
Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM)
Oleh: Rani Yanti Ngabalin
Menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Papua, sejumlah suara kembali menggema: “Umat Islam harus memilih sesama Muslim.”
Sebuah seruan yang sekilas tampak religius dan mengakar, namun bila direnungkan lebih dalam, justru berpotensi menjauhkan kita dari nilai-nilai Islam yang sejati yakni keadilan, amanah, dan kebijaksanaan dalam menempatkan kepemimpinan pada mereka yang benar-benar mampu mengemban tanggung jawab.
Rasulullah SAW bersabda:
”Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan hanya peringatan, tetapi juga petunjuk moral. Bahwa dalam memilih pemimpin, umat Islam diajarkan untuk mendahulukan kompetensi dan integritas, bukan semata identitas. Bahwa kemaslahatan umat lebih utama dari kesamaan nama dan label.
BTM: Pemimpin yang Bekerja untuk Semua, Bukan untuk Segelintir
Benhur Tomi Mano (BTM), calon Gubernur Papua, adalah figur yang telah teruji, bukan hanya dalam janji, tetapi dalam kerja nyata. Ia bukan hanya memimpin dengan visi, tapi juga dengan cinta dan kepedulian. Selama dua periode menjabat sebagai Wali Kota Jayapura, BTM menorehkan jejak yang tak terbantahkan khususnya dalam membangun hubungan yang hangat dan setara dengan umat Muslim.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai kebijakan menyentuh langsung kehidupan umat Islam di kota ini:
• Pembangunan dan renovasi masjid serta pesantren.
• Dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan perayaan hari besar Islam.
• Kehadiran langsung dalam acara buka puasa bersama, peringatan Maulid Nabi, dan kegiatan kemanusiaan di bulan Ramadhan.
• Hubungan yang solid dengan tokoh-tokoh ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, MUI, HMI, GP Ansor, dan lainnya.
BTM tidak pernah memimpin atas dasar perbedaan, melainkan merangkul dalam keberagaman. Ia memahami bahwa kekuatan Papua ada pada kemajemukan, dan tugas pemimpin adalah menjaga rumah besar ini tetap utuh dan damai.
Sosok Nasrani yang Dibesarkan oleh Nilai Islam
BTM memang seorang Nasrani. Namun sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keislaman. Ia adalah alumni SMP Muhammadiyah, sebuah lembaga Islam yang membentuk karakter dan kesadaran pluralisme dalam dirinya. Tak heran jika dalam banyak kesempatan, ia fasih mengucapkan, “InsyaAllah, Alhamdulillah, Astagfirullah” bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai bagian dari budaya spiritual yang melekat dalam hidupnya.
BTM–CK: Pemimpin yang Amanah, Bukan Coba-Coba
Dalam Islam, memilih pemimpin adalah amanah besar. Maka wajar jika kita diminta untuk menilai calon berdasarkan kemampuannya menjaga dan mengurus umat, bukan sekadar dari kesamaan keyakinan. Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM–CK) adalah dua figur yang telah terbukti mampu menjaga keharmonisan Papua. Mereka hadir bukan untuk menunjukkan “siapa yang paling Islami”, tapi siapa yang paling mampu menjaga umat Islam dan umat lainnya dengan adil.
BTM adalah bukti nyata bahwa iman seseorang tak hanya diukur dari label, tapi dari perbuatannya dalam melindungi, melayani, dan memanusiakan sesama.
Mari Kembali pada Nilai Islam yang Murni: Keadilan, Amanah, dan Ukhuwah
Papua tidak butuh pemimpin simbolik. Papua butuh penjaga kedamaian, pengayom yang adil, dan pemimpin yang sudah terbukti mampu merangkul semua kalangan. Jangan biarkan narasi sektarian menyesatkan kita. Mari kembali kepada pesan Islam yang sejati:
• Bahwa keadilan lebih utama daripada kesamaan nama.
• Bahwa kepemimpinan bukan hak, tapi amanah.
• Dan bahwa kebaikan bisa datang dari siapa saja, selama ia tulus dan bertanggung jawab.
Penutup: Pilih dengan Hati, Bukan Karena Emosi
Mari kita pilih pemimpin dengan mata yang jernih dan hati yang lapang. Mari kita jadikan nilai Islam sebagai kompas bukan untuk membatasi siapa yang boleh memimpin, tetapi untuk memastikan bahwa kita memilih yang paling amanah dan paling bisa diandalkan.
BTM–CK bukan hanya nama. Mereka adalah harapan bagi Papua yang damai, adil, dan sejahtera untuk semua, tanpa kecuali. (***)
Penulis Adalah Mahasiswa Magister Komunikasi Politik, Universitas Paramadina Jakarta






























