Foto bersama usai Ibadah Perdana Gabungan Seluruh Organisasi Wanita se-Kabupaten Yahukimo Tahun 2026 yang digagas oleh Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Yahukimo, pada Sabtu (28/02/2026) di Dekai.

DEKAI (PB.COM) – Suara perempuan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, bergema tegas dalam sebuah momentum spiritual yang sarat makna. Dalam Ibadah Perdana Gabungan Seluruh Organisasi Wanita se-Kabupaten Yahukimo Tahun 2026 yang digagas oleh Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Yahukimo, pada Sabtu (28/02/2026) di Dekai.

Turut dihadiri Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, dan para unsur Forkopimda, Ibadah yang menjadi ruang konsolidasi iman dan persatuan itu tidak sekadar menjadi pertemuan rutin organisasi, tetapi berubah menjadi panggung komitmen moral kaum perempuan Yahukimo dalam menjaga kedamaian dan masa depan generasi penerus.

Ketua TP PKK Yahukimo Ami Yahuli, menyampaikan pernyataan sikap bersama yang menolak segala bentuk kejahatan di daerah tersebut.

Dalam sambutannya, Ny. Ami Yahuli mengajak seluruh perempuan untuk menjaga kedamaian yang telah menjadi identitas dan harapan bersama masyarakat Yahukimo.

“Mari kita jaga kedamaian bersama-sama di atas tanah yang damai ini. Kita jaga tumbuh kembang anak kita bersama,” ujarnya.

Seruan tersebut bukan tanpa konteks. Di tengah berbagai dinamika sosial yang kerap mengganggu stabilitas daerah pegunungan Papua, Perempuan khususnya para ibu dinilai memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai, pendidik pertama anak, sekaligus penyangga moral keluarga.

Menurutnya, kekuatan perempuan mungkin terlihat terbatas secara fisik, tetapi memiliki daya spiritual yang besar ketika disandarkan kepada Tuhan.

“Ibu-ibu, kekuatan kita terbatas. Tidak ada kekuatan kita itu tidak terbatas. Tapi kalau kita berserah kepada Tuhan, percaya dan yakin, Tuhan akan mengangkat derajat kita,” katanya penuh keyakinan.

Kejahatan Disebut Ancaman Masa Depan Anak

Dalam bagian sambutan yang paling tegas, Ny. Ami Yahuli menyebut kejahatan sebagai ancaman nyata terhadap masa depan anak-anak Yahukimo. Ia menggambarkan ancaman tersebut dalam perspektif iman.

“Hari ini iblis mau mencuri masa depan anak kita. Hari ini iblis mau mengacaukan masa depan kita. Tapi hari ini kita harus bersatu melawan itu. Amin.”

Pernyataan tersebut disambut dukungan jemaat yang hadir. Secara substansi, pesan itu menegaskan bahwa kejahatan baik dalam bentuk kekerasan, konflik, maupun tindakan kriminal lainnya—tidak boleh dibiarkan tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat.

Bagi organisasi-organisasi wanita di Yahukimo, persoalan keamanan bukan semata urusan aparat, melainkan juga tanggung jawab moral komunitas, terutama dalam mendidik generasi muda agar tidak terjerumus dalam lingkaran kekerasan.

Pernyataan Sikap di Hadapan Tuhan dan Pemerintah

Momentum ibadah tersebut kemudian diakhiri dengan pernyataan iman sekaligus sikap kolektif. Di hadapan umat dan pemerintah, Gabungan Organisasi Wanita se-Kabupaten Yahukimo menyatakan penolakan terhadap segala bentuk kejahatan.

“Kami seluruh organisasi wanita se-Kabupaten Yahukimo menyatakan tolak segala bentuk kejahatan. Baik yang merancang kejahatan maupun pelaku kejahatan. Dengan iman kami nyatakan tangan di atas panji-panji Tuhan. Tuhan berperang melawan kejahatan turun-temurun dan Tuhan hapus kejahatan di daerah ini sampai selamanya.” Tegas Ami Yahuli.

Pernyataan ini memiliki makna simbolik dan sosial yang kuat. Secara spiritual, mereka menyerahkan pergumulan daerah kepada Tuhan. Secara sosial, mereka menyampaikan pesan terbuka bahwa perempuan Yahukimo berdiri di garis depan menjaga nilai-nilai kehidupan, kedamaian, dan masa depan anak-anak.

Perempuan sebagai Pilar Perdamaian

Di Kabupaten Yahukimo, perempuan tidak hanya menjalankan fungsi domestik, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Gabungan organisasi wanita menjadi wadah koordinasi lintas kelompok, mulai dari PKK, organisasi gerejawi, hingga komunitas perempuan lainnya.

Sikap kolektif menolak kejahatan ini sekaligus menjadi pesan moral kepada seluruh elemen masyarakat: bahwa perdamaian bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama yang harus dijaga dari tingkat keluarga.

Komitmen tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara soal infrastruktur atau program pemerintah, tetapi juga tentang pembangunan karakter dan spiritualitas masyarakat.

Menjaga Generasi, Menjaga Yahukimo

Seruan Ny. Ami Yahuli menempatkan anak-anak sebagai pusat perhatian. Masa depan Yahukimo, menurutnya, sangat ditentukan oleh bagaimana generasi hari ini dibina, dilindungi, dan diarahkan.

Dengan menguatkan iman, mempererat persatuan perempuan, serta menolak segala bentuk kejahatan tanpa kompromi, Gabungan Organisasi Wanita Yahukimo mengirimkan pesan tegas: mereka tidak akan diam ketika masa depan anak-anak terancam.

Di atas tanah yang mereka sebut sebagai “tanah damai”, perempuan Yahukimo memilih berdiri bersama, bukan dalam kemarahan, tetapi dalam iman dan persatuan untuk memastikan bahwa daerah ini tetap menjadi tempat yang aman bagi generasi yang akan datang. (ADM)

 

Facebook Comments Box