Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, SH foto bersama para pimpinan media usai pertemuan di Kantor Gubernur Bandara Lama Nabire, Senin, 7 Juli 2025.

NABIRE (PB.COM)Matahari hendak tenggelam di ufuk barat. Langit jingga kemerahan menyelubungi Kota Nabire pada Senin, 7 Juli 2025.

Petang itu, di Kompleks Kantor Gubernur Papua Tengah, Bandara Lama, puluhan pimpinan redaksi dan kepala perusahaan media berbaris rapi di halaman tengah. Semuanya tersenyum menghadap fotografer di depan mereka.

“Izin bapak ibu, satu dua tiga. Sekali lagi, satu dua tiga,” terdengar seorang fotografer memberi komando. Disusul suara tawa yang terdengar pecah sesudahnya.

Para kuli tinta itu satu persatu merapat ke tengah. Berjabatan tangan dengan Gubernur Meki Nawipa dan menunduk hormat. Tak lama sesudahnya, Gubernur langsung menaiki mobil dinasnya dan bergegas meninggalkan mereka.

Hampir sejam, sebanyak 20 media bertatap muka dengan Gubernur Meki. Pertemuan ini digelar usai penandatanganan kerjasama media massa dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk penyebarluasan informasi sepanjang tahun 2025.

Turut hadir mendampingi Gubernur dalam pertemuan itu, Penjabat Sekretaris Daerah Papua Tengah dr. Silwanus Soemoele, Sp.OG(K),MH.Kes, Asisten II Setda Dr. H. Tumiran, S.Sos,M.Ap, Kepala Bappeda Papua Tengah Eliezer Yogi, S.STP,M.Si, dan Kepala Kesbangpol Papua Tengah Albertus Adii.

Dari 20 kuli tinta yang hadir, terdapat dua jurnalis senior. Ada Lucky Ireuw (Pemimpin Redaksi Harian Cenderawasih Pos) dan Cunding Levi (Kabarpapua.co), mantan jurnalis Tempo. Soal kualitas, jam terbang liputan, dan pengalaman mengorganisir redaksi, mereka layak jadi rujukan di antara jurnalis muda lainnya.

Dan di momen pertemuan itu, ada dua pesan bernas Gubernur Meki Nawipa. Pesan yang saya anggap sebagai “titah”, perintah, masukan konstruktif, bahkan bisa saja kritik halus terhadap kualitas media yang menjadi kegelisahannya: tentang kaderisasi wartawan dan kreativitas menulis berita bagi para jurnalis.

“Buatlah pengkaderan mulai dari sekolah. Melalui lomba menulis misalnya, saya akan dukung itu jika ke depan dilakukan. Dan tentunya ini bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Siapa tahu ke depannya, mereka yang lomba ini bisa melanjutkan profesi wartawan,” pesan Gubernur Meki.

Kaderisasi dan Kualitas Jurnalis

Dunia jurnalistik itu sesuatu menyenangkan tetapi juga menantang. Tetapi ia akan menjadi sebuah profesi yang sepi diminati ketika publik, terutama generasi muda, tidak diberi edukasi yang utuh sisi-sisi “enaknya” yang bisa melahirkan inspirasi dan motivasi.

Lontaran pemikiran Gubernur Meki Nawipa untuk melakukan pelatihan meliput dan menulis berita, membuat narasi video, editing, dan sebagainya bagi anak-anak SMA/SMK, adalah sebuah kesempatan untuk menyiapkan para calon jurnalis Papua Tengah di masa depan.

Dan saya berpikir, organisasi profesi wartawan seperti PWI dan AJI, atau Asosiasi Wartawan Papua (AWP) yang sudah menjadwalkan akan melakukan Festival Media Oktober 2025 di Papua Tengah, bisa mewujudkan pesan sang gubernur ini untuk melakukan pelatihan menulis dan lomba menulis.

Termasuk juga, membangkitkan minat jurnalis di Papua Tengah untuk melakukan liputan investigasi mendalam (indepth report) atau menulis berita dalam bentuk cerita (features) kepada para jurnalis pemula. Harus diakui, dua genre berita ini nyaris tak diminati lagi, di tengah tumbuhnya media meinstream masa kini yang lebih mengandalkan kecepatan informasi dengan berita-berita pendek (straight news).

Kesempatan Festival Media itu juga bisa menjadi ajang “kampanye” untuk membangun kepercayaan publik bahwa di tengah gencarnya kepungan informasi di media sosial dalam aneka platform digital, produk berita jurnalis di media massa masih menjadi verifikasi kebenaran informasi yang diandalkan.

Ungkapan peribahasa Jerman was geschrieben steht, bleibt geschrieben (Omongan Boleh Hilang, Tulisan Tetap) atau memelintir pemikiran Filsuf Perancis Rene Descartes Scribo Ergo Sum (Saya Menulis Maka Saya Ada), harus digaungkan oleh para jurnalis di Papua untuk ditularkan ke generasi muda tanah ini. Minat anak-anak SMA/SMK kepada dunia literasi harus dibangkitkan. Termasuk, mendorong motivasi mereka untuk terjun ke dunia jurnalistik sebagai masa depannya.

Profesi menjadi wartawan itu mulia. Tetapi jujur, akhir-akhir ini, sisi “mulia” itu tergerus oleh godaan terbesar: mengejar amplop dan melupakan kualitas berita. Media tumbuh beranak pinak tak terbendung. Ribuan wartawan muncul tanpa proses rekrutmen bertahap. Asal ada modal kamera dan smartphone, dibekali ID Card dari media, siapapun bisa turun ke lapangan dan meliput.

Ada media bahkan tak punya redaktur atau editor yang menjadi dapur redaksi mengolah narasi menjadi sajian berita. Semua di-publish mentah-mentah tanpa pusing peduli soal pedoman judul yang baik, bahasa penulisan yang sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan pola penulisan berkaidah jurnalistik. Masing-masing media asyik berlomba mengejar clickbait atau viewer, dan tak jarang mengesampingkan kualitas isi berita yang ditayang.

Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan pengalaman dulu di era Abang Lucky Ireeuw dan Cunding Levi puluhan tahun lalu. Media massa cetak masih mendominasi. Ketika itu, wartawan direkrut dengan sangat ketat, dimulai dengan masa percobaan sebagai kontributor, reporter, hingga duduk menjadi redaktur/editor. Semua ditempa dalam jenjang waktu yang lama.

Tak segan-segan, para redaktur menggembleng, memarahi, bahkan mencaci maki jurnalis yang salah menulis, bahkan hal sepeleh seperti salah gelar pejabat sekalipun. Kualitas berita benar-benar dijaga. Bahasa penulisan dikontrol ketat. Huruf-huruf salah sejauh mungkin dikurangi dengan dummy yang terbit pra cetak.

Sementara saat ini, ketika koneksi jaringan di aneka platform digital semakin menjamur, godaan lain ialah saling sharing berita antarjurnalis menjadi sebuah budaya baru. Ada yang mengubah judul dan hanya paragraf pertama. Tetapi tak dipungkiri, terbanyak adalah mem-publish dengan narasi yang sama persis dari A sampai Z tanpa mengubah atau mengedit dengan angle berbeda. Miris.

Pesan Gubernur Meki Nawipa, yang meminta para jurnalis harus kreatif dalam mengolah narasi berita adalah mewakili kegelisahan publik akhir-akhir ini. Ketika media massa membangun kemitraan dengan Pemerintah Daerah dan terkesan mati kreasi dalam menyajikan informasi pembangunan karena semuanya seragam, kaku dan tak utuh, di situ pers kehilangan daya tariknya.

“Info penting yang saya tindak lanjuti dari penyampaian Pak Gubernur bahwa saya tidak siapkan teks rilis. Bapak Gubernur minta berita Pemprov Papua Tengah semuanya jangan sama di semua media. Pesan yang sama ini sudah dua kali beliau sampaikan. Pertama waktu lalu ke wartawan di kediamannya, terus yang kedua itu beliau sampaikan kemarin usai tanda tangan MoU. Jadi saya kirim bahan mentah saja, supaya kawan-kawan sendiri ambil angle masing-masing,” begitu pesan Abeth You, jurnalis kepercayaan Gubernur Meki di WA Group Jurnalis Papua Tengah.

Pesan ini menohok dan membangkitkan jurnalis Papua Tengah dari tidurnya. Baru kali ini, seorang kepala daerah memberi perhatian serius soal isi berita. Dan itu harus diapresiasi sebagai bentuk cintanya pada jurnalisme di tanah ini.

Saya sepakat bahwa kekuatan pers terletak pada kemampuan jurnalis untuk menyampaikan informasi, membentuk opini publik, dan menjalankan fungsi kontrol sosial. Bahasa adalah alat utama yang digunakan pers untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Melalui bahasa, pers dapat mengolah fakta, peristiwa, dan ide menjadi berita, artikel, atau konten lain yang dapat dipahami dan diakses oleh masyarakat luas.

Bahasa juga memungkinkan pers untuk menyampaikan pesan-pesan persuasif, mempengaruhi opini, dan mengadvokasi perubahan sosial. Oleh karena itu, tak ada jalan lain untuk mewujudkan pesan Gubernur Meki, selain dengan terus belajar menulis yang baik dan benar. Mulailahlah dari belajar membaca tulisan sendiri, mengoreksi huruf dan kalimat yang salah dan memperbaikinya.

Dan tak kalah penting, tentunya harus ditunjang dengan rajin membaca. Sebab menulis adalah produksi gagasan yang dihasilkan dari cara berpikir. Ia butuh informasi yang terserap dari setiap apa yang kita baca sebagai “BBM” untuk memperkaya narasi. Jika tidak, berita yang dihasilkan menjadi produk yang kurang diminati pembaca. Bahkan menjadi narasi mati sebelum terbit atau tayang. Yuk, mari berubah! (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box