Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK) foto bersama warga sejumlah distrik di Kabupaten Keerom yang menyampaikan harapan dan mengeluhkan kepemimpinan bupati setempat.

SENGGI (PB.COM) – Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM), dalam kampanye terakhirnya bersama Calon Wakil Gubernur Costant Karma (CK), memilih Tanah Tapal Batas Ujung Negeri RI-PNG, yakni distrik Senggi, Kabupaten Keerom sebagai lokasi bertemu dan tatap muka bersama warga, Sabtu (2/8/2025).

Ada momen Bahagia, haru, asa, hingga airmata yang menetes saat rombongan BTM yang didampingi sang istri Kristina Luluporo Mano dan Constant Karma yang didampingi sang istri Regina Rumbiak Karma tiba di Lokasi kampanye di Senggi.

Suasana penuh kekeluargaan dalam rumpun yang sama sebagai Anak Tabi, membuat warga Distrik Senggi begitu terlihat akrab bersama BTM. Sejumlah keinginan, asa dan harapan pun mereka sampaikan. Tak ketinggalan perlakuan relative tidak adil yang mereka sebagai Masyarakat kecil terima dari pemerintahan Kabupaten Keerom kini dibawah kepemimpinan Bupati Piter Gusbager.

Dari sejumlah warga yang berkesempatan dialog dan menyampaikan harapan pada BTM, semuanya mengeluhkan hal yang sama selama kepemimpinan Piter Gusbager. Diantaranya dugaan korupsi, pembagian beras rakyat miskin yang tidak sesuai jumlah dan peruntukan, tidak adanya perhatian pada warga kecil, pergantian kepala kampung secara sepihak demi kepentingan pribadi dan golongan, hingga pelayanan birokrasi yang jalan ditempat, karena hampir semua dinas dinahkodai Pelaksana Tugas. Bahkan, yang lebih aneh lagi karena seorang ASN bisa menduduki beberapa jabatan pelaksana tugas.

“Kami di kampung Yabanda. Ada kampung asli dengan kondisi menyedihkan dalam jalan dan jembatan. Apalagi Masyarakat. Padahal batas langsung dengan PNG. Tolong pak BTM sampaikan pemda Keerom untuk perhatikan itu. PLB tidak berfungsi. Sedih melihat keluar masuk orang disana dan narkoba,” kata Alex May warga, Yabanda distrik Waris.

Senada Adrianus Tawa, warga distrik Senggi yang menyebut pembagian beras raskin kini sudah banyak disunat. Selain itu, Masyarakat hanya mendengar adanya dana buat mereka, tapi tak pernah sampai. Lalu dugaan korupsi besar-besaraan Pembangunan kantor Bupati di Waris.

“Kami Masyarakat tentu tahu dan bandingkan pemimpin. Sekarang harusnya beras diterima Masyarakat itu Dua karung. Saat ini Lima kilo saja terkadang. Tolong juga usut tuntas dugaan korupsi itu. Berikutnya, bagaimana mau layani Masyarakat kalau Kepala Dinas dan jabatan lainnya semua diisi Pelaksana Tugas. Kami paham karena saya juga mantan kepala kampung,” tegasnya.

Hal relative serupa juga dikemukakan Musa Iki warga dari distrik Airu, ‎George Miran selaku warga Towe, Melkias Kobon dari distrik Web dan sejumlah warga lainnya yang hadir kepada BTM.

BTM : Saya Akan Lawan Piter Gusbager

‎“Saya berdiri di tanah ini, di Distrik Senggi, Keerrom dan tegas menyatakan saya akan melawan Bupati Keerom, Piter Gusbager. Saya sudah dengar semua laporan dan punya data lengkap soal itu. Padahal dia anak Tabi, sama seperti saya. Seharusnya dia menjaga tanah ini, bukan justru menindas rakyatnya,” tegas BTM.

BTM tak menampik jika sebelumnya juga sudah mendapat banyak laporan perihal yang terjadi dan dilakukan oleh Bupati Keerom, Piter Gusbager.

“Banyak laporan dari Masyarakat. Antara lain juga dugaan pelanggaran selama masa kampanye yang dilakukan oleh Bupati Keerom dan jajaran pemerintahannya. Lalu memang sejumlah Plt untuk dinas dan jabatan strategis. Tidak boleh seperti ini. Pemimpin harus fokus melayani rakyat dan bangun daerah,” ujarnya.

BTM dalam kesempatan itu bahkan mengungkapkan, dugaan pelanggaran yang terjadi di Keerom itu telah ia laporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ini bukan soal politik saja. Ini soal harga diri orang Papua. Saya tidak akan tinggal diam ketika rakyat saya diintimidasi dan hak mereka diinjak. Tolong sampaikan kepada Bupati Piter Gusbager, jangan intimidasi rakyat, Jangan korbankan rakyat demi ambisi politik. Partai boleh berbeda, tapi harga diri orang Tabi harus tetap kita jaga,” papar BTM.

BTM juga mengingatkan seluruh masyarakat Keerom untuk Bersatu melawan ketidakadilan dan wajib datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) menggunakan hak pilihnya pada Pemungutan Suara Ulang (PSU) tanggal 6 Agustus nanti.

“Jangan biarkan suara kita dicuri di Keerom. Mari kita jaga dan kawal bersama kemenangan ini,” pungkasnya. (ADM)

Facebook Comments Box