Kisah Pelajar SMP yang Dibakar Rekannya Karena Menolak Ajakan Berdemo di Wamena

Gubernur Papua Lukas Enembe didampingi Pangdam XVII Cenderawasih ketika mengunjungi korban luka bakar yang menjalani perawatan akibat kerusuhan Wamena.

WAMENA (PB.COM) – Seorang pelajar SMPN I Wamena, Frans Tabuni (14) mengalami luka bakar hingga 21 persen, akibat dibakar oleh rekannya sendiri saat terjadi demo anarkis di Wamena, Jayawijaya, Papua Senin (23/9/2019) lalu.

Frans dibakar rekannya karena menolak ajakan berdemo. Saat ini Frans masih menjalani perawatan intensif di RSUD Wamena usai menjalani operasi akibat benturan di kepala.

Ibu korban, Hertab Tabuni yang setia mendampingi korban di RS, kepada pers, Rabu (25/9/2019) kemarin menceritakan, bagaimana anak lelakinya bisa menjadi korban kebrutalan para pendemo.

Menurut Hertab, di saat hari kejadian, anaknya bersama teman-temannya yang lain sedang mengikuti ujian di sekolahnya SMP Negeri I Wamena.

“Waktu itu sedang ujian. Terus pelajar lain datang ajak dia dengan temannya untuk ikut berdemo. Tapi anak saya ini tolak, buat mereka marah. Lalu mereka ambil bensin, siram saya punya anak (korban) dengan teman-temannya, lalu mereka bakar,” tuturnya.

Beruntung korban bersama tiga temannya yang lain, langsung ditolong dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

“Jadi mereka ini ada jalan sama-sama langsung disiram bensin, sekarang ini mereka tiga masih hidup, satu temannya sudah meninggal,” bebernya.

Meski mengalami luka bakar cukup serius dan harus menjalani operasi akibat benturan di kepala, namun menurut Hertab, anaknya tidak akan dirujuk ke Jayapura.

“Biar dirawat disini saja. Habis bapaknya di Jayapura juga bilang, tidak usah dirujuk,” ungkap Hertab.

Selain Frans Tabuni, terdapat puluhan korban kerusuhan lainnya yang masih dirawat di rumah sakit Wamena.

Menurut salah satu dokter, sebagian lainnya juga sudah dirujuk ke Jayapura. Terutama pasien-pasien yang harus mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Hingga Kamis hari ini tercatat 30 orang meninggal dunia dan 73 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban meninggal dunia akibat terjebak dalam bangunan yang dibakar massa.

Akibat kerusuhan, ratusan bangunan baik itu kantor pemerintahan, fasilitas umum dan perekonomian dirusak dan dibakar massa, puluhan kendaraan baik roda dua dan roda empat juga tak luput dari sasaran massa yang anarkis. (Andi/Frida)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *