Oleh Aqillah Cuayu Dikta, Siswi SMA Negeri 1 Oksibil. Tulisan Ini Adalah Juara 3 Lomba Menulis Opini Tingkat SMA/SMK Se-Kabupaten Pegunungan Bintang yang Diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dalam Rangka Hardiknas 2026.

MASA DEPAN bangsa tidak hanya ditentukan dari seberapa banyak gedung tinggi yang berdiri megah, tetapi juga diukur dari seberapa tinggi tingkat literasi anak mudanya di suatu wilayah. Sebab pemuda adalah ujung tombak perubahan peradaban bangsa, yang harus tampil cerdas, kritis, berbudaya, dan bermoral baik.

Sayangnya, akhir-akhir ini, harapan tenang pemuda itu sirna. Peran pemuda semakin berkurang dalam kontribusi pembangunan akibat dipengaruhi praktik hidup negatif yakni minuman keras (miras) dan narkotika dan obat terlarang lainnya (narkoba), termasuk di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.

Tetapi sebelumnya, apa yang dimaksud dengan miras dan narkoba? Miras adalah minuman beralkohol yang mengandung etanol. Sedangkan narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan aktif.

Saat ini, kedua hal tersebut sangat mudah ditemukan di berbagai tempat, yang diperjualbelikan secara ilegal, termasuk di Kota Oksibil. Jelas ini bukan hal biasa. Semua orang punya masalah, tetapi tidak semua solusi mengarah pada kebaikan. Ada yang memilih jalan yang cepat, akan tetapi jalur yang salah, di antaranya adalah dengan mengonsumsi miras dan narkoba.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa miras dan narkoba sangatlah berbahaya dan membawa dampak negatif yang sangat besar bagi generasi muda maupun orang dewasa. Narkoba dan miras bisa mengganggu  kesehatan fisik, merusak hubungan sosial, mengubah pola pikir, hilang kesadaran, dan membuat siapapun penggunanya menjadi ketergantungan.

Saya melihat, seseorang yang mengonsumsi miras dan narkoba, bukan karena mereka sengaja ingin merusak kepribadiannya sendiri, tetapi karena adanya dorongan serta rasa ingin coba-coba terhadap dua hal tersebut. Awalnya memang terasa menyenangkan, tetapi tubuh mulai rusak, jantung yang mulai bermasalah, paru-paru melemah, otak yang ikut terganggu, serta yang sangat menghawatirkan adalah dampaknya tidak untuk dirinya sendiri melainkan orang-orang sekitar.

Seseorang yang mengonsumsi miras dan narkoba, tingkat kesadarannya juga akan menurun, sehingga mengakibatkan kekacauan, bahkan sampai kasus kriminal. Lalu mengapa masih ada sebagian orang yang mengonsumsi miras dan narkoba?

Biasanya, seseorang akan nekat mencoba karena di bawah tekanan hingga stres dengan banyaknya beban pikiran ataupun tekanan dari keluarga, pekerjaan, teman, bahkan dari orang terdekat lainnya. Tetapi mengonsumsi miras dan narkoba bukanlah solusi yang benar. Itu adalah perangkap manis. Sekali kita terjebak, akan susah keluar. Harga yang akan dibayar sangatlah mahal: mulai dari kesehatan, masa depan, bahkan nyawa jadi taruhannya.

Bayangkan saja, ada orang yang bekerja dari pagi, siang, bahkan sampai malam, agar bisa membeli barang haram tersebut yang malahan pelan-pelan merusak diri dan menghancurkan hidupnya. Mereka menganggap bahwa dengan mengonsumsi miras dan narkoba, bisa membuat pikiran mereka menjadi tenang.

Tetapi justru tanpa mereka sadari, miras dan narkoba hanyalah kesenangan sesaat. Ia yang membuat pikiran tenang di awal, malah jadi menambah masalah di kemudian hari. Orang yang berada di bawah kendali miras atau narkoba bisa saja melakukan tindakan yang tidak senonoh, mulai dari pelecehan, pemerkosaan, pencurian, tawuran, perkelahian, dan aneka sikap tak terpuji.

Jadi sebaiknya sekarang, generasi muda di Pegunungan Bintang, terutama para pelajar, mulailah memperkuat iman, harus mampu mengontrol diri, memilih lingkungan atau pergaulan yang sehat, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, serta pengawasan dari orang tua yang ketat namun tidak begitu menekan. Semua orang punya potensi untuk meraih cita-cita, tetapi janganlah biarkan miras dan narkoba mencuri harapan itu.

Miras dan narkoba bukanlah solusi, melainkan jebakan dan ancaman untuk masa depan generasi muda Indonesia, termasuk di Papua dan Pegunungan Bintang. Kedua “iblis ini” tidak pilih-pilih usia dan menyasar generasi muda yang sedang bertumbuh. Sekali kita salah langka, maka masa depan yang jadi taruhannya.

Saya ingin mengatakan, jika hari ini Anda sedang berada di lingkungan yang penuh miras dan narkoba, maka jangan diam! Segera menjauh, carilah solusi atau kesibukan lainnya, dan jika ada sebagian teman kita yang terjebak, maka rangkul dia untuk krmbali ke jalan yang benar.

Semua godaan punya solusi dan jalan keluar, selagi ada niat untuk berubah dan iman yang kuat. Kita harus berani mengatakan “tidak” pada miras dan narkoba sebagai bentuk penghargaan untuk diri sendiri demi menjaga cita-cita dan masa depan kita. Hidup itu tidak membutuhkan alkohol dan ganja untuk tenang, melainkan membutuhkan segelas kopi dan untaian doa yan terus menerus. Hidup perlu aksi, bukan halusinasi.

Maka dari itu, jangan merusak masa depan hanya untuk kesenangan sesaat, ataupun hanya karena ingin terlihat keren dimata lingkungan yang terlanjur rusak. Sekali lagi, dan jangan sia-siakan masa muda kita yang indah ini, dan menuai masa tua yang kelam di kemudian hari.

Generasi muda Pegunungan Bintang adalah generasi yang memiliki cita-cita untuk bangsa dan negara. Maka dari itu, mulailah menghindarklan diri dari praktik negatif miras dan narkoba. Jangan pernah mencoba-coba kedua hal ini agar nantinya kita bisa menjadi pemuda yang tangguh, kuat, cerdas dan berdaya saing untuk membangun masa depan dan daerah kita. (*)

Facebook Comments Box