimda bisa melakukan pertemuan untuk mengevaluasi kebijakan ini.

“Kami benar-benar kewalahan di pintu masuk untuk mengatur antrian penumpang. Areal sudah sempit, terus sekali masuk itu tiga pesawat ya kita kewalahan, apalagi dengan jumlah penumpang sudah mulai normal. Ini sangat berbahaya bagi penularan baru, apalagi rata-rata penumpang hanya dengan dokumen kesehatan hasil Rapid Test yang tidak menjamin dia bebas Covid,” tegas Harold.

Oleh karena itu, kata Harold, hanya ada dua pilihan yaitu menstopkan dulu penerbangan atau mengurangi jumlah penerbangan dari luar Papua. Apalagi, pihaknya di KKP dengan anggaran terbatas tidak bisa berbuat banyak dalam mengambil kebijakan, termasuk merekrut tenaga untuk mem-back up tenaga KKP yang ada.

“Mungkin dikurangi saja demi mendukung ekonomi, tidak distopkan total. Misalnya seminggu sekali, atau seminggu beberapa kali,” tutupnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, hingga Kamis, 10 September 2020 tercatat jumlah angka kumulatif kasus Covid di Bumi Cenderawasih menembus angka 4.264 kasus, dimana 3.384 (80 %) dinyatakan sembuh, 826 pasien (19 %) sedang menjalani perawatan medis, dan 54 orang (1 %) telah meninggal dunia. (Gusty Masan Raya)

URC Belum Terima Insentif, Penguburan Jenazah Covid di Kota Jayapura Molor Enam Jam

Tim URC dari UP2KP usai memakamkam jenazah Ny. S di Pemakaman Buper Waena, Rabu (02/09/2020) malam.

 

JAYAPURA (PB.COM)Kabar duka datang dari Bumi Cenderawasih Papua. Salah seorang pasien Covid-19 berinisial Ny. S (59) dinyatakan meninggal pada Rabu (02/09/2020) sekitar Pkl. 08.00 WIT setelah menjalani perawatan di RS Dian Harapan.

Sesuai SOP, pasien tersebut dikuburkan dengan protokol pemakaman pasien Covid di Pemakaman Khusus Buper Waena. Sayangnya, proses pemakaman jenazah ini diundur hingga 6 jam lamanya. Pasalnya, tim pemakaman yang biasa bertugas memikul peti jenazah dengan pakaian hazmat bernama Unit Reaksi Cepat (URC) awalnya enggan merespon informasi ini di grup whatsapp.

Proses pemakaman pasien Covid an Ny S.

 

“Ya benar, kami akui itu. Kami terlambat mengubur jenazah Ny. S. Sejak kemarin siang memang kami sudah dapat informasi dari pihak RS Dian Harapan terkait jenazah ini. Mereka pun sudah mengontak pihak UPTDP Pemakaman dari Dinas PU dan Perumahan Rakyat Kota Jayapura untuk menyiapkan liang kubur. Jam dua siang liang sudah siap tapi kami Tim URC belum ada yang mau bergerak. Baru bisa kumpul malam dan dikubur jam 8 malam. Mohon maaf kepada keluarga atas keterlambatan ini,” ujar Kepala Bidang Respon Emergency UP2KP, Darwin Rumbik, S.Kep kepada papuabangkit.com, Kamis (03/09/2020).

Menurut Darwin, keengganan dan hilangnya semangat para personil URC dalam melakukan tugas ini adalah akibat kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Provinsi Papua melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua yang hingga kini belum belum memberikan sepeser pun insentif yang menjadi hak mereka.

“Sebagai manusia, tentu kami kecewa karena kerja kami sangat beresiko, tapi seperti tak dihargai. Sudah kita tanyakan ulang-ulang ke pihak Satgas melalui BPBD Provinsi Papua sebulan lebih, jawabannya masih proses dan menunggu. Tidak hanya di URC. Ada juga tim kesehatan yang membantu Kawan Sehat di Diklat BPSDM Kotaraja yang merupakan gabungan UP2KP dan Kesdam XVII/Cenderawasih. Sampai hari ini pun belum dibayar insentifnya,” tegas Darwin.

Salah seorang anggota tim URC Hidayat Wairoy, SKM mengatakan awalnya ia pun tak merespon informasi itu. Tetapi setelah dikontak berulang kali oleh pihak RS Dian Harapan dan mengingat ini tugas kemanusiaan, akhirnya dirinya bersama Maxi Simaela dengan mengajak salah seorang tetangga kosnya dijemput Darwin Rumbiak menuju rumah sakit sekitar Pkl 19.00 WIT malam. Di sana, bergabung Wakil Jubir Satgas Covid Provinsi Papua dr. Aaron Rumainum, M.Kes dan Yamamoto dari Dinas Kesehatan Papua.

“Sampai di sana pun, kami masih dapat marah lagi dari pihak UPTDP Pemakaman Kota Jayapura, mereka yang bawa alat berat Hitachi untuk gali makam. Karena mereka paling lama menunggu dari siang,” kata Hidayat.

Tim URC dari UP2KP usai laksanakan tugas

 

Hidayat meminta agar Pemerintah Provinsi Papua melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua bisa melaksanakan kewajibannya membayar hak-hak mereka sesuai kesepakatan awal. Sebab tim umumnya diisi oleh personil UP2KP dimana hingga hari ini, anggaran UP2KP belum cair.

“Ada yang punya anak istri, kan kasihan kalau sudah empat bulan lebih belum diberikan haknya sama sekali. Ditanya ulang-ulang ke bagian keuangan bilang sedang proses terkait administrasi keuangan, sementara Pemerintah Provinsi bisa rekrut seribu lebih Pemuda Anti Corona (PAC) yang sebenarnya tak efektif menangani wabah ini,” ujar pria lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Uncen ini.

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) dikonfirmasi papuabangkit melalui telepon selulernya menjawab singkat. Ia meminta pihak Tim URC bersabar karena hak-hak mereka akan dipenuhi.

“Tetap akan dibayar. Kami mohon teman-teman bersabar karena sedang diproses,” kata Sumule.

Untuk diketahui, Tim Unit Reaksi Cepat Provinsi Papua ini merupakan gabungan dari UP2KP, Polres Jayapura Kota, Kodim 1701/Jayapura, RSUD Jayapura dan RSUD Abepura. Namun dalam prakteknya, hanya UP2KP dan Polres Jayapura Kota yang aktif.

Tim ini resmi bekerja sejak 20 April 2020 dengan tupoksi utama memakamkan jenazah pasien terkait Covid, baik pasien positif Covid maupun PDP. Selain itu, tugas lain ialah mengevakuasi warga yang mengalami kecelakaan atau sakit mendadak dari TKP/rumah ke rumah sakit.  Sejak bertugas, sudah dua puluhan pasien positif Covid dan belasan PDP sudah dimakamkan tim URC. Selain itu, tim juga sudah mengevakuasi 20-an warga yang mengalami kecelakaan dan sakit menuju fasilitas kesehatan. (Gusty Masan Raya)

Kabar Covid Papua: 1 Meninggal, 25 Kasus Baru, dan 5 Sembuh

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Satu pasien Covid-19 di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, Sabtu (29/08/2020) dinyatakan meninggal dunia setelah dua pekan lebih menjalani perawatan medis di rumah sakit setempat. Ini merupakan kasus kematian pertama di Nabire dan wilayah Mee Pago, yang menambah jumlah kumulatif kematian akibat wabah asal Wuhan di Bumi Cenderawasih menjadi 43 orang (1 persen ) dari total  3.681 kasus.

“Pasien yang meninggal atas nama tuan SM (67) dirawat di salah satu rumah sakit milik pemerintah di Nabire selama 18 hari. Almarhum didiagnosis Covid-19 dengan kasus komorbid diabetes melitus dan jantung. Atas nama Satgas Provinsi Papua kami menyampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) saat memberi keterangan pers secara virtual kepada wartawan, Sabtu (29/08/2020).

Data infografis Covid-19 di Provinsi Papua per 29 Agustus 2020.

 

Menurut Sumule, hari ini juga terdapat tambahan 25 kasus pasien Covid baru yaitu  Mimika ada 23 kasus, Merauke 1 kasus, dan Kota Jayapura sebanyak 11 kasus. Jadi jumlah pasien yang sedang dirawat, baik isolasi mandiri, karantina terpusat maupun di rumah sakit sebanyak 524 atau 14 persen.

Juga ada tambahan 5 pasien sembuh yaitu Mimika 2 orang, Kota Kayapura 1 orang dan Kabupaten Jayapura 2 orang. Dengan demikian, jumlah kumulatif pasien yang sembuh adalah 3.114 orang atau 85 persen.

“Kami meminta perhatian khusus bagi kabupaten-kabupaten yang beberapa hari ini menunjukan trend kasusnya meningkat seperti Merauke, Mimika, Bak dan Nabire. Harapan kami, tetap ikut protokol kesehatan bagi seluruh masyarakat. Khusus untuk pergerakan, Tim Gugus Tugas, petugas KKP dan surveilans harus memantau dengan ketat. Segera lakukan test cepat kalau ada kecurigaan. Saya jaga ko ko jaga saya, kitorang semua selamat,” kata Sumule yang pada Jumat (27/08/2020) dilantik menjadi Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Jayapura ini. (Gusty Masan Raya)

Bertemu Walikota Jayapura, PKS Pastikan Penerapan New Normal di Sekolah Benar-Benar Siap

Ketua DPD PKS Kota Jayapura, Heri Suprayitno, S.Pd dan pengurus berfoto bersama Walikota Jayapura Dr. Drs.Benhur Tomi Mano, MM usai diskusi di ruang kerja Walikota Jayapura, Selasa (25/08/2020) 

 

JAYAPURA (PB.COM)-Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Jayapura, Heri Suprayitno, S.Pd, Selasa (25/08/2020) bertemu Walikota Jayapura Dr. Drs.Benhur Tomi Mano, MM  membahas persiapan penerapan New Normal yang bakal diterapkan Pemkot Jayapura pada awal September mendatang.

“Kami dengar penerapan kebijakan New Normal ini akan diberlakukan di Kota Jayapura menyusul semakin menurunnya kasus Covid-19 dan jumlah angka kesembuhan yang terus meningkat. Kami berdiskusi dan memberi masukan kepada Walikota dengan memastikan bahwa salah satu yang benar-benar harus disiapkan secara matang dan hati-hati ialah pembukaan Kegiatan Belajar Mengahar (KBM) secara tatap muka di sekolah,” kata Heri Suprayitno.

Menurut Heri, PKS Kota Jayapura telah menyebar form aspirasi ke masyarakat terkait rencana penerapan New Normal ini. Dan hasilnya, salah satu kekuatiran masyarakat ialah bahaya klaster baru penerapan Covid-19 di sekolah seperti yang terjadi di Surabaya karena belum matangnya persiapan protokol kesehatan maupun sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh manajemen sekolah.

Walikota yang akrab disapa BTM mengapresiasi masukan dari PKS Kota Jayapura terkait penerapan New Normal, khususnya bidang pendidikan dan aktivitas ekonomi di Kota Jayapura. Ia mengatakan pihaknya akan menjadikan masukan ini sebagai pertimbangan dalam menetapkan New Normal nanti.

“Memang Pemerintah Kota Jayapura akan menerapkan New Normal pada awal bulan September, tetapi dengan catatan dan syarat tertentu. Karena saya juga tidak mau warga saya susah di kemudian hari. Penanganan kesehatan akan sejalan pemulihan ekonomi di Kota Jayapura. Terima kasih buat masukan konstruktif dari PKS,” ujar pria yang juga Ketua Umum Persipura ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung santai namun hangat penuh keramahan di ruang kerja Walikota ini, hadir mendampingi Heri, Sekertaris DPD PKS Andi Mangewai Latif, Ketua Bidang Humas, Burhanuddin, dan anggota DPRD Kota Jayapura dari PKS, Hasanuddin, SE.

Berdasarkan data yang dikeluarkam Satgas Covid-19 Provinsi Papua per 25 Agustus 2020, kasus Covid di Kota Jayapura adalah tertinggi di Provinsi Papua dengan jumlah kumulatif mencapai 2.046 orang, dimana 1.796 sudah dinyatakan sembuh, 222 sedang dirawat dan 28 orang meninggal dunia. (Burhan/Gusty)

Tim URC Kembali Makamkan Satu Pasien Positif Covid di Jayapura

Tim URC ketika memakamkan DPL (46), pasien Covid-19 di Pemakaman Buper Waena, Minggu malam (09/08/2020)

 

JAYAPURA (PB.COM)Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Covid-19 Papua terdiri dari Polres Jayapura Kota, Polda Papua dan Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) memakamkan salah seorang pasien positif Covid pada Minggu (09/08/2020) malam di Pekuburan Khusus Covid Buper Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura.

Berdasarkan data yang diterima redaksi dari Kepala Bidang Respon Emergency UP2KP Darwin Rumbiak, S.Kep, pasien laki-laki (46 tahun) berinisial DPL itu meninggal di RSUD Jayapura pada Minggu petang sesudah menjalani perawatan beberapa hari di ruang ICU dengan memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid.

Tim URC bergerak ke RSUD Jayapura sesudah dikontak oleh Kepala Kamar Jenazah RSUD JayapuraTheresya Tanipa malam hari. Dipimpin  Iptu Ibrahim, tim bergerak dari RSUD Jayapura ke Pemakaman Buper Pkl. 22.20 WIT dan tiba Pkl. 22.50,” kata Darwin kepada papuabangkit.com melalui telepon selulernya.

Menurut Darwin, sudah puluhan orang, baik pasien positif maupun PDP yang dikuburkan tim URC Covid-19. Itu artinya, virus Corona ini benar-benar ada dan sedang mengancam nyawa masyarakat di Papua, seperti daerah lainnya di Indonesia.

“Oleh karena itu kami meminta masyarakat jangan anggap enteng, tetap jaga protokol kesehatan. Fakta yang berkembang hari ini, masyarakat di Papua ini anggap remeh dengan Covid, bahkan ada yang tak percaya dan menuduh kasus Covid di Papua ini hanya rekayasa atau konspirasi. Ini sangat disesalkan,” tegas Darwin yang juga Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan pada Bidang Yankes  Dinas Kesehatan Papua ini.

Darwin menambahkan, sebagai lembaga pengawal kesehatan, UP2KP bertugas mengingatkan masyarakat agar di era pemberlakuan new normal, kesadaran masyarakat untuk hidup dengan cara dan gaya baru yakni mengikuti protokol kesehatan harus benar-benar diimplimentasikan guna terhindar dari Covid.

“Kami berharap, para tokoh adat, tokoh agama dan pemuda bisa menjadi garda terdepan untuk memberi contoh kepada masyarakat dan terus menerus mengingatkan masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta olahraga rutin dan konsumsi makanan bergizi,” tegasnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua per Sabtu, 8 Agustus 2020, total kumulatif warga Papua yang terinfeksi Covid-19 sebanyak 3.173 orang, dimana 1.204 pasien atau 38 persen sedang dalam perawatan, 1.934 orang (61 persen) dinyatakan sembuh, dan 35 orang atau 1 persen meninggal dunia. Virus asal Wuhan ini menyerang 19 kabupaten/kota di Papua dimana 5 di antaranya sudah kembali ke zona hijau. (Gusty Masan Raya)

Semua Pasien Covid di Merauke Sembuh, Tinggal 29 ODP

 

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Merauke, dr Neville Muskita mendampingi Bupati Merauke Frederikus Gebze saat memberi keterangan pers, Kamis (18/06/2020) di Merauke.

 

JAYAPURA (PB.COM)Kabar gembira datang dari bumi Anim Ha di wilayah Selatan Papua. Berdasarkan data per 18 Juni 2020, semua pasien Covid-19 di Kabupaten Merauke dinyatakan sembuh, baik itu pasien positif Covid maupuan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Daerah yang dicap zona merah Covid pertama di Papua ini pun kini berubah menjadi zona hijau karena berhasil mengendalikan dan menangani wabah ini.

“Ya kita bersyukur bahwa hari ini berdasarkan hasil pemeriksaan TCM dari 1 pasien positif dan dinyatakan sembuh. Demikian pun 1 PDP yaitu anak bayi berumur 2 bulan yang hasil TCM-nya negatif sehingga dinyatakan sehat dan tidak mengidap Covid. Dengan demikian, untuk sementara, baik pasien positif maupun PDP yang dirawat di RSUD Merauke nol,” ujar Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Merauke, dr Neville Muskita kepada papuabangkit.com via telepon seluler, Kamis (18/06/2020) malam.

Menurut Plt. Kepala Dinas Kesehatan Merauke ini, kendati saat ini masuk zona hijau alias tak ada lagi kasus positif dan PDP, namun pihaknya tetap melakukan test, tracing, dan treat, mengingat masih terdapat 29 Orang Dalam Pengawasan di sana.

Data Perkembangan Covid Kabupaten Merauke per 18 Juni 2020.

 

“Kita rencana mulai akan lakukan Rapid Test masal. Selain itu, kami juga antisipasi untuk dibukanya penerbangan ke Merauke. Kami juga sudah lakukan simulasi dengan KKP terkait alur atau prosedur penerimaan penumpang yang akan datang dan berangkat. Tapi sampai saat ini memang belum dibuka penerbangannya, kita masih tunggu kapan,” kata Neville.

Saat ini, kata Neville, RSUD Merauke yang sebelumnya merawat pasien Covid dari Boven Digoel pun telah berhasil disembuhkan. Di rumah sakit regional wilayah Selatan ini, sejak pekan lalu mulai diaktifkan alat Test Cepat Molekuler (TCM) untuk membantu pemeriksaan swab.

“Kita bersyukur atas keberhasilan ini. Tetapi kami minta masyarakat jangan bereuforia berlebihan, harus tetap mematuhi protokol kesehatan agar tak ada kasus lagi ke depan,” tegasnya.  

Suksesnya Merauke memang harus menjadi contoh bagi daerah lain di Papua yang sedang bekerja keras menangani dan mengendalikan wabah virus Corona ini,  terutama Kota Jayapura. Sebab perlu diingat, Merauke adalah daerah di Papua yang pertama kali memiliki kasus Covid namun sukses dan cepat bergerak mengatasinya. Apa sih rahasianya?

“Ketika kasus di Jakarta mulai ada sebelum Papua tutup bandara, kami di Satgas Merauke sudah rapat dan putuskan bahwa semua pelaku perjalanan ini kita skrining dan kasih kartu HAK atau Health Alert Card. Ketika pesawat masuk, kita koordinasi dengan KKP sehingga seluruh penumpang langsung diskrining. Data HAK penumpang itu kemudian diserahkan KKP ke kami tim surveilans di Dinas Kesehatan, lalu kami distribusikan ke Puskesmas sesuai tempat domisili sehingga mereka semua dipantau satu-satu. Itu mungkin salah satu kunci kenapa kami mudah kendalikan wabah ini,” kata Neville kepada papuabangkit.com saat diwawancara pada 30 Mei 2020 lalu. (Gusty Masan Raya)

Tambah Lagi 58, Kini Total Pasien Covid di Papua Yang Sembuh 505 orang

Para pasien Covid-19 di Kota Jayapura yang sudah sembuh dan dilepas pada Senin (15/06/2020). Mereka selama ini menjalani perawatan di Hotel Sahid, Jayapura.

 

JAYAPURA (PB.COM)Di tengah masih melonjaknya tambahan pasien Covid-19 yang baru di Papua, ada kabar gembira terkait kesembuhan mereka yang terinfeksi virus asal Wuhan, China ini. Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua per 16 Juni 2020, sebanyak 58 pasien Covid dinyatakan sembuh. Sekalipun, masih ada tambahan pasien baru sejumlah 34 orang.

“Sebanyak 58 pasien yang sembuh itu terdiri dari Kota Jayapura 40 orang, Mimika 15 orang, dan Jayawijaya sebanyak 3 orang. Jadi total jumlah pasien kita yang sembuh per hari ini sebanyak 505 orang atau 39 persen. Naik 1 persen dari 2 hari lalu. Terima kasih kepada seluruh petugas medis di rumah sakit, tim laboratorium dan surveilans yang sudah bekerja luar biasa sehingga mereka bisa sembuh,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) saat memberi keterangan pers secara virtual dari Media Center Satgas Covid-19 Provinsi Papua, Selasa (16/06/2020).

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)

 

Sementara itu, tambahan pasien baru sebanyak 34 orang berasal dari Kota Jayapura ada 27 orang, Kabupaten Jayapura 5 orang, dan Mimika ada 2 orang. Dengan demikian, jumlah kumulatif Covid di Provinsi Papua sebanyak 1.289 kasus, dimana 769 pasien sedang dalam perawatan, 505 orang dinyatakan sembuh, dan 15 orang meninggal dunia. Sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 3.322 orang dan Pasien Dalam Pengawasan sebanyak 357 orang.

Sumule menjelaskan, hari ini terdapat  tambahan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 9 orang dari Kab. Mimika sebanyak 4 orang dan Kota Jayapura sebanyak 5 orang. Sedangkan untuk ODP hari ini bertambah 33 orang yakni dari Kab. Boven Digul sebanyak 1 orang, Keerom 7 orang dan Puncak 25 orang.

“Kami memberi apresiasi kepada tim medis di Kabupaten Keerom, dimana beberapa waktu lalu jumlah PDP nya mencapai angka 600-an. Namun hari ini dengan kerja keras hanya tinggal 154 pasien yang dinyatakan PDP. Kepala Dinas dan tim medis digerakkan untuk memantau jumlah PDP. Selama 14 hari memang gejalanya sudah berkurang dan hasil Rapid Test non rekatif jadi sekarang mereka sudah dikeluarkan dari PDP,” jelasnya.

Menurut Sumule, ada strategi yang menjadi kunci jawaban, mengapa kasus positif mulai pelan-pelan menurun dan angka kesembuhan pasien Covid di Papua meningkat. Stratetegi itu sederhana yaitu komunikasi terbuka, intens dan saling berbagi pengalaman di antara para tenaga medis di seluruh Papua yang menangani langsung pasien yang terjangkit virus asal Wuhan ini.

Update Data Perkembangan Covid-19 di Provinsi Papua per 16 Juni 2020.

 

“Mereka punya Whatsapp Group sendiri. Melalui media itu, para tenaga medis saling sharing dan berbagi pengalaman. Misalnya di Jayapura, mereka banyak belajar dari Merauke, Mimika, termasuk teman-teman yang ada di Freeport yang berhasil. Kita juga banyak belajar dari teman-teman di Asmat bagaimana mereka menangani semua kasus ini. Jadi kita punya grup yang selalu kita lakukan dan kita share. Ini kuncinya,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Papua ini. (Gusty Masan Raya)

Menuju Era New Normal, Dinkes Papua Terapkan 5 Hal Wajib Bagi Warga

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes

 

JAYAPURA (PB.COM)Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes mengatakan demi suksesnya perang melawan virus Corona atau Covid-19 di Bumi Cenderawasih, warga harus disiplin mengikuti protokol kesehatan dengan wajib mematuhi 5 hal utama.

Pertama, Wajib Tidak Berkumpul/Berkerumun (Social Distancing). Kedua, Wajib Jaga Jarak (Physical Distancing). Ketiga, Wajib  Cuci Tangan Dengan Sabun dan Air Mengalir. Keempat, Wajib Pakai Masker. Kelima, Wajib Periksa Kesehatan,”  kata Dr. Robby kepada papuabangkit.com, Selasa (16/06/2020).

Menurut Robby, untuk hal kelima, Pemerintah di Provinsi Papua menyediakan  layanan Rapid Test gratis di Puskesmas untuk mengetahui status Covid bagi setiap  warga.

Selain status Covid, ia juga meminta warga bisa memeriksakan kondisi  kesehatannya terkait penyakit lain, seperti HIV, TBC, malaria, gula darah, kolesterol, asam urat, hepatitis dan lain sebagainya ke rumah sakit. Sebab pada masa pandemi Covid ini, mengetahui status kesehatan sangatlah penting. Sebab data menunjukkan bahwa pasien Covid yang meninggal justru karena penyakit penyerta atau kormobid ini.

“Kalau WHO minta hanya 4 dan ditambah menjaga stamina, makan bergizi dan olahraga, ya kita di Papua punya satu lagi yaitu  wajib periksa  kesehatan. Itu yang saya bilang New Normal ala Papua itu agar kita bisa kendalikan virus ini. Jadi wajib periksa,” kata putra Mee kelahiran Enarotali, 23 September 1966 ini.

Ia mengatakan per 16 Juni 2020 ada kabar gembira bahwa ada 58 tambahan pasien Covid yang sembuh sehingga total kasus sembuh di Papua mencapai 505 orang atau 39 persen.

“Kami beri apresiasi dan terima kasih bagi kerja tim medis di rumah sakit-rumah sakit yang telah bekerja keras membantu kami menolong para pasien Covid ini sampai sembuh,” katanya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua per 16 Juni 2020, jumlah kumulatif Covid di Provinsi Papua sebanyak 1.289 kasus, dimana 769 pasien sedang dalam perawatan, 505 orang dinyatakan sembuh, dan 15 orang meninggal dunia. Sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 3.322 orang dan Pasien Dalam Pengawasan sebanyak 357 orang. (Gusty Masan Raya)