Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Constant Karma bersama sejumlah tokoh masyarakat Muslim di Kabupaten Biak

JAYAPURA (PB.COM) – Momen spesial peringatan 1 Muharram 1447 Hijriah di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, pada Jumat, 27 Juni 2025 (27/6/2025) menjadi panggung toleransi yang menginspirasi.

Calon Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Constant Karma, dan Ustaz Firmadi Shaleh saling bertukar sejarah tentang kerja sama lintas agama yang menguatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Silaturahmi dalam agenda kampanye pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano-Constant Karma (BTM-CK), itu menghadirkan Ustaz Firmadi Shaleh yang membawakan ceramah hikmah Hijrah Nabi Muhammad SAW.

Dalam ceramahnya, Ustaz Firmadi menyingkap peran penting Abdullah bin Uraiqit, seorang non-Muslim yang menjadi pemandu perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq saat Hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Ia menekankan bahwa meskipun bukan Muslim, Abdullah dikenal jujur dan profesional, hingga dipercaya Nabi untuk memandu perjalanan paling bersejarah itu.

“Abdullah memberikan solusi, dan Nabi Muhammad SAW menerima solusi,” kata Ustaz Firmadi.

Menurutnya, hubungan kemanusiaan dan kerja sama lintas agama sudah terjalin sejak masa Nabi Muhammad SAW.

Abdullah bin Uraiqit menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan keyakinan bukan halangan untuk saling membantu dalam misi kemanusiaan.

Merespon kisah tersebut, Constant Karma kemudian menceritakan sejarah proses masuknya Injil ke Tanah Papua.

Ia menyebut, misionaris dari Jerman yang ingin menyebarkan agama Kristen di Papua justru mendapat bantuan dari Kesultanan Tidore yang saat itu mayoritas Muslim.

“Ketika dua misionaris dari Jerman hendak masuk ke Papua, umat Muslimlah yang membantu. Mereka meminjamkan perahu agar misionaris itu bisa berlayar dan tiba di Papua,” ungkap Constant Karma.

Momen ini disambut haru dan tepuk tangan para peserta yang hadir. Keduanya saling berjabat tangan sebagai simbol persaudaraan dan persatuan antarumat beragama.

Constant Karma dan Ustaz Firmadi Shaleh sepakat, Papua adalah miniatur toleransi Indonesia, tempat di mana keberagaman dijaga dan dihargai.

Acara silaturahmi itu tidak hanya menjadi ajang kampanye, tapi juga panggung untuk memperkuat pesan damai, persatuan, dan toleransi lintas agama yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Papua. (ADM) 

Facebook Comments Box