Lestarikan Transportasi Tradisional, KSBN Papua Gelar Lomba Dayung

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Papua menggelar lomba dayung tradisional di Pantai Dok II Jayapura.

JAYAPURA (PB.COM) – Guna melestarikan alat transportasi tradisional yang sering digunakan masyarakat Papua, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Papua menggelar lomba dayung tradisional di Pantai Dok II Jayapura.

“Dayung merupakan alat transportasi orang tua kita dulu, makanya harus dilestarikan dan dayung ini merupakan sarana ciri khas orang Papua,” kata Sekretaris KSBN Provinsi Papua Richard Waromi di Jayapura, Selasa (25/8/2020).

Pada lomba tersebut diikuti 106 peserta dengan 27 tim yang terdiri dari ganda campuran lima orang, ganda campuran dua orang dengan batas usia 18-36 tahun.

“Lomba dayung tradisional ini peminatnya paling banyak, pesertanya dari kelompok nelayan, para pemuda yang berada di wilayah Kota Jayapura,” terangnya.

Ia menjelaskan, lomba dayung tradisional ini merupakan salah satu program KSBN Papua yang dapat mengangkat nilai-nilai budaya, dan bagaimana masyarakat dapat melestarikan kebudayaannya sendiri yang merupakan sarana tradisional ciri khas orang Papua.

“Sebab saat ini sudah banyak transportasi modern, tapi tidak serta merta harus melupakan apa yang menjadi kearifan lokal orang Papua,” jelasnya.

Ia mengharapkan dengan adanya lomba ini, generasi muda dapat menjaga dan mengembangkan alat transportasi laut yang digunakan orang tua terdahulu.

Lomba ini mendapat dukungan dari PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Bank Papua, Bank BNI serta Pemprov Papua. (Toding)

Tak Ada Hiburan Malam Ini, Yuk Nonton Film Di Timur Matahari di TVRI Papua

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait, ST.M.Si

JAYAPURA (PB.COM)-Hampir dua bulan lamanya, pemberlakuan social distancing akibat wabah Covid-19 di Provinsi Papua. Sebagian besar warga setiap hari berada di rumah saja: bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah pun di rumah.

Suasana jenuh dan bosan tentu terasa. Sebab sebagai makhluk sosial yang biasanya memiliki mobilitas tinggi, wabah ini benar-benar menyiksa dan mengurung manusia. Tempat hiburan berupa bioskop, karaoke, maupun cafe ditutup. Malam minggu, malamnya kaum remaja, pun kini hampa dan sepi.

Tetapi tidak untuk malam ini. Hari ini, Sabtu, 9 Mei 2020, warga yang mendiami Bumi Cenderawasih bakal dihibur dengan tontonan film menarik berjudul Di Timur Matahari yang ditayangkan TVRI Papua Pkl 19.00 WIT atau jam 7 malam.

Film karya Alinea Picture yang disutradarai Ari Sihasale ini bakal menemani Anda selama 1 jam lebih di layar kaca Anda. Pemutaran film yang dimainkan sebagian besar anak-anak Papua ini diprakarsai oleh Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua.

“Pemirsa TVRI Papua di seluruh Tanah Papua. Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2020, maka Dinas Pendidikan Provinsi Papua bekerja sama dengan TVRI Papua akan menayangkan sebuah film pendidikan dengan judul Di Timur Matahari,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait, ST.M.Si dalam pesan whatsapp yang diterima papuabangkit.com, Jumat (08/05/2020).

Menurut Christian, film bertema pendidikan di Papua dengan latar syuting di Kabupaten Lanny Jaya ini memiliki sarat makna yang bagus bagi pembentukan nilai dan karakter generasi muda. Selain itu, film yang diluncurkan sejak 2012 silam itu, juga menampilkan para pemain yang 90 persen adalah putra-putri Papua yang bertalenta.

Inti film Di Timur Matahari ini, kata Christian, adalah masalah pendidikan, dimana sektor ini kadang tersendat akibat masalah ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi di tengah masyarakat Papua.

“Karena itu, saya mengajak kita semua, jangan lupa, saksikan penayangan film Di Timur Matahari malam ini, Sabtu, 9 Mei 2020 Pkl. 19.00 atau jam 7 malam hanya di TVRI Papua,” ajak mantan Sekretaris Daerah Lanny Jaya ini. (Gusty Masan Raya)

Konser Reggae Conkarah Bawa Pesan Damai Untuk Tanah Papua

Conkarah saat menggelar jumpa pers, Kamis (19/9/2019).

JAYAPURA (PB.COM) – Situasi Papua yang memanas dalam satu bulan terakhir pasca insiden ujaran rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, tak mematahkan semangat artis Reggae asal Jamaica, Conkarah untuk tetap menggelar konser di empat kota di Papua dan Papua Barat.

Dalam jumpa pers yang digelar di salah satu café Abepura, Kota Jayapura, Kamis (19/9/2019), pemilik asli Nikolas Anson Moray ini mengaku sangat senang bisa berkunjung ke negeri ujung timur Indonesia ini.

Bahkan akunya, Papua layaknya rumah kedua baginya sebab dari keramahan masyarakatnya, alamnya, makanannya tidak jauh beda dengan yang ada di tempat asalnya Jamaica. Termasuk cuacanya yang panas saat siang hari dan malam hari yang diakuinya seperti begitu dekat dengan bulan purnama.

“Saya sangat senang mendapat sambutan luar biasa olah masyarakat papua. Mereka sangat ramah. Budayanya juga tidak terlalu beda, makanannya cukup fantastic dan enak. Dari hotel saya bisa melihat bulan cukup dekat, bahkan siang hari mataharinya juga panas seperti di  tempat saya (Jamaica),” ucap Conkarah.

Dia mengaku, meski situasi Papua sedang tidak aman, namun dirinya tetap yakin untuk datang menghibur masyarakat Papua terutama anak muda.

“Apa yang yang saya kerjakan dalam genre music reggae, saya ingin menyampaikan pesan positif kepada anak muda Papua untuk mereka melakukan hal-hal positif. Karena itu saya tidak takut untuk datang kesini,” ujar Conkarah seraya menambahkan ini merupakan kunjungan pertamanya ke Papua.

“Banyak fans saya yang berasal dari Papua. Saya beberapa kali ketemu fans asal Papuansata menggelar konser di sejumlah daerah Indonesia seperti Bali, Jakarta dan Jogja ,” akunya.

Disinggung apakah Conkarah yang terkenal sering meng-cover lagu-lagu hits akan berduet dengan talenta muda lokal tempat dimana dia konser, seperti yang dilakukan selama ini, dia mengaku akan melihat nanti, tapi tentunya ini akan menjadi tantangan buatnya.

Di konser perdananya besok di lapangan Bas Youwe Kabupaten Sentani, Conkarah akan tampil dengan membawakan 14 hingga 15 lagu berkolaborasi dengan arti lokal Papua, Dave Solution.

Konser 4 Kota

Owner Starlight Production selaku Event Organizer yang mendatangkan Conkarah, Esther Maitindom mengatakan, konser perdana akan dimulai Jumat besok  20 September besok  di Stadion Basyouwe Sentani, Kabupaten Jayapura, kemudian dilanjutkan Minggu, 22 September di Timika, Nabire 24 September dan ditutup di Kota Sorong 28 September.

 “Di lapangan Barnabas Youwe, Jumat (20/9) besok akan dimulai pukul 10.00 WIT hingga pukul 17.00 Wit,” kata Esther.

“Kami bersyukur atas dukungan pemerintah dan keamanan sebab di tengah situasi saat ini, acara bisa berlangsung dan bisa menjadi hiburan buat masyarakat,” katanya lagi.

 Dia menambahkan untuk harga tiket ada tiket baru yakni untuk kelas festival Rp 1.750 ribu, ada satu tiket 250 ribu, dan hari ini rilis terbaru 150 ribu.

“Kalau ini tidak menggunakan tiket tapi lewat transfer rekening,” katanya. (Andi/Frida)

Warga Flobamora Papua Pererat Silaturahim Lewat Halal Bi Halal

Tarian Hedung dari Lembata menyambut Ketua IKF Sulaeman Hamzah, Kapolda Papua Rudolf Albert Rodja dan Sekda Papua Hery Dosinaen di Aula Korem 172/PWY, Padang Bulan, Jayapura, Sabtu (06/07/2019)

JAYAPURA (PB.COM)—Ikatan Keluarga Flobamora (IKF) Provinsi Papua menggelar acara Halal Bi Halal, Sabtu (06/07/2019) di Aula Korem 172/PWY, Padang Bulan, Jayapura. Perayaan bertajuk Dalam Suasana Yang Fitri, Kita Tingkatkan Silaturahim Untuk Kebersamaan Yang Lebih Baik ini berlangsung sangat meriah dihadiri ribuan warga Flobamora di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom.

Ketua Panitia acara Yoseph Chandra mengatakan acara ini digelar untuk membangun kerekatan antarwarga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di Provinsi Papua.

“Perayaan halal bi halal ini dikemas untuk merayakan kemenangan nan Fitri saudara-saudari Flobamora yang beragama Muslim guna membangun kebersamaan sebagai anak-anak NTT di perantauan. Kita berbeda tetapi kita satu,” kata Yoseph.

Ketua Ikatan Keluarga Flobamora (IKF) H. Sulaeman L. Hamzah, SE dalam sambutannya menyampaikan selamat Idul Fitri kepada warga Flobamora yang merayakannya. Ia juga beterima kasih dan mengapresiasi umat Kristiani di Tanah Papua, termasuk warga Flobamora yang mendukung suksesnya perayaan Idul Fitri tahun ini.

Ketua IKF Sulaeman Hamzah saat meyerahkan bingkisan kepada para janda.

Menurut Sulaeman, selain perayaan Idul Fitri, acara ini juga dikemas sebagai bentuk syukuran bagi sejumlah putra terbaik Flobamora yang dipercayakan menduduki posisi strategis di Papua.

Di antaranya, Irjen Pol. Rudolf Albert Rodja yang dilantik menjadi Kapolda Papua dan mendapat kenaikan pangkat, Sekretaris Daerah Papua TEA Hery Dosinaen, S.IP.M.KP.M.Si yang dilantik sebagai Komisaris Utama Bank Papua, Walikota Jayapura yang sukses memimpin Kota Jayapura dua periode, Uskup Jayapura Mgr.  Leo Laba Ladjar, OFM yang merayakan usia ke-75 tahun, dan syukuran terpilihnya Brigjen Pol. Rudolf Herry Nahak sebagai Kapolda Papua Barat.

“Kami bangga memiliki putra terbaik yang diberi kepercayaan untuk mengemban tugas. Selamat bekerja membangun Tanah Papua,” kata Sulaeman.

Sulaeman juga berpesan kepada seluruh masyarakat Flobamora di Provinsi Papua untuk menjaga ketentraman dan toleransi dalam hidup bersama, baik dengan masyarakat Papua maupun dengan paguyuban non Papua lainnya. Oleh karena itu, ia meminta agar warga aktif terlibat dalam IKF dan tungku-tungku sebagai organisasi kemasyarakatan yang bisa memayungi dan mengayomi mereka.

“Saya berpesan khusus kepada kaum muda, siapkan diri agar ke depan melanjutkan kepemimpinan kami. IKF ini terus berjalan. Kalianlah yang akan mengganti kami. Terima kasih juga kepada masyarakat yang telah memilih kami sehingga kami terpilih kembali. Saya akan bekerja sungguh-sungguh untuk melayani dan memperjuangkan aspirasi rakyat Papua,” kata Sulaeman yang juga anggota DPR RI dari Nasdem ini.

Sementara itu, Rektor IAIN Jayapura Dr. H. Idrus Alhamid, S.Ag.M.Si dalam tausiyahnya mengatakan perbedaan suku dan agama adalah takdir yang diberikan Tuhan. Dan sejak dulu, nenek moyang kita sangat menghargainya.

Rektor IAIN Jayapura Dr. H. Idrus Alhamid, S.Ag.M.Si

Namun, kata Idrus, TV sebagai monster bermata satu telah hadir sebagai sumber peretak hubungan antarumat beragama dan pemicu konflik dengan tayangan yang penuh rekayasa dan provokatif. Fenomena sosial seperti ini menimbulkan disitegrasi budaya dan agama.

“Padahal agama itu mengajarkan cinta kasih. Sayangnya, saat ini orang banyak menjadikan simbol-simbol agama sebagai alat bersembunyi. Kenapa? Gara-gara televisi yang banyak memberikan kebohongan. Mari kita pupuk lagi silahturami,” kata Idrus.

Menurut Idrus, agama dan budaya adalah jati diri. Oleh karena, ia meminta warga Flobamora untuk menjaga nilai budaya dan agama yang berdasarkan kekudusan, bukan kemunafikan.

“Budaya kita orang Timur itu luhur dan sangat Toleran. Saya contohkan di Fakfak ada dulu istilah satu tungku tiga batu dimana sistem barter dalam dagang dan saling membutuhkan sangat kuat. Sekarang mulai pudar,” katanya.

Idrus berharap halal bi halal ini membuka kembali peristiwa sejarah tentang toleransi dan kerukunan antaragama yang sudah dibangun sejak zaman nenek moyang guna merekatkan rasa persaudaraan dan persatuan sesama anak bangsa.

Turut hadir dalam acara ini, dua putra terbaik Flobamora yakni Sekretaris Daerah Papua T.E.A. Hery Dosinaen, S.IP.M.KP.M.Si dan Kapolda Papua Irjen Pol. Rudolf Albert Rodja. Juga sejumlah pengurus tungku Flobamora dari setiap kabupaten, Ketua LMA Port Numbay George Awi, Rektor IAIN Jayapura Dr. H. Idrus Alhamid, S.Ag.M.Si, dan para pengurus lintas paguyuban. (Gusty Masan Raya)

Papua Akan Tampil pada Festival Foklore di Mesir

Ketua Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji foto bersama Ketua KSBN Provinsi Papua, Klemen Tinal, SE.MM dan pengurus KSBN.

JAYAPURA (PB.COM) – Ketua Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji mengatakan, tahun 2019 Papua mendapat jadwal lawatan ke Mesir untuk berinteraksi dengan masyarakat Internasional pada acara Foklore festival di Kota Cairo. Ia berharap, Papua dapat tampil prima dan dikenal prestasinya di dunia internasional.

Hal ini dikemukakan Hendardji saat melantik dan mengukuhkan pengurus KSBN Provinsi Papua periode 2019-2024 di salah satu hotel di Kota Jayapura, Kamis, 9 Mei 2019. Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal didaulat sebagai ketua umum.

Pelantikan dan pengukuhkan dihadiri oleh Kapolda Papual, Pangdam XVII Cenderawasih, Kepala OPD di lingkup Pemerintah Provinsi Papua, pelaku seni budaya dan tamu undangan lainnya.

Ketua Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji melantik dan mengukuhkan pengurus KSBN Provinsi Papua periode 2019-2024 di salah satu hotel di Kota Jayapura, Kamis, 9 Mei 2019. Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal didaulat sebagai ketua umum.

Hendardji mengatakan, dalam rangka meningkatkan daya saing global di kancah internasional maka KSBN melalui Gubernur, Bupati dan walikota se-Papua, berharap agar nilai-nilai tradisi yang hidup di bumi cenderawasih terus tumbuh dan berkembang memaknai kehidupan di Papua, sebagai bagian dari jati bangsa yang sesuai dengan UU Nomor 5 tahun 2017.

Selain itu, dirinya berharap melalui pelantikan KSBN Provinsi Papua, secepatnya membentuk KSBN Kabupaten/Kota karena basis budaya ada pada kabupaten/kota agar KSBN kabupaten/kota dapat memberikan andil membantu pemerintah dalam merumuskan pokok-pokok pikiran dalam kemajuan kebudayaan di Papua.

Ketua KSBN Papua, Klemen Tinal, mengatakan, seni budaya adalah hal yang luar biasa bagi orang Papua, sehingga kami merasa terpanggil secara moral untuk bagaimana bisa mengkapitalisasi semua seni dan budaya yang ada di bumi cenderawasih.

Ketua KSBN Papua, Klemen Tinal saat memberikan sambutan.

“Papua begitu luar biasa untuk Indonesia, kalau kita lihat dari sabang sampai merauke, Papua ini sukunya ratusan lebih dengan bahasa yang berbeda-beda,” ujar Klemen Tinal dalam sambutannya.

Untuk mengangkat seni budaya Papua, katanya,  KSBN Papua akan melakukan kerjasama dengan semua staheholder untuk memperkenalkan seni budaya Papua. “Kita akan libatkan semua pihak termasuk kerukunan-kerukunan nusantara yang ada di Papua untuk bagaimana mengangkat seni budaya kita,” ujarnya.

Klemen mengaku, SKBN Papua juga akan mewakili Indonesia untuk tampil di salah satu kegiatan seni budaya di Mesir dalam waktu dekat. “kami Papua siap mewakili Indonesia ke Mesir dan Belanda, kami akan koordinasi dengan DPP KSBN di Jakarta,” kata Klemen Tinal yang juga selaku Wakil Gubernur Papua itu.

Di sisi lain, pihaknya akan menyediakan satu lokasi di holtekamp, Kota Jayapura untuk anak-anak muda Papua menampilkan bakat seni budayanya.  “Lokasi sudah ada di Holtekamp, nanti kita menata tempatnya  yang baik dan anak-anak muda Papua bisa menampilkan kreasi seninya,” ucapnya.

Lanjutnya, program kerja ke depan,  KSBN akan melakukan festival budaya di lima wilayah ada di Provinsi Papua. Dengan demikian, anak-anak muda Papua bisa memahami dan mengerti tentang seni budaya di masing-masing wilayah adatnya.

“kita akan keliling lima wilayah adat dan melaksanakan festival budaya, agar anak-anak muda bisa mengerti dan pahami seni budayanya. Lanjutnya, karena hanya melalui seni budaya, kita bisa kita mengangkat jati diri orang Papua, kami mohon dukungan dan doa dari semua stakeholder yang ada di Papua, agar program kita bisa terwujud ke depan,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Papua dalam sambutan yang disampaikan staf ahli Gubernur, mengapresiasi terbentuknya Komite Seni Budaya Nusantara di Papua. Karena KSBN ini bisa menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi tentang perkembangan seni budaya nusantara, lebih khusus seni budaya Papua.

Berdasarkan undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang memajukan kebudayaan telah dicanangkan sejak tahun 2018 lalu, dan perlu mendapat perhatian dari semua elemen masyarakat.  Oleh karena itu, Gubernur mengimbau pada semua komponen masyarakat, agar ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan organisasi seni dan budaya, karena lewat pagelaran seni budaya dapat mengangkat jati diri orang Papua di dunia Internasional yang selalu mendapat perhatian dunia luar. (Gusti Masan Raya)

Anjungan Papua di TMII Selenggarakan Lomba Kreasi Busana Muslim Batik Papua

Lomba Kreasi Busana Muslim Batik Papua, di Anjungan Daerah Provinsi Papua, Minggu (3/12/17).

JAKARTA (PB) – Kantor Badan Penghubung Provinsi Papua di Jakarta sebagai penanggungjawab dan pengelola Anjungan Daerah Provinsi Papua di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menyelenggarakan Lomba Kreasi Busana Muslim Batik Papua, di Anjungan Daerah Provinsi Papua, Minggu (3/12/17).

“Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan promosi kesenian Papua yang memang telah kami rencanakan. Pada 9 Agustus 2017 yang lalu kita telah menyelenggarakan Kemilau Batik Papua yang menampilkan beragama corak Batik Papua yang dikreasi oleh pengrajin Batik Papua. Pada hari Minggu 3 Desember kami menyelenggarakan lomba Kreasi Busana Muslim Batik Papua yang terbuka bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Momentum kegiatan ini juga sangat tepat karena bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari Jumat 1 Desember 2017,” terang Alexander Kapisa, Kepala Badan Kantor Penghubung Provinsi Papua.

Pihaknya akan terus melakukan kegiatan promosi Papua. Tidak hanya dari hasil kreasi seni batik saja tapi juga promosi-promosi lainnya, seperti tari-tarian Papua, promosi wisata, ukiran-ukiran Asmat dan juga informasi keberhasilan pembangunan di Provinsi Papua.

“Promosi ini penting, agar masyarakat luas dapat melihat papua dari sisi yang lain, tidak hanya mendengar papua dalam hal konflik social dan politik. Banyak yang telah dan sedang dikembangkan dan dibangun di Papua. Hal ini penting untuk kami sampaikan ke publik,” tegas Kapisa.

Lomba ini diikuti oleh 37 Peserta yang melakukan kreasi batik Papua menjadi busana muslim, baik untuk anak-anak, remaja maupun dewasa. “Kami sangat senang dengan suksesnya pelaksanaan lomba ini, karena ini baru pertamakali kami laksanakan. Kami tidak menyangka bahwa lomba ini akan diminati dan mendapat banyak apresiasi dari masyarakat,” sambung ketua panitia lomba, Sergius Wabiser, SE.

Mudah-mudahan, lanjut Sergius, kegiatan ini dapat kami jadikan kalender kegiatan tahunan kami sehingga masyarakat luas juga akan semakin semangat melakukan kreasi batik papua menjadi busana muslim atau dalam bentuk busana lainnya. (Gusty Masan Raya)

Yuliana Pitornela Raih Mahkota Putri Indonesia Tingkat Provinsi Papua

Yuliana Pitornela Fonataba finalis dari Kota Jayapura menjadi juara satu dan resmi mewakili Provinsi Papua dalam ajang kontes kecantikan tingkat nasional yakni Pemilihan Putri Indonesia 2017.

JAYAPURA (PB) – Yuliana Pitornela Fonataba finalis dari Kota Jayapura menjadi juara satu dan resmi mewakili Provinsi Papua dalam ajang kontes kecantikan tingkat nasional yakni Pemilihan Putri Indonesia 2017.

Yuliana Pitornela Fonataba berhasil menjadi juara dari 18 finalis ajang pemilihan Putri Indonesia tingkat Provinsi Papua 2017 yang digelar di Kota Jayapura. Mama Yulce Enembe Ketua Pelaksana Pemilihan Putri Indonesia Daerah Papua, di Jayapura, Selasa (28/11/2017) malam, mengatakan pihaknya berharap perempuan yang berhasil unggul di antara peserta lainnya dapat mengangkat harkat dan martabat Bumi Cenderawasih. “Kami merasa ke depannya harus ada pembinaan-pembinaan dari masing-masing kabupaten/kota yang ada di Papua sehingga para finalis disiapkan dengan matang,” katanya.

Mama Yulce Enembe Ketua Pelaksana Pemilihan Putri Indonesia Daerah Papua.

Menurut Yulce, Papua memiliki 29 kabupaten/kota dengan kearifan lokal yang adat budaya yang unik di mana hal tersebut dapat ditampilkan dengan baik jika disiapkan secara matang. “Sebagai mama Papua, kami tidak ingin memberikan talenta kepada yang tidak berhak sehingga diharapkan apa yang dilihat juri layak sebagai juara maka itulah juaranya,” ujarnya.

Ia berharap adanya perhatian khusus bagi perempuan Papua yang menjadi juara dalam ajang pemilihan Putri Indonesia 2017 ini sehingga lebih siap lagi ke depannya mengikuti ajang-ajang kontes kecantikan lainnya. “Kami pun akan bertanggung jawab mempersiapkan perempuan Bumi Cenderawasih yang menjadi juara dalam ajang Pemilihan Putri Indonesia 2017 tingkat Provinsi Papua ini,” katanya lagi.

Finalis Putri Papua 2017

Sebanyak 18 putri asal Bumi Cenderawasih menjadi finalis ajang pemilihan Putri Indonesia tingkat Provinsi Papua 2017 yang digelar di Kota Jayapura. Yulce Enembe sebagai Ketua Pelaksana Pemilihan Putri Indonesia Daerah Papua,  mengatakan ke-18 putri-putri Bumi Cenderawasih ini merupakan perempuan yang mewakili 29 kabupaten/kota di wilayahnya.

“Sebagai mama Papua, saya berpesan kepada tim juri untuk memilih putri-putri Bumi Cenderawasih yang dianggap terbaik dapat mewakili wilayah timur Indonesia di ajang nasional,” katanya yang juga merupakan istri dari Gubernur Papua Lukas Enembe.

Menurut Yulce, pihaknya berharap putri Papua yang terpilih mewakili Bumi Cenderawasih di ajang nasional dapat mengangkat harkat dan martabat wilayahnya di kancah yang lebih tinggi. “Jadi putri-putri Papua yang kini menjadi finalis di tingkat provinsi ini merupakan perempuan-perempuan Bumi Cenderawasih terbaik di wilayahnya untuk mewakili daerahnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan meskipun baru menjalani malam bakat bagi finalis pihaknya berharap yang terpilih dapat menunjukkan bakat dan kemampuannya mewakili Papua. “Meskipun ajang kontes kecantikan tingkat Provinsi Papua baru diselenggarakan pada November ini, namun kami sudah mengusulkan kepada pusat sejak Februari 2017, tetapi karena satu dan lain halnya baru dapat terealisasi kini,” katanya lagi.

Sekadar diketahui, ke-18 finalis tersebut yakni Alfrida Kalem, Khatarin Margita Felle, Josephin Marianna Ramandei Satia, Elfien Andrea, Akdamina Lusia Deda, Dina Diana Imbiri, Putri Irma Beatrix Wakerkwa, Asprilia Pattiheuwean, Neldi Artristi Andoy, Yockbeth Nukuboy, Juliana Nussy, Yoanita Saron Wakerkwa, Yuliana Pitornela Fonataba, Magabale Clarita Balau, Sella Catarina Awak, Maria Yawan, Rosselina Agnes Maniagasi dan Ribka Lusaraamelia Duaramury. (YMF/Ed-Fri)

Pelaku Seni dan Budaya Senang Gubernur Lukas Perhatian Pada Seni Budaya Papua

Konsultasi dan Konsolidasi Pemerintah Provinsi Papua dengan Komunitas Pemerhati Budaya Papua yang dilaksanakan di Warung Daun Jakarta, Selasa (31/10/2017) hari ini.

JAYAPURA (PB) – Perhatian pemerintah saat ini yang sangat besar terhadap perkembangan seni dan budaya Papua mendorong para pelaku seni, komunitas dan pemerhati budaya untuk semakin semangat dan optimis dalam terus menggali dan mempromosikan seni budaya Papua.

Langkah yang dilakukan oleh Kantor Badan Penghubung di Jakarta sebagai representative Pemerintah Provinsi Papua dengan menjadikan kantor badan penghubung sebagai fasilitator bagi para Seniman Papua, dipandang sebagai langkah yang sangat baik yang sampai saat ini belum pernah dilakukan. Wadah ini dapat dimanfaatkan para seniman Papua untuk saling berinteraksi dan bersinergi untuk kebangkitan seni budaya Papua.

Hal tersebut merupakan kesimpulan dari acara “Konsultasi dan Konsolidasi Pemerintah Provinsi Papua dengan Komunitas Pemerhati Budaya Papua” yang dilaksanakan di Warung Daun Jakarta, Selasa (31/10/2017) hari ini.

“Visi dan Misi Gubernur saat ini untuk mewujudkan Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera mendorong kami para seniman Papua untuk juga bangkit dan terus menggali potensi-potensi seni dan budaya Papua yang sampai saat ini maish banyak yang belum digali dan ditunjukkan kepada masyarakat luas. Baru Gubnernur yang sekarang ini, pak Lukas Enembe, yang memberikan perhatian dan membangun kemitraan dengan  pelaku seni seperti kami ini,” ujar Wiliam Swaki yang menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut.

Suasana Konsultasi dan Konsolidasi Pemerintah Provinsi Papua dengan Komunitas Pemerhati Budaya Papua yang dilaksanakan di Warung Daun Jakarta, Selasa (31/10/2017) hari ini.

Sejak tahun 80-an, lanjut Wiliam Sawaki, membangun dan mempromosikan seni dan budaya Papua di Jakarta sangatlah sulit. “Pada saat itu kami tidak punya apa-apa, bahkan kami seringkali tidak punya dana untuk melakukan kegiatan seni kami, tapi kami tetap komitmen untuk membangun dan mempromosikan seni dan budaya Papua. Melalui grup musik Rio Grime kami terus bergerak agar Papua ini tetap di pandang sebagai bagian integral dari negara ini,” terang Wiliam Sawaki.

Frans Rumbino atau Frans Sisir sebagai pelaku seni di tahun 2000-an juga sangat berterimakasih kepada Gubernur lukas Enembe yang memberikan perhatian yang besar kepada seniman-seniman Papua. “Dengan fasilitasi yang diberikan oleh kantor badan penghubung kepada para seniman Papua yang ada di Jakarta, saya berharap para pelaku seni dan pemerhati budaya Papua semakin menyatu dan menjalin komunikasi yang intensif sehingga seni dan budaya Papua terus bangkit dan Berjaya,” lanjut Frans Rumbino yang juga narasumber dalam acara ini.

Dalam acara ini, Kepala Kantor Badan Penghubung Provinsi Papua, Alexander Kepisa menyampaikan bahwa kantor badan penghubung siap menjadi wadah dan etalase seni Papua yang ada di Jakarta. “Saya sangat berharap agar para pelaku seni dan pemerhati budaya Papua yang ada di Jakarta dan sekitarnya dapat terus menjalin komunikasi dengan kami sebagai representative Pemerintah Provinsi Papua di Jakarta. Jadikanlah kantor kami sebagai wadah dan etalase seni budaya Papua sehingga semuanya dapat terorganisir dengan baik dan pemerintah provinsi papua dapat terus memberikan dukungan kepada seniman-seniman papua yang ada di Jakarta,” kata Alexander Kapisa. (Frida Adriana)

Kantor Badan Penghubung Provinsi Papua Konsolidasikan Komunitas Pemerhati Seni Budaya Papua

Kepala Kantor Badan Penghubung Provinsi Papua Alexander Kapisa dalam suatu kesempatan bersama Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Papua Yusuf Yambe Yabdi.

JAYAPURA (PB) – Stakeholders sangat berperan dalam mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor di Provinsi Papua. Tak terkecuali para pelaku seni dan pemerhati budaya papua.

Hal ini disampaikanKepala Kantor Badan Penghubung Provinsi Papua Alexander Kapisa di Jakarta dalam rangka persiapan pelaksanaan Papua Update, yang mengambil tema, “Konsultasi dan Konsolidasi Pemerintah Provinsi Papua dengan Komunitas Pemerhati Budaya Papua”.

Dalam rilis yang diterima redaksi papuabangkit.com, kegiatan ini dilaksanakan Selasa 31 Oktober 2017 hari ini bertempat di Warung Daun, Jalan Cikini Raya No 26 Jakarta Pusat. “Peran dari tokoh-tokoh masyarakat, agama dan tentunya juga pelaku seni memberikan konstribusi yang sangat positif dalam proses pembangunan di Provinsi Papua. Tanpa peran aktif, kerjasama dan sinergi positif yang terbangun selama ini antara berbagai stakeholders tersebut dengan Pemerintah, tentunya  akan sangat berat mewujudkan apa yang selama ini didambakan yaitu Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera,” kata Kapisa.

Sebagai daerah yang sangat dikenal dengan beraneka ragam seni, kerajinan tangan, tarian-tarian etnik dan kegiatan-kegiatan spiritual lainnya, peran pelaku seni dan pemerhati budaya sangat strategis dalam mempromosikan budaya Papua, baik di dalam negeri maupun ke mancanegara.

“Dengan pola pendekatan pembangunan lima wilayah adat, maka focus pembangunan di berbagai sector dapat menjadi lebih baik, termasuk memunculkan potensi seni dan budaya di masing-masing wilayah adat tersebut. Di sinilah letak strategis kerjasama antara pemerintah dengan para pelaku seni dan komunitas pemerhati budaya Papua. Ada saling mengisi satu sama lain sehingga akan memberikan dampak yang positif untuk Provinsi Papua,” ujar Kapisa.

Untuk itulah, ia memandang perlu dan strategis untuk melakukan konsultasi dan koordinasi dengan para pelaku seni dan komunitas pemerhati budaya Papua untuk sama-sama mendiskusikan seperti apa perjalanan seni dan budaya Papua selama ini dan seperti apa sebaiknya yang dilakukan oleh pemerintah ke depan.

“Rencananya kami akan menghadirkan Bapak Wiliam Sawaki, mantan anggota MRP dan anggota grup Rio Grime dan Bapak Frans Rumbino yang selama ini dikenal dengan sebutan Frans Sisir sebagai narasumber dalam acara tersebut. “Kami menyebutkan acara tersebut sebagai para-para Komunitas Seni Budaya Papua,” imbuh Kapisa. (Frida Adriana)

Yuuuk… Lebih Dekat Dengan Cello, Pemeran Utama Film Tommi dan Jerri

Clemens Keramu Mawani Awi

Siang itu, Senin 18 September 2017. Pengunjung XXI Mal Jayapura dibuat kaget dengan kedatangan Clemens Keramu Mawani Awi atau yang  akrab dipanggil Cello dan Yulian Kunto.

Kedua artis ini memang sengaja datang ke Port Numbay untuk melakukan promosi film bergenre komedi “Tommi dan Jerri”. Sebuah film yang mengisahkan dua orang sahabat Cello si Epen Cupen asli Papua dan Mongol dari Manado yang dikejar gank Mafia.

Walau sudah mengenakan kacamata hitam, namun dari penampilan dan sosok keduanya tidak dapat menipu pengunjung XXI yang langsung mengambil momen untuk foto bersama.  Saat kami dekati, Cello tidak menolak untuk diwawancarai.

Pertanyaan pertama kepadanya, kenapa Mongol tidak datang bersamanya. “Kalau Ka Mongol tidak ikut. Karena Ka Mongol juga lagi road show di tempat lain. Makanya saya diutus ke sini pas sekalian pulang kampung,” terangnya membuka percakapan kami.

Sebagai pemuda bertalenta yang sibuk syuting, membuat Cello baru dapat kembali lagi ke tanah asalnya.   “Terakhir pulang tahun kemarin karena kita sempat syuting juga, Judulnya Raja Mob. Tahun ini balik lagi,” ceritanya.

Dengan kesuksesannya di dunia industri film tanah air, Cello mengharapkan kepada masyarakat Papua terutama anak – anak muda dapat memberikan dukungan kepadanya. Apalagi rencananya untuk sekuel kedua film ini akan mengambil syuting di luar negeri.

Cello mulai serius bercerita saat ditanya soal prestasi anak – anak muda Papua.  Padahal provinsi ini dikenal sebagai gudangnya mob (cerita lucu khas Papua-red) dan mereka berpotensi. Ia melihat banyak anak – anak Papua yang kurang percaya akan dirinya sendiri dan cepat berputus asa.

“Teman-teman biasa rasa – rasa begitu. Jadi kalau mereka hari ini, bertahan dua tiga bulan saja. Tetapi karena melihat tidak ada perkembangan akhirnya putus asa dan banting stir mencari pekerjaan lain. Jadi tidak terlalu serius juga. Padahal mereka punyai bakat yang dimiliki. Kita di Papua punya potensi untuk melucu. Siapa yang tidak tahu Mob Papua. Kan hanya kita doang. Padahal itu potensi besar. Cuman kadang – kadang teman – teman agak susah bertahan,” ucapnya dengan nada pelan.

Cello mengatakan, anak muda Papua harus melihat kesempatan dan peluang. Tentunya dengan banyak  banyak bergaul dengan orang – orang yang jam terbangnya tinggi atau sudah berpengalaman. “Saya di komedi. Jadi kalau ada anak Papua mau seriusi bidang ini, datang saja sharing/berbagi pengalaman  ke saya. Mungkin saya bisa kasih sharing pengalaman. Terus kalau hendak bertahan. Harus kita berangkat dari niat dulu,” sarannya.

Sebab dengan niat, fokus dan tekad, apapun yang terjadi  dapat dilalui. “Seperti saya bilang, saya harus jadi bintang timur. Bintang itu muncul dari sini,” ucapnya dengan bersemangat.

Bersama fans di XXI Jayapura.

Perjalanan Karier

Perjalanan karier Cello pemuda asal Marine, dari tempat kelahirannya di Kimaam, Kabupaten Merauke sampai bisa masuk Jakarta, berawal dari  Komunitas Mob Epen Cupen. Hanya saja komunitas ini beberapa kali mau bubar, hanya dirinya  yang bertahan. Satu konsekuensi, mengorbankan segala-galanya, termasuk kuliah dan kerjaan-kerjaan yang lain.

“Ini bertabrakan dengan jiwa saya. Karena jiwa saya kan seni. Terus saya lihat dari situ kita punya potensi yakni mob Papua dan budaya kita kaya. Akhirnya kita bertahan sampai dalam tim itu saya jadi yang terbaik dalam grup Epen Cupen the Movie,” ceritanya.

Sebagai pemain film, ia tercatat sebagai anak Papua  yang bermain satu film dengan berperan menjadi dua tokoh. Menurutnya hal ini sangat membanggakan. “Sampai sekarang masih saya sendiri yang bertahan di dunia peran,” imbuhnya.

Saat ini Cello sudah membintangi 8 judul film dan 1 sinetron Epen Cupen the Movie sebagai peran utama. Kemudian sebagai peran pembantu di Sinetron komedi Kecil – Kecil Jadi Manten.  “Hanya saja saat ini saya fokus di film Tom dan Jerri jadi saya tidak di sinetron lagi,” akunya.

Cello mulai terjun ke dunia peran pada jaman sekolah sekitar tahun 2009. Ia lahir pada tanggal  12 Desember 1988. Sebagai anak muda yang tengah bersinar, Cello berpesan kepada anak muda Papua untuk tetap fokus dengan apa yang diinginkan, sehingga dapat membuat mimpi menjadi kian nyata. “Supaya jangan sampai orang menganggap kita tidak bisa dan menyepelekan. Dulu saya tanamkan itu,” tutupnya. (YMF/Ed-Fri)