Covid Papua: Dua Pekan 5.290 Kasus Baru, 124 Meninggal, Puluhan Nakes Terpapar, Sejumlah Pasien Dirawat di IGD

 

 

 

Kondisi pelayanan pasien Covid di IGD RSUD Jayapura, Jumat (16/07/2021)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Mengerikan! Kasus Covid di Provinsi Papua dua pekan terakhir melonjak drastis, baik itu penemuan kasus pasien baru maupun angka kematian. Kondisi ini tentu saja menjadi lampu merah bagi pemerintah daerah karena terbatasnya fasilitas kesehatan di Papua.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua per 16 Juli 2021, jumlah angka kumulatif orang yang terpapar Covid di Bumi Cenderawasih mencapai 29.463 orang, dimana 23.191 orang (81,2 %) sudah dinyatakan sembuh, 4.945 orang (16,8%) sedang dalam perawatan, dan 595 orang atau 2 persen meninggal dunia.

Data ini menunjukkan bahwa sepanjang 1-16 Juli 2021, terdapat penambahan 5.290 pasien covid baru dari data 30 Juni 2021 dengan angka kumulatif 24.172 kasus. Sementara itu, selama dua pekan ini pula, ada 124 pasien Covid meninggal jika dibandingkan dengan data 30 Juni 2021 dengan jumlah kumulatif 475 kasus kematian.

Para direktur rumah sakit mulai cemas. Tenaga kesehatan di garda terdepan pelayanan mulai kewalahan. Hal itu juga terlihat di RSUD Jayapura sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Provinsi Papua. Sejak Kamis (15/07/2021), sempat beredar video dan foto yang memperlihatkan pelayanan pasien Covid  di lorong Intalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit itu karena ruang isolasi sudah penuh terisi.

Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat memberi keterangan pers kepada wartawan.

 

“Foto dan video yang beredar di sosmed itu benar. Ada 20-an pasien Covid yang dirawat di IGD. Ruang isolasi kami penuh. Kami memang sudah akftifkan ruang-ruang VIP di bagian belakang, itu pun penuh. Ruang ICU juga penuh, lalu kami buka ruang perawatan paru menjadi ruang Covid juga penuh lagi. Ya sudah terpaksa mereka yang baru masuk kita layani ekstra bed di lorong IGD,” ujar Direktur RSUD Jayapura, drg. Aloysius Giyai, M.Kes dikonfirmasi papuabangkit.com, Jumat (16/07/2021) malam.

Menurut Aloysius, guna mengatasi kondisi darurat ini, manajemen sudah mengambil keputusan untuk mengubah Ruang Penyakit Dalam Wanita menjadi ruang penanganan pasien Covid. Sementara pasien penyakit dalam wanita akan digabung di Ruang Penyakit Dalam Pria. Sebab ada kurang lebih 30 pasien di IGD yang antri masuk ruang isolasi.

“Saat ini kurang lebih 70-an pasien Covid yang sedang kami tangani. Dan sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Papua, kami pun tidak mungkin tolak pasien. Kita harus terima. Kalau kita tolak, mereka mau kemana? Karena itu, dengan kekuatan dan keterbatasan yang ada, kami tetap mencari solusi dan ekstra kerja untuk melayani mereka,” ujar Aloysius.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua ini juga mengatakan, tantangan yang dihadapi saat ini ialah sebanyak 30 tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit yang dipimpinnya sedang tertular virus asal Wuhan ini. Rinciannya, 2 orang dokter spesialis, 6 orang dokter umum, dan 22 perawat dan penunjang medis. Sebagian besar mereka tengah menjalani isolasi mandiri (isoman).

“Mereka bekerja luar biasa, tanpa kenal lelah melayani pasien sampai ada yang terpapar, ada juga yang sudah meninggal. Saya juga meminta maaf kepada seluruh publik atau masyarakat Papua, terutama keluarga pasien jika kadang pelayanan mereka masih kurang maksimal,” tuturnya.

Tindakan Pencegahan

Untuk mencegah klaster baru di rumah sakit, kata Aloysius, manajemen RSUD Jayapura juga akan membatasi  pelayanan umum di Unit Rawat Jalan, dimana hanya 50 persen dari angka kunjungan masa normal. Ia juga meminta para keluarga pasien dan tenaga kesehatan bisa mengedukasi pasien untuk memahami rujukan berjenjang dan tidak langsung datang berobat ke RSUD Jayapura.

“Jika sakit ringan, ke rumah sakit ke Puskesmas atau rumah sakit type bawah saja. Juga kami meminta selama keluarga menjalani pelayanan rawat inap, keluarga pasien tidak boleh terlalu banyak menumpuk. Cukup satu dua orang yang temani pasien untuk urus. Jangan menumpuk dan menimbulkan klaster baru di rumah sakit yang membahayakan dirinya dan nakes. Kita sudah larang, sosialisasi, dan edukasi berulang kali tapi belum ada kesadaran,” tegasnya.

Aloysius dengan tegas meminta seluruh masyarakat, terutama Orang Asli Papua agar stop percaya dengan berita hoax yang menyatakan Covid sebagai bagian rekayasa atau konspirasi pemerintah demi mencari keuntungan. Masyarakat justru harus semakin patuh menjalankan protokol kesehatan 3M dan mendukung program vaksin nasional sebagai daya tangkal dan penguat imun tubuh melawan virus Corona.

“Virus ini tidak main-main. Ini wabah dunia yang tidak memandang bulu, ras, warna kulit dan suku. Virus ini benar-benar nyata dan sangat berbahaya. Di depan kami banyak pasien yang meninggal. Dulu orang Papua sering menganggap remeh virus ini. Tapi saya mau kasih tahu, saat ini pasien Covid yang meninggal di RSUD Jayapura sebagian besar orang asli Papua. Apakah mau tunggu kena dulu baru sadar,” tantangnya.

Mantan Direktur RSUD Abepura ini juga menyarankan kepada Gubernur dan Forkopimda Papua agar segera mengambil kebijakan me-lock down Papua agar tidak bertambah lagir korban dari wabah ini.

“Jangan tunggu sampai Agustus. Kalau bisa pekan depan harus mulai lock down. Fasilitas kesehatan kita terbatas, rumah sakit, perlatan dan nakes kita terbatas. Itu hanya anjuran kami, tetapi tentunya sebagai bawahan tetap menghormati kebijakan dan pertimbangan Pak Gubernur, siap mengikuti petunjuk pimpinan,” katanya. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *