Oleh Aleks Giyai*)
Di negeri yang kaya akan warna tanah dan bahasa, pendidikan seharusnya menjadi cahaya yang menerangi setiap sudut jiwa—dari gunung-gunung yang senyap, di pesisir-pesisir sunyi dan di pulau-pulau yang hening di terpa angin laut. Namun cahaya itu, sayangnya, tak selalu sampai ke semua penjuru.
Ada anak-anak yang berjalan berkilo-kilometer, meniti jalan terjal demi sejumput ilmu, sementara di kota, anak-anak lain duduk nyaman di kelas ber-AC, bermain tablet sambil belajar bahasa asing bahkan sebagian terlunta-lunta diamper jalanan trotoal kota.
Di satu sisi negeri, sekolah adalah bangunan kokoh, penuh guru dan penuh buku. Di sisi lain, sekolah adalah gubuk rapuh, beratap bocor dan penuh lumut, dengan satu guru untuk enam kelas bahkan ada sekolah yang tumbuh ilalang bak taman bunga di halaman kantor para pejabat.
Ada yang membaca dunia dari layar, ada pula yang masih berbagi satu buku lusuh untuk bertiga. Adapula buta pada bentuk dan ciri buku di sudut-sudut negeri yang tak terjamah. Jika pelayanan pendidikan itu seperti Yesus mencari satu domba yang hilang; sungguh, adilnya bagi yang tak terjangkau dan damainya bagi yang tak mampu. Wah mulianya!
Ketimpangan pelaksanaan dan pelayanan pendidikan bukan hanya statistik dalam angka laporan pemerintah—ia adalah denyut luka sosial yang sunyi tapi dalam penghayatannya. Ia adalah wajah murung anak yang harus berhenti sekolah demi membantu orang tuanya di ladang.
Ia juga adalah mimpi yang tertunda karena dompet ayahnya yang kosong dari ketimpangan ekonomi, cita-cita yang dikorbankan akibat pengaruh sosial negatif yang dominasi, dan potensi yang padam sebelum sempat menyala lantaran tercekik biaya pendidikan yang mahal.
Padahal, setiap anak terlahir dengan hak yang sama untuk bermimpi. Namun mimpi itu tak tumbuh merata karena pelayan yang tak sama rasa dan tak sama kasih, karena tanah tempat ia ditanam tidak disiram dengan adil.
Di bumi yang konon menjunjung keadilan, masih bayak yang belajar dalam gelap gempita, masih banyak yang berharap dari kejauhan. Konon, bagaima dengungan pemerintah yang selalu bersua di berbagai media tentang sekolah dan pendidikan di negeri ini?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memuliakan angka dan mulai melihat wajah pendidikan sesungguhnya. Mungkin sudah waktunya kita tak hanya membangun gedung, tapi juga merajut kehadiran dan kasih bagi yang di balik gunung, di sebrang sungai, di ujung pulau atau di sebelah tetanggamu.
Pendidikan bukan hanya soal kurikulum—ia adalah jembatan menuju martabat. Dan jembatan itu tak boleh hanya dibangun di kota tapi dia harus menjalar dan mengakar ke seluruh penjuru kekuasaanmu. Selamat Hari Pendidikan Nasional!
*)Penulis adalah Pegiat Literasi Papua






























