Alumni KOMAPO Bantu Peralatan Sekolah Bagi Siswa Pengungsi Kiwirok

 

 

Alumni KOMAPO foto bersama para siswa-siswi asal Distrik Kiwirok yang mengungsi di Oksibil, usai penyerahan bantuan.

 

JAYAPURA (PB.COM)-Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan bagi anak-anak pengungsi Kiwirok di Oksibil, Pegunungan Bintang, Komunitas Mahasiswa dan  Pelajar Aplim Apom (KOMAPO) Se-Jawa Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera menyerahkan bantuan peralatan sekolah dan sejumlah uang tunai kepada siswa-siswi.

Para pengungsi yang berasal dari Distrik Kiwirok ini sejak pertengahan September 2021 berada di Oksibil. Mereka mengungsi akibat kondisi keamanan yang memburuk di wilayah tempat tinggalnya pasca kasus penyerangan terhadap sejumlah tenaga kesehatan dan berujung kontak senjata antara TNI/POLRI dan kelompok TPN/OPM pimpinan Lamek Taplo di Distrk Kiwirok, 13 Septerber 2021.

“Hari ini kami serahkan bantuan sedikit sebagai bentuk kepedulian kami. Ini kejadian terparah di Pegunungan Bintang. Sebelumnya di Distrik Batom di waktu silam tapi tak separah ini. Kita berharap keadaan Kiwirok kembali pulih, aman dan masyarakat bisa kembali ke kampung halamannya,” ujar Agus Uopka mewakili alumni KOMAPO usai kegiatan penyerahan bantuan di posko utama pengungsi Kiwirok kompleks GIDI Sion Oksibil, Kamis (25/11/2021).

Sementara Sekretaris Jenderal  KOMAPO Se-Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, Imanuel H. Mimin mengatakan, pihaknya sangat berduka dan turut perhatin terhadap situasi yang terjadi di kampung halaman, Kiwirok.

“Karena itu, kami juga tidak tinggal diam di tanah Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi san. Tetapi kami turut berpartisipasi untuk mendukung adik-adik, kami berfokus pada pendidikan. Sehingga pada hari ini, saya dengan alumni KOMAPO datang membawa peralatan sekolah dan sedikit uang tunai sebesar Rp 20 juta kepada adik-adik siswa-siswi yang saat ini sedang belajar di Oksibil untuk dapat digunakan sesuai keperluan adik-adik di sekolah,” kata Imanuel.

Menurut Imanuel, pihaknya sangat prihatin atas kasus Kiwirok dan menaruh perhatian terhadap persoalan ini. Sebab dampaknya besar ke semua sektor, termasuk pendidikan.

“Kami tidak bisa memberikan barang besar dan berharga. Hanya ini yang kami bisa berikan. Kami berharap semua pihak bisa menangani situasi ini secara serius dan meyakinkan sehingga  adik-adik kami pun bisa kembali bersekolah seperti biasa di Kiwirok,” tegas Imanuel.

Menurut data Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Bintang, kasus di Distrik Kiwirok dan 3 distrik terdampak yakni Okhika, Okyop, dan Oklip, telah menyebabkan 300-an warga mengungsi ke Kota Oksibil dan saat ini1 masih ditampung di 17 titik, hingga hari ini. Kejadian itu membuat 13 sekolah dibakar, terdiri dari 8 gedung SD, 4 SMP, dan 1 gedung SMA.

“Menurut data kami, terdapat 796 anak yang kehilangan haknya untuk mendapat layanan pendidikan, belum termasuk para guru. Tetapi khusus anak-anak sekolah yang ikut mengungsi bersama orang tuanya ke Oksibil, kami sudah sudah sekolahkan mereka sementara di sini sejak Senin, 25 Oktober 2021,” kata Plt. Kadis Pendidikan Pegubin Drs. Ananias Kalakmabin, M.Si akhir Oktober 2021 lalu. (Rano Bidana/Gusty)

Pemkab Pegubin Siap Fasilitasi Pulangkan Pengungsi Kiwirok Dalam Waktu Dekat

Wakil Bupati Pegunungan Bintang, Piter Kalakmabin, A.Md didampingi Bupati Spey Yan Bidana, ST.M.Si dan Plt. Sekretaris Daerah Pegubin drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat memberi keterangan kepada wartawan, Selasa (26/10/2021).

OKSIBIL—Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) tengah menyiapkan langkah yang tepat untuk memulangkan ratusan pengungsi asal Distrik Kiwirok pasca insiden penyerangan Puskesmas pada 18 September 2021. Tercatat, ada 300 lebih warga asal Kiwirok yang saat ini mengungsi di 17 titik di Kota Oksibil.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Piter Kalakmabin, A.Md kepada pers usai berdialog dengan para pengungsi Kiwirok bersama Bupati Spey Yan Bidana, ST.M.Si dan Plt. Sekretaris Daerah Pegubin drg. Aloysius Giyai, M.Kes di Posko Penanganan Kemanusiaan Peristiwa di Distrik Kiwirok, Selasa (26/10/2021).

“Kami baru saja lihat seluruh keluarga yang mengungsi di sini dan sudah kami drop juga logistik. Tujuan kami bersama Bupati dan Sekda ke sini hari ini adalah ingin melihat dan berdialog dengan mereka. Kami akan diskusi dengan tokoh-tokoh, dengan harapan sebelum Desember ini, mereka bisa sudah pulang ke kampung halamannya di Kiwirok,” kata Wabup Piter Kalakmabin di depan Posko Pengungsi Kiwirok.

Menurut Piter, saat kunjungan dan dialog, pihaknya menerima banyak masukan dari masyarakat pengungsi terkait rencana pemulangan mereka. Sebab berada sebulan lebih di pengungsian membuat mereka rindu rumah dan sebagian keluarga yang ditinggalkan di sana. Di sisi lain, kepastian akan jaminan keamanan di Kiwirok juga sangat penting bagi mereka.

 

Bupati Spey Yan Bidana, ST.M.Si berbicara di depan keluarga yang mengungsi dari Distrik Kwirok.

“Jadi mereka sangat ingin cepat kembali. Mereka bilang, biar di sana mereka tinggal pakai tenda pun asalkan mereka pulang ke kampung halamannya. Jadi kami pemerintah siap fasilitas untuk pulangkan mereka. Situasi secara umum kami pastikan sudah mulai kondusif,” tegasnya.

Sementara itu dalam rangka pemulihan dan rehabilitasi sejumlah fasilitas umum dan asset pemerintah yang dirusak dan dibakar, seperti Puskesmas, Kantor Bank Papua, Kantor Distrik Kiwirok, dan sejumlah sekolah baik SD, SMP dan SMA pada insiden September 2021 lalu, kata Piter, Pemkab Pegubin akan menganggarkannya di APBD Pegubin tahun 2022 untuk dibangun kembali.

“APBD 2022 ini kami akan bahas dengan Pak Sekda yang baru, kita bangun fasilitas pemerintah yang dibakar. Juga bangun kembali perumahan rakyat, kita akan minta bantuan ini dengan pihak Pemprov Papua, Kementerian Sosial, dan Kementerian PUPR. Sebab dengan keterbatasan anggaran kami, kami di Pegubin tentu tak mampu membangunnya sendiri,” tutur Piter.

Piter juga meminta para tenaga kesehatan dan guru yang sebelumnya sempat mengungsi keluar dari Kiwirok dan beberapa distrik lain agar ke depan bisa kembali melaksanakan tugasnya seperti biasa.

“Untuk Kiwirok, memang kami sadar mereka butuh waktu untuk pulihkan trauma psikologis. Tapi yang di luar (selain—Red.) dari Kiwirok, kami minta kembali ke tempat tugas masing-masing. Kami jamin bahwa Pegunungan Bintang adalah daerah teraman,” tegas politisi Partai Golkar ini.

Salah seorang pengungsi dari Distrik Kwirok ketika menyampaikan usul saran saat dialog dengan bupati dan wakil bupati Pegubin.

Sehari sebelumnya,  dalam sambutannya ketika melantik Plt. Sekda Aloysius Giyai dan sejumlah Plt. Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, Senin (25/10/2021), Bupati Pegunungan Bintang, Spey Yan Bidana, ST,M.Si meminta masyarakat untuk tidak lagi membangun isu-isu murahan yang membuat rakyat hidup tidak aman. Sebab Pegunungan Bintang sejak dulu dikenal sebagai wilayah yang aman dan nyaman bagi siapa pun yang datang untuk mengabdi dan melayani masyarakat.

“Stop untuk buang-buang isu murahan. Saya minta kepala kampung, kepala distrik, tokoh Gereja dam tokoh adat harus sharing baik informasi yang beredar agar tidak membuat masyarakat takut,” kata Bupati Spey Bidana.

Spey juga berharap, seluruh komponen masyarakat Pegubin, pemerintah daerah dan aparat keamanan bersama-sama menjaga keamanan agar roda pemerintahan dan pelayanan publik, khususnya ekonomi, pendidikan dan kesehatan kembali berjalan normal ke depan.

Sementara itu, Plt Sekda Pegubin Aloysius Giyai meminta agar masyarakat harus lebih percaya kepada informasi yang diberikan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh adat setempat dibandingkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sebab kehadiran pemerintah dan gereja sejak dulu selalu menciptakan suasana kondusif bagi masyarakat agar hidup tenang, bukan sebaliknya.

“Kita berharap pengalaman kejadian Kiwirok ini tidak akan terulang lagi ke depan. Sebab Pegunungan Bintang ini sejak dulu aman, tak pernah ada kejadian seperti ini. Saya siap bantu Pak Bupati dan Wakil Bupati untuk bersama-sama kita bangun Pegunungan Bintang dalam suasana damai, aman dan nyaman,” ujar Aloysius.  (Gusty Masan Raya)