
Lusianus Uropmabin, Asisten Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan UKSW Salatiga saat mengajar di Laboratorium FKIK.
JAYAPURA (PB.COM)—Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) di era kepemimpinan Bupati Spei Yan Bidana, ST,M.Si sejak tahun 2021 lalu mengirim 200-an mahasiswa-mahasiswi untuk menjalani studi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.
Jauh sebelum itu pun, UKSW menjadi salah satu universitas pilihan mahasiswa Pegubin. Apalagi, di kampus ini ada seorang putra asli Pegubin yang kini menjadi dosen tetap. Dia adalah Dr. (Cand.) Melkior Nikolar Ngalumsine Sitokdana, S.Kom,M.Eng.
Berdasarkan data, dari ratusan mahasiswa Pegubin yang sedang menjalani studi di UKSW, ada sejumlah orang di antaranya menunjukkan prestasi akademik dan non akademik yang membanggakan.

Selain Tokon Uropmabin yang fasih berbahasa Inggris dan dua kali mewakili kampus dalam pertukaran mahasiwa internasinal di Taiwan dan Jepang sebagaimana pernah diulas media ini, ternyata masih ada sederet mahasiswa-mahasiswi lain yang ikut mengharumkan nama Bumi Okmin.
Salah satunya ialah Lusianus Uropmabin, yang sejak 2023 dipercayakan sebagai asisten dosen di Program Studi Ilmu Keperawatan UKSW Salatiga.
“Saya mulai studi tahun 2021 dan rencana wisuda awal tahun 2026 dan berkeinginan untuk ambil S2 di Universitas Gadjah Mada. Saya tertarik pada dunia kesehatan khususnya keperawatan pada saat SMA setelah mengambil jurusan IPA dan punya keinginan untuk mendalami bagian anatomi tubuh manusia,” kata Lusianus Uropmabin.

Lusianus lahir di Distrik Okbibab, 2 Juni 1996. Putra ketujuh dari Andi Alipky Uropmabin ini melewati pendidikan di SD Inpres Dabolding, SMP YPPK Bintang Timur Mabilabol-Oksibil, dan SMA Negeri Cilacap Jawa Tengah.
Kendati datang dari sekolah di daerah terpencil, Lusianus menunjukkan prestasi akademik yang bagus. Dengan itulah, sejak 2023 ia diberi kepercayaan menjadi asisten dosen di kampusnya.
Tak hanya itu, Lusianus juga menunjukkan kemampuannya di sejumlah lombah. Ia pernah meraih juara 2 lomba debat tentang Mental Health Disorder pada Fakultas Psikologis, FKIK dan Hukum (2022), juara 2 lomba pidato kultural FKIK (2022), juara 1 lomba debat Mental Health Disorder (2024), juara 2 lomba pembuatan video Satya Wacana Creative Discussion (2024), dan bersama tim meraih juara 1 lomba Futsal Medication Cup Nasional (2024)

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa anak-anak dari pedalaman Papua memiliki kapasitas untuk bersaing dan berkontribusi di dunia pendidikan tinggi, selama mereka diberi ruang untuk berkembang dengan semangat juang dan ketekunan dalam belajar.
“Saya tertarik menjadi asisten dosen karena ingin menambah pengalaman dan pengetahuan untuk mendukung cita-cita saya yaitu menjadi dosen seperti Kaka Melkior Sitokdana yang sudah lama mengajar sebagai dosen di UKSW,” tutur pria yang hobby bermain gitar, membaca buku dan bermain sepak bola ini.
Kemampuan Non Akademik
Dosen UKSWA, Dr. (Cand.) Melkior Nikolar Ngalumsine Sitokdana, S.Kom,M.Eng selaku pendamping Program 200 Mahasiswa Pegubin sekaligus orang tua wali, menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas berbagai pencapaian luar biasa yang telah diraih oleh adik-adiknya, baik di bidang akademik, organisasi kemahasiswaan, maupun non akademik.

Dosen UKSW Dr. (Cand.) Melkior Nikolar Ngalumsine Sitokdana, S.Kom,M.Eng bersama Tokon Uropmabin.
“Selain Tokon dan Lusianus, juga ada Deden Uropmabin yang berhasil menyelesaikan studi Sarjana (S1) hanya dalam waktu 3 tahun 8 bulan. Ini sebuah pencapaian akademik luar biasa yang layak menjadi inspirasi bagi generasi muda Pegunungan Bintang,” kata Melky.
Menurut Melki Sitokdana, pada lingkup internasional, Tanius Wasini kini dipercaya langsung oleh Rektor UKSW sebagai penerjemah bahasa Mandarin untuk menyambut tamu-tamu dari Tiongkok. Hal ini adalah bentuk pengakuan terhadap kemampuan mahasiswa Papua dalam menjawab tantangan global melalui penguasaan bahasa dan komunikasi lintas budaya.
Sementara itu dalam bidang organisasi kemahasiswaan, kata Melki, para mahasiswa asal Pegubin juga menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang kuat. Sebut saja Agus Kakyamabin yang menjabat Ketua PMKRI Cabang Salatiga, yang kini dilanjutkan oleh Ilarius Lepki. Hendrik Taplo aktif sebagai pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) UKSW, dan Ipenus Meku dipercaya sebagai pengurus inti GMKI Cabang Salatiga. Kemudian, Elia Mimin yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMAPO.

“Keterlibatan mereka dalam organisasi-organisasi strategis ini menunjukkan bahwa mahasiswa asal Papua tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu menjadi pemimpin muda yang visioner dan berintegritas,” ujar Doktor Sistem Informasi, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.
Prestasi membanggakan juga diraih di bidang non-akademik, khususnya dalam olahraga. Sanus Wanoga, Simeon Apintamon, Dominggus Payumka, dan beberapa mahasiswa lainnya berhasil menjadi juara dalam kejuaraan tinju tingkat regional Jawa Tengah. Dicabang Taekwondo, Silvester Kasipmabin dan Dodimen Kris Aldax Ningdana sukses meraih gelar juara di tingkat Jawa Tengah dan DIY, sekaligus mengharumkan nama UKSW.
Melki mengatakan, berbagai pencapaian ini menegaskan bahwa putra-putri dari pedalaman Papua, termasuk dari Pegubin, memiliki potensi besar untuk bersaing secara sehat dengan mahasiswa dari berbagai wilayah lainnya selama mereka diberi kesempatan dan dukungan yang setara, terutama dalam hal akses terhadap pendidikan dan fasilitas pembelajaran. Bukti nyatanya dapat kita lihat bersama di lingkungan Universitas Kristen Satya Wacana.

“Atas seluruh prestasi ini, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Pegunungan Bintang yang telah memberikan kepercayaan kepada UKSW sebagai mitra strategis dalam membina dan mendampingi generasi muda Papua agar berkembang secara maksimal,” tuturnya.
Melki sendiri menyadari, ia berasal dari Pegubin, sebuah wilayah yang hingga kini masih tergolong daerah tertinggal. Namun ia bersyukur dapat mengabdi sebagai dosen di UKSW selama lebih dari sepuluh tahun. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi mereka yang memiliki tekad, semangat belajar dan komitmen untuk maju.
“Karena itu, kami bersama pimpinan UKSW terus berkomitmen untuk mendorong dan mempersiapkan mahasiswa Papua agar kelak ada yang mampu melanjutkan estafet sebagai dosen, peneliti, dan pemimpin di bidang pendidikan. Kami yakin, dengan memberikan ruang, bimbingan, dan pendampingan yang tepat, mereka akan tumbuh menjadi panutan serta penggerak perubahan bagi Tanah Papua,” tutur Melki. (Gusty Masan Raya)






























