Penulis saat bersama masyarakat di Distrik Oksamol, Rabu, 25 Maret 2026.

OKSAMOL (PB.COM)—Di negeri berlimpah mata air, Pegunungan Bintang, sebuah sejarah sedang tercipta dan siap tercatat di lembaran daerah. Sang pemimpinnya, Bupati Spei Yan Bidana, sedang memulai sebuah gerakan inovatif untuk menyelamatkan alam, manusia, dan budayanya.

Inovasi itu menyentuh nadi kehidupan masyarakat Pegunungan Bintang. Sejak Desember 2025, dengan menggandeng Tim Pendamping Teknis yang melibatkan sejumlah akademisi, Bupati Spei Bidana mulai melakukan Pemetaan Wilayah Adat/Kebudayaan di seluruh Bumi Okmin, Pegunungan Bintang.

Saya bersyukur dan mendapat sebuah kehormatan ikut menjadi bagian dari Tim Pendamping Teknis Pemetaan Wilayah Kebudayaan ini. Pada Desember 2025 lalu, telah dilakukan Pemetaan Wilayah Kebudayaan di Distrik Oksibil yakni Ap Iwol Beta Abip, Serambakon, Oksoptil, dan Kasipka.

Pemetaan berlanjut pada Maret 2026. Sepanjang 19-24 Maret 2026, bertempat di Gedung Serba Guna Gereja Baptis di Distrik Kalomdol, kami menggelar Seminar Awal dan FPIC bertema Kajian Masyarakat Adat Ok Mek dan Min Tahap II. Sebanyak 13 komunitas masyarakat adat etnik Ok Gelombang II hadir.

Menuju Oksamol

Sehari sesudah seminar di Oksibil, Bupati Spei Bidana mengajak kami, Tim Pendamping Teknis Pemetaan Wilayah Adat menuju Distrik Oksamol, sebuah negeri yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.  Ikut dalam rombongan, Pastor Hendrik Hada, Pr, seorang dosen dan antropolog.

Hari itu Rabu, 25 Maret 2026. Hari dimana ruang batin kami berisi komitmen, pergumulan, dan perjuangan berkelindan dalam satu napas panjang di tanah Oksamol.

Pesawat AMA yang membawa kami ke Oksamol.

Kami terbang pada pagi itu dari Kota Oksibil dengan pesawat perintis AMA seri Pilatus. Mengangkasa membelah kabut yang masih menggantung di punggung pegunungan. Tetapi langit tidak sepenuhnya ramah. Angin menderu-deru. Menari liar di balik awan putih yang berarakan cepat.

Setelah berupaya mencari posisi yang pas, tepat pukul 10.21 WIT, kami bisa mendarat di Bandara Tinibil, ibukota Distrik Oksamol. Sebuah pendaratan yang bukan hanya teknis, melainkan emosional. Seolah-olah kami baru saja melewati gerbang tak kasat mata menuju dunia yang lebih jujur, lebih sunyi, dan lebih dekat dengan inti kehidupan.

Tarian penjemputan kami di Bandara Tinibil.

Setibanya di sana, kami disambut masyarakat. Walau tidaklah meriah dan gegap gempita secara fisik, namun begitu dalam secara makna. Tarian dan nyanyian sederhana mereka lantunkan menyambut kami, yang bukan seremoni belaka, melainkan bahasa hati yang mengikat kami dalam persaudaraan tulus.

Teguhkan Komitmen

Di Tanah Oksomol, saya merasakan sesuatu yang sering kali luruh di tempat lain: kehangatan yang jujur, kasih tanpa syarat, dan harapan yang tetap bernapas meski dalam keterbatasan.

Saya terdiam. Tanpa kata. Hanya syukur menggema dalam batin. Dalam keheningan itu, batin saya berbisik: inilah surga kecil yang jatuh ke bumi. Oksamol bukan sekadar titik di peta, tetapi ia adalah rasa. Ia adalah rumah, meski saya belum pernah bermukim di sana.

Kami berbagi cerita tentang jati diri, mimpi, dan masa depan. Tentang pemetaan Ap Iwol, yang bukan sekadar proses teknis pemetaan wilayah, melainkan upaya menjaga identitas dan martabat.

Di tengah kemegahan alam, kami diingatkan bahwa perjuangan sejati bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi tentang merawat jiwa dan warisan yang tak ternilai harganya.

Saat menunggu pesawat untuk kembali, waktu seolah kehilangan maknanya. Tidak ada kebosanan—yang ada hanyalah kekaguman yang mengalir tanpa suara. Namun, sore membawa firasat lain. Awan mulai berkejaran dan angin kembali meninggi. Ada kegelisahan yang terbaca di wajah masyarakat, sebuah bahasa universal yang tidak perlu diterjemahkan.

Pukul 14.15, kami mulai bergerak bersama pesawat yang sama meninggalkan tanah yang baru saja kami sebut rumah. Doa menjadi satu-satunya sandaran. Tak lama berselang, guncangan hebat datang. Sangat keras, tiba-tiba, dan tak terduga. Pesawat terombang-ambing di ruang tanpa kepastian, di antara dinding-dinding awan dan tebing gunung.

Di titik nadir itu, hanya satu bisikan yang muncul dari palung hati terdalam: “Akulah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Ajaibnya, di saat berserah itulah, ketakutan perlahan luruh. Langit yang tadinya kelabu perlahan menyingkap warna birunya yang tenang dan luas. Seperti laut yang telah reda amarahnya dan mengizinkan kami melintas untuk pulang.

Dan kami akhirnya tiba di Sentani dalam diam yang penuh makna. Menyadari bahwa perjuangan ini belum usai. Bahwa hidup yang masih dititipkan adalah kesempatan untuk melanjutkan apa yang telah dimulai. Bahwa Tuhan tidak pernah keliru dalam menentukan waktu.

Dari Oksamol saya belajar: komitmen diuji dalam keterbatasan, pergumulan dimurnikan dalam ketidakpastian, dan perjuangan menemukan maknanya saat kita berani berserah sepenuhnya.  (Dr. Wika A. Rumbiak, ST,M.Sc/Direktur WWF-Indonesia Wilayah Papua)

Facebook Comments Box