Festival Paralayang dan Pesta Seni Budaya Tolikara Berakhir Sukses

Festival Seni Budaya Kabupaten Tolikara.

KARUBAGA (PB.COM) – Festival Paralayang dan Pesta Seni Budaya Kabupaten Tolikara yang digelar sejak Senin (05/08/2019) lalu, berakhir sukses sesuai target, Rabu (07/08/2019) kemarin.

Kepala Dinas Pariwisata Tolikara Saulus Narek, S. Pd secara resmi menutup kegiatan itu dengan menampilkan atraksi seni budaya dari Sanggar Seni Biuk yang berhasil menarik perhatian lebih dan keluar sebagai juara umum.

Dinas pariwisata menyediakan berbagai hadiah sebagai penghargaan yang akan diberikan saat Upacara 17 Agustus di Lapangan Merah Putih Karubaga, Tolikara.

Perhatian yang sama juga diberikan kepada para atlet paralayang, dimana dari hasil penilaian tim terhadap masing – masing atlet apabila tampil mengesankan akan diberikan apresiasi dari Dinas Pariwisa Tolikara.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada tim paralayang dan sanggar seni budaya yang sudah mengikuti festival paralayang dan pesta seni budaya hingga kegiatan ini usai dengan sukses,” ujar Saulus Narek.

Menurutnya, wilayah Indonesia terdiri beberapa suku dengan bahasa dan budaya berbeda – beda, tentu menjadi kekayaan bangsa Indonesia yang  patut dilestarikan. Karena itu budaya Suku Dani ini patut dilestarikan hingga anak cucu. Budaya sudah menjadi harga diri dan identitas Suku Dani.

Pesta seni budaya ini akan terus ditampilkan pada iven festival setiap tahun, karena festival paralayang dan pesta seni budaya Tolikara menjadi salah satu kegiatan tahunan dan sudah masuk jadwal nasional Kementerian Pariwisata RI. Sejumlah sanggar seni budaya binaan Dinas Pariwisata ini akan dipersiapkan untuk menyambut tamu-tamu yang datang mengikuti PON 2020 Papua,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Tari Distrik Biuk, Nailes Wanimbo mengatakan, meskipun tim tari mereka banyak kekurangan tetapi berhasil tampil mengesankan sehingga bisa keluar sebagai juara umum.

“Kami tidak sekadar latihan lalu tampil biasa, namun kami latihan serius dan tampil juga serius,” beber Neiles Wanimbo. (Diskominfo Tolikara/Derwes/Frida)

Melalui PON XX Membuka Peluang Strategis Kunjungan Wisatawan ke Papua

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua, Yoseph Matutina.

JAYAPURA (PB.COM) — Perhelatan Pekan Olahraga Nasional  (PON) XX tahun 2020 di Provinsi Papua bakal membuka peluang strategis dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman)  dan wisatawan nusantara (wisnu) ke beberapa destinasi wisata di Bumi Cenderawasih.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua,  Yoseph Matutina di Jayapura, Selasa (9/7/2019) menyebutkan, setidaknya terdapat lima  obyek wisata menarik di Papua yang layak untuk dikunjungi antara lain, wisata Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Raja Ampat di Provinsi Papua Barat, Teluk Cenderawasih, Danau Sentani di Kabupaten Jayapura dan  Desa Sauwandarek di Provinsi Papua Barat.

Menurut Yoseph, beberapa wilayah di Provinsi Papua memang cukup terkenal akan potensi Sumber Daya Alam (SDA),  yang  menjadi daya tarik para wisman dan wisnu. “Wisman dan wisnu tentunya akan bergerak mencari obyek –obyek wisata yang ada di Provinsi Papua,” tuturnya.

Menjelang pelaksanaan  iven  olahraga terbesar di Tanah Air ini,  kata Yoseph, Pemprov Papua dan Pemkab/Pemkot bersama pemandu-pemandu  wisata, Asosiasi Travel Agen Indonesia (ASITA), Perhimpunan Hotel dan Restoran  Indonesia (PHRI) dan lain-lain    saling bersinergi, untuk membenahi obyek-obyek wisata.

“Kita dan juga pemandu-pemandu  wisata, ASITA, PHRI dan lain-lain  nanti mereka juga akan menyiapkan paket- paket wisata bagi wisman  dan wisnu,” jelasnya.

Sementara itu, terkait promosi wisata, aku Yoseph, tentunya saat ini belum dilakukan. “Tapi kami sudah kemas nanti pada  momen  PON XX baru kita gencar promosi,” akunya.

Yoseph berharap masyarakat dapat melihat peluang PON XX,  untuk mengembangkan daya  kreatif dan inovasi  dalam meningkatkan  perekonomian rakyat, khususnya  di sektor wisata alam dan cinderamata lokal, seperti noken, topi dari burung cenderawasih, batik Papua, lukisan dari kulit kayu dan lain-lain. (Andi/Frida)

Menikmati Panorama Alam Kota Mulia Dari Pos Merah Putih

Spot wisata “Pos Merah Putih” yang berada di atas ketinggian Kota Mulia.

MULIA (PB.COM) – Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan konflik bersenjata ternyata menyimpan panorama alam pegunungan yang elok nan eksotis. Salah satunya adalah spot wisata “Pos Merah Putih” yang berada di atas ketinggian Kota Mulia, tepatnya di antara jalan yang menghubungkan Distrik Mulia dan Distrik Yamo.

Pos Merah Putih merupakan Pos TNI yang kemudian disulap menjadi salah satu spot wisata yang kerap dikunjungi oleh masyarakat setempat saat akhir pekan maupun waktu liburan.

Dari atas pos merah putih, kita akan disuguhkan pemandangan alam kota Mulia yang dikelilingi hutan dan perbukitan, serta hamparan awan putih di atasnya. Bahkan saat kabut turun di pagi hari atau jelang sore hari yang menutupi Kota Mulia, kita laiknya berada di Negeri di Atas Awan.

Selain menawarkan panorama alam yang memesona, Pos Merah Putih juga menjadi spot menarik untuk berswafoto dengan latar belakang pemandangan Kota Mulia. Ditambah lagi, Anda tidak perlu membayar biaya masuk alias gratis.

Meski hanya sebuah pos tentara, namun dikemas cukup menarik dan ala kekinian seperti spot foto di tempat wisata lainnya. Di tempat ini kita juga menemukan tulisan kata-kata puitis yang ditorehkan di atas papan kayu sebagai bentuk curahan hati para prajurit yang terpisah jauh dari keluarga demi menjaga keamanan NKRI di wilayah Puncak Jaya.

Untuk menuju Pos Merah Putih, bisa dibilang cukup memacu adrenalin. Pasalnya, kita harus melewati jalan terjal bebatuan dan menyusuri lereng bukit sejauh kurang lebih tiga kilometer dari Kota Mulia. Adapun kendaraan yang digunakan harus menggunakan mobil double gardan atau sepeda motor dengan spesifikasi motor pegunungan.

Salah seorang pengunjung, Anto Asse mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Pos Merah Putih.

“Saya pernah datang dengan keluarga, teman, kadang juga pas lagi ada tamu di pemerintahan, biasanya pimpinan suruh antar ke sini,” ungkapnya.

Anto yang merupakan PNS di Pemkab Puncak Jaya ini menuturkan, Pos Merah Putih sekarang lagi tren di kalangan warga Mulia dan di luar, karena lihat dari foto foto yang diunggah di media sosial. Sayangnya, banyak juga yang tidak bisa datang berkunjung.

“Masyarakat mau kesini tapi takut juga, mungkin karena jalannya ngeri juga daerahnya,” ujar Anto.

Aman Tapi Waspada

Soal keamanan? Menurut Komandan Pos Merah Putih dari Batalyon 753 Nabire, Letda Inf Rudi Jambornias, sejauh ini masih dikategorikan aman. Terbukti hampir tiap akhir pekan, selalu ramai dikunjungi warga. Bahkan setiap tamu pemerintahan yang datang berkunjung ke Mulia, selalu diajak untuk mengunjungi Pos Merah Putih.

“Selama ini di kawasan jalan ini masih terbilang aman. Meski begitu, kita tetap waspada. Apalagi sebagai prajurit yang ditugaskan di daerah rawan gangguan keamanan (ada kelompok separatis bersenjata) seperti disini, yah pastinya kita akan tetap siaga dan memastikan semuanya aman terkendali,” ungkap Rudi.

Pria asal Maluku Tenggara ini juga bercerita asal muasal, hingga Pos yang dipimpinnya bisa menjadi salah satu tempat hiburan masyarakat Mulia.

“Ini berawal dari keisengan prajurit, yang membuat tempat ini hanya untuk mengisi waktu luang saat tidak sedang bertugas. Namun lama kelamaan kok, jadinya kelihatan bagus. Dan kita buat lagi lebih bagus, itu semua kita kerjakan secara swadaya. Dan yang datang berkunjung kesini, tidak dipungut bayaran,” akunya.

Menurutnya, dengan adanya tempat hiburan seperti ini, bisa lebih mendekatkan mereka (prajurit) dengan masyarakat.

“Kita buat begini, masyarakat jadi ada tempat hiburan. Jadi kita yang jarang turun ke Kota Mulia untuk bertemu masyarakat, sebaliknya masyarakat yang datang mengunjungi kami,” tuturnya.

Rudi berharap ke depan, Puncak Jaya tetap menjadi zona aman, menjadi tempat yang damai dan aman untuk dikunjungi semua orang.

Kota Mulia, Puncak Jaya yang berpenduduk lebih dari 24 ribu jiwa ini berada di ketinggian 2.448 meter di atas permukaan laut. Sehingga tak heran diklaim sebagai salah  salah satu kota terdingin di Indonesia dengan suhu mencapai 7 sampai 9 derajat celcius.

Untuk mencapai tempat ini, harus menggunakan pesawat berbadan kecil dari Jayapura (Ibukota Provinsi Papua), dengan harga tiket yang mencapai lebih dari Rp3 Juta per orang. Selain itu, juga bisa menggunakan kendaraan roda empat (mobil doble gardan) dari Wamena – Jayawijaya dengan estimasi perjalanan 9 -11 jam. (Andi/Frida)

Pesona Biak Nan Membius

Jika Papua Barat memiliki Raja Ampat, Provinsi Papua pun memiliki Biak. Pulau sejuta pantai ini memang tak bosan untuk dikunjungi.

Siapa yang tak kenal Papua? Provinsi paling timur di Indonesia ini memang memiliki sejuta keeksotisan. Mulai dari jajaran hutan rimba, hingga pantai pasir putihnya, semuanya sungguh mengagumkan. Jika traveler terbiasa mendengar Raja Ampat sebagai surganya para pecinta laut dan pantai, maka sekarang saatnya traveler beralih ke sejumlah pantai di Pulau Biak.

Pulau biak terkenal akan keindahan pasir pantainya yang putih dengan butiran halus. Salah satu pantai yang ramai dikunjungi wisatawan lokal di Biak yaitu pantai Bosnik. Pantai ini terletak di Biak Timur, dengan waktu tempuh perjalanan dari kota sekitar 30 menit. Di pantai bosnik wisatawan akan dimanjakan dengan pasir putih dan air laut yang jernih. Pengunjung juga dapat menikmati segarnya air kelapa muda di pantai.

Saya pun berkesempatan melakukan perjalanan fotografri di pantai ini pada pertengahan 2016. Sejumlah kisah unik yang saya temukan membuat saya percaya bahwa Biak memiliki eksotisme yang tak kalah menarik dengan Raja Ampat. Apalagi kultur orang pantai yang familiar dan welcome membuat siapan pun yang berkunjung ke wilayah itu akan betah dan nyaman.

Pantai bosnik menjadi primadona warga Biak sebagai obyek wisata setiap akhir pekan dikarenakan letak pantai yang tidak begitu jauh dari kota dan juga transportasi ke pantai tersebut mudah bisa menggunakan Ojek atau pun Angkutan Kampung. Bagi wisatawan luar yang ingin ke ke Pantai bosnik jangan takut. Wisatawan dari luar Papua dapat menggunakan pesawat tujuan Biak. Biasanya pesawat dari Jakarta transit ke Makasar kemudian lanjut ke Biak. Jangan takut untuk penginapan di Biak sudah banyak tersedia.

Selain pemandangan pantainya yang indah, di pantai ini juga terdapat terumbu karang yang cantik untuk disaksikan. Jadi anda tak hanya berjemur atau sekedar bermain pasir saja di pantai ini, anda bisa berenang maupun snorkeling. Namun jika anda belum mahir berenang, anda bisa menyewa ban berenang.

Jika anda hanya ingin menikmati kesegaran dan keindahan pemandangan Pantai Bosnik ini saja, anda bisa menyewa saung yang banyak didirikan di pinggir pantai ini dengan tarif Rp. 50.000 sampai sepuasnya sambil menikmati kesegaran kelapa muda yang dijual oleh pemilik saung.

Dari Sansundi Hingga Batu Picah

Selain Bosnik, saya juga tertarik dengan Pantai Sansundi yang tampak masih perawan. Pantai ini terletak di  Kampung Sansundi adalah salah satu dari 21 kampung yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Biak Utara, terletak di Distrik Bondifuar, Kabupaten Biak Numfor, sebelah utara pulau Biak, Papua.  Untuk mencapai lokasi dapat menggunakan kendaraan umum berupa mini bus atau biasa disebut “Taksi”,  melalui jalur utara Trans-Biak Supiori selama 2 jam dengan jarak 78 km dari kota Biak.

Menurut bahasa setempat, Sansundi berasal dari kata San yang berarti (mereka makan), Sun (mereka bawa). Kampung Sansundi yang menghadap langsung dengan Samudera Pasifik di sebelah utara  menjadikan masyarakat memancing ikan untuk memenuhi konsumsi sehari-hari. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan hutan yang merupakan “Ibu” bagi masyarakat Sansundi.

Saat mencapai kampung itu, saya berinteraksi dengan sejumlah anak kecil yang bermain di tepi pantai. Pasir pantai dan air laut seakan telah menjadi halaman rumah mereka. Suasana ini sungguh damai. Apalagi, nuansa yang jauh dari kebisingan membuat para traveller menikmati alam Pulau Biak dengan syaduh.

Sebelum pulang, jangan lupa singgah di pantai Batu Picah. Pantai ini terletak di Desa Yobdi Biak Utara, merupakan salah satu tempat rekreasi pantai karena memiliki pasir putih yang cukup panjang dan terletak di pinggir jalan raya. Bagi Anda yang tidak suka kesunyian, debur ombak dan desahan kerasnya menghantam batu karang member sensasi tersendiri. Amazing.

Kabupaten Biak Numfor memiliki tiga pulau besar, yaitu pulau Biak, Pulau Supiori (sekarang Kabupaten Supiori), dan Pulau Numfor. Selain itu terdapat pula terdapat pulau-pulau yang cukup banyak jumlahnya. Hampir semua pulau itu dihuni penduduk. Daerah ini memang kaya akan obyek wisata.

Selain tiga pantai itu, masih ada beberapa obyek wisata menarik lainnya seperti Pulau Owi dan Padaido, Pantai Water Basis, Taman Anggrek, Taman Burung, Kolam Biru, Pantai Parai, Museum Biak, dan Goa Jepang dan masih banyak pantai yang masih alami.

Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan alam yang asli, tak perlu ragu memutuskannya. Ayo ke Biak! (Marzuki Jafar/Fotografer)

 

30 Turis Australia Langganan “Surfing” di Wafor

Seorang turis tengah surfing di pantai Wafor
Seorang turis tengah surfing di pantai Wafor

JAYAPURA (PB): Sebanyak 30 turis asal Australia setiap tahun menggelar “surfing” atau berselancar di Pantai Wafor, Kampung Sawarkar, Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. “Ya, ketiga puluh turis  manca negara, sebagian besar berasal dari Australia telah jadi pelanggan tetap untuk  berselancar di Wafor,” ujar  Kepala  Dinas Pariwisata Supiori Yustus Amsamsyum, belum lama ini  di   Biak.

Dikatakannya, pihaknya  punya komitmen kuat untuk mengembangkan Pantai Wafor sebagai lokasi  berselancar. Pasalnya,  Pantai Wafor memiliki ombak yang bagus untuk olahraga selancar.
“Ombaknya tak kalah dengan Raja Ampat  yang  dimiliki Provinsi Papua, sehingga ke depan ini akan menjadi destinasi wisata yang baru di Papua,” terangnya.
Yustus menjelaskan, untuk mengembangkan wilayah Pantai Wafor ini, pihaknya akan bekerjasama dengan  Dinas Pariwisata Provinsi Papua.

Dijelaskannya,  pihak  Dinas Pariwisata Provinsi Papua telah memberikan sejumlah dana untuk  membangun  gazebo, cottage, dan hotel di sekitar Pantai Wafor.

Selain Pantai Wafor, terangnya, Pantai Rani juga memiliki keindahan bawah laut yang berpotensi menjadi destinasi wisata baru.
“Kedua tempat ini tengah dipersiapkan untuk menjadi tempat wisata baru yang dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) di wilayah masing-masing,” katanya.

Dia menuturkan, pihaknya juga bersedia jika Pemprov Papua dan KONI Papua menunjuk Supiori sebagai tuan rumah salah-satu Cabor pada PON XX tahun 2020 mendatang.

Kepala Dinas Pariwisata Papua Yoseph IS Matutina, SSos, MSi sebelumnya mengungkapkan,  sebagaimana Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPPA) Provinsi  Papua tahun 2017, pihaknya serius  mengembangkan Biak Numfor dan Supiori sebagai destinasi wisata Papua kedepan. (Admin)

 

 

Kunjungan Turis Asing di Festival Asmat Menurun

 

Wisatawan yang berkunjung saat mencoba memahat ukiran Asmat
Wisatawan yang berkunjung saat mencoba memahat ukiran Asmat

JAYAPURA (PB): Kunjungan turis asing ke Festival Asmat yang biasa digelar setiap tahun  pada Minggu kedua bulan Oktober di Kabupaten itu, dilaporkan mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir.

“Dulunya, setiap tahun masih ada turis asing yang akan berkunjung ke Asmat. Namun saat ini sangat minim,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Papua, Iwanta Perangin-angin di Jayapura, Jumat (17/03/2017).

Menurut dia, pihaknya mencatat, penyebab utama penurunan jumlah wisman di festival tertua di Tanah Papua itu, disebabkan waktu pelaksanaan festival yang terkadang berubah. Selain itu, minimnya transportasi ke daerah tersebut juga menjadi pemicu utama. Padahal, Festival Asmat sangat menjanjikan untuk promosi wisata di Papua.

Iwanta mencontohkan transportasi ke Asmat yang biasa ditempuh dari Timika – Asmat, dengan pesawat carter, yang ongkos sekali jalan Rp 35 juta,  dengan jenis pesawat tipe Caravan yang hanya bisa ditumpangi 8 orang.

Belum lagi Jadwal transportasi udara maupun kapal cepat dari Timika-Asmat tidak menentu.

“Jika kita ikuti jadwal reguler, agak susah kita menjualnya. Sehingga kami harus mencarter pesawat. Asita Papua mencatat per satu orang turis, biaya perjalanan untuk menyaksikan Festival Baliem dan Festival Asmat dikenakan harga 3000 US$ dengan kurs Rp 13 ribu, dengan jangka waktu 10-14 hari. Lalu, tahun lalu juga tak ada Festival Asmat, karena musim kering yang berkepanjangan,” pungkasnya. (Admin)

 

 

Kemenpar Dukung Festival Budaya Internasional di Papua

Hari Ristanto
Hari Ristanto

JAYAPURA (PB) : Kementerian Pariwisata terus berupaya mendukung festival,  sebagai promosi Wonderfull Indonesian  sekaligus untuk mengejar target 20 Juta wisatawan di 2019  baik yang bertaraf nasional  dan internasional suatu saat digelar di wilayah Provinsi  Papua.

Demikian diutarakan Kasubdit Strategi, Promosi dan Destinasi Kementerian Pariwisata  Hari Ristanto, BBA, MSc dan  Kepala Dinas Pariwisata   Papua Drs. Yoseph IS Matutina, SSos, MSi menabuh Tifa, ketika  membuka Forum Koordinasi  OPD  Bidang Pariwisata Se- Papua di Grand Abe Hotel, Jayapura, Rabu (15/3).

Dikatakan,  Deputy Pemasaran Wisata di Kemenpar  sangat mendukung  penyelenggaraan even, festival, pameran atau promosi   budaya, seni dan wisata.   Apalagi yang  skalanya sudah mendunia.

Untuk itu, terangnya,  pihaknya  mengajak pemerintah daerah, baik Pemprov dan Pemkab/Pemkot diseluruh Papua, jika ada even -even  yang memiliki nilai jual dan masuk skala nasional atau bahkan internasional  segera  report atau laporan  kepada Kemenpar, terutama  mengenai waktu penyelenggaraan.

“Kami akan  membantu mengkoordinasikan untuk urusan   yang namanya event, festival, pameran atau promosi wisata,” katanya.   

Sekedar diketahui,  terdapat  empat  (4) Festival, yang sudah masuk kalender  tahunan pariwisata nasional di Kemenpar. Masing-masing Festival  Biak Munara Wampasi (BMW), Festival Lembah Baliem dan Festival Asmat dan  Festival Crossborder.

Festival BMW menyajikan atraksi budaya menangkap ikan secara tradisional di air laut surut (snap mor), berjalan di atas batu panas (apen byaren), atraski lomba perahu adat Mansusui/Wairon, berkunjungan objek wisata ke pulau Padaido/Aimando, pameran, panggung hiburan serta atraksi tari seni budaya khas Biak. (Admin)

 

Tahun Ini Kemenpar Bangun Desa Wisata di Papua

Ilustrasi Desa Wisata di Raja Ampat
Ilustrasi Desa Wisata di Raja Ampat

JAYAPURA (PB) : Kementerian Pariwisata  (Kemenpar) akan melaksanakan program pembangunan  Homestay atau Desa Wisata, termasuk di Papua  yang akan dimulai tahun 2017 dalam rangka mendukung percepatan pembangunan 10 destinasi prioritas diseluruh Indonesia.

Demikian diuatarakan Kasubdit Strategi, Promosi dan Destinasi Kemenpar Hari Ristanto, BBA, MSc, usai pembukaan Forum Koordinasi OPD Bidang Pariwisata di Grand Abe Hotel, Jayapura, Rabu (15/3).

Untuk pembangunan homestay sebagai program pembangunan Desa Wisata, ujarnya, merupakan  tiga program prioritas (top tree) yang   diimplementasikan tahun 2017, masing-masing  digital tourism, homestay, dan konektivitas udara.

Dalam program digital tourism, katanya, antara lain,  diluncurkan ITX dan War Room M-17 di Kantor Kemenpar sebagai pusat intelejen berbasi teknologi digital, beberapa waktu lalu.

Tahun 2017 kami mentargetkan membangun 20.000 homestay (pondok wisata), tahun 2018 sebanyak 30.000, dan tahun 2019 sebanyak 50.000 unit. Sebagai quick win pada triwulan I/2017 akan dibangun 1.000 homestay,” katanya.

Program konektivitas udara, terangnya, sangat penting mengingat sekitar 75% kunjungan wisman ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sehingga tersedianya seat pesawat (seat capacity) yang cukup menjadi kunci untuk mencapai target tahun 2017 hingga 2019 mendatang.

“Tersediaannya kapasitas seat sebanyak 19,5 juta oleh perusahaan maskapai penerbangan (airlines) Indonesia dan asing saat ini hanya cukup untuk menenuhi target kunjungan 12 juta wisman pada 2016, sedangkan untuk target 15 juta wisman tahun 2017 membutuhkan tambahan 4 juta seat. Untuk target 18 juta wisman tahun 2018 membutuhkan tambahan 3,5 juta seat atau menjadi 7,5 juta seat, sedangkan untuk mendukung target 20 juta wisman pada 2019 perlu tambahan 3 juta seat atau menjadi 10,5 juta seat pesawat,” katanya.

Untuk memenuhi tambah 4 juta seat dalam mendukung target 15 juta wisman pada 2017, Kemenpar melakukan Strategi 3 A (Airlines, Airport & Air Navigation, Authorities) yang diawali dengan melakukan nota kesepahaman (MoU) kerjasama dengan perusahaan penerbangan Indonesia dan asing; PT Angkasa Pura I & II dan AirNav Indonesia. (Admin)