
Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 Provinsi Papua Tengah Tahun 2026, Kamis (23/7/2026) di SMA Negeri I Plus KPG, Nabire Barat.
NABIRE (PB.COM) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi mendukung deklarasi anak menuju Provinsi Papua Tengah layak anak. Pemerintah memastikan, sekolah dan lingkungan belajar di Papua Tengah harus menjadi tempat yang aman dan ramah anak.
Komitmen mendukung deklarasi anak ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaida Nawipa, SE pada peringatan Hari Anak Nasional ke-42 Provinsi Papua Tengah Tahun 2026, Kamis (23/7/2026) di SMA Negeri I Plus KPG, Nabire Barat.
Kata Nurhaida, peringatan Hari Anak Nasional tahun menjadi sebuah batu pijakan (milestone) sejarah baru bagi masa depan putra-putri di seluruh pelosok Tanah Papua Tengah.

Deklarasi anak menuju Papua Tengah layak ini, memastikan bahwa sekolah dan lingkungan belajar di Papua Tengah harus menjadi tempat yang aman, ramah anak, bebas dari kekerasan, diskriminasi, serta perundungan, sehingga tidak ada lagi anak Papua Tengah yang terabaikan hak belajarnya.
“Untuk mewujudkan provinsi layak anak yang berdaya saing tinggi, dinas pendidikan dan kebudayaan telah melakukan perubahan paradigma mendasar dalam mengelola dan menyiapkan daya saing sumber daya manusia.” Ucap Nurhaida.

Jika selama ini, penyiapan daya saing dilakukan dengan mengirim siswa ke lembaga kemitraan di Jawa/Bali, kata dia, mulai tahun 2025 lalu, kebijakan tersebut diubah secara fundamental. Pengelolaan dan penyiapan daya saing pendidikan anak diselenggarakan langsung di dalam wilayah provinsi Papua Tengah.
Dalam menjalankan strategi ini, pihaknya mengambil langkah progresif dengan menggandeng lembaga kursus bahasa Inggris lokal yang nyata dikelola oleh Anak-anak Asli Papua (OAP) yang merupakan lulusan perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri.
“Kursus bahasa Inggris tidak lagi hanya diberikan secara terbatas menjelang pengiriman ke luar daerah, tetapi dilatihkan sejak dini,” katanya.

Nurhaida menyebut, anak-anak SD kelas 4, 5, dan 6, serta siswa kelas 1, 2 dan 3 jenjang SMP, SMA, dan SMK diikutsertakan dalam kursus terstruktur menggunakan kurikulum standar lembaga bahasa Inggris, dengan target sasaran sebanyak 4.250 siswa.
Tetapi berdasarkan data lapangan, yang mengikuti kursus adalah 4.370 siswa, melampaui target karena antusias siswa mengikuti kursus bahasa inggris sangat tinggi. Katanya, 99,8% adalah anak-anak asli Papua Tengah.
“Tujuan strategis kita adalah mencetak anak Papua Tengah yang mahir/pasif bahasa Inggris sejak dini, sehingga mereka memiliki rasa percaya diri dan daya saing tinggi untuk merebut peluang beasiswa secara mandiri,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi juga, atas kerjasama Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, melakukan revitalisasi penerimaan siswa baru di SMA Meepago. Sekolah ini disiapkan khusus agar lulusannya mampu meraih beasiswa LPDP, beasiswa luar negeri dari Kedubes negara sahabat, maupun NGO internasional.
“Kuota penerimaan SMA Meepago sebanyak 60 siswa unggulan yang terseleksi di tingkat kabupaten, dengan syarat utama adalah nilai akademik baik dan pasif berbahasa Inggris,” sebut Nurhaida lebih lanjut.
Ia juga melaporkan bahwa masalah utama pendidikan di Papua Tengah saat ini adalah krisis ketersediaan dan tingkat kehadiran guru di sekolah. Akibat panggilan jiwa mengajar dan kompetensi guru yang masih di bawah rata-rata, hal ini berdampak langsung pada kekosongan dan kekurangan guru di kelas dan mengakibatkan penurunan literasi siswa.

Sebagai solusi, pihaknya mengambil alih pengelolaan Kolese Pendidikan Guru (KPG) berbasis asrama sebagai pusat pembentukan karakter panggilan jiwa guru, pengabdian, dan pembelajaran kontekstual.
Program ini disinergikan melalui kerja sama dengan LPTK Kemendikdasmen penyelenggara PPG untuk mencetak guru PAUD, guru TK, dan guru SD bagi 8 kabupaten. Kuota penerimaan KPG akan disesuaikan dengan kapasitas daya tampung dan peta kebutuhan guru PAUD, guru TK, dan guru SD 20 tahun ke depan.
“Untuk tahun 2026, diberikan kuota 120 anak calon siswa KPG, dengan formula keterwakilan 1 anak per distrik dari seluruh distrik se-Papua Tengah,” lanjut Nurhaida.

Dua persyaratan utama penerimaan kolese pendidikan guru adalah: pertama, putra-putri asli distrik setempat dengan nilai akademik terbaik; dan kedua, lulus tes psikologi keterpanggilan guru dan komitmen pengabdian.
Momentum peringatan Hari Anak Nasional itu, salah satu siswa SMA Negeri Meepago, Melian Obaipa, yang sebelumnya juara 1 lomba Bahasa Inggris diberi kesempatan untuk berbicara dalam bahasa Inggris di depan gubernur Papua Tengah tadi pagi.
Pidato menggunakan bahasa Inggris di depan umum ini atas dukungan dan perhatian Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah kerja sama dengan Yayasan Syena Ohoro Papua (YAYASAN SAPA) yang memberikan kursus selama 36 jam di sekolah-sekolah. (Gusty Masan Raya/Rilis)






























