
Kania Rumpampam, guru SD Inpres Angkasa saat memberikan testimoni di hadapan BTM
JAYAPURA (PB.COM) – Dalam sejarah kepemimpinan daerah di Papua, nama Benhur Tomi Mano (BTM) bukan hanya dikenal sebagai mantan Wali Kota Jayapura dua periode, tetapi juga sebagai pemimpin visioner yang menanamkan keberpihakan nyata pada dunia pendidikan. Ia tidak hanya membangun sekolah atau memperindah bangunan, tetapi membangun manusia—khususnya para guru—dari pondasi yang kokoh.
BTM yang kini adalah Calon Gubernur Papua nomor urut 1, sadar bahwa pendidikan adalah kunci memutus rantai ketertinggalan, dan guru adalah pilar utama dari kunci itu. Oleh karena itu, ia mengambil langkah yang kala itu mungkin tidak terpikirkan oleh banyak pemimpin lain: meningkatkan standar kualitas tenaga pengajar di Jayapura, dimulai dari hal yang paling mendasar—pendidikan guru itu sendiri.
Saat banyak daerah masih menganggap lulusan D2 atau D3 cukup untuk mengajar di sekolah dasar, BTM mengambil keputusan berani dan strategis: menetapkan bahwa guru SD di Jayapura harus minimal bergelar Strata Satu (S1).
“Anak-anak adalah lembaran kosong. Tapi kalau pena yang menulis penuh tinta salah, maka seluruh masa depan akan keliru arah,” ujar BTM dalam suatu kesempatan, menegaskan bahwa kualitas guru sama pentingnya dengan kurikulum dan fasilitas.
Langkah ini bukan hanya idealisme kosong. BTM menerjemahkannya ke dalam program nyata berupa beasiswa pendidikan lanjutan bagi para guru, terutama mereka yang masih berijazah D2 atau D3. Salah satu yang merasakan langsung kebijakan tersebut adalah Mama Kania Rumpampam, guru SD Inpres Angkasa yang kala itu masih belum memiliki gelar S1.
“Saya dapat beasiswa kuliah di Uncen. Saya bisa selesaikan S1 pendidikan, dan sekarang saya sudah mengajar dengan penuh percaya diri dan ilmu yang lebih matang,” tutur Kania Rumpampam dengan penuh haru saat bertemu kembali dengan BTM di Angkasa, Rabu (09/07/2025).
“Bapak BTM tolong perhatikan kami di SD Negeri Angkasa,” sambungnya.
Langkah BTM membuahkan hasil. Kota Jayapura perlahan menjadi barometer pendidikan di Tanah Papua, bukan hanya karena prestasi siswa atau jumlah gedung sekolah, tapi karena kualitas sumber daya manusia yang mengisi ruang-ruang kelas, para guru yang tak hanya berdedikasi, tapi juga berkualifikasi.
Dalam budaya Papua, ada ungkapan bijak: “Kalau mau mendaki gunung, ikat tali sepatu dari rumah.”
BTM memahami bahwa memajukan pendidikan harus dimulai dari fondasi awal, dan guru adalah langkah pertama yang harus diperkuat sebelum berbicara soal kualitas lulusan.
Langkah BTM menjadi model keberpihakan yang bijak dan progresif. Ia tidak tergoda dengan pencitraan sesaat, tetapi berinvestasi pada hal yang berdampak panjang—ilmu pengetahuan dan manusia-manusia pembelajar.
Kini, anak-anak di Jayapura belajar dari guru-guru yang lebih siap secara akademik, dan lebih percaya diri menghadapi tantangan zaman. Semua berawal dari keberanian seorang pemimpin untuk mengatakan: “Guru bukan pelengkap, mereka adalah pondasi.”
Dan benar adanya, “Kalau ingin membangun Papua, bangun dulu ruang kelasnya. Tapi kalau ingin membangun masa depan Papua, bangun dulu gurunya.” (ADM)



































