
Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli memberi sambutan dalam ibadah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Injil Masuk di Lembah Way Heluk Ninia, Kabupaten Yahukimo, yang berlangsung di Aula Sekolah Tinggi Agama Kristen Injili Negeri (STAKIN), Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (21/05/2026).
SENTANI (PB.COM) – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Injil Masuk di Lembah Way Heluk Ninia, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, menjadi panggung pesan persatuan dan perdamaian yang kuat dari Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli.
Di tengah ratusan warga asal Yahukimo yang berdomisili di Kota dan Kabupaten Jayapura serta sekitarnya, Didimus mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan, persatuan gereja, dan semangat damai sebagai warisan utama Injil bagi masyarakat Papua.
Perayaan yang berlangsung khidmat di Aula Sekolah Tinggi Agama Kristen Injili Negeri (STAKIN), Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (21/05/2026), mengangkat tema “Mereka Yang Diam di Negeri Kekelaman, Atasnya Terang Telah Bersinar” dari Kitab Yesaya 9:1, sebagai refleksi perjalanan masuknya Injil di wilayah Ninia sejak 21 Mei 1961.
Ibadah ini sekaligus mengenang jasa para misionaris, di antaranya Stan Albert dan Niko Deley dari Amerika Serikat bersama sejumlah penginjil dari Tolikara yang pertama kali membawa terang Injil ke Lembah Way Heluk, Distrik Ninia.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Presiden GIDI, Usman Kobak, Penasehat GIDI Pdt Lipiyus Biniluk, Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, Staf Ahli Gubernur Papua Orgenes Kambuaya, hingga keluarga misionaris asal Selandia Baru.
Namun perhatian jemaat tertuju pada sambutan Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, yang tampil menyampaikan pesan moral sekaligus kesaksian pribadi sebagai anak asli Ninia dan umat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI).

Suasana Ibadah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Injil Masuk di Lembah Way Heluk Ninia, Kabupaten Yahukimo, yang berlangsung di Aula Sekolah Tinggi Agama Kristen Injili Negeri (STAKIN), Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (21/05/2026).
Dalam sambutannya, Didimus mengapresiasi panitia penyelenggara sekaligus mengingatkan bahwa momentum 65 tahun Injil masuk ke Ninia harus dimaknai sebagai panggilan menjaga solidaritas antarumat dan kader GIDI.
Menurutnya, jabatan dan posisi politik hanyalah sementara, namun persaudaraan dan gereja harus tetap menjadi fondasi utama.
“Ini adalah periode emas, kesempatan yang Tuhan berikan. Karena kami bertiga, Presiden GIDI, Pak Wagub, dan saya sebagai Bupati berasal dari lembah yang sama, dari Ninia. Ini segitiga emas yang Tuhan kasih. Kita akan pensiun, tidak selamanya jadi pejabat, tetapi persaudaraan dan gereja harus kita jaga,” ujar Didimus disambut tepuk tangan jemaat.
Didimus bahkan mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak boleh merusak ikatan kekeluargaan.
“Ada masanya saat berpolitik kita kembali ke perahu dan partai masing-masing, tetapi setelah itu kita kembali sebagai saudara,” tegasnya.
Seruan Damai untuk Wamena
Di tengah suasana ibadah, Didimus juga menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi konflik yang terjadi di Wamena, Papua Pegunungan. Ia mengajak seluruh jemaat mendoakan masyarakat yang tengah terdampak pertikaian.
Didimus mengungkapkan bahwa dirinya baru saja berada di Wamena untuk mengunjungi warga asal Yahukimo yang terdampak sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Pemerintah Kabupaten Yahukimo, kata dia, juga telah melakukan koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna mendorong penyelesaian konflik.
“Kita doakan saudara kita di Wamena yang sedang ada pertikaian. Saya beberapa hari berada di sana mengunjungi warga kita dan memberi bantuan kemanusiaan. Dalam rapat koordinasi, saya juga sampaikan bahwa kita semua adalah anak Injil dan wajib berdamai,” tutur Didimus.
Pesan damai itu sejalan dengan semangat Injil yang telah hadir selama 65 tahun di tanah Ninia—membawa terang, persatuan, dan pengharapan bagi masyarakat.
Didimus juga menyampaikan apresiasi kepada Penasehat GIDI, Pdt Lipiyus Biniluk, yang mengingatkannya untuk hadir dalam ibadah di Sentani.
“Beliau sampaikan saya sudah pernah mengikuti ibadah HUT ini di Dekai dan Ninia, jadi kali ini harus hadir di Sentani. Ini luar biasa,” katanya.
Diakhir sambutannya, Didimus Yahuli mengingatkan generasi Muda Yahukimo untuk wajib belajar menuntut ilmu yang tinggi, agar menjadi bekal bagi dirinya dimasa depan.
“Ingat, kita Harus belajar yang sungguh-sungguh. Tingkatkan kualitas diri dan hidup kita dengan belajar, itu modal paling berharga,” pesannya.
Senada dengan Didimus, Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, juga menyerukan pentingnya menjaga kedamaian di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan umat GIDI untuk tidak terjebak dalam konflik, melainkan bangga menjaga daerah dan identitas gereja yang lahir dari tanah Papua.

Ketua Panitia Ibadah Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Injil Masuk di Lembah Way Heluk Ninia, Kabupaten Yahukimo, , Pdt Nelius Suhuniap.
Sementara itu, Ketua Panitia Ibadah, Pdt Nelius Suhuniap, menjelaskan bahwa peringatan HUT Injil Masuk Ninia merupakan agenda rutin yang bertujuan menjaga ingatan sejarah generasi muda terhadap perjalanan penginjilan di wilayah tersebut.
“Ada dua hal penting dalam peringatan ini. Pertama, mengingat bahwa setiap 21 Mei adalah hari masuknya Injil di Lembah Way Heluk Ninia, dan kedua sebagai bentuk penghormatan serta dukungan kepada para penginjil,” ujarnya.
Bagi masyarakat Yahukimo, peringatan ini bukan sekadar seremonial keagamaan, melainkan momentum memperkuat identitas iman sekaligus mempererat persaudaraan di tengah tantangan sosial yang terus berkembang. Terlebih, pesan yang disampaikan Bupati Yahukimo menjadi pengingat bahwa di atas perbedaan dan atau dinamika lainnya, persatuan tetap menjadi warisan terbesar yang harus dijaga bersama. (ADM)






























