Pesan Natal Jemaat GBGP Viktory Agung: Bawa Papua Kepada Tuhan Melalui Pekabaran Injil!

Ibadah Natal Gereja Betel Gereja Pantekosta di Tanah Papua Jemaat Victory Agung Jayapura, Kamis (9/12/2021) malam.

JAYAPURA (PB.COM) – Papua sebagai pintu gerbang emas di dalam menara doa Yerusalem, Israel, sampai hari ini belum semua orang mengenal Tuhan. Di pelosok-pelosok negeri yang kaya ini, banyak penduduk asli yang belum mendapat kabar kesukaan mengenai Yesus Kristus. Papua harus dibawa kepada Tuhan melalui Pekabaran Injil.

Pesan dan renungan Natal ini disampaikan Pdt Irwan Wijaya, Ketua Departemen Misi Gereja Betel Indonesia, di dalam ibadah Natal Gereja Betel Gereja Pantekosta (GBGP) di Tanah Papua Jemaat Victory Agung Jayapura, Kamis (9/12/2021) malam.

Ibadah Natal yang diawali dengan puji-pujian ini begitu semarak dan membakar semangat jemaat dan tamu undangan yang hadir di dalam dan luar gereja. Frans Sisir, salah satu musisi Papua yang terkenal dengan talentanya dalam bernyanyi dan memainkan alat music sisir dan plastic yang terdengar seperti saksofon turut mempersembahkan pujian yang memukau jemaat dan tamu undangan.

Pdt Irwan, dalam kotbahnya mengemukakan, Natal ini bicara khusus Dia (Yesus) yang sudah menjadi manusia. Berita kesukaan di dalam Kitab Lukas 2:10, di mana situasi saat itu gembala-gembala sedang mengembalakan domba-domba, tiba-tiba kaget karena mereka melihat malaikat dan mereka gemetar ketakutan. Tetapi malaikat mengatakan, “Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamua kesukaan besar untuk seluruh bangsa”.

Ketua Departemen Misi Gereja Betel Indonesia, Pdt Indra Wijaya saat berkotbah.

“Berita Natal adalah berita kesukaan. Karena itu, berita kesukaan tidak bisa ditahan, berita itu harus sampai di ujung bumi, sampai di tempat ini,” ucapnya.

Di dalam dunia misi, jelas Pdt Irwan yang juga Ketua Sekolah Tinggi Teologi (STT) di Batam, semua orang akan belajar mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi, sampai di Papua. Itu artinya ada suatu rencana Tuhan yang harus dimengerti sebagai anak negeri Tanah Papua. “Kita harus mengerti rancangan Tuhan atas hidup kita, atas negeri yang disebut negeri Melanesia yang ada di ujung Timur Indonesia,” katanya.

Karena Papua dalam rencana Tuhan, tidak heran kalau berita kesukaan ini melalui hambanya, Ottow dan Geisler sampai di Papua, di Pulau Mansinam Manokwari, Papua Barat. Dari tujuh wilayah adat yang ada, Papua dibentuk dari berbagai ragam dan suku. Makanya Papua disebut ujung bumi.

“Papua dari tujuh wilayah adat ini masih ada anak-anak suku depan yang sampai hari ini injil belum diberitakan. Papua harus menemukan jati dirinya sampai kepada satu titik yang disebut destiny. Setiap orang, setiap gereja Tuhan ada panggilannya,” jelas Pdt Irwan.

Puji-pujian dalam ibadah Natal.

Namun fakta hari ini bahwa negeri yang mau dirusak dalam cengkeraman kuasa gelap, adalah satu negeri yang istimewa. Menurut Pdt Irwan, di 12 pintu gerbang Israel, di menara doa Yerusalem, ketika mereka membagi dunia ini menurut anak bangsa Israel, Papua ini masuk dalam pintu gerbang emas. Karena pintu gerbang emas itulah, rakyat di negeri ini membayar dengan mahal. Seluruh dunia tertarik dengan wilayah ini.

“Pesan Natal, ada satu negeri yang ada dalam pintu gerbang emas, yang selama ini diobok-obok. Tidak heran orang menyebut Papua negeri kaya, tanah kaya yang dimiskinkan.  Tahun 2016, Papua masuk daerah termiskin dan hingga saat ini status itu tidak berubah. Apa yang salah di tanah ini? Injil masuk ke Papua 160 tahun lalu dan tanah ini belum berubah, ada apa?” tanya Pdt Irwan.

Data BPS tahun 2020-2021, Papua dan Papua Barat urutan pertama dan kedua termiskin di Indonesia. Padahal gereja terpadat di Indonesia ada di Papua. Ada apa? Mencermati fakta-fakta ini, Papua perlu dibawa dalam doa, dan misi pekabaran injil hingga pelosok dan pedalaman.

Pdt. Indra Karubaba

Sementara itu, Pdt. Indra Karubaba, Gembala Sidang Gereja Betel Gereja Pantekosta di Tanah Papua Jemaat Victory Agung Jayapura, kepada  wartawan usai ibadah Natal, mengemukakan satu hal penting menyangkut perayaan Natal di tahun 2021 yaitu tentang misi di Papua.

“Kami mengambil tema Injil Yohanis 1:14, Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Ini fakta penting bahwa Yesus, Allah yang kita sembah, Dia sudah ada di tengah-tengah kita sehingga tidak ada alasan untuk kita tidak melakukan sesuatu. Secara khusus untuk Papua, kita lihat situasi Papua saat ini. Saya tidak tahu entah karena situasi politik, membuat perhatian kita teralih sehingga kondisi misi di Papua sedang merosot,” ungkapnya.

Lewat kesempatan Natal ini, kata Pdt Indra, refleksi Natal penting yang sudah disampaikan Pdt Irwan, mari kembali membawa Papua kepada Tuhan melalui pekabaran injil. “Saya mau sampaikan kepada hamba-hamba Tuhan, mari perhatian kita arahkan kepada Papua secara khusus dalam penginjilan. Gereja jangan hanya memikirkan pembangunannya, tetapi kita juga harus dalam proses penginjilan ke pedalaman-pedalaman sebab di sana ada banyak orang yang membutuhkan kita,” pintanya.

Khusus untuk Papua, pesan Pdt Indra, jangan mengharap sesuatu yang besar tetapi tidak mengandalkan Tuhan. “Mari sama-sama bergandengan tangan memberitakan injil ke seluruh Papua sampai di pelosok-pelosok sehingga mereka mengenal satu nama yaitu Yesus Kristus. Dan saya percaya Papua akan dibawa menuju satu musim baru, di mana kita bisa menikmati kasih Tuhan yang luar biasa, lebih dari apa yang kita nikmati pada hari ini,” harap dia.

Kirim Guru-guru ke Pelosok Papua

Usai ibadah Natal, Pdt Irwan Wijaya yang juga Ketua Indonesia Cerdas, kepada wartawan mengatakan, pihaknya telah mengirim guru-guru hampir ke semua pelosok Papua yang memerlukan tenaga guru. Ia merekrut tenaga-tenaga guru dari berbagai daerah  khususnya Universitas Kristen di Indonesia yang kemudian di-training dan tempatkan di kabupaten-kabupaten.

“Kami lakukan ini karena pertama, tingkat buta huruf di Papua tinggi sekali, hampir 28%, 10 kali lipat dari rata-rata Indonesia,” ucapnya. Hal ini dipicu oleh Indeks Pembangunan Manusia, (IPM) Papua nomor satu terendah padahal negeri ini sangat diberkati. “Ini menjadi beban moral tersendiri,” sambungnya.

Selain itu, pihaknya juga mengirim tenaga misi untuk membantu gereja-gereja yang ada di Papua juga menanam gereja bagi yang belum ada gereja. “Dan saya juga banyak mengambil anak-anak Papua dari berbagai denominasi yang kami sekolahkan di Batam dan kami asramakan,” jelasnya.

“Saya punya hati untuk Papua ini sebenarnya sudah lama. Dari tahun 1985, setiap kali kami terbang dulu. Saya sekolah di Amerika, dan setiap kali saya transit di Biak, Bandara Frans Kaisiepo, hati ini selalu menyala. Ketika saya pulang ke Indonesia, hati ini mulai bergerak mengutus misionari itu dari tahun 2009 sampai sekarang,” bebernya.

Ia mengatakan, pihaknya telah mengirim guru sebanyak 1.026 dan ini akan ada angkatan ke-27, yaitu 20 orang dikirim ke Jayawijaya dan 3 orang ke Jayapura. “Total untuk Papua guru-guru Indonesia Cerdas 1.049, tetapi mereka rata-rata ada yang sudah menjadi PNS sehingga kami suplay lagi,” tukasnya. (Frida Adriana)