Bupati Spei Minta Polisi Cepat Tangkap Dalang Kekacauan di Pegubin

Wakapolres Pegubin Anton Ampang dan Bupati Spei Yan Bidana saat menjawab wartawan, Senin (14/02/2022)

 

OKSIBIL (PB.COM)Bupati Spei Yan Bidana, ST.M.Si meminta Kepolisian Resort Pegunungan Bintang (Polres Pegubin) bekerja cepat dan professional untuk mengungkap dan menangkap aktor atau dalang terjadinya sejumlah peristiwa yang mengganggu keamanan di sejumlah wilayah setempat.

“Saya tegaskan bahwa semua kekacauan ini diciptakan oleh oknum-oknum Pegunungan Bintang. Saya mau ingatkan kepada pihak kepolisian, harus bekerja profesional bisa menemukan pelaku dan bisa ungkap di publik,” kata Bupati Spei Bidana di sela-sela sambutannya saat melantik 9 kepala Orginasi Perangkat Daerah (OPD) di Aula Kantor Bupati, Oksibil, Senin (14/02/2022).

Menurut Bupati Spei, sejak dulu daerah Pegubin adalah salah satu wilayah yang sangat aman dan kondusif di Papua. Tak pernah ada ganggguan keamaan di wilayah yang dipimpinnya.

Namun sejak kejadian di Distrik Kiwirok dan tiga distrik di sekitarnya pada September 2021, sebagian wilayah Pegubin menjadi daerah yang tidak aman. Kasus pembakaran dua sekolah di Distrik Serambakon pada Desember 2021 serta kontak tembak di Kiwirok Januari 2022 merupakan kejadian susulan yang amat mengherankan.

“Saya minta kepada Kapolda Papua dan Kapolres Pegunungan Bintang agar benar-benar membantu mengawal visi misi yang sudah saya canangkan dengan  almarhum Bpk. Piter  Kalakmabin. Saya nilai kejadian Kiwirok itu bukan perjuangan Papua Merdeka. Itu masalah politik lokal yang dilakukan oknum tertentu,” tegasnya.

Menanggapi pernyataan keras Bupati Spei, Wakapolres Pegubin Kompol Anton Ampang mengatakan pihaknya bersama TNI bertanggung jawab penuh untuk bekerja menjaga kemanan dan mengawal pembangunan di Pegubin sesuai tupoksi mereka.

“Kami berharap kepada masyarakat untuk dapat ikut serta membantu keamanan. Sebab ini menjadi kepentingan kita bersama. Dan saya benar-benar percaya bahwa seluruh masyarakat akan tetap mendukungdan menjaga situasi Kamtibmas dengan baik agar daerah kita ini tetap kondusif,” tegas Anton. (Aquino Ningdana/Gusty)

Alumni KOMAPO Bantu Peralatan Sekolah Bagi Siswa Pengungsi Kiwirok

 

 

Alumni KOMAPO foto bersama para siswa-siswi asal Distrik Kiwirok yang mengungsi di Oksibil, usai penyerahan bantuan.

 

JAYAPURA (PB.COM)-Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan bagi anak-anak pengungsi Kiwirok di Oksibil, Pegunungan Bintang, Komunitas Mahasiswa dan  Pelajar Aplim Apom (KOMAPO) Se-Jawa Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera menyerahkan bantuan peralatan sekolah dan sejumlah uang tunai kepada siswa-siswi.

Para pengungsi yang berasal dari Distrik Kiwirok ini sejak pertengahan September 2021 berada di Oksibil. Mereka mengungsi akibat kondisi keamanan yang memburuk di wilayah tempat tinggalnya pasca kasus penyerangan terhadap sejumlah tenaga kesehatan dan berujung kontak senjata antara TNI/POLRI dan kelompok TPN/OPM pimpinan Lamek Taplo di Distrk Kiwirok, 13 Septerber 2021.

“Hari ini kami serahkan bantuan sedikit sebagai bentuk kepedulian kami. Ini kejadian terparah di Pegunungan Bintang. Sebelumnya di Distrik Batom di waktu silam tapi tak separah ini. Kita berharap keadaan Kiwirok kembali pulih, aman dan masyarakat bisa kembali ke kampung halamannya,” ujar Agus Uopka mewakili alumni KOMAPO usai kegiatan penyerahan bantuan di posko utama pengungsi Kiwirok kompleks GIDI Sion Oksibil, Kamis (25/11/2021).

Sementara Sekretaris Jenderal  KOMAPO Se-Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, Imanuel H. Mimin mengatakan, pihaknya sangat berduka dan turut perhatin terhadap situasi yang terjadi di kampung halaman, Kiwirok.

“Karena itu, kami juga tidak tinggal diam di tanah Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi san. Tetapi kami turut berpartisipasi untuk mendukung adik-adik, kami berfokus pada pendidikan. Sehingga pada hari ini, saya dengan alumni KOMAPO datang membawa peralatan sekolah dan sedikit uang tunai sebesar Rp 20 juta kepada adik-adik siswa-siswi yang saat ini sedang belajar di Oksibil untuk dapat digunakan sesuai keperluan adik-adik di sekolah,” kata Imanuel.

Menurut Imanuel, pihaknya sangat prihatin atas kasus Kiwirok dan menaruh perhatian terhadap persoalan ini. Sebab dampaknya besar ke semua sektor, termasuk pendidikan.

“Kami tidak bisa memberikan barang besar dan berharga. Hanya ini yang kami bisa berikan. Kami berharap semua pihak bisa menangani situasi ini secara serius dan meyakinkan sehingga  adik-adik kami pun bisa kembali bersekolah seperti biasa di Kiwirok,” tegas Imanuel.

Menurut data Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Bintang, kasus di Distrik Kiwirok dan 3 distrik terdampak yakni Okhika, Okyop, dan Oklip, telah menyebabkan 300-an warga mengungsi ke Kota Oksibil dan saat ini1 masih ditampung di 17 titik, hingga hari ini. Kejadian itu membuat 13 sekolah dibakar, terdiri dari 8 gedung SD, 4 SMP, dan 1 gedung SMA.

“Menurut data kami, terdapat 796 anak yang kehilangan haknya untuk mendapat layanan pendidikan, belum termasuk para guru. Tetapi khusus anak-anak sekolah yang ikut mengungsi bersama orang tuanya ke Oksibil, kami sudah sudah sekolahkan mereka sementara di sini sejak Senin, 25 Oktober 2021,” kata Plt. Kadis Pendidikan Pegubin Drs. Ananias Kalakmabin, M.Si akhir Oktober 2021 lalu. (Rano Bidana/Gusty)