Tokoh Gereja GIDI, Pdt. Musa Taplo bersama puluhan warga Kampung Kiwi foto bersama pilot, Kapten Max dengan latar belakang Pesawat Yajasi yang baru mendari di Lapter Kiwi, Jumat, 14 Juni 2024.

JAYAPURA (PB.COM)Masyarakat di Kampung Kiwi, Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), Provinsi Papua Pegunungan, Jumat pagi, 14 Juni 2024 dengan penuh sukacita menyambut pesawat Pilatus PK-UCF milik Yayasan Jaya Aviasi (Yajasi) yang mendarat di Lapangan Terbang (Lapter) Kiwi.

Kabut yang menutupi perkampungan sepanjang malam hingga subuh seketika terbuka. Matahari bersinar cerah menampakkan wajah langit nan indah di pagi itu. Dengan tongkatnya, Pdt. Musa Taplo, tokoh Gereja GIDI setempat, dituntun beberapa keluarga dengan pelan berjalan menuju ke tepi Lapter Kiwi. Puluhan masyarakat ikut ke sana.

Tepat Pkl. 08.00, Pesawat Yajasi mendarat di Lapter Kiwi, setelah terbang dari Bandara Sentani, Jayapura sejak take off pada Pkl. 06.30. Beberapa menit kemudian, sejumlah bahan makanan yang dibawa pun diturunkan dari dalam pesawat. Hanya ada satu penumpang bernama Yurani Taplo yang ikut terbang bersama pilot dan Kapten Max pagi itu.

Dengan tepuk tangan dan wajah penuh gembira, Pdt. Musa Taplo dan seluruh masyarakat Kiwi menyambut hadirnya pilot dengan berjabatan tangan dan pelukan hangat.

“Atas nama seluruh masyarakat Kiwi, saya sangat senang dan bersyukur kepada Tuhan. Juga berterima kasih kepada Pemda Pegunungan Bintang sebagai wakil Allah yang telah memberi izin sehingga pesawat bisa terbang Kembali ke Kiwi,” kata Musa Taplo dengan suara terbata-bata.

Pdt. Musa Taplo sudah berusia 88 tahun. Ia adalah salah satu saksi sejarah dan tokoh penting di balik perkembangan iman Gereja GIDI Pos Misionaris Kiwi. Ia bersama Alm. Ev. Migim Ibeck merupakan gembala pertama GIDI di Wilayah Pegunungan Bintang. Keduanya dibaptis dan menerima Injil pada tahun 1960 dan ikut berperan besar membuka peradaban di wilayah itu.

“Selama hampir tiga tahun ini kami susah karena pesawat tidak masuk. Masyarakat harus jalan kaki berjam-jam untuk beli kebutuhan makanya. Sekali lagi terima kasih kepada pilot dan juga pemerintah daerah,” ujar Pdt. Musa.

Jaga Dusun Tetap Aman

Sementara itu Dr. Yumius Taplo, salah satu putra Kiwi mengatakan, dibukanya kembali penerbangan ke Lapter Kiwi adalah sebuah momentum penting yang menandai kebangkitan ekonomi dan harapan hidup masyarakat. Sebab di tengah kondisi isolasi geografis, akses melalui penerbangan adalah tumpuan hidup warga Kiwi.

Intelektual Kiwi, Dr. Yumius Taplo.

“Sejak konflik Kiwirok pecah pada 13 September 2021 lalu, masyarakat kalau mau beli sembako biasanya jalan kaki 4-5 jam ke Distrik Okhika, atau ke Distrik Okyop menempuh perjalanan 6-7 jam. Ini sungguh menyedihkan,” tutur Yumius.

Yumius adalah putra dari Alm. Ev. Migim Ibeck, sahabat Gembala Musa Taplo. Ia lahir di Kiwi, 4 Juli 1981, dari rahim ibunda tercinta bernama Aaku A. Uopmabin dan tercatat sebagai anak ketiga dari lima bersaudara.

“Bapa saya Migim Ibeck adalah gembala pertama Gereja GIDI Wilayah V Pegunungan Bintang, sama-sama dengan Bapa Musa Taplo menerima pembaptisan injil pertama tahun 1962. Beliau meninggal pada 2013 lalu,” tuturnya.

Yumius mencatat prestasi dan sejarah sebagai putra pertama Pegunungan Bintang yang meraih gelar doktor. Sebulan lalu, ia baru saja mempertahankan disertasinya saat dipromosi menjadi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Cenderawasih (Uncen).

“Sebagai intelektual Kiwi, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, Ibu Sekda, Bapak Asiten I Setda Pegunungan Bintang, Kepala Dinas Perhubungan, Kapolres, Koramil Kiwirok dan semua pihak yang ikut berperan sehingga izin penerbangan ke Kiwi dibuka,” kata Yumius.

Menurut Yumius, dirinya sangat menyayangkan konflik yang terjadi seperti di Kiwirok. Sebab selama ia lahir dan tumbuh besar, wilayah Kiwirok dan daerah Pegubin pada umumnya selalu aman dan nyaman. Tak pernah ada konflik bersenjata.

“Karena itu saya sangat berharap seluruh pemuda, intelektual, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat sama-sama bergandengan tangan jaga dusun kita, kampung kita tetap aman. Biar semua kita hidup tenang. Jadikan kasus Kiwirok sebagai pelajaran bagi kita,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dengan dibukanya kembali penerbangan pesawat perintis ke Lapter Kiwi, suplai kebutuhan pokok masyarakat di wilayah itu bisa diatasi. Tentunya dengan harapan, maskapai tetap komitmen pada kesepakatan yang telah dibangun.

“Kami berterima kasih kepada pihak Yajasi yang masuk melayani penerbangan ke Kiwi. Dengan dibukanya penerbangan, ke depan sesuai kebutuhan kami, jika ada permintaan kami akan minta masuk seminggu atau sebulan sekali. Intinya sudah ada izin dari Pemda Pegubin dan aspek keamanan tidak diragukan lagi,” kata Yumius. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box