
Foto Bersama Bupati Yahukimo Didimus Yahuli, Presiden GIDI Pdt Usman Kobak, Ketua DPRD, Son Bahabol, Kepala Dinas Pendidikan Akso Balingga, Ketua Yayasan Serafim John Fallo, serta unsur Forkopimda lainnya bersama para guru yang lulus.
DEKAI, YAHUKIMO – Komitmen membangun sumber daya manusia di wilayah pedalaman Papua kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Yahukimo. Sebanyak 41 Guru Kontrak Program Yahukimo Cerdas resmi dinyatakan lulus setelah mengikuti training intensif yang diselenggarakan oleh Yayasan Serafim. Mereka merupakan angkatan kedelapan sejak program ini berjalan hampir lima tahun terakhir.
Perayaan kelulusan berlangsung di Dekai, Sabtu (14/02/2026), dan dihadiri langsung oleh Bupati Yahukimo Didimus Yahuli, Presiden GIDI Pdt Usman Kobak, Ketua DPRD, Son Bahabol, Kepala Dinas Pendidikan Akso Balingga, Ketua Yayasan Serafim John Fallo, serta unsur Forkopimda lainnya.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi menjadi refleksi perjalanan panjang visi pendidikan yang dirintis sejak awal kepemimpinan Didimus Yahuli bersama Wakil Bupati Esau Miram.
Dalam sambutannya, Bupati Didimus mengisahkan bagaimana gagasan besar “Yahukimo Cerdas, Sehat, dan Mandiri” lahir sejak awal dirinya menjabat.
Ia mengaku secara khusus mengundang Ketua Yayasan Serafim agar masuk ke Yahukimo dan bergandengan tangan bersama yayasan lain seperti YPPK, YPK, dan lembaga pendidikan lainnya untuk mengurus pendidikan di daerah pegunungan yang sulit dijangkau itu.
“Kalau para misionaris dulu tidak masuk, mungkin kami tidak bisa jadi bupati, wakil gubernur atau pemuka agama. Karena itu, kita siapkan guru-guru muda dan mantri muda sebagai misionaris,” tegasnya.
Program Yahukimo Cerdas dijalankan di 36 kecamatan, dengan pendekatan berbeda: bukan sekadar menempatkan guru, tetapi membentuk “guru misionaris” yang siap hidup dan menyatu dengan masyarakat.
Pelatihan Antropologi dan Adaptasi Budaya
Ke-41 guru yang lulus telah mengikuti pelatihan intensif selama satu bulan penuh di Yahukimo. Mereka tidak hanya dibekali metode mengajar, tetapi juga pemahaman antropologi dan budaya masyarakat Yahukimo.
Menurut Bupati, inilah kunci keberhasilan program.
“Mereka benar-benar paham budaya orang Yahukimo dan bisa menyatu dengan masyarakat. Itulah sebabnya pelatihan itu penting,” ujarnya.
Konsep ini menjadi pembeda. Para guru tidak sekadar datang mengajar lalu kembali ke kota, melainkan hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di kampung-kampung terpencil.
Didimus secara terbuka menyampaikan bahwa pemerintah melakukan evaluasi terhadap sebagian guru lama yang dinilai tidak maksimal karena lebih banyak tinggal di kota.
Ia menegaskan, dalam konteks penerapan Kurikulum Merdeka Belajar, pemerintah tetap menghormati hak guru lama, tetapi ruang mengajar di kampung kini diberikan kepada guru-guru misionaris yang siap tinggal dan melayani.
Langkah ini, menurutnya, bukan keputusan emosional, melainkan kebijakan berdasarkan pengalaman panjangnya selama empat periode di legislatif yang memahami persoalan pendidikan di akar rumput.
Program ini telah menjangkau puluhan ribu anak. Bupati menyebut angka akumulatif sekitar 60 ribu anak yang disentuh oleh kolaborasi pemerintah dan berbagai yayasan.
Bahkan ia menyinggung, bila tidak ada hambatan seperti kasus keamanan di Angguruk beberapa waktu lalu, Yahukimo berpotensi melahirkan sedikitnya 10 ribu anak cerdas dalam beberapa tahun ke depan.
“Anak-anak di kampung sudah bisa berbahasa Inggris. Pendidikan itu membuka keterisolasian,” katanya optimistis.
Untuk menjawab tantangan geografis, Pemkab Yahukimo juga bermitra dengan sejumlah maskapai perintis, termasuk dari kalangan Adventis dan yayasan penerbangan lainnya, guna memastikan akses pendidikan tetap berjalan.
Bupati menegaskan tidak ada pengkotak-kotakan budaya atau kelompok dalam kerja sama pendidikan. Semua pihak dirangkul demi satu tujuan: membangun generasi masa depan Yahukimo.
“Akumulasi 60 ribu anak itu bukan pemerintah sendiri yang kerja. Semua yayasan bersama kita melayani pendidikan di Yahukimo,” tegasnya.
Tantangan Keamanan dan Iman
Tidak dipungkiri, perjalanan program ini diwarnai tantangan keamanan. Beberapa guru bahkan mengalami kekerasan hingga pertumpahan darah.
Namun bagi Didimus Yahuli, tantangan itu tidak boleh menghentikan langkah.
“Kalau kita mau jalan dengan Tuhan, Iblis tidak tinggal diam. Tapi kita tidak boleh menyerah,” ujarnya.
Ia mengajak para guru tetap teguh, menyatu dengan masyarakat, dan melayani dengan hati.
Mengutip kisah Alkitab tentang Nabi Nuh, Abraham, dan Daniel yang dipersiapkan sebelum menjadi pemimpin, Bupati menegaskan pentingnya pondasi sejak dini bagi anak-anak Yahukimo.
“Menyelamatkan dan mengajari anak-anak kita sama seperti menyiapkan masa depan mereka. Semua yang kita tanam, Tuhan akan jaga.”
Di akhir sambutan, Didimus menyampaikan terima kasih kepada para pengajar, bahkan motivator kelas dunia, yang rela datang ke pedalaman untuk membangun generasi di tanah pegunungan Papua.
Dengan kelulusan angkatan kedelapan ini, Program Yahukimo Cerdas bukan sekadar program pendidikan, tetapi telah menjadi gerakan misi sosial yang membangun harapan di tengah keterbatasan.
Empat puluh satu guru muda kini bersiap menuju kampung-kampung, membawa buku, semangat, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan bagi Yahukimo. (ADM)






























