Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli dan rombongan saat meninjau warga pengungsi asal Yahukimo di kampung Pugima, Distrik Walelagaka, Kabupaten Jayawijaya

WAMENA (PB.COM) – Di tengah kepulan trauma akibat pertikaian antarkelompok warga di Wamena, langkah berbeda ditunjukkan Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli. Saat mengunjungi pengungsi korban konflik di Kampung Pugima, Distrik Walelagaka, Kabupaten Jayawijaya, Selasa (19/5), ia tidak datang dengan narasi kemarahan ataupun tuntutan balas dendam. Sebaliknya, ia membawa bantuan, penguatan moral, dan pesan perdamaian bagi warga Yahukimo yang menjadi korban terdampak bentrokan antara warga Lanny Jaya dan Woma.

Kunjungan ke Kampung Pugima atau Megapura menjadi hari ketiga keberadaan rombongan Pemerintah Kabupaten Yahukimo di Wamena untuk memastikan langsung kondisi masyarakat terdampak konflik. Didimus hadir bersama unsur kepolisian, anggota DPRD Kabupaten Yahukimo, kepala dinas, dan rombongan pemerintah daerah.

Bagi Didimus, status domisili warga di Kabupaten Jayawijaya bukan alasan pemerintah Yahukimo melepas tanggung jawab. Karena itu, sejak hari pertama konflik, pemerintah daerah bergerak cepat membentuk posko, menyalurkan bantuan logistik, mengunjungi lokasi pengungsian, hingga memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi.

Langkah tersebut menunjukkan pola kepemimpinan yang tidak berhenti pada batas administratif pemerintahan, melainkan bertumpu pada tanggung jawab moral terhadap masyarakat Yahukimo di mana pun mereka berada.

Di lokasi yang menjadi salah satu titik pengungsian korban itu, Bupati Didimus melihat langsung warga yang kehilangan rumah, rasa aman, bahkan perlengkapan hidup dasar akibat rumah-rumah yang terbakar.

Meski menyebut korban terbanyak berasal dari masyarakat Yahukimo, Didimus menegaskan satu hal penting: tidak ada ruang bagi pembalasan.

“Kami sudah sepakat, kami sudah satu hati, kami tidak akan melakukan pembalasan, tidak akan melakukan dendam. Semua ini kami ikat bawa perkara ini ke hadapan Tuhan. Karena kami sudah terima Yesus, kami sudah percaya Injil, dan kami sudah melepaskan segala hal yang sifatnya perang suku dan lain-lain,” ujar Didimus di hadapan warga.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika politik. Di tengah kultur pegunungan Papua yang secara historis mengenal penyelesaian konflik berbasis perang suku maupun pembayaran denda adat, sikap tersebut mencerminkan perubahan pendekatan sosial yang ingin terus dijaga Pemerintah Yahukimo.

Didimus menyebut masyarakat Yahukimo telah meninggalkan pola penyelesaian konflik lama. Selama tujuh tahun terakhir, menurutnya, pemerintah dan masyarakat berupaya membangun kehidupan yang lebih damai tanpa praktik “bayar kepala” atau tuntutan denda besar yang kerap menjadi pemantik konflik berkepanjangan.

Ia bahkan menyebut keputusan untuk tidak membalas serangan menjadi komitmen bersama masyarakat lintas suku di Yahukimo.

“Saya punya 12 suku, tetapi semua yang saya kunjungi punya persepsi dan cara pandang yang sama,” katanya.

Di Kampung Megapura, penderitaan warga tidak berhenti pada luka akibat serangan. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal setelah rumah mereka dibakar. Anak-anak sekolah pun kehilangan seragam, sepatu, dan perlengkapan belajar.

Bagi pemerintah daerah, pemulihan tidak cukup hanya dengan evakuasi.

Sehari sebelumnya, Pemkab Yahukimo telah menyalurkan bantuan logistik berupa beras dan kebutuhan pokok lainnya. Dalam kunjungan terbaru itu, pemerintah juga menyerahkan bantuan dana Rp.250 juta bagi warga terdampak untuk membantu proses pemulihan awal.

Didimus mengungkapkan terdapat korban luka yang masih membutuhkan perhatian khusus. Pemerintah daerah pun menyiapkan langkah pendampingan selama tiga bulan ke depan.

“Kita akan perhatikan mereka karena rumah terbakar, tidak ada tempat tinggal, anak-anak sekolah kehilangan semuanya,” ujarnya.

Pendekatan pemulihan ini menunjukkan bahwa dampak konflik sosial di Papua bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan pendidikan, ekonomi keluarga, dan stabilitas psikologis masyarakat.

Menenangkan Pengungsi, Memulangkan Warga

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli memberi bantuan saat meninjau warga pengungsi asal Yahukimo di kampung Pugima, Distrik Walelagaka, Kabupaten Jayawijaya

Selain mendatangi Megapura, rombongan Pemkab Yahukimo juga bergerak ke sejumlah titik lain di Wamena.

Salah satunya ke kantor kepolisian untuk menjemput warga asal Yahukimo yang sebelumnya mengungsi dan mendapat perlindungan aparat di Polres. Menurut Didimus, langkah ini penting agar masyarakat bisa segera kembali ke lingkungan aman dan tidak terlalu lama bergantung pada fasilitas darurat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada aparat kepolisian yang telah membuka ruang perlindungan bagi warga terdampak konflik.

Tak hanya itu, perhatian juga diarahkan kepada para pelajar asal Yahukimo di sejumlah asrama di Wamena. Banyak anak sekolah dilaporkan mengalami ketakutan pascainsiden dan kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan distribusi bantuan tambahan berupa beras dan kebutuhan dasar lainnya ke asrama-asrama pelajar.

Di akhir kunjungannya, Didimus menyatakan optimisme bahwa penanganan darurat terhadap masyarakat Yahukimo terdampak konflik telah berjalan baik.

Ia menegaskan situasi masyarakat Yahukimo di Wamena kini dalam kondisi aman dan memasuki fase pemulihan.

“Yahukimo aman, masyarakat aman, tinggal menunggu pemulihan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penutup dari rangkaian penanganan langsung yang dilakukan Pemkab Yahukimo di lokasi konflik. (ADM)

 

Facebook Comments Box