Bertus Asso, menyerahkan Noken Kepada Ketua DPP Bintang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Syaifull Hidayat

JAYAPURA (PB.COM) – Momentum Bulan Bung Karno dimanfaatkan Pendiri Yayasan Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf (YBUPBHI), Bertus Asso, untuk menyampaikan sebuah gagasan yang menurutnya memiliki nilai sejarah sekaligus pendidikan bagi bangsa Indonesia. Di hadapan jajaran pengurus pusat dan daerah PDI Perjuangan, ia meminta agar DPP PDI Perjuangan meresmikan Buku Huruf Bung Karno, Museum Bung Karno, dan Patung Bung Karno yang telah dibangun di Wamena, Provinsi Papua Pegunungan.

Permintaan tersebut disampaikan langsung kepada Ketua DPP Bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Syaiful Hidayat, dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota DPRD PDI Perjuangan serta Pembekalan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara DPD serta DPC se-Indonesia yang berlangsung di Hotel Grand Abe, Jayapura, Sabtu (4/7/2026).

Forum nasional yang dihadiri jajaran DPP PDI Perjuangan, termasuk Ketua Badan Kehormatan Komarudin Watubun, menjadi kesempatan yang dinilai tepat oleh Bertus Asso untuk menyampaikan hasil karya yang selama ini ia kerjakan secara mandiri.

Di hadapan ratusan peserta, Bertus menyampaikan apresiasi kepada DPP PDI Perjuangan karena telah memberikan ruang baginya untuk memperkenalkan karya yang menurutnya merupakan bentuk penghormatan terhadap pemikiran Proklamator Republik Indonesia, Bung Karno.

Bertus mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun terakhir dirinya telah menerjemahkan gagasan Bung Karno dalam bentuk metode pembelajaran membaca dan menulis melalui Buku Huruf Bung Karno yang kini telah tersusun dalam sembilan jilid. Selain itu, ia juga membangun Museum Bung Karno serta membuat Patung Bung Karno berbahan perunggu setinggi tiga meter dengan berat sekitar 500 kilogram. Seluruh proses tersebut, kata dia, dibiayai menggunakan dana pribadi.

“Selama ini kita mengenal berbagai peninggalan dan penghormatan kepada Bung Karno, mulai dari jalan yang menggunakan nama Bung Karno, masjid, bandara, hingga museum. Hari ini dari Papua kami menghadirkan Huruf Bung Karno sebagai metode pembelajaran, lengkap dengan Museum Bung Karno dan Patung Bung Karno yang berada di Wamena,” ujar Bertus.

Bertus, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua III DPR Papua Pegunungan, menilai karya tersebut bukan sekadar simbol penghormatan kepada Bung Karno, melainkan juga bagian dari upaya meningkatkan literasi masyarakat Papua melalui pendekatan yang dekat dengan nilai-nilai kebangsaan.

Sebagai bentuk keseriusan, Bertus menyerahkan sebuah noken berisi sembilan jilid Buku Huruf Bung Karno, desain Museum Bung Karno, serta dokumentasi Patung Bung Karno kepada Djarot Syaiful Hidayat. Penyerahan itu dilakukan secara simbolis dengan harapan seluruh dokumen tersebut dapat diteruskan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Bertus Asso, menyerahkan Noken Kepada Ketua DPP Bintang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Syaifull Hidayat

Ia berharap Megawati berkenan hadir langsung ke Wamena untuk meresmikan Buku Huruf Bung Karno, Museum Bung Karno, dan Patung Bung Karno sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno di masa mendatang.

Menurut Bertus, kehadiran Ketua Umum PDI Perjuangan untuk meresmikan karya tersebut akan menjadi momentum bersejarah, tidak hanya bagi masyarakat Papua Pegunungan, tetapi juga bagi penguatan nilai-nilai kebangsaan di wilayah timur Indonesia.

Sementara itu, Ketua DPP Bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Saiful Hidayat, menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kreativitas Bertus Asso dalam menerjemahkan pemikiran Bung Karno melalui pendekatan pendidikan.

Menurut Djarot, apa yang pernah dicita-citakan Bung Karno pada tahun 1948 di Yogyakarta kini memperoleh bentuk baru melalui karya seorang kader PDI Perjuangan asal Papua.

“Apa yang dicanangkan Bung Karno pada tahun 1948 di Yogyakarta, hari ini diterjemahkan oleh salah satu kader terbaik Papua,” ujar Djarot saat menerima noken berisi karya-karya tersebut.

Apresiasi tersebut menjadi sinyal bahwa gagasan yang dibawa Bertus Asso mendapat perhatian dari DPP PDI Perjuangan. Kini, harapan berikutnya adalah agar karya yang lahir dari Wamena tersebut dapat memperoleh pengakuan secara resmi melalui peresmian oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, sehingga Huruf Bung Karno tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap Sang Proklamator, tetapi juga berkembang sebagai salah satu inovasi pendidikan literasi yang berasal dari Tanah Papua. (ADM)

 

Facebook Comments Box