Diskusi Budaya Memperkuat Ekosistem Komunitas Budaya dan Kreator untuk Pemajuan Kebudayaan Papua yang diinisiasi Komunitas Imaji Papua, Kamis (25/9/2025) di Abepura.

JAYAPURA (PB.COM) – Peduli akan budaya Papua yang saat ini semakin bergeser keasliannya karena pengaruh budaya kontemporer, Komunitas Budaya dan Konten Kreator di Papua menggelar diskusi budaya yang diinisiasi Komunitas Imaji Papua, Kamis (25/9/2025) di salah satu hotel di Abepura.

Hadir sebagai pembicara Billy Tokoro, Konten Kreator/Founder Pace Kreatif, Enrico Kondologit Kepala Museum Uncen/Antropolog Papua, Agustinus Ohee Seniman/Budayawan, Dessy Polla Usmany Kepala BPK Wilayah XXII Kementerian Kebudayaan RI, dan Iriandi Tagihuma sebagai moderator diskusi.

Founder Imaji Papua, Julika Anastasia, pada pembukaan diskusi mengatakan, ia menginisiasi diskusi budaya ini sebagai media bertukar pikiran untuk kolaborasi pemajuan budaya Papua. “Dengan diskusi, ada hal-hal baru yang bisa dikerjakan bersama, bisa berdampak, bisa promosikan Papua,” katanya.

Agustinus Ohee, maestro seni rupa yang sudah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya lewat karya-karya bernilai budaya tinggi, mencermati persoalan budaya kontemporer yang lebih banyak peminatnya, sementara budaya tradisional ditinggalkan.

Agus yang juga pendiri Sanggar Yo Mauw Art di Kampung Yoka mencontohkan, Festival Danau Sentani (FDS) yang sudah bertahun-tahun berjalan namun tahun ini tidak diselenggarakan, padahal beragam budaya dari Sentani, Kabupaten Jayapura bisa ditampilkan.

“Seni rupa pun mati, karena tidak ada art center, tempat para seniman berkumpul, berkarya dan mempromosikan karyanya kepada pembeli.

Sementara itu, Billy Tokoro, Konten Kreator/Founder Pace Kreatif yang mengantarkan Kampung Yoboi sebagai kampung wisata, mengatakan, saat ini, perkembangan media sosial besar sekali dan kampung kurang menjadi daya tarik. Hal-hal sederhana yang di kampung jarang diangkat, terkesan melupakan.

“Saya lebih memilih berbuat sesuatu di kampung, terutama kampung sendiri. Sebagai anak Papua pasti punya kampong. Dengan perkembangan Medsos, teman muda bisa melihat kampung itu kosong, tetapi kalau dikemas menarik dan penuh edukasi tentu akan jadi perhatian,” ujarnya.

Ia mengajak anak muda untuk kembali ke kampung, kemas apa yang ada di kampung dengan gaya masing-masing. Billy melihat orang di kampung melihat apa yang ada di kampung adalah hal yang biasa-biasa saja. Tetapi ketika orang kota datang ke kampung, ada banyak keunikan yang ditemui misalnya orang mendayung perahu di danau, orang tokok sagu di hutan, mengambil ulat sagu dan lainnya.

Menurut Kepala Museum Uncen, Endriko Kondologit, saat ini orang Papua diperhadapkan dengan dikotomi budaya tradisional dan kontemporer. Kebudayaan bersifat dinamis, tidak statis. Persoalannya adalah masing-masing individu dan kelompok apakah bisa mempertahankan budayanya?

Di Papua saja, terdapat 1200 bahasa daerah. Artinya Pulau Papua begitu besar keberagamannya. “Kebudayaan itu akan eksis ketika ada proses pewarisan. Kita harus memikirkan caranya supaya budaya itu bisa tetap menarik untuk anak-anak muda,” kata Enrico.

Relevansi dengan keadaan sekarang, menurutnya sulit untuk mempertahankan tradisi. Ia mencontohkan yang terdekat di Tobati, Enggros, dan Kayo Pulo, sudah sedikit yang bisa berbahasa daerah. Sulit untuk mempertahankan bahasa ibu.

Ia menyarankan agar ada lembaga masyarakat adat yang mengatur yang namanya tradisi. Ada bagian yang perlu dijaga antara tradisi dan kontemporer, dan itu menurut Enrico butuh peranan stakeholder.

Kepala BPK Wilayah XXII Kementerian Kebudayaan RI, Dessy Polla Usmany, mengatakan, agar budaya Papua tetap eksis dan dikenal, perlu ada pagelaran Pekan Kebudayaan Daerah, sehingga para seniman, budayawan, pengukir, musisi, mendapat tempat dan ada pengunjung.

“Di setiap daerah ada pekan budaya sehingga ada panggung untuk seniman mennyanyi, pengukir dan pengrajin noken dan lainnya. Pengaturannya selama satu minggu, itu bisa menambah pemasukan sehingga ekosistemnya berputar,” kata Dessy.

Agar budaya Papua ini tetap terjaga, ia berharap pemerintah daerah memfasilitasi, ada pencatatan, pendokumentasian, menginventarisasikan. “Filosofi noken misalnya, tidak semua orang tahu, walaupun semua orang kenal dan pakai noken. Filosifinya ini sangat penting untuk diketahui,” lanjutnya.

Diskusi yang berlangsung hangat ini, mendapat beragam tanggapan baik dari para kreator yang hadir, mahasiswa ISBI Jayapura, mahasiswa jurusan Antropologi Uncen dan pemerhati budaya Papua

Salah satu perempuan Papua pelaku Ekrafi, Lusi Sampari, mengemukakan keprihatinannya akan budaya Papua yang tidak diturunkan oleh orang-orang tua kepada penerusnya. Munara Wampasi di Biak misalnya, ia melihat anak-anak di Biak kurang perhatian, padahal itu penting untuk memperkenalkan seni budaya Biak?

“Apakah dari BPK bisa jadi fasilitator khusus anak muda Papua bisa lebih memahami bagaimana menjaga dan melestarikan budayanya?” tanya Lusi.

Ia juga setuju untuk para kreator semakin banyak bikin konten edukasi untuk memahami budaya. Sebagai penjual aksesories Papua, Lusi mengakui masih belum paham karya yang dijualnya apakah ada yang asli atau sudah dikreasi. Ukiran pun, ia melihat terdapat kesalahan dalam penggunaan motif suatu daerah.

“Harus ada ruang unuk bagaimana seniman dan budayawan mengajarkan alur-alur untuk mengenal budaya,” kata Lusi seraya menambahkan, di ISBI Jayaura pun, sangat kurang anak-anak muda Papua kuliah di sana.

Menanggapi saran dan pertanyaan peserta diskusi, Dessy Usmany mengatakan, untuk pewarisan budaya, pihaknya sudah melakukan workshop dua kali. “Selain nilai budaya, kami juga menangani cagar budaya. Ada pemugaran, dan sebagainya.

Katanya, bulan Oktober nanti ada Pesta Budaya Biak, ia akan menggelar workshop pewarisan tentang noken yang pesertanya anak-anak sekolah. “Dalam workshop nanti diinfokan apa itu noken, filosofinya, jadi tidak hanya bisa buat, tetapi paham artinya yang terkait dengan kekerabatan, kasih kepada keluarga, kasih kepada orang lain, jelas Dessy.

Agus Ohee menanggapi pertanyaan seputar bagaimana memasarkan hasil karya seni, mengatakan, Art Centeradalah solusi mengurangi pengangguran. “Masing-masing seniman akan menciptakan karyanya. Kalau saya, kebanyakan saya promosi lewat akun Gusty Art. Saya buat gambar di atas kulit kayu, saya akan perlihatkan prosesnya bagaimana dari awal sampai akhir. Saya punya data karya itu dibuat kapan,. saya punya folder-folder sendiri,” terang Agus. Jadi karya itu menurut Agus harus bercerita agar pembeli tertarik.

Ester Maitindom, salah satu peserta diskusi, ikut menyayangkan FDS tidak digelar karena alasan efisiensi anggaran. “Padahal lewat FDS kita jaga kita punya budaya. Ekonomi juga berputar di sana,” ucapnya. Ia berharap ajang-ajang promosi budaya, tidak hanya terpaku pada bantuan pemerintah. Ia mengapresiasi forum diskusi ini yang menurutnya sangat penting dan bisa terus berlanjut untuk pemajuan budaya Papua.

Sementara itu, Rizki, creator yang juga pengajar di ISBI Jayapura menyoroti persoalan motif yang menurutnya harus dibenahi. Iai berharap ada diskusi yang mengundang ondoafi, kepala-kepala suku untuk membahas motif-motif Papua ini. Contohnya, oleh-oleh koteka, anehnya ada gambar motif Sentani dan dibeli di Jayapura, padahal koteka ada pakaian dari wilayah pegunungan. “Budaya ini sudah menjauh karena dicampuradukkan. Ini harus dibenahi,” katanya.

Demikian pula model-model non-Papua yang minta foto pakaian adat Papua, ia heran kenapa harus dibalut dengan noken besar? “Ini mungkin konten kreator bisa edukasi. Anak-anak muda diundang lebih banyak supaya mereka jadi lebih tahu,” saran Rizki. Kesakralan motif suatu daerah, kata dia, saat ini sudah dipermainkan.

Alfons Womsiwor, putra Pariwisata Papua, yang hadir dalam diskusi juga ikut bersuara terkait tren busana anak muda Papua. “Kalau tertarik dan cinta budaya, pasti tetap akan promosikan. Anak-anak muda sekarang suka tiru gaya orang-orang luar, padahal kalau cinta budaya, pakai pakaian dari motif Papua,” katanya. Trend bakubawa, itu bukan budaya Papua. Budaya tidak bisa harap pemerintah tetapi dari diri kita sendiri,

Miki, mahasiswa ISBI Jayapura asal pegunungan kuatir budaya asli tergerus budaya modern, meskipun saat ini di pegunungan ia masih lihat keaslian budaya.

Menurut Enrico, Antropolog Uncen, benang kusut ini harus diurai satu per satu. Ia menegaskan, pakaian beda dengan busana. Pakaian bagian dari tradisi, bagian dari kebudayaan. Termasuk motif-motif dan ornamen. Sayangnya, saat Ini belum ada regulasi yang mengatur bagaimana berbusana dan menggunakan asesories yang benar. “Masyarakat adat sendiri yang harus menyampaikan melalui kepala-kepala suku,” tambahnya.  (Frida Adriana)

Facebook Comments Box