
Suasana Debat Publik Pilgub Papua. Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, BTM-CK saat pemaparan
Jayapura (PB.COM) – Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK), menunjukkan keunggulan yang signifikan dalam debat publik yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua, Rabu malam (30/7/2025). Keduanya memaparkan visi, misi, dan program-program yang komprehensif dan berbasis pada pengalaman kepemimpinan mereka di Papua, berbeda dengan pasangan Matius Fakhiri-Aryoko Rumaropen (MARIYO) yang terkesan menggantungkan harapan pada pemerintah pusat tanpa inovasi daerah yang konkrit.
BTM-CK, dengan rekam jejak kepemimpinan yang teruji, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan panelis dengan data dan solusi yang jelas. Mereka menjabarkan secara rinci permasalahan pembangunan di Papua, mulai dari tata kelola pemerintahan yang belum optimal hingga keterbatasan infrastruktur dan konektivitas antar wilayah. Data makro pembangunan Papua, seperti pendapatan per kapita (Rp81,01 juta), pertumbuhan ekonomi (4,20%), dan IPM (73,83), dijadikan dasar analisis untuk merumuskan visi “Terwujudnya Papua yang maju, mandiri, dan berbudaya,” dan misi-misi yang terukur.
Program-program unggulan BTM-CK mencakup berbagai sektor, dari pengembangan pendidikan vokasi hingga pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Mereka menekankan pentingnya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, dengan fokus pada blue economy dan green economy, serta pengembangan infrastruktur digital untuk memperkuat tata kelola dan pelayanan publik. Yang terpenting, BTM-CK menjelaskan secara detail sumber pendanaan program-program mereka, yakni melalui APBD Provinsi Papua dan kerja sama dengan berbagai pihak.
Sebaliknya, pasangan MARIYO tampak kurang meyakinkan dalam presentasi visi dan misi mereka. Mereka cenderung bergantung pada kebijakan pemerintah pusat dan kurang menunjukkan inovasi yang terarah untuk mengatasi permasalahan di Papua. Tanggapan mereka terhadap pertanyaan mengenai pemerataan infrastruktur, khususnya akses telekomunikasi, dinilai kurang komprehensif oleh BTM, yang kemudian melengkapi jawaban tersebut dengan solusi yang lebih terinci, seperti pembangunan BTS dan penyediaan WiFi gratis di daerah pedalaman.
Perbedaan mencolok antara kedua pasangan calon ini terlihat jelas dalam debat, menunjukkan bahwa BTM-CK memiliki pemahaman yang mendalam dan solusi yang konkret untuk membangun Papua, berbeda dengan MARIYO yang terkesan kurang siap dan bergantung pada bantuan eksternal. Debat ini menjadi bukti nyata bahwa pengalaman dan pemahaman yang mendalam tentang kondisi daerah sangat penting dalam memimpin Papua menuju masa depan yang lebih baik. (ADM)






































