
Para penambang mendulang di sekitar area penambangan dengan menggunakan peralatan sederhana (sumber: Investigasi Lapangan, Karl 2018)
Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak*)
“Tulisan ini mencoba memberikan informasi tentang bagaimana posisi kegiatan eksplorasi mineral memegang peran penting dalam mendefinisikan endapan emas di dalam perut bumi sebelum dilakukannya kegiatan eksploitasi atau penambangan.”
PADA BULAN Januari 1988, sebuah mesin bor diangkut oleh helikopter dan mendarat di sebuah pegunungan sepi dengan ketinggian 4300 meter diatas permukaan laut. Pegunungan itu terlihat menjulang tinggi, gundul, berbatu dan sangat dingin.
Di atas langit, awan hanya berjarak beberapa meter dengan pegunungan. Sebagian bahkan menutup sisi lain pegunungan. Awan itu berwajah muram dan tak menunjukan kesan pertemanan. Ia seakan memeluk sisi gunung lalu turut menyembunyikan misteri dari isi gunung tersebut.
Membongkar kesunyian yang panjang, mesin bor itu dihidupkan, lalu bekerja hari lepas hari, menembusi dinding pengunungan bebatuan yang keras dan terlihat seperti lipatan.
Seperti gambling, para geolog dihadapkan pada dua pilihan: keberuntungan atau tidak sama sekali (nihil).
Nasib seperti inilah yang sering dialami oleh para geolog dan para ahli eksplorasi mineral (baca: eksplorer).
Hanya dengan keberuntungan mereka para eksplorer atau geologis dikenang, sebaliknya, ketidakberuntungan tidak membawa apa-apa dalam kehidupan mereka.
Mari kembali ke tahun 1988. Pada tanggal 28 di bulan Januari, dari anjungan pemboran, lubang pertama dibuat dan langsung menembusi ratusan meter perut pegunungan. Berpacu melawan cuaca yang tak biasa, mesin bor terus menembusi perut pegunungan yang keras.
Sebulan kemudian, atau tepatnya bulan Februari, hasil analisis laboratorium dari lubang bor dirilis. Hasilnya mengejutkan. Salah satu lubang bor yang telah menembus kedalaman 114 meter menghasilkan emas senilai 1.69 gram per ton.
Gairah para geolog meningkat. Antusiasme mereka menjulang tinggi bagaikan gunung sepi yang kaya itu. Seluruh sumber daya diarahkan, lebih intensif dan lebih strategis. Konsentrasi penuh difokuskan untuk mengetahui lebih jauh isi gunung.
Setahun kemudian sejak titik awal pemboran dikerjakan, atau pada bulan Januari 1989, pekerjaan ini telah menghasilkan 47 lubang bor. Jika ditotalkan secara keseluruhan, total kedalaman dari 47 lubang bor itu adalah 13.929 meter.
Dari hasil analisis laboratorium, rata-rata sampel menunjukan nilai kadar yang tinggi. Nilai kadar inipun menjadikan pegunungan sepi, gundul, lembab serta dingin, dan tak terkenal itu, akhirnya mendunia sebagai salah satu pegunungan penghasil tembaga dan emas, terbesar di dunia.
Ia adalah Grasberg. Sebuah pegunungan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Ertsberg (gunung bijih tembaga) yang lebih terkenal dan mendunia sebelumnya, yang ditemukan oleh geolog muda asal Belanda: Jean Jaques Dozy dalam ekspedisi Colijn tahun 1936.
Kisah heroik pada geolog di Grasberg menunjukan bahwa untuk mendapatkan emas dan tembaga dari dalam perut bumi, tidak bisa dilakukan dengan pendekatan biasa-biasa saja. George A Mealey menuliskan hal ini dengan rinci dalam bukunya: Grasberg (1996).
Penemuan penting selalu mengkombinasikan dua hal. Pertama, pengetahuan. Kedua, keberuntungan Emas dari dalam perut bumi sejatinya tak bisa disimplifikasi pencarian serta pengambilannya. Ia membutuhkan pengalaman sumber daya manusia terlatih, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi mutakhir, biaya yang mahal dan juga faktor keberuntungan.
Bahkan dalam bukunya, George Mealey menulis, menambang di Papua kala itu seperti menambang di bulan. Tak ada apa-apa. Papua sangat terpencil. Dibutuhkan modal yang besar, teknologi yang canggih dan sumber daya manusia yang unggul dengan pengetahuan keteknikan terbaik di dunia dan keberanian menghadapi resiko yang besar.
Eksploitasi Mendahului Eksplorasi
Fokus pada kegiatan eksplorasi, kisah Grasberg memberikan kita sudut pandang lain. Pemboran yang dilakukan pada tahun 1988 merupakan bagian kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan untuk memberikan informasi penting tentang: bagaimana bentuk dan penyebaran mineralisasi emas dalam gunung, informasi kualitas dan kuantitas (informasi kadar dan tonasenya), lalu tipe endapan emas hingga bagaimana mendesain sistem penambangan yang sesuai untuk mengambil dan mengolahnya.
Tanpa ini, emas di Grasberg tidak mungkin diambil dengan cara seperti saat ini (dengan desain penambangan yang aman, efektif dan efisien).
Terkadang, kita membayangkan memiliki sebuah gunung dan memiliki hak atas gunung itu. Dengan beberapa percobaan sederhana, gunung itu ternyata menghasilkan butiran-butiran emas.
Kemudian, tanpa pengetahuan yang memadai (tahapan eksplorasi), dengan modal yang terbatas (seadanya), kita merasa secara ekonomis dapat menghasilkan emas dan uang, lalu kita berpikir untuk menambangnya.
Apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar kita akan gagal. Kegagalan yang dimaksud disini bisa dimaknai dalam banyak hal. Paling utama adalah, kita tidak dapat mendefinisikan endapan emas (sebaran, kuantitas dan kualitas). Kita mencari sesuatu yang tidak diketahui secara pasti keberadaan dan sebarannya di alam.
Dewasa ini, di Papua, situasi seperti ini sering kita jumpai. Beberapa kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat (pemilik: tanah, gunung, sungai) untuk mengambil sumber daya mineral di tempatnya terkadang (justru) dilakukan tanpa program dan target eksplorasi yang terukur.
Richard Edwards dan Keith Atkinson (1986) dalam bukunya: Ore Geology and its Influence on Mineral Exploration, melalui ulasan mengenai desain dan implementasi dari program eksplorasi, menekankan pentingnya kegiatan eksplorasi sebagai fase awal dari kegiatan eksploitasi. “semua operasi penambangan dimulai dengan fase eksplorasi. Prosedur eksplorasi diadopsi berdasarkan ketersedian keuangan, tipe endapan mineral yang dicari dan lingkungan geologi serta geografis…Targetnya kemudian dievaluasi dan dilakukan studi kelayakan pada endapan tersebut.”
Memang eksplorasi itu berbiaya mahal. Tetapi, sebenarnya kita pun bisa mendesain konsep eksplorasi yang sederhana, yang dapat membantu kita mengetahui potensi sumber mineralisasi kita di alam.
Salah satu cerita kontras tentang ini, seperti yang terjadi pada daerah penambangan emas di Buper, Waena Kota Jayapura dan tambang-tambang rakyat lainnya yang sedang berlangsung.
Mengabaikan tahapan eksplorasi, para penambang justru menambang tanpa mengetahui bagaimana arah penyebaran mineralisasi dan berdampak terhadap lingkungan (yang tidak akan dibahas pada tulisan ini). Arah penambangan dilakukan tanpa dasar (arah dan penyebaran emas) dan hanya dilakukan mengikuti intuisi.
Padahal menambang emas tak bisa dilakukan dengan hanya mengikuti intuisi ataupun insting. Kasus Buper menunjukan terjadi lompatan pentahapan kegiatan pengambilan emas. Para penambang melakukan eksploitasi mendahului kegiatan eksplorasi.
Padahal, jika kegiatan eksplorasi dilaksanakan, fase ini akan memberikan banyak informasi tentang mineralisasi di tempat itu. Salah satunya, potensi dan prospek mineralisasi bukan hanya emas, tetapi pada komoditas mineral berharga lainnya.
Charles Moon dkk dalam bukunya: Introduction to Minerals Exploration (2006) menjelaskan beberapa tahapan dan aktivitas dari kegiatan eksplorasi yang tak boleh diabaikan. Dimulai dengan tahapan perencanaan konseptual (conceptual planning), penaksiran/penilaian lubang bor (assessment drilling) sampai dengan studi kelayakan endapan.
Tahapan perencanaan konseptual misalnya, pada tahap ini, satu-satunya kegiatan yang harus dilakukan adalah literature review. Hampir semua program eksplorasi yang sukses (penemuan endapan), dilakukan dan dimulai dengan langkah ini.
Bahkan kisah Grasberg yang dimulai dengan penemuan Ertsberg pun berawal dari sebuah jurnal geologi: Leidsche Geologishe Medeelingen, yang kemudian dibaca oleh Forbes Wilson, seorang manajer eksplorasi sebuah perusahaan tambang.
Contoh, pentingnya studi literatur dapat digunakan dalam melihat kasus penambangan di Buper.
Berdasarkan studi literer, perbukitan bergelombang Buper yang merupakan bagian dari pegunungan Cyclops. Secara geologi, daerah ini merupakan bagian dari Cyclops ophiolite.
Cyclops ophiolite secara regional merupakan bagian kompleks Centra Ophiolite Belt (COB). COB adalah bagian dari fragmen (lempeng) kerak samudera Pasifik yang terdiri dari kelompok batuan ultrabasa yang ter-obduksi (terangkat ke atas) dan telah mengalami proses laterisasi. Di Irian (Papua), sisa-sisa COB muncul sepanjang pantai dekat Jayapura, yakni pegunungan Cyclops (Dow dkk (1988) dalam: Petrology and Geochemistry of the cyclops ophiolite… (C.Monier, 1999)).
Salah satu produk yang muncul dari proses laterisasi adalah nikel laterite (dengan kadar yang bervariasi). Ini artinya jika kita menemukan emas dalam laterite, kita pun memiliki potensi untuk mendapatkan nikel.
Bambang Nugroho Widi dari Pusat Sumber Daya Mineral (PSDM), melakukan penyelidikan di daerah Dosay yang secara geologi merupakan bagian dari jalur Cyclops, menemukan anomali kromit yang memiliki prospek.
“Hasil penyelidikan tahun 2016 menunjukan anomali kromit cukup signifikan, yaitu dengan kisaran 1.3 sampai dengan 4.7%.” Penelitiannya dimuat dalam Buletin Sumber Daya Geologi (vol 2, 2017) dengan judul: Potensi Endapan Laterite Kromit Di Daerah Dosay, Kabupaten Jayapura.
Penelitian saya berjudul: Studi Pendahuluan dan Rekonstruksi Model Genetik Empiris terhadap Tipe Endapan Laterite Bearing Au (Emas) di Buper dan Implikasinya Terhadap Eksplorasi, Penambangan dan Lingkungan (2018), mengadopsi model genetik endapan yang telah direkonstruksi oleh Gregory E. McKelvey (USGS 2004). Model ini memperlihatkan kehadiran emas cenderung menyebar dan tidak menunjukan pola urat.
Dengan model sebaran emas seperti itu, model eksplorasi pendahuluan yang dianjurkan adalah eksplorasi geokimia dan harus melalui analisis laboratorium.
Eksplorasi geokimia digunakan untuk melihat distribusi dan konsentrasi dari unsur-unsur seperti emas, perak, nikel, besi, magnesium, sulfur, arsen dan juga merkuri dan unsur lainnya. Merkuri bahkan dapat dijadikan penilaian awal terhadap lingkungan mineralisasi.
Rekonstruksi model secara empiris, setidaknya dapat memberi pemahaman pendahuluan untuk mendesain program eksplorasi yang efektif dan efisien, guna memperoleh informasi yang lebih akurat dan detail mengenai endapan.
Hanya dengan studi literatur, kita dapat mengetahui bahwa jalur Cyclops secara geologi menyimpan banyak komoditas berharga.
Dengan pendekatan dan strategi program eksplorasi yang terukur, kita dapat mendefinisikan emas dan komoditi lainnya secara tepat sebelum memulai kegiatan penambangan.
Selain memahami dan dapat mendefinisikan potensi mineral (emas, perak, tembaga, nikel dan lainnya), mengikuti tahapan kegiatan eksplorasi memberikan kerangka yang lebih jauh, bagaimana seharusnya mineral diambil secara baik dan benar.
Apakah penambangan emas mahal harganya? Ya. Apakah penambangan emas butuh ilmu pengetahuan, ya. Penambangan emas tidak bisa di simplikasi prosesnya. Penemuan penting selalu mengintegrasikan ilmu pengetahuan.
Pengetahuan tentang emas di alam harus dibangun dengan penyelidikan dan disimpulkan dengan bantuan instrumen laboratorium. Tidak pernah ada tambang besar di dunia yang dibangun diatas mitos-mitos leluhur dan nenek moyang!
*) Pengajar Bidang Eksplorasi Mineral, Prodi Teknik Pertambangan, Universitas Cenderawasih






































