
Bupati Pegubin Spei Yan Bidana, ST,M.Si saat memberi arahan pada acara Peresmian Sekolah Terintegrasi Kukuperip dan peluncuran Kurikulum Berbasis Ap Iwol, Senin, 13 Juli 2026.
OKSIBIL (PB.COM)—Di tengah kabut isolasi geografis yang masih menyelimuti Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), Bupati Spei Yan Bidana, ST.M.Si pada era pemerintahannya bersama Wakil Bupati Arnold Nam, S.AP selalu saja ada ide baru untuk membuat gebrakan populis.
Kampung Arinkop, Distrik Kalomdol pada Senin, 13 Juli 2026 menjadi saksi nyata hadirnya legacy baru kepemimpinan Spei Bidana. Ketika tepuk tangan meriah sebagai ungkapan syukur dan apresiasi dari ratusan telapak tangan para pejabat daerah dan masyarakatyang hadir memenuhi halaman Sekolah Terintegrasi Kukuperip di pagi itu.

Ya di hari itu, sekolah dengan pola pendidikan berbasis budaya ini diresmikan dengan seremoni pemberkatan gedung oleh Pastor Paroki Mabilabol RD Yulius Dainang Waja, Pr dan pengguntingan pita oleh Wakil Bupati Arnold Nam.
Bersamaan dengan peresmian Sekolah Terintegrasi Kukuperip, Pemerintah Kabupaten Pegubin juga meluncurkan Kurikulum Berbasis Budaya Ap Iwol (Budaya Okmemin). Kurikulum ini dirancang sebagai hasil dari upaya pemetaan wilayah adat guna diterapkan di sekolah tersebut dan seluruh sekolah lainnya di Pegubin.

Dalam sambutannya, Bupati Spei Yan Bidana menyampaikan bahwa Sekolah Terintegrasi Kukuperip hadir dengan membawa warna pendidikan yang baru yang mengusung kekuatan budaya lokal melalui Kurikulum Ap Iwol. Pendidikan akhlak dan budaya berpadu ini diharapkan mampu mencetak generasi Pegubin yang cerdas dan berkarakter.
“Ini adalah simbol bahwa Tuhan telah memberikan keistimewaan bagi orang Pegunungan Bintang. Meskipun terdiri dari berbagai suku bangsa, ini adalah pusat peradaban dan spiritual yang akan membentuk manusia untuk mengenal diri sendiri dan lingkungannya,” kata Bupati Spei.

Menurut Spei, Kurikulum Ap Iwol akan diuji pada tahun 2028 dengan melibatkan para profesor dan doktor ahli agar dapat diakui dan bahkan diterapkan di daerah lain. Nilai-nilai budaya lokal Pegubin yang sejalan dengan ajaran agama ini akan menjadi dasar pembelajaran untuk membentuk karakter generasi muda.
“Kita tidak akan mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai lokal. Dan ini menjadi penangkal untuk generasi muda kita agar tidak terjerumus ke dalam penyakit sosial seperti narkoba, ganja, miras, judi atau seks bebas. Di dalam Ap Iwol sudah ada norma adat yang telah ada jauh sebelum masuknya agama,” tuturnya.

Selain itu, politisi PDI Perjuangan ini juga meminta pentingnya pengajaran bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris sejak tingkat TK hingga SMA. “Kita tidak boleh biarkan bahasa daerah hilang dan hanya bisa dituturkan oleh orang tua saja. Anak-anak juga sejak dini harus mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah. Selain itu, juga bahasa Indonesia dan bahasa Inggris,” tegasnya.
Gerakan Ekonomi Lokal
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pegubin, Hengki Bidana, S.Sos,M.Sos mengatakan, Sekolah Terintegrasi Kukuperip ini dirancang untuk mengatasi tantangan pendidikan di daerah terpencil, di tengah kekurangan tenaga guru dengan penyebaran yang tidak merata.

“Kita sedang membangun satu kawasan pendidikan yang mencakup TK, PAUD, SD, SMP, SMA, lengkap dengan asrama, gereja, lapangan sepak bola, dan lapangan basket,” ujarnya.
Hengki menjelaskan, tahun ini pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 15,9 miliar untuk melanjutkan pembangunan yang diharapkan selesai pada tahun 2028. Saat ini, terdapat 3 bangunan telah siap digunakan dan akan mulai melayani siswa mulai tahun ajaran baru 2026-2027 dengan 25 orang guru yang telah direkrut.

“Kita telah menyiapkan tenaga pengajar yang kompeten untuk mengelola sekolah ini. Selain itu, kami juga akan memastikan fasilitas pendukung seperti air bersih dan listrik dapat beroperasi dengan baik,” katanya.
Menurut Hengki, pendirian Sekolah Terintegrasi Kukuperip tidak hanya mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan karakter siswa-siswi dengan kurikulum berbasis budaya Ap Iwol, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian masyarakat lokal di Oksibil dan sekitarnya.

“Selain untuk mengatasi permasalahan distribusi guru yang sulit menjangkau daerah terpencil, sekolah ini juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Jika kita membangun asrama dengan kapasitas 1.000 anak dan mengalokasikan anggaran Rp 5 miliar per tahun untuk operasionalnya, maka perekonomian di Oksibil akan berputar dengan sendirinya,” tegas Hengkit.

Ia menambahkan, dengan hadirnya sekolah ini, uang yang biasanya dibawa keluar daerah demi biaya kebutuhan pendidikan anak-anak Pegubin, kini berputar di Bumi Okmin sendiri.
“Artinya sekolah ini hadir ikut membangun sentral ekonomi baru di sekitar kawasan ini sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” tutupnya. (Aquino Ningdana/Gusty Masan Raya)






























