
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK) membacakan pernyatan penutup kampanye di Senggi, Kabupaten Keerom, daerah tapal batas negeri RI-PNG, Sabtu (02/08/2025).
SENGGGI (PB.COM) – Hari terakhir jadwal kampanye jelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur (Pilgub) Papua, Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK) memilih Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, daerah tapal batas negeri RI-PNG, Sabtu (02/08/2025).
Dalam kesempatan itu, Calon Gubenur Papua Benhur Tomi didampingi sang Wakil Constant Karma, berdiri ditengah Masyarakat Senggi dan menyampaikan pernyataan penutup BTM–CK.
Sebuah pernyataan yang begitu menggugah rasa moralitas dan melecut semangat rakyat untuk bersama bangkit dari ketertinggalan, keterisolasian dan kebersamaan untuk Satu membangun Papua.
Berikut Pernyataan Penutup BTM–CK yang sempat diperoleh redaksi,
PERNYATAAN PENUTUP BTM–CK
Shalom. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Salam Kebajikan.
Saudara-saudaraku yang saya hormati dan kasihi,
Masa kampanye telah usai, namun semangat perjuangan belum selesai.
Justru di titik inilah kita harus semakin merapatkan barisan.
Hari ini sabtu tanggal 2 agustus 2025, saya tidak datang membawa seruan politik, melainkan secercah harapan yang ingin saya titipkan, dari hati saya kepada hati saudara-saudara semua.
Kami tidak datang menjanjikan langit.
Kami datang dengan kaki yang menapak di tanah, dengan tekad dan kerendahan hati, untuk berjalan bersama menuju Papua yang adil dan bermartabat.
Kami tahu perjuangan ini tidak ringan. Tapi suara rakyat adalah kekuatan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditekan, dan tidak bisa dihentikan.
Kami telah menyampaikan visi dan menempuh jalan panjang.
Menyapa masyarakat dari kepulauan Yapen, Waropen, Biak, Supiori, melewati hutan dan lembah Mamberamo Raya, menjenguk harapan di pesisir Sarmi, hingga menyelami denyut nadi rakyat di kota Jayapura.
Hari ini saya menyampaikan pesan ini dari Kabupaten Keerom, tepatnya di Distrik Senggi, tempat terakhir kampanye kami, sekaligus ruang perenungan yang mendalam.
Saya memilih Senggi bukan tanpa alasan. Tempat ini menjadi cermin dari seluruh kabupaten/kota di Papua yang tengah menghadapi ancaman senyap dari tangan-tangan oligarki yang datang mengeruk kekayaan alam.
Senggi adalah simbol: tenang, terpencil, namun sarat makna.
Di sinilah saya ingin menutup perjalanan ini bukan di keramaian, tapi di tempat yang sedang berjuang menjaga martabat tanahnya.
Di balik heningnya hutan Senggi, ada kegelisahan rakyat yang mulai merasa terancam. Tambang ilegal mulai merayap masuk. Dan saya tahu, Senggi tidak sendiri. Banyak tempat di Papua hari ini menghadapi hal yang sama.
Saya memilih berbicara dari sini agar seluruh Papua mendengar !!!
kita tidak boleh diam. Kita tidak anti kemajuan, tapi kita menolak perusakan yang membungkus diri dengan istilah investasi. Kita tidak menolak pembangunan, tapi kita menuntut pembangunan yang bermoral dan beretika.
Menutup kampanye di Senggi adalah sikap.
Bahwa perjuangan ini bukan tentang kekuasaan, melainkan keberpihakan. Kami mendengar suara dari pinggiran, dan dari sinilah suara itu kami bawa ke pusat harapan rakyat.
Jika dalam langkah kami ada yang kurang berkenan, atau kata-kata yang tidak sempurna, kami mohon dimaafkan. Kami tidak datang membawa segalanya, tapi kami datang membawa kehendak tulus untuk melayani.
Tanggal 6 Agustus 2025 adalah hari yang menentukan.
Datanglah ke TPS dengan hati yang jernih dan keberanian yang utuh.
Jangan biarkan suara Anda dicuri, jangan biarkan kebenaran dibungkam. Jika Tuhan menghendaki dan rakyat memberi restu, kami akan menjadi pelayan yang bekerja, bukan penguasa yang memerintah.
Dan jika takdir berkata lain, kami akan tetap melangkah dengan kepala tegak karena kami telah berjuang tanpa mengorbankan kehormatan kami.
Kami titipkan Papua kepada rakyatnya sendiri.
Kepada ibu-ibu yang menanak nasi dengan doa,
kepada pemuda yang menolak dibeli,
kepada para petani dan nelayan yang menggantungkan hidup dari tanah dan laut yang jujur,
kepada ASN yang tetap teguh di tengah tekanan birokrasi,
serta kepada para guru dan tokoh adat yang setia di tengah gelombang tekanan.
Biarlah Tuhan menjadi penentu akhir dengan kasih dan keadilan-Nya.
Dengan hormat dan penuh harapan,
Benhur Tomi Mano – drh. Constan Karma
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Nomor Urut 01
Salam Perjuangan.
(ADM)






























