
Momen Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo menyerahkan dokumen perdamaian “Patah Panah” kepada Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli.
WAMENA (PB.COM) – Halaman Markas Komando Polres Jayawijaya menjadi saksi sejarah penting bagi masyarakat Pegunungan Papua, Sabtu (23/05/2026). Di tengah suasana haru dan penuh makna budaya, berlangsung prosesi adat Patah Panah, sebuah tradisi sakral yang ditetapkan sebagai penanda resmi berakhirnya perselisihan dan konflik sosial yang melibatkan tiga kelompok masyarakat besar: Wouma, Kurima, dan Lanny yang berdomisili di wilayah Wamena dan sekitarnya.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh diantaranya Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo, Bupati Jayawijaya, Bupati Lani Jaya, para tokoh adat, pemuka agama, aparat keamanan. Termasuk Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, yang kehadirannya menjadi simbol persaudaraan lintas wilayah dan suku di dataran tinggi ini.
Dalam wawancara usai prosesi, Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli menyampaikan pandangan mendalamnya mengenai makna perdamaian ini, pengalaman memimpin wilayahnya selama dua dekade tanpa konflik antarsuku, serta harapan besarnya agar kedamaian yang diraih hari ini menjadi abadi dan tidak terulang kembali.
Membuka pernyataannya, Bupati Yahukimo langsung menegaskan prinsip dasar yang dipegangnya mengenai hubungan antarsesama manusia, terutama di tanah kelahirannya. Baginya, perdamaian yang disepakati lewat tradisi Patah Panah ini memiliki makna yang jauh melampaui sekadar penyelesaian masalah sosial.
“Mengenai apa perdamaian patah panah di Wamena sebagai tanda damai itu, saya mau sampaikan bahwa saya memang tidak tertarik mendengar perang, karena perang itu hanya orang mengerjakan program kerja iblis. Dari Taman Eden sampai hari ini, sampai Yesus kembali kedua kalinya,” ujar Bupati dengan nada tegas namun tenang.
Pandangan yang berakar dari nilai agama dan budaya ini menjadi landasan kebijakan yang diterapkannya di Kabupaten Yahukimo selama menjabat. Ia mengaku bangga dan bersyukur karena selama tujuh tahun terakhir, wilayah yang dipimpinnya benar-benar bebas dari gejolak konflik antarsuku yang kerap terjadi di wilayah pegunungan Papua lainnya.
“Dari 7 tahun ini saya sudah tegas dan keras tidak boleh ada perang. Jadi, perang memang tidak terjadi. Dan bayar denda juga kita 7 tahun ini tidak jalan, kecelakaan juga tidak tuntut denda, semua saya puji Tuhan dan bersyukur karena rata-rata masyarakat Yahukimo sudah mengerti arti hidup dan bagaimana kita menjadi orang-orang yang bertanggung jawab dengan kehidupan,” tambahnya.
Ia menegaskan, kekacauan atau gangguan keamanan yang mungkin pernah terjadi di wilayahnya memiliki karakteristik yang berbeda—bukan berasal dari perselisihan adat atau tuntutan denda yang berujung pada kekerasan massal, melainkan hal-hal yang bersifat insidentil dan memiliki latar belakang masalah yang berbeda. Hal ini, menurutnya, membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk hidup damai telah tumbuh kuat.
“Tetapi kalau dalam hal tuntut-menuntut, denda-mendenda, kemudian mengajak atau berperang, itu selama saya jadi bupati dua periode ini, saya bersyukur karena masyarakat menyadari tentang hal yang baik dan tidak baik itu,” jelasnya.
Salah satu poin paling menyentuh dalam pernyataan Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli adalah cara ia menggambarkan hubungan antara tiga kelompok besar masyarakat di Pegunungan Papua: Yali, Hubula, dan Lani. Menggunakan kiasan yang akrab dalam pemahaman budaya dan agama masyarakat setempat, ia menyamakan ketiga kelompok ini dengan ketiga anak Nuh: Sem, Ham, dan Yafet. Satu asal-usul, satu keturunan, dan tidak sepatutnya saling berkonflik.
“Karena itu, kita semua keluarga besar. Taruhlah orang Yali itu ibarat Sem, orang Hubula itu ibarat Ham, orang Lani itu ibarat Yafet. Ya dari satu bapak, Bapak Nuh. Ibarat begitu, jadi kita di gunung ini ada memang tiga suku besar begitu,” ungkapnya.
Lebih jauh, Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, memetakan persebaran wilayah ketiga kelompok ini untuk menegaskan betapa eratnya ikatan geografis dan kekerabatan mereka. Menurutnya, masyarakat Yali mendiami wilayah timur yang meliputi Yahukimo, Kurima, Yalimo, sebagian wilayah Duga, hingga ke Pegunungan Bintang. Wilayah tengah adalah tanah orang Hubula, sedangkan wilayah barat adalah tempat tinggal orang Lani.
“Kita suku Yali itu ya dari Kurima, lari Yahukimo, Yalimo, sebagian Duga, sebagian Pegunungan Bintang itu, bahkan Pegunungan Bintang itu memang sukunya sukunya ada tapi kita itu kategorinya Yali. Orang bagian timur tuh Yali, orang bagian tengah ini Hubula, orang bagian barat itu Lani, begitu,” paparnya.
Dengan peta persaudaraan tersebut, konflik yang sempat terjadi antara masyarakat Wouma, Kurima, dan Lanny di Wamena menjadi hal yang sangat disayangkan, karena sesungguhnya yang bertikai adalah saudara sedarah dan satu keturunan.
“Jadi ini ibarat saudara berperang dengan saudara sendiri. Jadi, dengan apa yang kita patah panah tadi, tidak boleh lagi ada perang suku,” tegasnya, menekankan pesan utama dari prosesi adat yang baru saja dilalui.
Menyikapi konflik yang sempat bergejolak di Wamena yang ia sebut memiliki karakter yang “brutal”, Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli menyampaikan harapan yang sangat besar. Ia menginginkan agar momen Patah Panah ini menjadi titik akhir yang mutlak, tanpa ada lagi babak baru perselisihan di masa depan.
“Dan dengan kondisi yang brutal sekali di Wamena ini, saya harap itu satu kali itu untuk selamanya, jangan terulang lagi. Makanya dalam acara itu saya tegas sampaikan bahwa apa ini disebut dengan perdamaian abadi,” ucapnya dengan nada serius.
Bagi Didimus Yahuli, istilah “perdamaian abadi” bukan sekadar slogan, melainkan janji adat dan tanggung jawab moral bagi semua pihak yang terlibat maupun seluruh pemimpin di tanah Papua Pegunungan. Kedamaian ini harus dijaga, dirawat, dan dipertahankan sebagai modal utama pembangunan daerah.
Sebagai penutup pernyataannya, Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli menyampaikan apresiasi mendalam kepada semua pihak yang telah bekerja keras memediasi dan mempersatukan kembali masyarakat yang sempat terbelah. Ucapan terima kasih ditujukan secara khusus kepada Gubernur Papua Pegunungan dan Bupati Jayawijaya, yang dianggapnya telah berperan besar dalam memulihkan ketertiban dan keharmonisan di Wamena.
“Itu saja yang saya bisa sampaikan. Terima kasih banyak untuk Bapak Gubernur, terima kasih banyak untuk Bupati Jayawijaya yang sudah menengahi dan membantu untuk masyarakat bisa kembali aman dan tertib. Itu saja, terima kasih,” pungkasnya. (ADM)






























