Walikota Larang Bunyikan Petasan di Malam Natal dan Tahun Baru

Walikota Jayapura DR. Drs. Benhur Tomi Mano, MM menjawab pers, Minggu (19/11/2017) di sela-sela acara Peresmian Gedung Pastoran Katolik dan Aula Paroki Gembala Baik, Abepura.

JAYAPURA (PB)—Walikota Jayapura DR. Drs. Benhur Tomi Mano, MM memastikan bahwa tahun ini masyarakat Kota Jayapura akan menyongsong dan merayakan Natal 2017 dan Malam Tahun Baru 2018 tanpa bunyi petasan, kembang api dan meriam bambu dan memanfaatkan momentum perayaan itu untuk merefleksikan hidup dalam hening.

“Saya akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menghentikan aksi meriam bambu di atas bukit. Juga melarang keras para pedagang untuk menjual petasan di hari malam Natal dan malam Tahun Baru. Kota ini kota kudus, kota yang dibangun oleh Injil. Kita butuh ketenangan. Di hari lain silahkan, tapi Natal dan Tahun Baru, kita rayakan dalam hening,” kata Walikota BTM kepada pers, Minggu (19/11/2017) di sela-sela acara Peresmian Gedung Pastoran Katolik dan Aula Paroki Gembala Baik, Abepura.

Menurut Walikota yang akrab dikenal dengan BTM, dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru, pada tanggal 1 Desember 2017, Pemerintah Kota Jayapura bersama 48 Denominasi Gereja di Kota Jayapura akan melakukan long march dari LapanganMandala ke Taman Imbi. Kegiatan bertajuk Gerbang Natal ini akan diisi dengan puji-pujian dan refleksi, pameran sekitar 300 Pohon Natal  yang terbuat dari daur ulang sampah serta dimulainya penilaian lomba Pondok Natal 2017.

“Untuk itu dalam rangka menyambut Natal ini, saya akan mengeluarkan instruksi Walikota bahwa tanggal 24 Desember malam kudus, tak ada bunyi-bunyian, baik petasan, kembang api, karbit dan meriam bamboo. Demikian juga tanggal 31 Desember karena itu akan dilakukan ibadah tutup tahun. Kota ini dibangun di atas Injil, jadi kita gunakan perayaan itu untuk refleksi,” kata BTM.

Sementara itu, terkait dengan izin peredaran minuman keras (miras) di Kota Jayapura yang hingga kini belum dicabut, Walikota BTM mengatakan, ia sedang dalam mengkajinya sesuai aturan yang berlaku.

“Saya belum cabut ijin miras karena saya bekerja atas aturan. Dan sekali waktu, ijin itu akan dicabut. Tetapi yang paling utama, bagaimana iman kita, untuk tidak mengkonsumsi miras? Kita punya akal sehat untuk kendalikan itu. Perda Miras itu hanya secarik kertas yang akan bisa dicabut dan disobek-sobek. Ribuan orang datang demo saya soal ini, tapi saya jelaskan kepada mereka dan mereka paham,” kata BTM.

Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM pada kesempatan itu juga menyayangkan kebiasaan generasi muda Papua yang hingga kini masih mengkonsumsi minuman keras. Senada dengan Walikota Mano, Uskup Leo menilai hal paling penting dalam upaya menghentikan persoalan ini yaitu pendidikan nilai dan moral dalam keluarga.

“Bukan gubernur, bukan walikota dan bupati, bukan polisi, tetapi harus dimulai dari keluarga. Keluarga yang hadir bersama untuk didik anak saat makan, menasihati mana yang bisa dikonsumsi mana yang tidak,” kata Uskup. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *