
Oleh Constantina Asemki, Siswi SMA YPPK Bintang Timur Mabilabol. Tulisan Ini Adalah Juara 1 Lomba Menulis Opini Tingkat SMA/SMK Se-Kabupaten Pegunungan Bintang yang Diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dalam Rangka Hardiknas 2026.
DI WILAYAH perbatasan negeri nan terpencil seperti Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan dengan denyut nadi ekonomi yang serba terbatas akibat kondisi geografis yang sulit dijangkau, seharusnya masyarakat hidup tenang dan terhindar dari segala bentuk gaya hidup modern yang negatif. Tetapi realitanya tidak demikian. Oknum-oknum dari luar Pegunungan Bintang, masuk dan membawa praktik hidup negatif yang merusak generasi muda di wilayah ini.
Ada dua persoalan besar yang menjadi penyakit sosial yang sedang muncul di beberapa wilayah, terutama di Kota Oksibil, jantung ekonomi Pegunungan Bintang yaitu praktik mengonsumsi minuman keras miras (miras) dan narkotika dan obat terlarang lainnya (narkoba), terutama ganja. Praktik ini menjerumuskan kalangan generasi muda dan mengancam masa depan mereka.
Penyalahgunaan miras dan narkoba merupakan penyakit sosial yang diartikan sebagai perilaku yang menyimpang dari norma agama, norma sosial dan budaya yang berlaku di tengah masyarakat. Di wilayah terisolir seperti Pegunungan Bintang, sebenarnya norma agama, sosial dan budaya selalu dijaga ketat oleh sistem adat istiadat dan kehidupan komunitas yang kuat. Namun, seiring berjalannya waktu, masuklah pengaruh dari luar yang merusakannya.
Perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang memengaruhi munculnya miras dan narkoba adalah keterbatasan pendidikan. Di wilayah seperti Kabupaten Pegunungan Bintang, pendidikan sangat terbatas dan belum merata. Masyarakat tidak memperoleh informasi yang memadai tentang dampak dari mengonsumsi miras dan narkoba. Apalagi masyarakat yang ada di pedalaman, dengan keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi yang sulit dijangkau.
Saat ini, kita tidak bisa menutup mata bahwa miras dan narkoba sudah menjerat sebagian besar generasi muda di Oksibil. Mereka yang terjerumus menggunakan barang haram tersebut, semakin hari semakin banyak. Awalnya mungkin dimulai dari mencoba karena ikut-ikutan melihat temannya, akhirnya makin lama terjerat, dan dampak negatif besar yang tidak disadari sedang menantinya.
Tak heran, kita melihat tingginya angka kriminal, perkelahian antarsesama atau kelompok, maupun kecelakan lalu lintas terjadi di Oksibil karena para pelakunya sedang dalam keadaan mabuk. Selain itu, dari sisi kesehatan, miras juga berdampak pada kerusakan otak, hati, dan bahkan paru-paru.
Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah masuknya narkoba terutama ganja yang beredar luas di Kota Oksibil. Dari sisi medis, mengonsumsi ganja menyebabkan dehidrasi, kejang, serangan panik, halusinasi, kerusakan otak, hingga overdosis yang berujung kematian. Sedangkan dampak psikologisnya yaitu perubahan perilaku, depresi, kecemasan, mudah emosi, dan kecanduan
Menurut saya, lingkungan pergaulan kita dapat memengaruhi kita untuk melakukan hal-hal yang negatif. Jika kita memilih teman yang baik, maka hal yang baik kita lakukan. Banyak anak muda, khususnya di Kota Oksibil yang sudah terjerat dalam miras dan narkoba, awalnya dimulai dari mencoba. Ia berpikir sesekali saja tidak apa-apa, tetapi nyatanya lama kelamaan ia mulai kecanduan dan susah berhenti.
Salah satu contoh adalah teman saya saat SMP. Dulu ia adalah siswa yang pintar, beprestasi dan aktif dalam kegiatan positif di sekolah. Tetapi sekarang, hidupnya sudah tidak menentu setelah mengonsumsi narkotika. Masa depannya pun sudah tidak jelas dan akhirnya putus sekolah.
Selain itu, faktor ekonomi juga berperan di dalamnya. Kemiskinan sering membuat orang mengalami tekanan hidup yang berat, sehingga dapat menjadikan miras dan narkotika sebagai pelarian dari masalahnya.
Yang paling berbahaya, saat ini di Kota Oksibil, yang dominan menggunakan miras dan narkoba ialah anak muda, bahkan yang anak-anak yang masih di bawah umur. Barang haram tersebut mudah untuk mereka peroleh, dikarenakan peredarannya telah menjangkau berbagai kalangan tanpa memandang status sosial mulai dari kota besar, hingga desa-desa terpencil.
Praktik negatif mengonsumsi miras dan narkoba tak hanya mengancam kesehatan bahkan nyawa, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi muda Pegunungan Bintang. Para peminum atau pencandu narkoba kehilangan gairah hidup, tak ada niat belajar, dan tak punya prestasi.
Oleh karena itu, semua pihak, baik pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat se-Pegunungan Bintang harus kompak memberantas peredaran miras dan narkoba di wilayah ini demi menyelamatkan generasi muda. Keluarga, sekolah, keluarga, tokoh adat dan tokoh agama juga ikut mengambil peran penting untuk menjaga dan melindungi generasi muda Pegunungan Bintang dari jerat kedua penyakit sosial ini.
Harapan khusus kepada pemerintah daerah agar dapat mengadakan sosialisasi masif di berbagai tempat agar setiap mereka yang belum ataupun yang sudah terjerumus dalam menggunakan miras dan narkoba, bisa mengetahui dan sadar akan dampak negatif yang menantinya. Edukasi yang terus menerus akan menyadarkan para pengguna miras dan narkoba. Tentu saja, perlu ada efek jera dari pihak aparat penegak hukum, baik kepada pengedar dan pemakai.
Tetapi, menurut saya, kita sebagai generasi muda Pegunungan Bintang yang harus berani mengatakan “tidak” pada miras dan narkoba yang menjadi ancaman serius dan saat ini “menggerogoti” dan merusak generasi muda. Ini adalah langkah awal dari diri masing-masing individu untuk menyelamatkan diri sendiri dan membangun daerah demi masa depan yang cerah.
Maka marilah, wahai generasi muda Pegunungan Bintang, tentukan pilihanmu sekarang: apakah kamu mau masa depan yang cerah atau malah terjerumus dalam miras dan narkoba? Di tengah isolasi geografis dan akses pembangunan yang belum merata, mari kita sepakat untuk katakan “tidak” pada miras dan narkoba dana nyatakan “ya” untuk siap menjadi pemimpin membangun daerah kita lebih maju di masa mendatang. (*)





























