Elia I Loupatty Terima Bendera, Papua Tuan Rumah POPNAS XV 2019

Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua Elia Laupatty menerima bendera BAPOPSI sebagai pertanda Papua resmi menjadi tuan rumah POPNAS 2019.

SEMARANG (PB) –  Sekretaris Menpora Gatot S Dewa Broto dan Ketua PB POPNAS XIV Jawa Tengah Sri Puryono secara resmi menyerahkan bendera BAPOPSI (Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indinesia) kepada Gubernur Papua Lukas Enembe yang diwaliki Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua Elia Laupatty.

Bendera Popnas diserahkan saat upacara penutupan Popnas XIV di Lapangan Simpang Lima Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu  (20/9/2017) malam lalu. Penyerahan bendera ini sebagai penanda penyerahan estafet Popnas kepada Papua sebagai tuan rumah tahun 2019.

Elia Loupatty menyampaikan atas nama pemerintah provinsi dan masyarakat Papua, menyambut kesempatan yang dipercayakan kepada pemerintah dan rakyat Papua untuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XV tahun 2019. “Kami berharap agar saudara-saudara juga akan datang dengan kekuatan penuh saat Popnas berlangsung di Papua, sebagai mana kontingen Papua juga hadir di Jawa Tengah,” katanya.

Provinsi Papua menurutnya banyak belajar tentang penyelanggaraan Popnas. Selain itu juga masukan-masukan untuk persiapan PON XX tahun 2020. “Kami berterima kasih karena panitia Popnas Semarang telah melayani atlet-atlet dengan rombongan kami secara baik. Sesuai dengan laporan dari ketua kontingen bahwa Popnas XIV terselenggara dengan sukses, aman dan tertib serta lancar. Hampir tidak ada masalah,” akunya.

Kepada para atlet, Loupatty menyampaikan rasa bangga.  Ia percaya bahwa minimal dalam jiwa para atlet tidak ada narkoba, tidak ada minuman keras (miras) dan tidak ada HIV/AIDS. Serta hal-hal yang tidak diperkenankan oleh negara.

“Kami percaya bahwa saudara-saudara, adik-adik akan menjadi kader-kader atlet nasional yang ke depan akan menjadi duta Indonesia untuk siap bertarung di tingkat Asean, Asia maupun dunia. Mungkin sebagian besar para atlet akan hidup dari olahraga itu sendiri,” tukasnya.

Loupatty mencontohkan kisah perjalanan legenda hidup petinju terkaya masa kini, Floyd Mayweather Jr. Mayweather terlahir dari keluarga petinju serta berasal dari keluarga sangat miskin di Amerika. Ayah dan pamannya adalah mantan petinju.

Floyd Mayweather Jr akan dikenang sebagai salah satu petinju terbaik di dunia. Rekornya yang tak terkalahkan serta gaya bertarungnya yang unik, membuat dirinya menjadi atlet dengan pendapatan terbesar di dunia.

Ternyata restu dari neneknya sangat luar biasa bagi karier Mayweather Jr. Selama naik ring, petinju yang mendapat julukan ‘Pretty Boy’ karena wajahnya tidak pernah bengkak atau luka, tidak pernah kalah.

“Kalau memang itu jalur hidupmu, ikutilah dan tekunilah jalur hidup itu. Sebab tanpa sekolah, seorang atlet bisa menjadi seorang atlet top dunia. Karena itu, sudah saatnya juga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dapat mendukung hal-hal seperti ini. Kalau memang sudah menjadi atlet nasional dan punya potensi, mengapa harus sekolah. Langsung saja secara alamiah dilatih supaya menjadi atlet dunia,” tandasnya.

Tanpa Emas

Popnas XIV secara resmi telah ditutup  Rabu (20/9/2017)  malam lalu dengan dipandu artis ibukota Ari Untung dan Maria Selena, diawali dengan penampilan tari Kepodang dari Sanggar Greget.

Sekretaris Menpora Gatot S Dewa Broto mewakili Menpora Imam Nahrawi menyebut Jawa Tengah dalam pelaksanaan Popnas kali ini bisa menjadi contoh sportivitas. “Saling berkompetisi dengan ketat sudah selesai, Saatnya kita satukan kembali persatuan kita. Terus kembangkan prestasi kalian,” kata Gatot.

Dia berpesan agar atlet junior terus mengembangkan prestasi. “Banggalah menjadi atlet. Sekarang pemerintah mulai perhatian kepada atlet. Kalau prestasi bagus, kami berikan jalur khusus masuk ke perguruan tinggi ternama,” ucapnya.

Kejuaraan pelajar ini, titel juara umum diraih Jawa Barat yang mengumpulkan 58 medali emas, 45 perak, dan 54 perunggu. Disusul DKI Jakarta di urutan kedua dengan 56 emas, 44 perak, dan 43 perunggu. Jawa Tengah berada di urutan ketiga setelah mengumpulkan 40 emas, 39 perak, dan 55 perunggu. Provinsi  Papua sendiri berada di urutan 29 setelah mengumpulkan, 1 perak, dan 7 perunggu. Sementara Provinsi Papua Barat tanpa satu pun medali.

Penutupan dilanjutkan Tari Sajojo, diikuti atlet dan seluruh undangan yang hadir. Para tamu undangan dihibur dengan lagu- lagu hits yang dilantunkan Nowela Idol dan Andra and The Back Bone.

Menyusul kegagalan Papua di ajang olahraga pelajar ini, membuat Pengurus Provinsi (Pengprov) Taekwondo Indonesia (TI) Papua segera melakukan evaluasi. Menurut Ketua Harian Pengprov TI Papua, John Nahumuri, Pekan Olahraga Pelajar dijadikan sebagai tolak ukur prestasi sebelum terjun di PON. “Setelah kembali ke Jayapura, kita akan lakukan evaluasi, kenapa sampai kita bisa gagal dapat medali emas di POPNAS,” terangnya.

Dari pengamatannya, kata Nahumury, atlet-atlet pelajar Papua sudah tampil baik. Namun, banyak hal yang harus dibenahi dari segi fisik dan mental bertanding atlet. Selain itu juga ia mengaku, kurangnya try out untuk mengukur kemampuan para atlit. Selain itu juga juga  ilmu kepelatihan pelatih pun harus ditingkatkan. “Kalau kita bicara PON 2020, salah satu aspek adalah sukses prestasi, maka tidak ada pilihan lain, kita akan lakukan evaluasi dan penyusun program berkelanjutan untuk PON,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, Provinsi Papua akan mengikuti Kejuaraan Nasional antar-Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Manodo, Sulawesi Utara. “Oleh karena itu, kita harus segera menyiapkan atlet yang terbaik untuk mengikuti kegiatan tersebut,” imbuhnya.

Disinggung kesiapan menyambut PON 2020, Nahumury mengaku, pengurus TI Papua segera melakukan Kejuaraan Daerah (Kejurda) untuk mencari atlet terbait Papua untuk tampil pada PON XX nanti. “Untuk atlet PON, kita akan seleksi secara ketat, pelatih juga akan kita tingkatkan kualitasnnya. Kita juga rencana kontrak pelatih dari luar negeri, jadi dalam seleksi atlet oleh pelatih kita akan lakukan pengawasan secara penuh, sehingga tidak ada nepotisme dalam merekrut atlet,” tutup Nahumury. (YMF/Ed-Fri)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *