
Calon Gubernur PApua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM)
JAYAPURA (PB.COM) – Sosok Benhur Tomi Mano, calon gubernur Papua, yang menang Pilgub Papua 2024 , namun di Mahkamah Konstitusi putuskan di lakukan pemungutan suara ulang (PSU) di kenal sebagai sosok yang tidak alergi terhadap kritikan.
Diketahui sejak menjabat sebagai Camat hingga terpilih menjadi Walikota selama dua periode, Benhur Tomi Mano dikenal sebagai sosok pemimpin yang membuka ruang bagi kritik dan masukan dari masyarakat. Bagi beliau, kritik bukanlah ancaman, melainkan sumber pembelajaran dan koreksi yang sangat berharga dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Bagi seorang Benhur Tomi Mano, kritikan merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas sebagai publik figur.
Tidak seperti kebanyakan pejabat yang kadang memilih melaporkan atau mengabaikan kritik, BTM justru mengundang para pengkritiknya untuk berdiskusi secara langsung.
“Sikap terbuka ini menunjukkan betapa beliau sangat menghargai fungsi kontrol sosial dari publik. Kritik dianggap sebagai cermin bagi setiap pemimpin agar dapat terus memperbaiki diri dan menghadirkan pemerintahan yang lebih baik,” Ucap Marshel Morin, Jubir BTM – CK.
Marshel Morin mencontohkan, semasa BTM walikota Jayapura, Fransiskus Magai seorang aktifis mengkritisi soal yang banjir melanda kota Jayapura di media sosial dan mendapat tanggapan yang beragam hingga BTM langsung secara terbuka melalui media massa mengundangnya untuk berdiskusi di kantor walikota Jayapura.
“Dan pertemuan itupun terjadi. Ini menunjukan bahwa BTM sosok pemimpin yang selalu terbuka untuk kritikan. Sama halnya dengan waktu Pilkada 2024 ada tokoh pemuda yang aktif mengkritik BTM di media sosial tapi pak BTM selalu merangkul. Contohnya Benyamin Gurik di kantor KPU Papua waktu penetapan pasangan calon gubernur untuk PSU Pilgub Papua 2025. Setelah acara itu pak BTM panggil panggil Beni Beni dan mereka saling bertegur sapa, tertawa bahkan BTM merangkul Benyamin Gurik hingga foto bersama. Sikap ini menandakan BTM orang selalu menerima kritik, tanpa harus memusuhi,” ujar Marshel
BTM memandang kritik sebagai bagian dari ruang intelektual yang mendorong berpikir kritis. Baginya, mengekspresikan ketidakpuasan secara sehat tidak boleh dibawa ke ranah pidana.
Jika suara-suara kritis dari para intelektual, akademisi, aktivis sosial, dan penggiat media sosial dipaksa dibungkam, maka suara rakyat yang mereka wakili akan hilang. Dan hal itu tentu akan melemahkan demokrasi serta kesejahteraan masyarakat.
Kepemimpinan BTM mengajarkan kita bahwa pemimpin sejati tidak takut pada kritik, justru menggunakannya sebagai bahan evaluasi dan dialog konstruktif. Sosoknya yang humanis dan responsif menciptakan iklim demokrasi yang sehat, di mana masyarakat merasa didengar dan dihargai.
Dengan pendekatan seperti ini, BTM membuktikan bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka yang mampu memandang kritik bukan sebagai serangan, melainkan sebagai kekuatan untuk membangun pemerintahan yang lebih baik dan inklusif bagi seluruh rakyat. (ADM)



































