Dinkes Papua Siap Deteksi Potensi KLB di Papua

Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat memberikan arahan pada Apel Gabungan Dinkes Papua.

JAYAPURA (PB)—Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengatakan pihaknya dibantu Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) akan untuk turun ke daerah-daerah untuk mendeteksi sejak dini potensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan kematian di kabupaten-kabupaten seperti dialami masyarakat Kabupaten Asmat Januari 2018 silam.

“Para pengelola program (Dinkes Provinsi Papua—Red), tolong koordinasi dengan kabupaten yang lemah cakupan pelayanan kesehatannya. Ada lima bidang di Dinkes, semua harus kerja keras tahun ini. Dalam Rakerkesda kemarin, kita sudah tahu ada sembilan kabupaten yang masih mendapat nilai. Saya minta UP2KP, tolong bantu Dinkes sama-sama turun dan deteksi adanya kemungkinan KLB lebih dini,” kata Aloysius dalam arahannya pada apel pagi di halaman tengah Kantor Dinas Kesehatan Papua, Rabu (25/04/2018).

Tim Kesehatan Dinkes Papua saat melakukan imunisasi di Danowage, Kabupaten Bouvendigoel.

Menurut Aloysius, ada sembilan kabupaten yang masih mendapat rapor merah dalam kinerja pelayanan kesehatan selama 2017 yaitu Waropen, Mamberamo Raya, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Yahukimo,Tolikara, Puncak, dan Nduga. Hal itu telah dirilis pada kegiatan Rakerkesda Papua 2018 di Hotel Aston, Rabu (18/04/2018). Oleh karena itu, setiap bidang pada Dinas Kesehatan Papua dengan program masing-masing dibantu UP2KP harus turun ke daerah untuk mencari tahu akar persoalan dan mendeteksi potensi KLB yang bakal terjadi.

“Ada kabupaten yang cakupan pelayanan tahun 2016 nilainya kuning malah turun jadi merah di tahun 2017. Ini kita perlu tahu kenapa. Sekarang kasus HIV di Papua sudah tembus 35 ribu kasus. Kenapa banyak sekali orang tidak minum obat ARV. Cari tahu kenapa. Kita sudah bantu distribusi obat ARV itu di klinik-klinik, apa mereka malu? Itu harus dicari tahu kenapa. UP2KP juga harus turun lapangan untuk mencari tahu, kenapa di sembilan kabupaten rapor kinerja pelayanan kesehatan mereka merah terus,” tegas Aloysius yang juga Direktur Eksekutif UP2KP ini.

Tim Satgas Kijang saat memandikan anak-anak menggunakan sabun di Mamberamo Raya.

Pada kesempatan itu, Aloysius juga memuji sejumlah pencapaian prestasi dari sejumlah program di Dinkes Papua seperti Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB, dan Malaria (ATM) dalam penanggulangan TBC di Provinsi Papua. Ia berharap, bidang dan program lain bisa menjadikannya contoh guna memacu semangat kerja menyelamatkan rakyat Papua dari penyakit dan kematian.

Rutin Apel Rabu Pagi
Kepala Dinas Kesehatan Aloysius Giyai menjelaskan, berdasarkan surat edaran yang ditandatanganinya, sejak Rabu (26/04/2018) dilakukan Apel Rutin Rabu Pagi. Jajaran pengurus dan anggota Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP), Balatkes dan SMK Kesehatan pun ikut dalam apel ini bersama-sama seluruh staf Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua.

Segenap jajaran Dinas Kesehatan, UP2KP dan beebrapa UPT lain yang hadir pada Apel Gabungan

“Saya minta sekali dalam satu minggu kita apel pagi agar ada informasi terbaru tentang program kerja bisa disampaikan di sini. Kita akan lakukan setiap Rabu pagi. Nanti tiap UPT dan bidang harus jelaskan alasan kenapa tidak hadir dan kita akan beri sanksi,” tegas Aloysius.

Aloysius mengaku kecewa dengan tingkat kehadiran di awal kebijakannya untuk membuat Apel Rutin Rabu Pagi ini. Ia berharap, pada Rabu depan dan seterusnya, semua pimpinan bidang dan UPT menghimbau semua anggota untuk hadir setiap Pukul 007.35 pagi.

Para anggota UP2KP yang hadir pada apel rutin Rabu Pagi di Dinkes Papua.

“Dan ingat, sesuai aturan, setiap pegawai di lingkup Pemprov Papua yang tak bisa mengikuti apel pagi karena sedang melakukan perjalanan dinas harus menyerahkan SPT ke Dinas Kominfo Papua. Artinya, kita ini makin ketat dalam hal apel karena apel itu hal penting dalam system pembinaan birokrasi,” kata mantan Direktur RSUD Abepura 2009-2014 ini. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *