
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah melaksanakan Clinical Mentoring Evaluation Meeting (BL.169) dalam rangka memperkuat mutu pelayanan HIV dan Tuberkulosis (TB), Kamis (20/8/2026) di Nabire.
NABIRE (PB.COM) — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah melaksanakan Clinical Mentoring Evaluation Meeting (BL.169) dalam rangka memperkuat mutu pelayanan HIV dan Tuberkulosis (TB), Kamis (20/8/2026) di Nabire.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Papua Tengah, dr. Pingki Wardani, didampingi Kepala Seksi P2M Dinkes Papua Tengah. Turut hadir Kepala Bidang P2P Dinkes Kabupaten Nabire dan Kepala Seksi P2M Dinkes Kabupaten Nabire, serta para tenaga kesehatan dan pengelola program HIV dan TB dari fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Nabire.
Kegiatan ini didukung oleh Global Fund sebagai bagian dari upaya penguatan program penanggulangan HIV dan TB serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Provinsi Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire.
Tingkatkan Kapasitas Tenaga Kesehatan Puskesmas
Dokter Pingki menjelaskan, Clinical Mentoring Evaluation Meeting bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan lini depan di Puskesmas dalam mengimplementasikan layanan HIV dan TB yang terintegrasi.
Penguatan tersebut meliputi peningkatan kemampuan dalam pemeriksaan HIV, skrining TB, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), koordinasi lintas program, serta pencatatan dan pelaporan sesuai standar nasional.
Ia menilai Integrasi layanan HIV dan TB penting karena orang dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami TB. “Karena itu, setiap layanan HIV perlu mampu melakukan skrining TB secara rutin, sementara pasien TB juga perlu mendapatkan pemeriksaan HIV sesuai ketentuan program,” harap dr. Pingki.
Melalui pendekatan pelayanan yang terintegrasi, diharapkan penemuan kasus dapat dilakukan lebih dini, pasien mendapatkan pengobatan dan pencegahan yang tepat, serta kesinambungan pelayanan dapat terjamin.
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat pelaksanaan pelayanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV di Kabupaten Nabire.
Puskesmas yang menjadi bagian dari jejaring pelayanan PDP HIV di Kabupaten Nabire meliputi Puskesmas Wanggar Sari, Samabusa, Nabarua, Bumi Wonorejo, Karang Mulia, Siriwini, Karang Tumaritis, SP1 Kalibumi, dan Puskesmas Nabire Kota.
Jejaring Puskesmas PDP tersebut memiliki peran penting dalam mendekatkan pelayanan HIV kepada masyarakat, mulai dari pemeriksaan HIV, konseling, pengobatan ARV, pemantauan pasien, pelayanan IMS, skrining TB, pemberian TPT, pemeriksaan laboratorium, hingga pencatatan dan pelaporan.

Penguatan Test and Treat dan TPT
Dalam kegiatan mentoring, tenaga kesehatan juga didorong untuk memperkuat implementasi Test and Treat, sehingga pasien yang telah terdiagnosis HIV dapat segera memperoleh akses terhadap pengobatan ARV sesuai standar pelayanan.
Selain itu, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) menjadi salah satu komponen penting dalam pelayanan HIV. Tenaga kesehatan diharapkan mampu melakukan skrining TB terlebih dahulu dan memastikan orang dengan HIV yang memenuhi kriteria dapat memperoleh TPT sesuai pedoman nasional.
Dengan penguatan tersebut, pelayanan HIV tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan TB dan komplikasi lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus, dalam arahanya menegaskan bahwa penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan komitmen dan kerja bersama seluruh jajaran kesehatan.
Ia menjelaskan, upaya pencapaian target global 95-95-95 harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan secara menyeluruh. Mulai dari penemuan kasus, pemeriksaan dan diagnosis, pemberian terapi antiretroviral (ARV), pemantauan pengobatan, pemeriksaan viral load, pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS), skrining TB, pemberian TPT, hingga pencatatan dan pelaporan.
“Keberhasilan program HIV tidak cukup hanya dengan menemukan kasus. Kita harus memastikan setiap orang dengan HIV mendapatkan pelayanan yang berkesinambungan, pengobatan ARV, pemantauan, pemeriksaan yang diperlukan, serta dukungan agar tetap patuh menjalani pengobatan,” kata dr. Agus.
Ia juga menekankan agar kegiatan mentoring tidak berhenti pada pertemuan dan laporan semata, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Jangan sampai kegiatan evaluasi hanya menghasilkan laporan. Yang paling penting adalah adanya perubahan dan perbaikan pelayanan setelah kegiatan ini,” tegasnya.
Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut
Clinical Mentoring Evaluation Meeting menjadi ruang bagi tenaga kesehatan untuk mengevaluasi pelaksanaan pelayanan HIV dan TB di masing-masing Puskesmas, mengidentifikasi kendala, berbagi pengalaman, serta menyusun solusi dan rencana tindak lanjut.
Selain peningkatan kapasitas klinis, penguatan pencatatan dan pelaporan menjadi perhatian penting. Data yang lengkap, akurat, dan tepat waktu diperlukan untuk memantau perkembangan program, memastikan kesinambungan pengobatan pasien, menghitung kebutuhan obat dan pemeriksaan, serta menjadi dasar pengambilan kebijakan.
Dinkes Papua Tengah bersama Dinkes Kabupaten Nabire berkomitmen untuk terus memperkuat jejaring Puskesmas PDP dan integrasi pelayanan HIV-TB agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih mudah diakses, berkualitas, dan berkesinambungan.
Dengan dukungan Global Fund dan kerja sama seluruh tenaga kesehatan, kegiatan Clinical Mentoring Evaluation Meeting diharapkan menghasilkan langkah-langkah perbaikan yang dapat segera diterapkan di seluruh Puskesmas PDP Kabupaten Nabire.
Pelayanan HIV dan TB harus diberikan secara bermutu, terintegrasi, berkesinambungan, mudah diakses, serta bebas dari stigma dan diskriminasi.
Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah terus mendorong: Temukan kasus HIV dan TB sedini mungkin, segera berikan pengobatan dan pencegahan, perkuat layanan terintegrasi, dan pastikan tidak ada pasien yang terputus dari pelayanan. (Gusty Masan Raya/Rilis)







































