
Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, SH, memberikan motivasi kepada peserta seminar dan motivasi pengembangan diri SDM OAP bersama Kaka Jose, Jumat (13/6/2025) pagi.
NABIRE (PB.COM) — Di tengah riuh tepuk tangan peserta seminar dan motivasi pengembangan diri SDM OAP bersama Kaka Jose, suara Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, SH, menggema lantang dan penuh semangat. Ia tidak datang membawa naskah, tapi membawa kisah hidup — yang jujur, getir, dan membakar semangat.
“Saya ranking 34 dari 35 siswa SMA. Dua dari belakang. Tapi hari ini, saya jadi gubernur Papua Tengah,” kata Gubernur Meki mengawali kisahnya di hadapan ratusan pemuda dan tamu undangan di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jumat (13/6/2025) pagi.

Sontak, ruangan hening. Para peserta menyimak, mata mereka menatap pemimpin yang berbicara bukan dari teori, tapi dari pengalaman nyata. Pidato Meki Nawipa hari itu bukan pidato politik biasa — tapi seruan hati untuk generasi muda Papua: kerja keras mengalahkan segalanya.
Di awal pidatonya, Gubernur Meki menyentil mentalitas sebagian anak muda yang berpikir bahwa untuk membantu sesama, mereka harus jadi pejabat terlebih dahulu.
“Tidak usah jadi gubernur. Tidak harus jadi pejabat. Tolong orang kita sendiri mulai dari sekarang.”

Ia menekankan bahwa birokrasi sering kali menjadi hambatan untuk membantu cepat. Tapi, solidaritas sesama orang Papua bisa melampaui jabatan.
Rahasia dari Teori Bill Gates
Salah satu bagian paling menarik dari pidatonya adalah soal teori “13 tahun masa keemasan manusia” yang diadopsi dari Bill Gates. “Kita cuma punya 13 tahun efektif untuk sukses. Gunakan itu baik-baik.”
Ia merinci: 20 tahun pertama hidup dihabiskan untuk sekolah, 7 tahun untuk membentuk dasar (SD–SMP),dan sisanya hanya 13 tahun masa produktif penuh sebelum tubuh mulai melambat di usia 60-an.
“Kalau kau mau sukses, jangan kerja sendiri. Bangun tim. Gabung kekuatan. Satu otak terbatas. Tapi 10 otak bisa menciptakan 130 tahun kekuatan dalam satu dekade.”

Gubernur Meki juga mengkritik kebiasaan masyarakat yang lebih percaya orang luar ketimbang saudara sendiri. “Orang datang bawa pinang satu, rokok satu, lalu bawa pulang tanah kita. Kita kasih. Tapi kalau orang kita sendiri yang bicara, kita tidak percaya.”
Ia memperingatkan. Jika terus menjual tanah adat, suatu saat orang Papua akan menjadi tamu di negeri sendiri.
Di bagian yang paling menyentuh, Gubernur Meki bicara blak-blakan soal epidemi HIV-AIDS dan seks bebas di Papua. Ia membandingkan dengan Jepang yang saat ini warganya justru memilih hidup tanpa seks. “Papua? Di jalan, di rumput, di mana-mana. Kita akan habis di negeri sendiri kalau tidak sadar.”

Ia menyerukan pemulihan sosial dan budaya Papua, bukan sekadar pembangunan fisik.
Sebagai penutup, Meki Nawipa berbagi kisah ketika hampir dikeluarkan dari universitas di Australia karena kekurangan dana. “Saya butuh 3.000 dolar. Tidak ada. Saya masuk kamar, saya berdoa. Saya protes sama Tuhan.”
Dan jawabannya datang tak lama kemudian — seorang dermawan yang tak dikenal datang mengetuk pintunya dan membayar semua kebutuhannya. ”Bukan karena saya hebat. Tapi karena saya percaya. Percaya pada Tuhan. Percaya pada diri sendiri,” tutupnya. (Abeth You/Gusty Masan Raya)






































