Covid di Papua: 1 Nakes Gugur Lagi, Dalam 36 Hari Pasien Baru 3.256 Orang

Jenazah Suter DS saat dimakamkan Tim URC Pemakaman Covid-19 di Pemakaman Buper Waena, Selasa (06/10/2020) petang.

 

JAYAPURA (PB.COM)— Dunia kesehatan di Bumi Cenderawasih berduka. Gugur lagi satu tenaga kesehatan di Provinsi Papua akibat korban keganasan Covid-19. Mereka yang di masa pandemi sebagai garda pertahanan belakang melawan virus asal Wuhan ini benar-benar kehilangan rekan sejawatnya.

“Benar. Petang kemarin kita makamkan Ibu DS, salah satu perawat senior kita yang selama ini bekerja di RS Jiwa Abepura. Atas nama seluruh tenaga medis di Papua kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes kepada papuabangkit.com, Rabu (07/10/2020).

Menurut Aaron, DS meninggal di rumah sakit RSUD Abepura sekitar Pkl. 10 pagi, Rabu (06/10.2020). Ia menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit itu dengan riwayat menderita penyakit penyerta (komorbid).

“Ini kasus kematian tenaga kesehatan yang ketiga. Dua sebelumnya juga perawat, satu Suster T di Puskesmas Twano meninggal pada 19 September 2020. Yang pertama Suster ES, perawat di Puskesmas Harapan Sentani tanggal 20 Juli 2020,” katanya.

Aaron yang juga Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Papua menegaskan Covid-19 belum berakhir. Sayangnya, kebanyakan masyarakat tidak patuh pada protokol kesehatan.

“Tetapi tidak perlu takut Covid. Dan tidak perlu takut kepada kematian. Karena jika atas kehendak Tuhan  kita harus mati, maka kematian akibat Covid adalah jalan menuju ke Sorga yang kekal. Yang paling utama sekarang ialah mari kita cegah agar tidak kena. Dan yang kena harus segera mendapat perawatan dan tetap semangat melawannya,” tegasnya.

Dr Aaron Rumainum bersama tim URC saat memakamkan Suster DS di Pemakaman Buper Waena.

 

Penguburan Suster DS molor beberapa jam. Menurut Kepala Bidang Respon Emergenci UP2KP Darwin Rumbiak, S.Kep yang ikut bersama Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Pemakaman Covid, ini terjadi karena liang kubur di Pemakaman Covid Buper Waena belum siap.

“Teman-teman dari PUPR Kota Jayapura kebetulan sedang giat rutin pengerukan kali jadi kami menunggu. Jadi kita makamkan sekitar Pkl. 18.00 WIT. Atas nama tim URC Pemakaman kami sampaikan permohonan maaf kepada keluarga atas keterlambatan ini,” kata Darwin.

Sebelum dibawa ke Pemakaman Buper Waena, kata Darwin, jenazah Suster DS yang diiring keluar dari RSUD Abepura sekitar Pkl. 16.15 WIT dibawa melewati jalan depan RS Jiwa Abepura tempat almarhum bekerja. Di sana, Direktur RS Jiwa dr. Anthon Tony Mote bersama seluruh karyawan/watinya berdiri melambaikan salam duka dan lagu perpisahan.

“Momen ini sungguh haru. Kami sebagai rekan sejawat benar-benar kehilangan sosok perawat senior Mama Suster DS. Tenaga kesehatan mulai berguguran, nah apa masyarakat masih juga belum yakin akan ancaman Covid,” ucap Darwin.

Menurut Darwin, sejak sebulan terakhir, hampir setiap hari Tim URC dari UP2KP dan Relawan Makam yang tergabung dari Dinas Kesehatan Papua dan beberapa rumah sakit di Kota Jayapura menguburkan jenazah pasien Covid.

“Khusus kami dari UP2KP, sekalipun hingga hari ini belum dibayar insentif yang menjadi hak kami, kami tetap setia bekerja. Kami pegang janji Kepala BPBD Papua Pak Manderi yang mau merealisasikan hak kami pada pekan ini. Semoga benar-benar diwujudkan,” tegas Darwin.

Kasus Baru Terus Meningkat 

Sepanjang 1 September hingga 6 Oktober 2020, jumlah kasus Covid di Papua  meningkat  tajam. Pemberlakukan Adaptasi New Normal sejak Agutus 2020 rupanya menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, Pemerintah Provinsi Papua dan Forkopimda menginginkan agar aktivitas perekonomian masyarakat bisa bergerak melalui pelonggaran aktivitas, di sisi lain lemahnya kesadaran warga mematuhi protokol kesehatan membuat angka kasus terus bertambah, terutama di Kota Jayapura.

Data perkembangan Covid di Provinsi Papua per 6 Oktober 2020

 

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, sejak 31 Agustus 2020 hingga 6 Oktober 2020, terdapat tambahan 3.256 pasien positif baru di Bumi Cenderawasih, naik dari 3.750 menjadi 7.006 orang. Dari jumlah yang ada,  sebanyak 2.578 (36,8 %) sedang dirawat sedangkan 4.317 orang (61,6%) dinyatakan sembuh. Sementara  jumlah kematian juga bertambah 67 kasus yaitu dari 44 menjadi 111 kasus.

Kendati terjadi peningkatan kasus yang sangat signifikan di masa pemberlakuan Adaptasi New Normal, Pemerintah Provinsi Papua bersama Forkopimda dalam rapat bersama pada 27 September 2020 tidak mengambil opsi untuk pembatasan penerbangan dan kapal laut yang sempat diisukan sebelumnya. Ini tepat sebab peningkatan jumlah virus ini adalah akibat transmisi lokal, bukan dari luar Papua.

Sementara aktivitas masyarakat di luar rumah yang sebelumnya sudah berlangsung normal dari Pkl. 06.00 hingga Pkl. 21.00 WIT kini diubah khusus untuk 7 kabupaten/kota yang menjadi dampak terparah Covid. Masyarakat di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Biak Numfor, Nabire, Kepulauan Yapen, dan Mimika hanya beraktivitas dari Pkl. 06.00 hingga Pkl. 18.00 WIT.

“Tetapi semua kebijakan kita kembalikan kepada para kepala daerah di kabupaten/kota yang menentukan. Mereka yang paling paham keadaan di sana dalam upaya menekan penyebaran virus ini,” tegas Wakil Gubernur Klemen Tinal, SE.MM saat rapat akhir September 2020 lalu bersama Forkopimda.  (Gusty Masan Raya)

Hanya Dalam Tiga Pekan, Ada Tambahan 1.215 Pasien Covid Baru di Papua dan 30 Orang Meninggal

Dokter Aaron Rumainum bersama tim pemakaman saat memakamkan salah satu pasien Covid di Pemakaman Buper Waena, Kota Jayapura, Sabtu (19/09/2020)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Lonjakan kasus Covid-19 di Provinsi Papua semakin menggila! Betapa tidak, dalam kurun waktu hanya tiga pekan atau dua puluh satu hari, terdapat  tambahan kasus pasien baru hingga 33 persen dan jumlah kematian meningkat hingga 68 persen  dari jumlah sebelumnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, sejak 31 Agustus 2020 hingga 19 September 2020, terdapat tambahan 1.215 pasien positif baru di Bumi Cenderawasih, naik dari 3.750 menjadi 4.965 orang. Sementara  jumlah kematian juga bertambah 30 kasus yaitu dari 44 menjadi 74 kasus.

Saat ini, jumlah pasien Covid yang sedang dirawat di Papua mengalami kenaikan 11 persen yaitu dari 15 persen (567 orang) pada 31 Agustus 2020 menjadi 26 persen atau 1.309 orang pada 19 September 2020. Sementara angka persentasi kesembuhan turun 12 persen dari 84 persen menjadi 72 persen, dimana hanya terdapat tambahan 343 pasien yang  sembuh menjadi 3.582 kasus per 19 September 2020.

Data Perkembangan Covid di Provinsi Papua per 19 September 2020

 

Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes mengatakan masyarakat di Papua, khususnya Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura sejak sebulan terakhir sepertinya tak peduli dan tidak takut lagi terhadap ancaman virus Corona.

“Karena itu, masyarakat beraktivitas tanpa patuhi protokol kesehatan. Tidak pakai masker, tidak cuci tangan, tidak lagi jaga jarak, mulai berkerumun. Karena mereka beranggapan bahwa ini penyakit biasa dengan dasar pemikiran bahwa ada 2.400-an pasien di kota ini sembuh dan tidak meninggal. Ketakutan mereka sudah turun dibandingkan enam bulan lalu. Ini yang membuat angka kita naik terus sebulan terakhir ini,” ujar dr. Aaron kepada papuabangkit.com via telepon selulernya, Minggu (20/09/2020) petang.

Menurut Aaron, gelombang kedua virus Corona ini sedang mengancam Papua, secara khusus di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya. Oleh karena itu, ia meminta seluruh masyarakat membuka mata dan mengubah cara pandangnya yang keliru. Sebab fakta hari ini, kematian juga terus bertambah.

“Saya lihat, ada Gereja yang benar-benar menjalankan protokol kesehatan, menghimbau jemaatnya untuk patuh pada himbauan pemerintah, jaga jarak saat ibadah, pakai masker, dan cuci tangan. Tapi saya perhatikan ada juga Gereja yang tidak, karena lebih mengandalkan iman dan imunnya. Ini hal-hal salah yang harus kita ubah. Sebab jika itu kena di orang yang punya komorbid, itu yang bahaya. Resiko kematiannya tinggi,” katanya.

Ia juga menegaskan penambahan kasus juga terjadi dari klaster perkantoran di Kota Jayapura. Oleh karena itu, penerapan adaptasi New Normal harus benar-benar diikuti dengan pola kebiasaan baru dalam bekerja, bukannya malah memperlonggar disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan.

Tambahan 1 Nakes Meninggal

Pada Sabtu (19/09/2020), terjadi 4 kasus kematian pasien Covid di Kota Jayapura. Salah satunya ialah tenaga kesehatan (nakes) berinisial T yang selama ini bekerja di Puskesmas Twano, Distrik Jayapura Selatan. Ini adalah kasus kematian kedua yang menimpa kalangan nakes di Bumi Cenderawasih.

Tim URC dari UP2KP saat memakamkan jenazah salah seorang nakes yang meninggal pada Sabtu (19/09/2020) malam.

 

“Setelah penguburan empat orang, saya buka WA Grup dan tahu bahwa ternyata yang dikubur keempat ini adalah petugas kesehatan. Suster T ini pejuang kusta di Kota Jayapura. Atas nama Satgas dan Tim Kesehatan kita sampaikan turut berduka cita. Papua kehilangan sosok nakes pejuang kusta seperti dia,” kata dr Aaron.

Anggota Tim Unit Reaksi Cepat dari Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) yang bertugas membantu pemakaman, Hidayat Wairoy, SKM mengatakan tiga pekan belakangan mereka disibukkan dengan penguburan karena ada tambahan 15 pasien positif yang meninggal di Kota Jayapura.

“Hampir dua hari ada kematian. Belum lagi ada yang meninggal masih status probable atau Pasien Dalam Pengawasan. Kemarin saja, Sabtu ada 4 orang meninggal di 4 rumah sakit berbeda. Setelah kami kubur yang di RS Dian Harapan, malam kami kubur nakes yang meninggal di RS Marthen Indey pada malam hari,” kata Hidayat, Minggu pagi.

Hidayat mengaku timnya tetap bekerja, sekalipun hingga hari ini persoalan insentif yang menjadi haknya belum dibayar oleh Pemerintah Provinsi Papua. Sebab ini adalah panggilan kemanusiaan yang harus dijalankan.

“Kami tim URC dari UP2KP selalu siap, selama ini koordinasi dengan Pak Dokter Aaron baik dan kami jalankan tugas seperti biasa,” ujarnya.

Dokter Aaron mengapresiasi kinerja tim URC maupun petugas di UPT Pemakaman Buper Waena yang bekerja tak kenal waktu dalam menjalankan tugas pemakaman pasien Covid. Ini bukan pekerjaan mudah. Kiranya masyarakat menghargai pengorbanan mereka dengan mematuhi protokol kesehatan agar kematian akibat virus asal Wuhan bisa dicegah.

“Tidak semua orang jadi relawan yang tetap bekerja walau belum dibayar. Tetapi siapa yang mau kubur kalau angka kematian naik terus? Baru 4 orang dalam sehari saja kita sudah kewalahan, bagaimana jika terjadi seperti Jakarta sampai 40-an orang meninggal setiap hari? Mari masyarakat Papua, kita patuhi protokol kesehatan, jangan kepala bat uterus,” tegas Aaron yang juga Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Dinas Kesehatan Papua. (Gusty Masan Raya)

Kisah Tenaga Kesehatan Rapid Test Ribuan Penambang Emas di Papua: “Tak Ada Covid, Tapi Malaria dan Emas Full”

Kamp penginapan para penambang emas ilegal di Kampung Kawe Distrik Awinbon Kabupaten Pegunungan Bintang (foto: Musa Abubar/ANTARA)

 

Tim Surveilans Dinas Kesehatan Papua dikirim ke Kawe, Pegunungan Bintang. Sebulan lalu, belasan warga Boven Digoel yang terkena Covid, dikabarkan tertular dari para penambang emas ilegal di wilayah Korowai, Selatan Papua ini.

Adalah Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal, SE.MM, pada awal Juni 2020 lalu, memerintahkan Dinas Kesehatan Papua harus segera turun melakukan Rapid Test untuk memastikan kondisi ribuan penambang emas yang ada di sana.

Rabu, 24 Juni 2020, tim yang turun dipimpin Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes. Ikut bersama Aaron, Yusuf Wona dan Forki dari Dinkes Papua dan wartawan ANTARA Papua, Musa Abubar.

Pesawat Alda Air yang disewa membawa mereka ke Tanah Merah pada Rabu siang. Setelah tiba, mereka berkoordinasi dengan Koperasi Senggaup Maining, otoritas yang biasa mengurus keberangkatan para penambang emas dari Tanah Merah ke Kampung Kawe, Distrik Awinbon, Pegunungan Bintang.

Bertemu Ketua Koperasi Kawe Senggaup Minning Yusuf Penyo dan Kabid Marketing Koperasi, Demas Dombon yang memfasilitasi sekitar 30 maining di Kampung Kawe, Distrik Awinbon, Pegunungan Bintang di kantor.

Tim bertemu dengan Ketua Koperasi Kawe Senggaup Maining Yusuf Penyo dan Kabid Marketing Koperasi, Demas Dombon dari Suku Wambon untuk membicarakan wilayah yang akan kami datangi. Koperasi ini memiliki peran besar men-suplay kebutuhan ribuan orang belasan maining di Kampung Kawe, Distrik Awinbon, Pegunungan Bintang.

“Di Hotel Honai, Tanah Merah kami putuskan untuk berangkat ke Maining 33. Sebab kami sudah dapat informasi bahwa tim dari Boven Digoel sudah melakukan Rapid Test kepada 864 penambang di Pisang-Pisang, kemudian Pegunungan Bintang juga sudah lakukan Rapid Test 294 penambang di Kawe, maka dengan pihak koperasi kami sepakat lakukan Rapid Test di Maining 33,” kisah dr Aaron kepada papuabangkit.com melalui telepon selulernya, Sabtu, 4 Juli 2020.

Akses dari Tanah Merah lokasi Maining 33 ditempuh dengan helikopter selama 36 menit. Jika dengan longboat, bisa memakan waktu selama 1-2 hari dari Tanah Merah ke Pisang-Pisang. Kemudian, lanjut jalan kaki satu hingga dua hari lamanya untuk menjangkau lokasi tambang di Mining 33.

Tiba di lokasi penambangan dengan Helikopter. Butuh waktu 36 menit untuk tiba di sana.

“Keesokan harinya, Kamis, 25 Juni 2020 kami berangkat ke sana ditemani dua pengurus koperasi. Saat tiba, kami menemui Tuan Dusun. Diputuskan, kami akan lakukan Rapid Test pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu untuk Mining 33 dan beberapa mining di sekitarnya seperti Mining Kali Fer, Mining 85 dan Mining 96,” tuturnya.

Di Mining 33, terdapat 133 penambang emas. Sama seperti lokasi lainnya, para penambang emas di wilayah Korowai ini berasal dari berbagai penjuru nusantara. Ada yang dari suku asli setempat, sebagian dari wilayah Dani dan Lani, juga banyak yang dari luar Papua seperti orang Toraja, Makassar dan Jawa.

“Hari Jumat kami Rapid Test 133 di Maining 33. Esoknya ada 80 lagi yang datang dari maining terdekat. Demikian pun Minggu ada sekitar 40-an. Nah pada hari Minggu, ada seorang pasien asal Toraja Musa Toding, yang dibawa dua jam ke tempat kami. Dia ditandu oleh 7 orang temannya dengan riwayat sesak nafas. Kita sempat infus dia dua kali tapi gagal, dan kita ambil darah untuk Rapid Test, rupanya dia negatif. Tiga jam kemudian dia meninggal dan dikuburkan di situ. Ternyata dia kena malaria,” tutur Aaron yang juga Wakil Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua ini.

Para penambang emas di Maining 33 saat bersiap menguburkan salah satu rekannya yang meninggal, Musa Toding.

 

Setelah kasus seorang penambang liar yang meninggal, ada lagi kasus seorang penambang asal Makassar yang memiliki keluhan yang sama. Kata Aaron, ia sesak nafas, kaki kram dan tak bisa jalan. Tim lalu melakukan Rapid Test. Hasilnya sama, non reaktif. Tetapi setelah diambil darah untuk periksa malaria, rupanya ia positif terkena malaria tertiana.

Di lokasi Maining 33 tempat mereka menginap, nyamuk agak berkurang. Maklum. Hutan sudah ditebang. Nyamuk umumnya paling banyak di penambangan emas yang jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki dari kamp penginapan para penambang.

“Dari total 253 penambang, hanya 4 orang yang reaktif yaitu 1 dari Maining 33, dan 3 dari Minning 96. Mereka semuanya dari Suku Dani. Tapi mereka sehat-sehat, tak ada keluhan sakit. Kita kasih obat Imboost dan vitamin, dan anggap mereka sehat saja,” tutur Aaron.

Dokter Aaron Rumainum bersama penambang emas yang menderita kaki gajah.

 

Menurut Aaron, sebanyak 17 kasus positif Covid di Boven Digoel sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan tambang. Tetapi pada kasus 1 dan kasus 2, pasien itu melakukan perjalanan dari Kendari ke Makassar lalu menggunakan pesawat ke Merauke. Di situ sumber penularannya.

“Jadi pasien positif di Boven pertama itu tertular dari pesawat bersama dengan pasien positif di Merauke saat datang dari Timika melalui Jayapura. Jadi kemungkinan orang Boven Digoel itu tertular dalam pesawat, bukan dari penambang,” katanya.

Kemudian, kedua pasangan suami istri dari Boven Digoel ini tiba di daerah bernama Pisang-Pisang. Tempat ini menjadi tempat transit para penambang yang datang dari Tanah Merah dengan loangboat untuk selanjutnya menuju ke berbagai lokasi penambangan dengan berjalan kaki.

Aktivitas penambangan tradisional yang tengah dilakukan para penambang emas.

 

Di Pisang-Pisang, berdiri sejumlah kios untuk menjual kebutuhan barang kelontongan. Juga tersedia WIFI untuk jaringan telepon yang ditukar dengan emas.

“Jadi kasus positif Covid ketiga, keempat dan kelima di Boven Digoel juga terjadi di Pisang-Pisang itu, bukan di lokasi tambang. Dan yang kena juga ialah ada sekitar 3 motoris longboat itu. Nah kasus selanjutnya, mereka yang dari tambang ini saat pulang ke Tanah Merah singgah di Pisang Pisang baru kena. Jadi bukan dari daerah tambang,” tegas Aaron.

Aaron menguraikan, sebenarnya tak ada klaster tambang emas Kawe dalam kasus Covid di Boven Digoel. Sebab sumber penularan sesungguhnya bukan dari para penambang. Masalah kesehatan yang umumnya menimpa para penambang dalam pengamatannya selama tinggal sepekan di sana ialah malaria.

“Ini juga sesuai pengakuan pemilik Apotik di samping hotel Honai Tanah Merah. Rata-rata mereka yang keluar dari tambang itu pasti beli obat malaria. Bahkan penambang yang meninggal itu rata-rata karena malaria. Jadi yang kena Covid itu pengusaha kios-kios di Pisang-Pisang dan  pemilik Loangboat yang kena,” tegasnya.

 

Gairah Ekonomi Sangat Tinggi

Dokter Aaron bersama tim kesehatan berada di lokasi penambangan selama enam malam. Waktu yang cukup baginya untuk melihat kondisi kesehatan bagi sekitar enam ribuan penambang di sana. Baginya, masalah Covid tak perlu dikuatirkandi daerah tambang. Rata-rata para penambang menderita malaria dan kaki gajah.

Dokter Aaron saat mengambil sampel darah salah seorang penambang untuk Rapid Test. (Foto: Musa Abubar/ANTARA)

 

“Fisik mereka terlalu kuat untuk ditembusi Covid-19, lebih kuat dari tenaga kesehatan di rumah sakit, Puskemas atau Dinkes. Bahkan, lebih kuat dari prajurit. Mereka itu gila fisiknya, pikul alkon atau barang 40 kg naik akar akar kayu, lumpur dan panjat tebing,” lanjutnya.

Sepekan berada di sana, Aaron melihat ada sisi positif dari penambangan emas ilegal di wilayah Korowai ini. Pertumbuhan ekonomi berjalan baik. Lokasi tambang yang terbuka memberi akses masuk bisa melalui tiga pintu. Bisa dari Tanah Merah, bisa dari Seradala, Yahukimo, bisa dari Mabul, Asmat.  Bergantian naik ketinting dan jalan kaki untuk menempuh lokasi ini. Wilayah ini secara administrasi milik Kabupaten Pegunungan Bintang.

Untuk menuju penambangan emas ini, harus melalui Koperasi Kawe Senggaup Maining. Tiba di sana, para penambang akan melapor ke Tuan Dusun. Tuan Dusun ini memiliki otoritas untuk menentukan, apakah bisa diterima atau tidak untuk bekerja di sana sebagai penambang emas dengan sejumlah aturan yang harus dipenuhi.

Dokter Aaron Rumainum ketika ikut mencoba mendulang emas Maining 33, Kampung Kawe.

 

Di satu maining terdapat ratusan orang yang terbagi ke dalam puluhan grup. Setiap grup memiliki koordinator yang setiap minggu, wajib menyetor beberapa persen dari hasil emas yang didulangnya kepada Tuan Dusun. Tuan Dusun adalah para pemilik Hak Ulayat yang ada di wilayah itu. Jika dilanggar, maka para penambang akan diusir keluar dari lokasi.

“Saya melihat ada asas keadilan dan ada dampak positifnya bahwa ekonomi di sana benar-benar. Mau dia penjahat ka, pencuri ka,kalau  dia datang kerja di penambangan, dia bisa hidup. Semua orang di penambangan tiap hari harus kerja. Tidak kerja, tidak dapat emas. Rata-rata mereka keluar pagi dan pulang jam tiga sore. Ada yang pakai kuali, ada yang pakai alkon,” kata Aaron.

Aturan lain yang ditetapkan Tuan Dusun, para penambang tidak boleh memasok minuman keras, perempuan dan mercuri atau air raksa ke lokasi tambang. Selain itu, tak semua kali didulang. Ada kali yang menjadi tempat untuk mandi dan mencuci.

Aturan yang dikeluarkan pihak Koperasi dan Tuan Dusun yang wajib diikuti para penambang emas di Maining 33.

 

Untuk menyuplai kebutuhan bahan makanan, Koperasi Kawe Senggaup Maining dan para pengusaha membuka kios di Maining 33. Di sana tersedia beras pilihan seperti Putri Thailand dan Betet, Sarimi, minyak goreng, sarden, kopi, gula, susu, rokok, sabun dan obat-obatan. Hasil penjualan dari kios, Tuan Dusun juga masih mendapat persen lagi.

“Uniknya di sini tak ada transaksi uang. Semua barang kebutuhan dibarter dengan emas hasil dulangan. Beras 10 kilogram dijual koperasi dengan 8 gram emas. Sarimi 1 karton 2 gram emas. Minyak goreng 5 liter diganti dengan 4 gram emas,” tutur Aaron.

Harga 1 gram emas murni di lokasi penambangan dibanrol senilai Rp 500 ribu. Di Tanah Merah, lebih mahal sedikit, Rp 600 ribu. Sementara di Jayapura seharga Rp 1 juta.

Kios berisi barang kebutuhan yang dijual koperasi di kamp penambang emas Maining 33.

 

“Dan para pengusaha juga ada siapkan WIFI untuk jaringan telepon dan internet.   Paket data 600 MB ditukar dengan 1 gram emas untuk masa tiga hari pakai. Nilai uang benar-benar tak ada artinya karena emas,” katanya.

Di lokasi penambangan ini, malam tampak terang laksana kota. Listrik dari mesin genzet menyuplai penerangan ke semua kamp atau barak-barak bertenda biru. Jika mereka mau pulang, dan tidak ingin berjalan kaki menuju Pisang-Pisang untuk selanjutnya dengan loangboat ke Tanah Merah, mereka bisa naik helikopter yang datang menyuplai kebutuhan.

“Kalau carter helikopter sekali terbang dari Tanah Merah ke Maining 33 biayanya Rp 48 juta. Kalau pendulang yang mau turun ke Tanah Merah dengan helikopter, bayar 3 gram emas per orang,” katanya.

Aaron menilai, sistem dan aturan penambangan emas yang ada di Kawe ini cukup baik untuk menghidupkan ekonomi masyarakat di wilayah itu. Sekitar ada 17 lokasi penambangan emas di Korowai. Lokasi itu tersebar di Pegunungan Bintang, Yahukimo, Asmat, Mappi, dan Boven Digoel. Adapun areal penambangan terbesar berada di Bravo Tujuh, Pisang-Pisang, dan Kawe.

“Hanya usul saja, jangan dibuang sampah ke kali. Atau dibakar. Semua mereka hidup berdampingan. Semua bahagia. Setiap orang pasti dapat emas yang penting rajin bekerja,” tutupnya. (Gusty Masan Raya)

Satgas Covid Papua Kecam Penembakan Terhadap 2 Petugas Medis di Intan Jaya

Wakil Juru Bicara Satgas Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes

JAYAPURA (PB.COM)Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes mengecam aksi penembakan dan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Wandai, Intan Jaya, Papua.

Kedua petugas medis bernama Eunico Somou, SKM dan Almalek Bagau, SKM merupakan anggota Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Intan Jaya. Eunico dikabarkan meninggal dunia, sedangkan Almalek saat ini dalam kondisi kritis.

“Kami mengecam aksi penganiayaan atau penembakan yang dilakukan KKB. Ini benar-benar mencederai nurani kita dan melukai semua petugas medis di Papua yang tengah berjuang melawan Covid. Mereka diserang saat sedang bertugas melayani kesehatan masyarakat di sana. Atas nama Satgas Covid Provinsi Papua, kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Dan semoga yang masih dalam kondisi kritis segera mendapat pertolongan,” kata dr. Aaron Rumainum melalui  pesan whatsapp, Jumat (22/05/2020) malam.

Menurut Aaron, ia mengenal dekat korban Eunico Somou yang dikabarkan meninggal dunia itu. Eunico di mata Aaron adalah putra asli Intan Jaya yang merupakan kader kesehatan potensial di Dinas Kesehatan setempat. Sebelumnya, almarhum adalah mantan Kepala Puskesmas Homeyo, kemudian ditarik ke Dinas Kesehatan Intan Jaya sebagai pengelola Program Imunisasi.

“Euico Somau adalah anak yang baik. Pernah bantu saya waktu tidak ada tenaga kesehatan di Puskesmas Sugapa sekitar tahun 2003. Waktu itu dia masih sekolah SPK. Eunico termasuk anak asli suku Moni Intan Jaya yang ditarik ke Dinkes untuk dikaderkan menjadi pemimpin masa depan. Saya turut berduka dan kehilangan,” kata Aaron.

Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, kejadian penembakan terjadi saat kedua korban dalam perjalanan ke Distrik Sugapa untuk mengambil obat-obatan.

“Dua korban ini, salah satunya adalah Kepala Pustu di Wandai. Jadi mereka ini dua-duanya adalah tenaga kesehatan yang juga masuk Tim Gugus Tugas Covid-19 Intan Jaya,” kata Bupati Natalis Jumat (22/5/2020) malam.

Menurut Natalis, keterbatasan sarana telekomunikasi di Distrik Wandai dimana masih  menggunakan radio menjadi kendala untuk memperoleh informasi yang mendetail terkait kejadian ini.

Sesuai rencana, esok Sabtu (23/05/2020), Bupati Natalis bersama Kapolres dan Dandim akan bertolak ke Distrik Wandai menggunakan helikopter guna mengevakuasi jenazah dan satu korban kritis itu.

“Kita berharap, korban luka masih dapat bertahan untuk kami jemput untuk ditangani di Nabire. Atas nama Pemerintah Intan Jaya dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan duka yang mendalam bagi korban yang meninggal dunia,” urainya. (Gusty Masan Raya)

Satgas Covid Papua Minta Bupati Umumkan Hasil PCR 21 ODP di Mappi

 

Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Papua dr. Aaron Rumainum, M.Kes (Foto: Reportasepapua.com)

JAYAPURA (PB.COM)—Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Papua dr. Aaron Rumainum, M.Kes meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Mappi segera mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium bagi, yang merupakan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dalam kasus pasien covid pertama di Papua.

Sebab berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Litbangkes Papua dengan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada 27 Maret 2020, sebanyak 7 keluarga pasien dan 14 petugas medis dan penumpang itu negative alias tidak terpapar virus corona.

“Saya minta kepada Bupati Mappi, karena kita sudah melakukan pemeriksaan sampel pada tanggal 25 Maret 2020. Dan saya sendiri duduk bersama keluarga dari Pak Andi pasien yang dirawat di RSUD Merauke terkait kasus positif Covid-19 Papua. Saya sudah mempelajari kontak terakhir Pak Andi dengan istrinya Ibu Erna, dan 6 anggota keluarga lainnya serumah itu tanggal 9. Maka saya minta dengan segala kerendahan hati dan hormat, Pak Bupati umumkan secara terbuka di hadapan masyarakat Mappi bahwa hasil PCR yang merupakan hasil konfirmasi tertinggi tanggal 27 Maret dinyatakan negatif,” ujar dr. Aaron kepada papuabangkit.com lewat telepon selulernya, Kamis (09/04/2020).

Wakil Jubir Satgas Covid-19 Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes saat bertemu keluarga pasien COvid-19 pertama di Papua di Kepi, Kabupaten Mappi, Selasa (24/03/2020)

Menurut Aaron, fakta hari ini bahwa ketujuh anggota keluarga dari pasien Andi itu sehat-sehat adanya. Sementara Andi Rahmad Najib, sang pasien itu pun, sudah sembuh dan dinyatakan negatif dan kini sudah keluar dari rumah sakit. Pengumuman resmi secara terbuka ini wajib dilakukan agar masyarakat Mappi, khususnya di Kepi tidak takut dan tidak menjauhi keluarga pasien.

“Jadi kita tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan kekuatiran, melainkan berdasarkan keputusan medis yang sudah terbukti. Jadi kami minta dengan hormat pak bupati umumkan itu secara terbuka, tak boleh ada yang ditutup-tutupi,” tegas Aaron.

Aaron juga meminta agar Dinas Kesehatan Mappi tidak lagi melakukan Rapid Diagnostic Test (RDP) kepada 21 ODP di Kepi itu. Sebab jika itu dilakukan lagi, maka Dinas Kesehatan dinyatakan melanggar kode etik medis dan hukum.

“Surat hasil PCR ke-21 ODP ini kita sudah kirim semua ke Dinas Kesehatan. Jadi kenapa sampai hari ini tidak diumumkan? Kesannya, ada diskriminasi dan perbedaan perlakukan kepada 7 orang ODP khusus keluarga pasien ini, daripada 14 ODP lainnya. Ini seharusnya tidak boleh. Semua 21 ODP itu hasilnya negatif, jadi apa yang mau ditutupi,” tegas Aaron.

Bupati Mappi Kristosimus Yohanes Agawemu dihubungi papuabangkit.com via telp, whastsapp dan SMS hingga berita ini diturunkan, belum merespon untuk konfirmasi. (Gusty Masan Raya)

Aaron Rumainum: “Jangan Bully Pasien Corona dan Keluarganya”

Wakil Jubir Satgas Covid-19 Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes saat bertemu keluarga pasien C0vid pertama di Papua di Kepi, Kabupaten Mappi, Selasa (24/03/2020)

JAYAPURA (PB.COM)—Tanggal 22 Maret 2020 lalu, Papua digemparkan oleh kabar mengejutkan. Seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dirawat sejak 16 Maret 2020 di RSUD Merauke dinyatakan positif terinfeksi virus Corona atau Covid-19. Pasien Covid-19 pertama di Papua ini diumumkan setelah pihak rumah sakit menerima hasil pemeriksaan sampel yang dikirim beberapa hari sebelumnya ke Balitbangkes RI di Jakarta.

Sejumlah media memberitakan, pasien  ini adalah seorang warga Kabupaten Mappi. Sebelum sakit dan dinyatakan positif terinfeksi Corona, ia baru saja pulang dari Sentul, Bogor menghadiri Seminar Bisnis Syariah (Tanpa Riba), 25-28 Februari 2020. Sebelumnya, sejumlah peserta seminar yang sama yang berasal dari DIY, Solo dan Kalimantan Timur ini sudah dinyatakan positif. Bahkan, 2 pasien di Solo sudah meninggal.

Kondisi pasien 01 Covid Papua yang saat ini masih dirawat di RSUD Merauke dikabarkan dalam kondisi baik. Tetapi bagaimana dengan nasib keluarganya di Keppi, Kabupaten Mappi?

dr Aaron Rumainum saat mendampingi Tim Satgas dari Labkesda Papua mengambil sampel para ODP di ruang isolasi RSUD Mappi untuk diperiksa di Litbangkes Papua. Dari 21 ODP, semuanya dinyatakan negatif.

Dalam video singkat yang dibagikan Wakil Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Aaron Rumainum, M.Kes, Jumat, 27 Maret 2020 di whatsappgroup “wartawan khusus Covid-19”, tertera pesan disertai himbauan singkat tertulis yang mengharukan dan menggugah kemanusiaan.

Video singkat berdurasi 1,34 menit itu memperlihatkan hal tak lazim. Dokter Aaron tampak berbicara santai dengan empat keluarga pasien 01 Covid Papua itu tanpa memakai Alat Pelindung Diri (APD) dalam jarak yang sangat rapat. Ada seorang wanita paruh baya berjilbab hitam, diapit gadis kecil berjilbab ungu, dan seorang bocah laki-laki berbaju merah. Di samping Aaron, seorang pria lansia dengan rambut sudah memutih.

Kepada teman-teman medis di mana saja berada. Saya sedang bersama-sama dengan istri, anak dan keluarga pasien positif pertama di Papua yang sekarang dirawat di RSUD Merauke. Saya sekarang berada di Kepi, Ibukota Kabupaten Mappi. Mereka sekarang dalam keadaan sehat-sehat saja. Tadi sudah dilakukan proses pengambilan sampel untuk diperiksa. Tetapi faktanya mereka sehat-sehat saja dan kita bersyukur kepada Tuhan.

Kita tidak boleh menganggap remeh, tetapi kita juga tidak boleh takut yang berlebihan. Sekarang mereka tidak ada batuk, tidak ada pilek, nyeri tenggorokan maupun demam. Tetapi kami akan memberikan obat kepada mereka.

Faktanya sekarang bahwa mereka tidak ada gejala sakit apapun dan mereka juga tidak stress. Bukan begitu bapa, ibu anak-anak? Oke tetap kuat, maju bersama melawan Corona dengan cara menjaga jarak, menghindari kerumunan, tetap di rumah dan selalu mencuci tangan pakai sabun,” demikian pesan dr Aaron dalam video itu.

Sebenarnya, ada 7 orang anggota keluarga pasien 01 Covid Papua. Hanya saja, tiga orang lain tak tampak dalam video singkat yang diambil. Sudah sepekan lebih, mereka menjalani karantina mandiri di rumah karena menyandang status Orang Dalam Pemantauan (ODP) sesuai protokoler penanganan wabah mematikan ini.

Merasa tersentuh oleh keberanian dr Aaron, papuabangkit.com menghubunginya via telp. Berbagi cerita pengalamannya menghadapi dilema: antara “kepanikan” akan bahaya yang mengancam bercampur sisi simpati mendalam merasakan “kejamnya” masyarakat men-judge atau memberi stigma negatif pada keluarga pasien itu.

“Saya memang sengaja meminta dibuat video itu dan keluarga ini juga setuju. Mereka dikucilkan oleh warga sekitar. Sejak suami ibu ini dirawat sebagai PDP di RSUD Merauke 16 Maret 2020 dan dinyatakan positif Covid pada 22 Maret 2020, secara psikis mereka tentu tersiksa. Media sosial menghakimi mereka. Mereka jalani karantina rumah. Bahkan makanan untuk mereka ditaruh di depan pintu. Petugas kesehatan hanya memantau mereka via telp, tak berani bertemu,” ujar dr Aaron Rumainum, Jumat malam (27/03/2020).

Pada 24 Maret 2020, Satgas Penanganan Covid-19 Papua di bawah pimpinan Dokter Aaron bersama 3 anggota satgas lainnya turun ke Kepi. Mereka mengambil sampel untuk diperiksa, manager training, sekaligus melakukan penguatan kepada kepada para petugas medis di RSUD Mappi.

“Ada 21 ODP, 7 orang adalah keluarga pasien, 2 dokter dan 10 perawat yang sempat merawat pasien ini di RSUD Mappi, dan 2 penumpang yang satu pesawat dengan pasien. Pasien ini tanggal 4 Maret tiba di Kepi, tanggal 5 sakit dan masuk RSUD Mappi, tanggal 9 berangkat ke Merauke, lalu tanggal 16 Maret masuk RSUD Merauke,” urai dr. Aaron.

Aaron mengisahan, saat mereka masuk ke rumah keluarga pasien itu, dua anggota Satgas Covid-19 Papua yang berasal dari Labkesda Papua lengkap mengenakan pakaian astronot sebagai Alat Pelindung Diri. Sedangkan ia dan salah seorang anggota satgas lainnya hanya menggunakan masker. Beberapa petugas kesehatan di Mappi yang ikut ke rumah pasien, malah tak berani masuk rumah. Aaron memaklumi ketakutan mereka akan bahaya penyebaran virus ini.

“Tetapi setelah kami masuk dan saya lihat mereka sehat, ya saya lepas masker dan cerita seperti biasa dengan mereka. Saya bukan meremehkan virus ini, tetapi tujuan saya adalah memberi penguatan kepada mereka agar mereka tidak merasa dikucilkan. Mereka ini punya toko besar di Kepi. Kami mendengar, di media sosial, di facebook, mereka dibully, dikucilkan. Dan awalnya, karena dibully, istrinya mengaku sempat sesak nafas,” kata Aaron.

Dengan ini, Aaron ingin menegaskan bahwa dirinya tidak menunjukkan sikap sok jago atau sembrono menghadapi potensi ancaman penularan dari keluarga pasien yang berstatus ODP itu.

“Tujuannya ialah saya ingin menguatkan para petugas medis, bahwa kalau saya yang lepas masker saja berani, kalian yang pakai baju astronot harusnya lebih berani untuk berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Untuk apa? Untuk membangkitkan semangat dan harapan hidup bagi mereka secara pelan-pelan,” tegasnya.

Tanggal 25 Maret 2020, dr Aaron dan Tim Satgas Covid Papua mengambil sampel dan swab dari 21 ODP ini. Sampel ketujuh ODP keluarga pasien dilakukan di rumah. Sedangkan untuk ODP para dokter, perawat dan penumpang pesawat, dilakukan di ruang isolasi RSUD Mappi.

Pada Kamis, 26 Maret 2020, kabar gembira datang. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Litbangkes Papua di Jayapura menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction), ke-21 ODP yang merupakan jejak pasien 01 Covid-19 Papua ini, dinyatakan negatif.

“Oleh karena itu, saya minta, setelah mereka sudah  terima hasil negatif, masyarakat tidak perlu kucilkan dan bully keluarga pasien ini lagi. Saya perlu tekankan bahwa dalam kasus Corona, penguatan itu penting, psikoterapi itu penting. Karena itu demi menjaga daya tahan tubuh pasien. Anjuran pemerintah sesuai protokel kesehatan tetap kita jalankan. Tetapi kita tidak boleh takut yang berlebihan. Kita juga jangan menghakimi orang yang positif corona dan keluarganya. Karantina rumah tetap dipatuhi tapi jangan kucilkan atau bully mereka,” pinta Aaron. (Gusty Masan Raya)