
Anggota DPR/MPR RI Arif Riyanto Uopdana, ST saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Semarang, 29 Desember 2025.
SEMARANG (PB.COM)—Di tengah perkembangan dunia yang ditandai dengan hadirnya aneka teknologi canggih, kebutuhan akan energi listrik terus meningkat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan masih tinggal dalam gelap gulita selama puluhan tahun. Data menunjukkan, tingkat elektrifikasi di wilayah itu masih sangat rendah yaitu di bawah 20%.
Melihat kondisi ini, sejak dilantik menjadi anggota DPR/MPR RI, Arif Riyanto Uopdana, ST memberikan perhatian yang besar perihal tingkat elektrifikasi di Papua, khususnya di Provinsi Papua Pegunungan yang menjadi daerah pemilihannya.
Politisi muda PDI Perjuangan itu mengerti dan merasakan betul kesulitan yang dialami karena ketiadaan listrik yang cukup di Papua Pegunungan. Adapun listrik yang sudah tersedia, misalnya di Oksibil, Ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), hanya menyala di waktu tertentu, tidak menyala 24 jam. Itu juga sudah menjadi keprihatinan Pemerintah Kabupaten Pegubin dan sudah diperjuangkan melalui berbagai cara.
Kehadiran Arif di Senayan membawa sedikit harapan baru tentang masa depan listrik di Papua Pegunungan. Karena dipercaya duduk di Komisi XII yang membidangi energi dan sumber daya mineral, Arif dapat memperjuangkan aspirasi daerah pemilihan ke Jakarta.
Dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Oksibil yang digelar dalam suasana yang akrab dan informal, Arif membangun komunikasi dengan masyarakat dan mendengar langsung aspirasi mereka tentang masalah listrik untuk diperjuangkan di Jakarta.

“Saya terus mengawal program elektrifikasi di sini. Listrik sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan kita, mulai dari usaha, pendidikan, sampai kesehatan sangat membutuhkan listrik. Itu yang masih belum tercukupi di Papua Pegunungan, bahkan di Papua keseluruhan. Bagaimana anak-anak kita belajar di malam hari jika tidak ada penerangan listrik,” kata Arif
Menurut Arif, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) khususnya Dirjen Ketenagalistrikan melalui PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero), berkomitmen untuk meningkatkan elektrifikasi di Papua Pegunungan.
“Baru-baru ini ada program pemasangan listrik gratis. Pemerintah kabupaten bersama-sama dengan kami telah mendaftarkan rumah tangga-rumah tangga untuk dipasangkan listrik. Tetapi ternyata kita masih memiliki pekerjaan rumah lainnya. Harus ada penambahan perluasan jaringan dan kapasitas daya. Ini yang akan kita kawal terus dan kita mengajukan opsi-opsi lain seperti pembangkit hidro mikro, tenaga surya, dan lain-lain yang memungkinkan dibangun di Papua Pegunungan,” jelas Arif.
Arif menegaskan, bahwa Empat Pilar Kebangsaan kita yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika sejatinya itu semua bertujuan untuk memakmurkan rakyat dan mewujudkan keadilan sosial.
“Keadilan sosial dalam bidang kelistrikan di Papua Pegunungan dapat diwujudkan dengan mempercepat elektrifikasi desa terpencil, menggunakan energi terbarukan yang sesuai kondisi geografis, memastikan subsidi dan tarif terjangkau, serta melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan listrik. Kita sama-sama perjuangkan,” lanjut Arif.
Tantangan elektrifikasi di Papua Pegunungan memang tidaklah ringan. Permukiman yang terpencar, topografi yang curam, dan keterisolasian membuat pembangunan jaringan distribusi listrik lebih berat dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya.
“Tetapi sesuatu yang sulit bukanlah tidak mungkin ditaklukkan. Komitmen untuk membangun Papua Pegunungan harus tetap dikawal, sampai kendala-kendala itu dapat dilalui dan masyarakat merasakan keadilan sosial dalam bidang kelistrikan. Kalau listrik sudah memadai, maka pembangunan di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan budaya akan lebih mudah dilaksanakan,” tegas Arif Uopdana. (Gusty Masan Raya)







































