Kecewa Aloysius Giyai Diganti, Tokoh Adat Port Numbay Tuntut Gubernur

Sejumlah perwakilan tokoh ada dan pemuda Port Numbay menunjukkan surat pernyataan sikpnya.

 

JAYAPURA (PB.COM)—Dinamika pergantian dan  non job-nya drg. Aloysius Giyai, M.Kes dari Direktur RSUD Jayapura oleh Gubernur Papua Lukas Enembe tanpa alasan yang jelas, masih mendapat perhatian dari publik di Tanah Papua.

Kali ini, sejumlah perwakilan tokoh adat dan pemuda Port Numbay kembali mempertanyakan alasan Gubernur Papua yang mencopot Aloysius dari jabatannya,  dan menyatakan tuntutan kepada orang nomor satu di Provinsi Papua itu karena mengaku kecewa dan dilecehkan.

“Kami sebagai keluarga dan perwakilan dari tokoh-tokoh adat yang diwakilkan di Port Numbay pertama-tama mempetanyakan, alasan apa Bapak Gubernur mengganti secara mendadak Aloysius Giyai, putra terbaik yang sudah kerja nyata di bidang kesehatan,” kata Kepala Kampung Nafri Zakarias Hanuebi saat membacakan Pertanyaan dan Pernyataan Sikap di Jayapura, Sabtu (28/08/2021).

Menurut Zakarias, seluruh perwakilan adat Port Numbay sangat memberi apresiasi yang tinggi kepada Aloysius yang sudah membangun fasilitas kesehatan di Port Numbay, mulai dari Pustu, Puskesmas, RSUD Abepura hingga RSUD Jayapura yang telah dilakukannya selama 1,5 tahun ini.

Mantan Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai, M.Kes menunjuk penataan lingkungan areal rumah sakit yang ditatanya.

“Aloysius adalah birokrat putra terbaik Asli Papua saat ini berpangkat golongan IV/D yang harusnya dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, sebagai harga diri dan wibawa panutan dan birokrasi pemerintah, sekaligus sebagai anak mantu kami, kami tunggu jawaban Bapak Gubernur Lukas Enembe. Apabila Bapak Gubernur tidak mengindahkan atau menjawab tuntutan kami, kami akan melakukan aksi selanjutnya,” tegas Membri membaca empat poin pernyataan sikap itu.

Ondofo Kampung Yoka, Ismael Mebri yang hadir pada pembacaan pernyataan sikap itu mengatakan, pihaknya menyampaikan pernyataan sikap ke Gubernur Papua ini karena satu alasan utama yaitu Aloysius Giyai telah bekerja dengan sangat baik menolong Orang Asli Papua di Port Numbay dan seluruh Papua di bidang kesehatan. Hal itu terlihat dari sejumlah karya dan program terobosannya sejak menjabat RSUD Abepura, Dinas Kesehatan Papua dan RSUD Jayapura.

“Aloysius Giyai ini tidak hanya anak mantu kami orang Port Numbay. Tapi beliau juga anak Port Numbay. Beliau sudah diangkat oleh orang tua kami di Yoka sebagai anak Yoka. Makanya, kita orang Port Numbay merasa keputusan Gubernur Papua  menggantikan Aloysius ini sangat melecehkan harga diri kami. Karena saat ini, jujur saja saat ini tak ada anak Port Numbay yang ada di jajaran pemerintahan Provinsi Papua selevel kepala dinas,” kata Mebri.

Gedung Pusat Jantung Terpadu yang dibangun Aloysius Giyai kini siap beroperasi.

Oleh karena itu, Mebri meminta Gubernur Papua untuk segera memanggil Aloysius Giyai dan memberikan tugas dan jabatan baru. “Kami kasih waktu hanya tiga hari saja kepada Gubernur Papua untuk menanggapi dan menjawab pernyataan sikap kami ini,” tegasnya.

Menurut Mebri, kasus pergantian mendadak seperti ini sebenarnya bukan kekeliruan Gubernur Papua Lukas Enembe semata, melainkan ada oknum-oknum di lingkaran gubernur yang memanfaatkan situasi demi jabatan dan kepentingannya.

“Kita semua tahu, kondisi Bapak Gubernur hari ini, kurang sehat. Kami yakin ini karena bisikan yang tidak benar tanpa bukti yang jelas. Kami minta, orang-orang dekat, pembisiknya segera pulihkan nama baik Aloysisus Giyai, anak mantu kami. Jangan bermain di atas tanah Papua dengan fitnah. Jaga nama baik anak mantu kami. Kami minta khusus kepada Juru Bicara Gubernur, Rifai Darus, mohon bicara dengan data biar terukur,” tegasnya.

Tokoh Pemuda Kampung Enggros, Sonny Merauje mewakili 14 kampung di wilayah pesisir pantai meminta Gubernur Papua segera mengembalikan jabatan Aloysius. Sebab ia sudah berkarya nyata bagi masyarakat Port Numbay.

“Kami dapat pelayanan yang bagus di Pustu, lalu dapat pelayanan gratis Kartu Papua Sehat, semua karena karya beliau,” tegas Sonny.

Sementara Bernad Mallo, perwakilan pemuda Skouw mengatakan dirinya sangat puas dengan kinerja Aloysius Giyai yang telah membangun dua rumah sakit yang bagus di Port Numbay yaitu RSUD Abepura dan RSUD Jayapura.

“Sampai hari ini kami masih bingung dan bertanya-tana, apa alasan Gubernur Papua menurunkan beliau secara tidak hormat. Kami pemuda Port Numbay sangat kecewa atas keputusan ini dan meminta Bapak Gubernur segera memanggil Aloysius dan memberi jabatan baru,” ujar Bernad.

Lakukan Kebijakan Afirmatif

Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay George Awi menyampaikan keprihatinan serupa atas pergantian drg. Aloysius Giyai.

“Kami menyesal dengan pergantian ini. Karena beliau (Aloysius—Red) ini orang yang punya komitmen, potensi, dan program terobosan membangun sektor kesehatan di Papua seperti program Kartu Papua Sehat dan Satgas Kaki Telanjang. Beliau betul-betul membuat kebijakan yang afirmatif untuk orang Papua,” kata George Awi saat dihubungi per telepon selulernya, Sabtu (28/08/2021).

Ketua Lembaga Masyarakat Adat Port Numbay George Awi

 

Menurut George Awi, kinerja Aloysius Giyai di bidang kesehatan sangat nyata. Keberhasilannya membangun infrastruktur kesehatan adalah buktinya. Sepanjang 2009-2014, Aloysius terbukti mengubah RSUD Abepura yang dulu kumuh menjadi rumah sakit megah, modern dan bersih seperti terlihat hari ini. Ia juga membangun  kantor Dinas Kesehatan Papua yang representatif sehingga membuat nyaman bagi para para pegawai untuk bekerja. Demikian pun saat ini, ia sudah menata dan membangu RSUD Jayapura menjadi berubah drastis.

“Jika Gubernur ada lihat beliau salah atau keluar dari jalur, harusnya dia panggil dulu Aloysius. Minta klarifikasi dulu. Bukan langsung memberhentikan. Gubernur juga harus ingat karya-karya beliau di bidang kesehatan. Oleh karena itu, kami berharap, Gubernur menyiapkan jabatan baru untuk Aloysius agar di usia yang muda dan produktif ini bisa kembali bekerja untuk memberikan sumbangan pikiran positif bagi pembangunan dan kesejahteraan orang Papua,” kata Awi.

Awi mengakui, pada 28 November 2019, ia hadir memberi dukungan saat kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Perubahan Paradigma Pelayanan di RSUD Jayapura. Saat itu. Aloysius Giyai masih menjabat Plt. Direktur. Ia mengaku senang karena manajemen mau mengundang Lembaga Adat Port Numbay agar terlibat memberikan pandangan dan mendengar rencana dan gebrakan pembangunan yang dilakukan.

“Dan kondisi RSUD Jayapura hari ini jadi buktinya. Pelayanan terhadap orang Papua di RSUD Jayapura sangat bagus. Infrastruktur baru sudah dibangun, lingkungan rumah sakit yang dulu kumuh dan kotor sekarang bersih. Saya menduga, orang di ring 1 Gubernur Papua memberikan masukan yang kurang baik. Harusnya pembisik ini punya hati yang baik. Jangan melihat dari satu sisi saja. Nilailah secara komprehensif,” tegasnya. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *