Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH foto bersama 276 guru saat pembekalan untuk ditempatkan di Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Selasa (21/10/2025) di Nabire.‎

NABIRE (PB.COM) – Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH membuka pembekalan 276 guru yang siap ditempatkan di Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Selasa (21/10/2025) di Nabire.‎

Pembekalan Tenaga Guru Daerah 3T tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Pemprov Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pembekalan ini juga dihadiri  perwakilan dari setiap distrik yang ditunjuk sebagai motor penggerak perubahan data pendidikan.

‎Membuka kegiatan, Gubernur Meki Nawipa menyoroti berbagai permasalahan yang masih menghambat kemajuan pendidikan di Papua Tengah. Manipulasi data pokok pendidikan (Dapodik) oleh oknum kepala sekolah dan operator demi kepentingan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kerap terjadi.

Kebiasaan buruk ini berdampak pada kualitas pendidikan serta memperburuk indeks pembangunan manusia (IPM). Ia menyebut IPM Papua Tengah di tahun 2024 naik 0,81 poin dari 59,8 menjadi 60,44. Tapi ini masih jauh dari angka ideal di atas 70. “Kita harus kerja keras, karena naikkan IPM itu tidak semudah kelihatannya,” ujar Gubenur Meki Nawipa.

Ia pun menyoroti rendahnya capaian pendidikan di Papua Tengah. Rata-rata lama sekolah hanya 6,12 tahun dan harapan lama sekolah 9,63 tahun. Hal ini berarti masih banyak warga yang hanya menamatkan bangku pendidikan dasar atau SD.

“Kalau sampai SD saja, lalu tidak lanjut sekolah, berarti ada yang salah dalam pelaksanaan otonomi khusus. Ini juga akibat permainan data oleh kepala sekolah dan operator,” katanya.

Karena itu, ia mendorong penggunaan teknologi seperti GPS untuk memverifikasi data siswa secara langsung hingga ke rumah-rumah, guna menghentikan praktik manipulasi jumlah siswa yang tidak sesuai realita.

“Setiap rumah harus dikasih titik koordinat. Kita cek berapa anak sebenarnya di rumah itu. Ada PAUD sampai seribu siswa, padahal itu tidak masuk akal. Masuk gereja tapi masih bohong, ini harus dilawan,” tegasnya.

Gubernur mengajak para guru dan sarjana yang berasal dari Papua untuk menjadi agen perubahan dan tidak larut dalam sistem yang korup. Ia pun mengajak seluruh peserta kegiatan untuk menjadi cahaya bagi tanah Papua Tengah.

“Terang itu harus dimulai dari pinggiran, dari gunung, dari pesisir, dari rumah, dari diri sendiri. Kita sendiri yang bisa tolong kita punya orang. Tidak ada orang dari luar yang akan datang selamatkan kita,” ujarnya.

Gubernur Meki Nawipa menegaskan, reformasi pendidikan di Papua Tengah harus dimulai dari kejujuran, keberanian dan integritas para pendidik serta pemangku kepentingan pendidikan.

Sementara itu, ‎Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Nurhaida, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari visi Gubernur Papua Tengah untuk menghadirkan dan mengembangkan pendidikan di daerah-daerah 3T.

‎Guru-guru yang direkrut, katanya, sudah disesuaikan dengan distrik asal masing-masing, sehingga tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan tugas di tempat penempatan mereka.

“Setelah pembekalan selesai, kami berharap para guru langsung kembali ke distrik masing-masing dan menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

‎‎Program ini dirancang untuk berjalan selama tiga bulan, dan kelanjutannya pada tahun 2026 sangat bergantung pada komitmen para guru dalam menjalankan tugasnya. ‎“Ini adalah kesempatan bagi kita semua membuktikan kesungguhan sebagai anak dan orang Papua yang ingin membantu sesama,” tambah Nurhaida. (Gusty Masan Raya/Abeth You)

Facebook Comments Box