
Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM) saat orasi di kampung Kleublouw
JAYAPURA (PB.COM) – Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM), Senin (16/006/2025) menghadiri undangan masyarakat dan Ondo Afi Kampung Kleublouw, Asei Kecil, kabupaten Jayapura, sekaligus menerima deklarasi tanda dukungan kepadanya sebagai Gubernur Papua dalam Pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) tanggal 6 Agustus nanti.
Dijemput dan diarak dengan prosesi tarian dan suling tambur, BTM dan rombongan terlebih dahulu dibawa menuju Gereja dan berdoa sejenak, sebelum kembali bersama menuju Obhe atau rumah adat yang menjadi lokasi utama kegiatan deklarasi dukungan.
Dihadapan BTM, Ondo Folo Kampung Kleublouw, Welem Ansaka didampingi seluruh tokoh adat setempat dengan tegas memberikan pernyataan dukungan mereka.
“BTM adalah putra terbaik dari Tanah Tabi. Putra terbaik yang telah teruji dan terbaik memimpin Papua. BTM sudah teruji dan terbukti sebagai seorang pemimpin sejati. Ini sikoa dukungan kami, siap memenangkan BTM-CK sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua,” ujar Welem Ansaka.
Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM) dalam sambutannya menyatakan, identitasnya adalah anak Asli wilayah adat Tabi, sehingga tidak salah jika masyarakat memilihnya sebagai Gubernur Papua. Itu bukanlah politik identitas, justru sudah diatur degan jelas dalam amanat Undang-undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua.

Ondo Folo Kampung Kleublouw, Welem Ansaka bersama BTM menunjukan surat dukungan resmi mereka
BTM menjelaskan, saa ini Provinsi Papua sudah dibagi menjadi Enam Provinsi dan semua gubernur disana adalah putra asli wilayah adat setempat. Sehingga, sangat pantas dan wajib baginya sebagai putra asli Tanah Tabi untuk menjadi Gubernur di Provnsi Papua induk.
“Saya tidak mungkin menjadi Gubernur di Papua Pegunungan, ada pak Jhon Tabo dan Ones Pahabol, di Papua Tengah ada Meki Nawipa, di Papua Selatan ada Apollo Safanpo, di Papua Barat ada Pak Mandacan, Papua Barat Saya ada pak Elisa Kambu yang pulang kembali dari Asmat ke daerahnya. Saya anak Tabi, apakah salah saya menjadi Gubernur di Tanah saya sendiri,” tegas BTM.
Dirinya juga menyesalkan ada oknum orang asli dari Tabi dan Saireri yang ole BTM mengutip kata Rocky Gerung sebagai orang “Dungu”. Sebab mereka sebenarnya sangat paham tetapi sengaja membodohi masyarakat tentang politik identitas itu sendiri. Padahal itu jelas diatur dalam UU Otsus tentang Keberpihakan atau Afirmasi kepada orang asli Papua untuk menjadi Tuan di Negerinya Sendiri.
“Saya anak Tabi. Itu identitas saya. Ada yang sengaja membodohi masyarakat dan memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Semua jelas diatur dalam UU Otsus. Ingat juga kata IS Kijne, Anak dari Tanah ini akan bangkit dan memimpin negerinya sendiri. Ini juga salah satu yang membuat dalam program 100 hari kerja Kedepan, akan membuat pemekaran di Provinsi Papua Utara sebagai wilayah Adat Saireri. Supaya genap sudah tujuh wilayah adat dengan Provinsinya masing-masing,” urai BTM.
Meski demikian, BTM mengungkapkan mereka yang memutar balikkan fakta itu hanyalah segelintir orang saja. Sebaliknya justru gerbong besar anak Tabi dan Saireri telah bergabung bersama, karena paham adat dan hak kesulungan.
“Boleh dikatakan hampir semua anak Tabi dan Saireri meski berbeda partai tetapi telah bergabung bersama BTM-CK. Ini pertandingan final saya. Saya akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Saya berdiri untuk Tabi dan Saireri dan semua yang tinggal didalamnya. Bersama kita menuju Papua, Maju, Mandiri dan Berbudaya,” ajaknya.

BTM dalam kesempatan itu juga menyampaikan sejumlah program dan kebijakan yang akan ia dan sang Wagub Constant Karma saat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua. Serta sejumlah kartu unggulan yang mereka siapkan diantaranya Kartu Sehat, Kartu Pencaker, Kartu Disabilitas, Kartu Tani dan Kartu Nelayan.
“Tugas pemimpin memberi masyarakatnya Makan. Memberi Makan dalam artian pembangunan pendidikan yang baik, kesehatan, Infrastruktur dan Ekonomi yang baik. Hal baik yang saya lakukan di Kota Jayapura akan kami bawa ke Provinsi,” pungkasnya.
BTM tak lupa meningkatkan semua warga yang hadir agar wajib datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan menggunakan hak pilihnya. Tak hanya itu, wajib mengawal perolehan suara sampai selesai perhitungan dan mendokumentasikannya.
“Jangan sampai suara kita disalahgunakan oknum tidak bertanggungjawab. Sebab cara-cara demikian pasti akan digunakan,” pungkas BTM.
Tak lupa BTM juga memberikan kesempatan pada warga yang hadir untuk menyampaikan aspirasi maupun kritik dan saran mereka.
Sejumlah saran dan masukan pun disampaikan, diantaranya dari Alfred Kere yang meminta pembangunan Obhee, lalu tokoh adat Yosafat Ohei yang mengharapkan adanya ASN asal kampung Kleublouw yang bisa diangkat dan ikut bekerja di Kantor Gubernur Papua,
Lalu permintaan dari tokoh Pemuda, Bacon Demotokai untuk pembangunan lapangan sepakbola di Kleublouw.
“Lokasi tanahnya sudah ada. Cuma kami kesulitan pembangunannya,” kata Bacon.
Permintaan lainnya yakni pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di kampung Kleublouw oleh tokoh pemuda yang juga juru Malaria Kampung, Luis Monim.
Permohonan lainnya dari Majelis Gereja GKI Yakhim, Sulastri yang meminta perhatian soal banjir yang sering terjadi dan menimpa Sekolah Dasar setempat, sehingga terkadang membuat anak sekolah harus diliburkan.
“Juga mohon bantuannya terkait adanya kunjungan balasan dari ibu-ibu GKI dari Sorong ke gereja kami pada bulan depan,” pintanya. (ADM)


































