
Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, ST,M.Si saat bertemu masyarakat di Distrik Kiwirok, Senin, 16 Februari 2026.
OKSIBIL (PB.COM)—Konflik kemanusiaan yang terjadi di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), Provinsi Papua Pegunungan pada 13 September 2021 silam, rupanya masih berdampak panjang hingga sekarang. Kehidupan normal di wilayah penghasil kopi arabika terkenal itu masih menjadi impian dan harapan.
Tak hanya kondisi keamanan yang kadang masih terganggu, salah satu tantangan besar adalah merehabilitasi perumahan warga dan fasilitas umum, baik perkantoran, Puskesmas, sekolah-sekolah, gereja dan pasar di tengah akses transportasi yang minim dan dana APBD yang terbatas.

Kendati demikian, Pemerintah Daerah Pegubin di bawah kepemimpinan Bupati Spei Yan Bidana, ST,M.Si terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan Kiwirok. Upaya ini dilakukan di tengah komitmen dari warga Kiwirok yang ingin bangkit dan hidup normal seperti masyarakat di distrik lainnya.
Pada Senin, 16 Februari 2026, Bupati Spei Bidana dengan menggunakan pesawat perintis terbang dari Bandara Sentani dan mendarat di lapangan terbang Kiwirok, tanah tempat ia lahir dan tumbuh di masa kecilnya.

“Saya tadi berkunjung ke Kiwirok dan bertemua dengan masyarakat. Mereka sudah komitmen untuk mulai hidup baru, tidak lagi terpengaruh dengan isu ini itu, sama-sama jaga keamanan, dan siap bangun Kiwirok. Saya juga ada bawa bantuan beras, seng dan paku kepada warga agar bisa pakai bangun rumah secara swadaya dan mengajak yang masih mengungsi bisa kembali,” kata Bupati Spei Bidana melalui telepon selulernya Senin siang.
Menurut Spei Bidana, dalam pertemuan dengan ratusan warga Kiwirok itu, mereka semua sepakat dan ingin agar pada 17 Agustus 2026 mendatang digelar Upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kiwirok.

“Mereka juga ingin agar alat berat bisa masuk untuk membantu proses pembangunan di sana. Namun biaya mobilisasi angkut alat berat lewat udara ini sangat mahal. Jadi kita sedang upayakan lewat jalur jalan Pepera-Oklip-Kiwirok yang sedang kita bangun tahun ini,” ujar Bupati Spei.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan, dampak dari konflik kemanusiaan di Kiwirok masih nyata. Fasilitas umum maupun rumah-rumah warga di ibukota distrik Kiwirok telah hilang dibakar massa.
“Jalan-jalan dari kampung ke Kota Kiwirok bahkan sudah tertutup hutan jadi harus dibuka akses lagi. Semua perumahan ini belum ada karena semua dibakar. Masyarakat juga minta bangun pasar, nanti kita akan bangun agar ekonomi bisa berjalan. Juga rumah kepala distrik dan rumah masyarakat di ibukota supaya semua kehidupan kembali normal,” tuturnya. (Gusty Masan Raya)








































