
Ketua Bawaslu Papua, Hardin didampingi para komisioner saat menerima massa pendemo
JAYAPURA (PB.COM) – Ratusan masyarakat dari berbagai latar belakang , diantaranya tokoh lintas agama, tokph adat, tokoh masyarakat, perempuan dan Pemuda hingga kaum ibu, yang menamakan diri Komponen Rakyat Papua Tabi-Saireri mendatangi kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Papua, Kamis (14/08/2025) siang.
Kehadiran mereka guna memberi dukungan dan mendesak Bawaslu Papua agar tetap berani dan segera menyelesaikan sejumlah pelanggaran dan kecurangan yang terjadi selama masa Pemungutan Suara Ulang (PSU) pemilihan Gubernur Papua.
Dengan membawa sejumlah spanduk dan poster, massa meneriakan keterlibatan aparat kepolisian yang relatif terang-terangan mendukung salah satu pasangan Calon Gubernur yakni Mathius Fakhiri yang adalah mantan Kapolda Papua.
”Keterlibatan oknum polisi sangat terlihat. Banyak bukti foto dan video yang beredar dan kami minta Bawaslu jangan mau terintimidasi dengan Parcok atau apapun sebutanua. Kami Rakyat Papua hadir disini mendukung Bawaslu,” ujar Panji Agung Mangkunegoro dalam orasinya.
Aktivis yang juga Ketua LSM Gempur Papua itu menambahkan, masyarakat Papua bukan lagi orang yang mudah dibodohi atau diintimidasi dengan model demikian. Sebab, mereka ingin pemimpin yang berpengalaman dan sudah terbukti melayani masyarakat.
”Ini pesta demokrasi. Jangan salah gunakan suara rakyat itu untuk kepentingan pribadi. Mana keadilan dalam demokrasi. Kepolisan adalah institusi negara yang terhormat. Jangan terlibat politik praktis mengamankan kepentingan calon tertentu,” pungkas Panji.
Senada salah satu tokoh masyarakat Kota Jayapura, RD Siahaya yang menyatakan, seluruh masyarakat Indonesia yang ada di Papua sangat merindukan sebuah proses demokrasi yang adil. Yang terjadi kini, demokrasi itu seakan dicabik kepentingan oknum.
“Hari ini kami datang pada Bawaslu Papua, kami masyarakat siap mendukung penegakan demokrasi di Papua. Kami datang menghadap institusi yang dipercayakan negara untuk awasi proses demokrasi itu. Mohon berkenan diproses sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
RD Siahaya yang juga mantan Sekda Kota Jayapura itu menambahkan, masyarakat Papua saat ini sedang melihat proses demokrasi yang timpang dan sarat kepentingan.
”Maka keadilan dan kebenaran harus ditegakkan supaya nilai luhur itu terus- menerus terjaga. Ini hati nurani kami. Kami tetap bersama Bawaslu mengawal demokrasi agar hasilkan pemimpin yang benar-benar berasal dari suara rakyat. Jangan permainkan suara rakyat itu,” pungkas RD Siahaya yang juga mengutip pernyataan Almarhum Prof. Dr, J Sahetapy bahwa Meski ketidabenaran dan ketidakadilan itu berlari secepat kilat sekalipun, tapi suatu waktu keadilan dan kebenaran akan mematahkannya.
Tokoh Pemuda Papua, Yopi Marwa, dihadapan ketua dan Komisioner Bawaslu Papua serta puluhan aparat keamanan yang hadir, menceritakan keterlibatan oknum polisi dalam proses rekapitulasi penghitungan suara tingkat PPD di kabupaten Sarmi.
”Saya sendiri pertanyakan rekaman suara
Rekaman ketua PPD Sarmi Kota, Ahmad Astori untuk amankan MDF. Jangan bungkam mulut rakyat karena rakyat bisa melawan. Kami cinta NKRI tapi negara dalam sejumlah institusi Tidak cintai kami. Mohon Bawaslu tetap berdiri teguh jalankan aturan. Rakyat selalu berdiri bersama Bawaslu,” tegasnya.
Tokoh perempuan Papua, Mersy Sena dalam orasinya menyebut permainan oknum polisi mengalihkan suara hasil PSU sebagai tindakan pencurian, tanpa memikirkan rasa keadilan masyarakat.
”Kalau rakyat pencuri sandal saja dipidana, lalu bagaimana dengan oknum polisi yang mencuri suara rakyat itu. Tolong beri kami rasa keadilan,” cetusnya.
Perwakilan massa kemudian membacakan pernyataan sikap yang antara lain meminta Bawaslu Papua tetap kerja tegak lurus, meski dibawah ancaman Parcok, pejabat Gubernur dan sejumlah pihak lainnya. Memberikan Apresiasi atas sikap Bawaslu pada pelaksanaan PSU Pilgub Papua. Dan, Dukungan penuh kepada Bawaslu untuk menyelesaikan Sejumlah dugaan Pelanggaran PSU Pilkada Papua.
Ketua Bawaslu Papua, Hardin usai menerima pernyataan sikap tersebut menuturkan, kehadiran massa adalah kekuatan dan dukungan bagi mereka untuk tetap bersikap independen dalam pengawasan.
’Terimakasih sudah datang dengan tertib. Ini bentuk demokrasi yang sangat baik. Semua diawali dengan doa dan ada konteks nilai keagamaan. Apresiasi kepada para ibu-ibu. Kehadiran kalian adalah kekuatan bagi kami. Ini adalah bentuk pengawasan partisipatif yang sangat baik,” urai Hardin. (ADM)








































