Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, S.Sos M.Si.

NABIRE (PB.COM) – Lapangan upacara dipenuhi merah putih. Genderang ditabuh. Bendera siap dikibarkan. Di tengah barisan pejabat, satu sosok menarik perhatian semua orang. Itu Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, S.Sos M.Si. Tapi hari ini beliau tidak pakai jas, tidak pakai peci, tidak pakai baju safari. Beliau datang dengan pakaian adat penuh Suku Lani dari Puncak Jaya.

Wajahnya dicoreng arang dan minyak. Garis-garis hitam tebal membentuk pola di dahi, pipi, dan dagu. Itu bukan cat. Itu identitas. Di tanah Lani, corak wajah dipakai saat duka, saat perang, saat upacara besar. Hari ini dipakai di hari kemerdekaan. Artinya ada pesan.

Di kepala beliau bertengger penutup kepala hitam dari rajutan benang, dihias pita merah putih. Dari atasnya menjulang hiasan bulu kasuari yang mengembang besar seperti mahkota. Ada satu bulu cendrawasih merah kecil di depan. Di belakangnya ekor burung. Semua itu tanda. Tanda wibawa. Tanda keberanian. Tanda bahwa yang memakai adalah orang yang dipercaya kampung.

Di lehernya kalung manik-manik merah bertingkat dan kalung biji kuning besar dengan liontin berbentuk taring babi. Di Papua pegunungan, taring babi itu simbol status. Simbol orang yang sudah banyak berkorban untuk orang banyak. Di bahunya melintang selempang tenun warna merah, kuning, putih, hitam. Motif kotak dan garis itu khas Lani. Setiap warna bicara. Merah untuk darah dan perjuangan. Kuning untuk tanah dan terang. Putih untuk damai. Hitam untuk keteguhan.

Tangan kanannya menggenggam busur dan anak panah dari bambu. Tangan kiri memegang daun dan bunga hiasan warna kuning. Di pinggangnya celana jeans hitam dan ikat pinggang. Perpaduan adat dan modern. Itu Papua hari ini. Tidak menolak zaman, tapi tidak meninggalkan akar.

Di belakangnya tampak Gubernur Papua Tengah dengan mahkota cenderawasih putih kuning. Ada juga pejabat lain. Semua tersenyum. Tapi mata Wakil Gubernur tetap lurus ke depan. Tenang. Tegak.

Jadi apa maknanya ketika Wakil Gubernur Papua Tengah pakai adat Suku Lani Puncak Jaya di HUT 17 Agustus 2026 di Nabire?

Makna pertama adalah Pengakuan. Papua Tengah adalah provinsi baru. Isinya banyak suku. Mee, Moni, Wolani, Dani, Lani, dan lain-lain. Dengan memakai adat Lani di panggung negara, negara bilang: “Kami lihat kamu. Kami hormat kamu. Kamu bagian dari Indonesia.” Itu penting untuk orang Puncak Jaya yang selama ini merasa jauh dari pusat. Mereka lihat anaknya berdiri di Nabire pakai adat mereka. Pasti dada mereka bangga.

Makna kedua adalah Persatuan. 17 Agustus itu hari semua orang Indonesia. Tapi kalau semua pejabat pakai baju yang sama, maka daerah merasa tidak ada ruang. Dengan memberi ruang untuk adat Lani tampil, artinya negara bilang: “Kita berbeda, tapi kita satu.” Busur dan panah di tangan bukan tanda mau perang. Itu tanda kesiapan menjaga. Menjaga tanah. Menjaga rakyat. Menjaga kemerdekaan.

Makna ketiga adalah Keberanian Politik. Tidak mudah bagi pejabat tinggi pakai pakaian adat di acara resmi. Ada yang bilang “tidak rapi”. Ada yang bilang “tidak protokoler”. Tapi beliau pilih tetap pakai. Karena beliau tahu, rakyat di kampung lebih percaya pemimpin yang tidak malu dengan dirinya sendiri. Kalau pemimpin saja malu pakai adat, bagaimana rakyat mau bangga.

Makna keempat adalah Jembatan. Suku Lani dikenal sebagai suku pegunungan yang kuat, tegas, dan setia pada tanah. Dengan membawa simbol Lani ke Nabire yang ada di pesisir, itu seperti membangun jembatan antara gunung dan laut. Antara pedalaman dan kota. Antara tradisi dan pemerintahan. Wakil Gubernur sedang bilang: “Saya wakil semua. Saya bawa gunung ke kota. Saya bawa kota ke gunung.”

Makna kelima adalah Pesan untuk Generasi Muda. Anak-anak Lani yang nonton TV di Puncak Jaya pasti lihat ini. Mereka lihat ada orang Lani jadi Wakil Gubernur. Pakai adat. Berdiri di samping bendera. Itu artinya: “Kamu bisa. Kamu tidak harus buang adat untuk sukses. Kamu bisa jadi pejabat dan tetap jadi orang Lani.”

Tentu ada juga yang bertanya. Kenapa harus Lani? Kenapa bukan Mee? Kenapa bukan Moni? Itu wajar. Karena Papua Tengah besar. Tapi hari ini giliran Lani. Besok bisa giliran suku lain. Tugas pemimpin adalah bergantian mengangkat semua. Agar tidak ada yang merasa ditinggal.

Yang paling dalam adalah ini. Upacara 17 Agustus biasanya formal, kaku, baca teks. Tapi ketika ada busur, ada bulu kasuari, ada corak wajah, maka suasana berubah. Rakyat kecil di pinggir lapangan berbisik. “Itu orang kita.” Mereka merasa punya. Mereka merasa dihargai. Dan rasa punya itu mahal. Karena bangsa ini berdiri di atas rasa punya.

Bapak Wakil Gubernur ini tidak bicara panjang. Tapi pakaiannya bicara. Busur di tangan artinya: “Saya siap melindungi.” Corak di wajah artinya: “Saya ingat sejarah.” Bulu di kepala artinya: “Saya bawa nama besar.” Kalung taring artinya: “Saya sudah diuji.”

Di hari kemerdekaan, simbol itu perlu. Karena kemerdekaan bukan hanya tentang bendera naik. Kemerdekaan juga tentang apakah orang Lani di Tiom bisa sekolah. Apakah mama-mama di Ilaga bisa ke Puskesmas. Apakah jalan ke Mulia sudah bagus. Apakah anak muda tidak harus lari ke hutan.

Jadi ketika beliau berdiri di Nabire dengan adat lengkap, itu seperti sumpah. Sumpah di depan Tuhan, di depan leluhur, di depan rakyat. “Saya akan kerja untuk kamu. Dengan cara kamu. Dengan hormat kepada cara kamu.”

Penutupnya. 17 Agustus 2026 di Nabire akan diingat bukan hanya karena pidato. Tapi karena ada Wakil Gubernur yang berani tampil beda. Berani tunjukkan bahwa Indonesia kuat karena beragam. Berani tunjukkan bahwa adat bukan penghalang kemajuan. Adat adalah bahan bakar kemajuan.

Kepada Suku Lani di Puncak Jaya. Jaga itu. Itu kehormatan untukmu. Kepada pemerintah. Jangan berhenti di seremoni. Setelah upacara, pastikan kebijakan juga ikut adat. Dengar tokoh adat. Libatkan gereja. Jaga hutan. Jaga tanah.

Kepada semua orang Papua Tengah. Lihat ini sebagai awal. Bahwa provinsi baru ini bisa jadi rumah untuk semua suku. Asal kita mau saling angkat, saling hormat.

Tuhan memberkati Wakil Gubernur Papua Tengah. Tuhan memberkati Suku Lani. Tuhan memberkati HUT ke-81 RI di Tanah Papua. (GMR/Abeth)

Facebook Comments Box