
Head of Imaji Papua, Yulika Anastasi menyampaikan sambutan pada pemutaran film dokumenter “Agus Ohee, Sang Maestro Seni dari Tanah Tabi”, Sabtu (6/6/2026) malam di Lapangan Kampung Yoka.
JAYAPURA (PB.COM) – Warga Kampung Yoka sangat bangga ketika salah satu warganya yang sangat terkenal dengan ribuan karya seninya yang menghiasi tempat-tempat strategis di Tanah Tabi, diapresiasi dalam sebuah karya audiovisual, “Agus Ohee, Sang Maestro Seni Dari Tanah Tabi”.
Film Dokumenter Agus Ohee produksi Imaji Papua, salah satu komunitas Film di Kota Jayapura ini didukung LPDP Dana Indonesiana dan Kementerian Kebudayaan ini. Setelah dirilis beberapa waktu lalu, Sabtu (6/6/2026) malam, Imaji Papua menunaikan kewajiban moralnya dengan menayangkan film documenter tersebut di tanah kelahiran sang maestro seni, yakni di Kampung Yoka.

Malam minggu itu menjadi malam yang hangat bagi warga Yoka yang berbondong-bondong datang ke lapangan bola di kampung itu. Mereka ingin menyaksikan langsung film yang menceritakan realitas kehidupan secara faktual dari sang maestro sejak awal menekuni seni lukis maupun ukiran hingga separuh hidupnya dihabiskan untuk terus berkarya.
Ondoafi Kampung Yoka, Viktor Ohee memberikan apresiasi kepada tim Imaji Papua yang telah melihat potensi kampung dan mengangkat kisah sang maestro seni Agus Ohee. Singkat, ia mengajak warga untuk menjaga adat dan budaya agar tidak punah. “Ayo kita lestarikan budaya jkita agar jangan sampai punah.”
Salah satu pemuda Kampung Yoka, Ben Olua mengaku sangat termotivasi setelah menonton film documenter Agus Ohee. Sang maestro yang ia sapa dengan sebutan tete (kakek), layak menjadi ikon seni budaya di Kota Jayapura. Menurut Olua, sudah seharusnya Kampung Yoka menjadi Kampung Wisata.

Sebagai seorang pemandu wisata (tour guide), ia ingin agar tokoh-tokoh adat, apparat pemerintahan kampung, mendorong ke pemerintah kota melalui Dinas Pariwisata Kota Jayapura untuk menjadikan Kampung Yoka sebagai kampung wisata. Bisa dimulai dengan membuat pelatihan bagaimana menyambut tamu yang dating di kampung, baik tamu local maupun turis dari luar negeri.
“Saya punya harapan, kapal pesiar yang membawa turis-turis internasional bisa singgah di Kampung Yoka, melihat langsung karya-karya seni yang luar biasa dengan cerita di balik karya seni itu,” ujar Olua. Ia optimis kampungnya akan maju dan terbangun secara ekonomi kalau semua pihak mendukung Kampung Yoka menjadi kampung wisata seni budaya.
Dukungan serupa juga datang dari salah satu guru SD Negeri Inpres Kampung Yoka, Yolanda Ohee. Ia berterima kasih karena film ini diangkat dan menjadi motivasi bagi anak-anak didik yang menurutnya banyak yang memiliki bakat seni tetapi belum terasah karena keterbatasan pengajar.

“Anak-anak di kampung ini mereka punya minat dan bakat yang luar biasa tapi tidak ada guru yang khusus mengajar seni di sekolah,” ucapnya. Ia mengungkapkan, di sekolahnya ada guru yang khusus mengajar Bahasa Sentani. Sayangnya hingga saat ini tidak menjalankan tugasnya mengajar. Bila pelajaran Bahasa Sentani dialhkan ke pelajaran seni, dengan mengambil sang maestro sebagai guru, ia optimis ada penerus seniman-seniman muda dari Kampung Yoka.
“Kalau ada guru seni seperti ini, anak-anak kita bisa tampil di iven-iven penting karena setiap tahun iven budaya yang pemerintah kota buat, kami tidak pernah ikut,” ungkap Yolanda. Ia berharap kepada pemangku-pemangku kepentingan agar hal inilah yang harus dimasukkan di dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah.
Program Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro
Head of Imaji Papua, Yulika Anastasia mengungkapkan alasan kisah Agus Ohee menjadi diangkat menjadi sebuah film dokumenter. Awalnya ia mencoba mengusulkan sosok Agus ke LPDP Dana Indonesia Indonesia yang mengelola dana abadi kebudayaan dan Kementerian Kebudayaan.

Menurut Yulika, syarat dari LPDP, sosok yang diusulkan harus layak dianggap seorang maestro karena program mereka adalah dokumentasi karya pengetahuan maestro. Syarat lainnya, usia maestro harus 60 tahun.
Ia harus mencari sosok yang definisinya sesuai usia 60 tahun untuk meyakinkan founding bahwa dia layak diangkat dalam film sesuai program dokumentasi karya pengetahuan maestro. Ketika melakukan shooting, Agus masih di bawah 60 tahun tetapi setiap sejarah karyanya sangat luar biasa, dalam arti tidak banyak seniman di Jayapura atau di Papua yang punya portofolio karya sebanyak Agus.
“Menurut kami sangat layak dan mendapatkan legitimasi karena sosok Agus ini adalah penerima Anugerah kebudayaan tahun 2024 oleh Pemerintah kota Jayapura,” terang Yulika. Ketika ia mengajukan sosok Agus, meskipun secara umur belum 60 tahun, tetapi syukurnya diterima dan bisa digolongkan maestro.

“Proses kreatif masih terus berjalan sampai hari ini. Tentu setelah pemutaran film ini di kampung kaka Agus, kami punya harapan agar bisa membawa film ini jauh, diputar di berbagai kampung atau di kota-kota lain atau bahkan di luar Papua sehingga sosok Agus ini bisa dikenal sebagai salah satu pelaku budaya. Kalau saya boleh bilang, kaka Agus adalah salah satu asset Papua yang berbeda dalam kontribusinya di bidang seni budaya,” kata Yulika.
Untuk mengerjakan film ini, Yulika mengakui melewati proses kreatif yang cukup Panjang. Waktu produksinya sekitar 10 bulan, di mana 3 bulan melakukan riset, shooting sekitar dua minggu. Setelah itu pascaproduksi sekitar 4 bulan, masih ada tahap koreksi lagi.
Harapan Yulika dengan pemutaran film ini dapat memotivasi adik-adik generasi muda untuk berkarya sehingga adat dan budaya yang terukir dalam seni relief ukiran maupun lukisan di ornament-ornamen daerah tetap terjaga kelestariannya. Karena karya-karya kaka Agus ini banyak sekali, saya sendiri sebetulnya menghitung tidak sanggup motivasi generasi muda saat ini sudah banyak yang tahu di sini relief yang setiap hari kita lihat itu siapa punya karya harapan kami tentu

Selain film documenter Agus Ohee, tim Imaji Papua juga memutar film “Jual Babi”, yang menceritakan perjuangan seorang ibu tunggal dan seorang anak laki-laki yang harus merelakan anak babi kesayangannya dijual untuk bisa melanjutkan sekolah.
Kemudian film Jam’u, Cerita Rakyat Suku Irarutu, Bintuni-Papua Barat “Asal Mula Kasuari Tidak Bisa Terbang” yang dibuat dalam bentuk animasi dan film documenter “Yawa Datu”, cerita tentang anak-anak muda penjaga hutan dan tour guide di Kampung Nimbokrang yang memandu wisatawan bisa melihat burung surga Cenderawasih di alam dan hutan yang masih terjaga.
30 Tahun Berkarya di Tanah Tabi
Dalam 30 tahun berkarya di bidang seni, Agus Ohee telah menghasilkan banyak karya yang menghiasi kantor – kantor penting di Papua. Seperti seni relief pada pagar belakang Kantor Gubernur Papua, bekas kantor MRP lama (sekarang Kantor Dishub Papua), seni relief pada pagar Stadion Lukas Enembe, ornamen beberapa gereja, ornamen hotel, pertokoan dan lain sebagainya.

Agus Ohee, sang maestro seni dari Tanah Tabi dan karya-karyanya yang unik dan bernilai seni tinggi.
Agus Ohee dalam setiap karya selalu mengangkat tentang motif tradisional seperti Yoniki dan Fouw yang merupakan induk ukiran budaya Sentani.
Agus juga menguasi berbagai medium seni, mulai dari ukiran, relief, lukisan kaca, motif batik Papua hingga patung kayu dan semen. Ciri khas seni lukis Agus Ohee terletak pada teknik pewarnaan. Salah satunya, ia menggunakan cat tembok sebagai pewarna.
Dalam seni dekoratif Papua misalnya, gaya-gaya motif yang ia kembangkan menjadi sebuah lukisan itu tujuannya supaya ciri khas tersendiri. Setiap karyanya ia ilhami dari kehidupan masyarakat di danau yang mempunyai teknik-teknik untuk menangkap ikan.

“Selain menebar jaring, ada juga keramba tancap orang Sentani namanya Yoniki. Jadi limbah-limbah alam akan ditempatkan di suatu tempat di mana ikan itu bisa datang dengan jenis apa saja yang ada di danau untuk berkembang biak di sana, bermain dan di sana jadi rumah untuk mereka hidup. “Jadi ikan ini dibuat dari motif dan simbol ikan ini memiliki kekuatan, daya dan ciri khas yang mengajak kita untuk menempuh sesuatu itu harus dengan strategi yang bagus untuk mendapatkan hasil,” cerita Agus.
Untuk menjadi seorang maestro, Agus menempuh jalan panjang yang tak mudah. Ia belajar dari ahli hingga bisa menghasilkan karya dengan ciri khasnya sendiri. Ia bermain warna menggunakan cat akrilik yang menurut dia lebih cepat proses pengeringannya dibanding menggunakan cat minyak. Ia juga memperhatikan setiap detail dalam lukisan maupun ukirannya termasuk teknik gradasi warna yang sesuai. (Frida Adriana)







































