Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa disambut seorang anak SD di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya dengan kalung bunga saat kunjungan kerjanya, Selasa, 15 September 2026.

GUBERNUR Meki Fritz Nawipa, SH dan Wakil Gubernur Deinas Geley, S.Sos,M.Si sepanjang September 2026 melakukan kunjungan kerja ke lima kabupaten di Provinsi Papua Tengah. Kunker itu dimulai dari Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya dan Puncak Jaya. Tersisa, Puncak Jaya, Mimika dan Nabire yang mungkin saja tinggal menunggu waktu sesuai jadwal.

Kunjungan kepala daerah defenitif pertama Provinsi Papua Tengah kali ini tak seperti biasanya. Dengan membawa formasi lengkap Forkopimda mulai dari Kapolda, Danrem, Kabinda bersama sejumlah pimpinan OPD teknis, Meki dan Deinas juga hadir membawa program nyata dan sejumlah bantuan langsung untuk menjawab kebutuhan rakyatnya di sejumlah sektor. Mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, energi hingga keagamaan.

Terlihat di setiap momen kunker itu, Meki maupun Deinas tampak menyerahkan bantuan program KO HARUS SEHAT bagi rumah sakit dan Puskesmas beserta sejumlah bantuan peralatan kesehatan di setiap kabupaten. Keduanya juga meletakkan batu pertama pembangunan sejumlah sarana sekolah berpola asrama, memberikan laptop bagi siswa/sisi peserta Festival Budaya Papua Tengah, menyerahkan bantuan puluhan sepeda motor bagi pemuda untuk usaha transportasi ojek, hingga bantuan dana pembangunan gereja.

Kebiasaan kunker ala Gubernur Meki Nawipa dan Deinas Geley ini rupanya menyambung semangat dan gaya kepemimpinan di era Gubernur Papua 2006-2011 Drs. Barnabas Suebu. Pasangan yang akrab dikenal MEGE ini berkunjung ke kabupaten tak sekadar untuk memberikan bantuan, tetapi juga melihat dan mendengar langsung keluhan, aspirasi, dan kebutuhan nyata warganya. Ini sebuah tradisi pemerintahan yang bagus. Apalagi berkaca pada kondisi geografis Papua Tengah yang relatif luas dan terisolir, rakyat tentu senang menerima kunjungan sang pemimpinnya.

Dalam kacamata politik, kecenderungan rakyat dimana pun lebih menyukai gaya pemimpinnya yang turun langsung ke tengah mereka atau dikenal sebagai blusukan ala Presiden Jokowi, dibandingkan sekadar interaksi digital di media sosial didasari oleh beberapa faktor psikologis dan sosiologis yang kuat. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara lebih menghormati pemimpin yang tak berjarak saat memerintah. Mereka butuh pemimpin yang hadir tanpa sekat dan membuka telinga dan hatinya mendengar setiap jeritan dan kebutuhan rakyat.

Publik tentu sepakat dengan apa yang disampaikan Wakil Gubernur Deinas Geley di Paniai. Bahwa ia dan Gubernur Meki Nawipa hadir ke setiap daerah dalam kunjungan kerja adalah bagian dari upaya membayar “utang janji politik” dengan program nyata. Ada kesadaran yang patut dicontoh dari MEGE karena ingin melihat rakyat, tidak sebagai obyek traksaksi politik semata alias abis Pilkada, menang dan lupa daratan, tetapi memuliakan rakyat sebagai subyek yang siap dilayani, dihargai dan ditolong agar sama-sama bangkit membangun daerah.

Hadir Menjadi Inspirasi

Dalam setiap kunjungan kerja, Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley terbang membelah langit dan mendarat di setiap bandara kecil. Dari langit yang mereka lintasi dengan burung besi dalam cuaca tak menentu dan berubah-ubah, ratusan hingga ribuan rakyat sedang mendoakan dan menunggu mereka di daratan. Siap menyambut keduanya di pintu bandara atau gapura kampung ucapkan selamat datang.

Ada satu realita menarik dalam kunjungan Meki Nawipa dan Deinas Geley sepanjang September 2026 ini. Kamera jurnalis dan fotografer merekam dengan jelas antusiasme anak-anak sekolah, baik SD, SMP dan SMA/SMK menyambut Meki Nawipa dan Deinas Geley. Kedua pemimpin ini disambut hangat penuh hormat dengan pengalungan, membangun dialog personal, berjabatan tangan, memeluk erat, dan berfoto bersama. Di antaranya, terdapat satu dua orang siswa yang diberi kepercayaan dan kesempatan istimewa untuk memberikan kalung bunga menyambut gubernur dan dan wakil gubernur.

Tradisi ini mungkin hal lumrah atau terlihat biasa saja. Tapi tidak bagi seorang anak sekolah dari keluarga tak mampu yang tinggal di pinggiran Moanemani, Waghete, Enarotali, Sugapa atau Ilaga. Ada rasa bangga dan haru saat mereka bisa bertemu seorang pemimpin besar sekelas gubernur atau presiden. Ini adalah momen langka, bahkan sebuah anugerah. Bukan semata bantuan yang ia terima, tetapi karena kehadiran sang pemimpin itu memberi efek positif yang tak bisa dilupakan sepanjang hidup mereka.

Menurut psikologi pendidikan, satu fenomena umum ialah mimpi dan cita-cita anak meniru pemimpin inspiratif berkaitan erat dengan teori belajar sosial (social learning theory) dan proses pembentukan identitas. Anak-anak adalah pengamat yang luar biasa, dan mereka membangun gambaran masa depan mereka berdasarkan apa yang mereka lihat di lingkungan mereka.

Dalam tahap perkembangan psikososial ala teori Erik Erikson, anak-anak dan remaja sedang mencari identitas diri (identity vs role confusion). Pemimpin inspiratif berfungsi sebagai jangkar identitas. Ketika anak belum memahami sepenuhnya potensi diri mereka, mereka meminjam cetak biru kesuksesan dari pemimpin yang mereka kagumi untuk dijadikan cita-cita pribadi. Di sinilah MEGE hadir menjadi inspirasi bagi anak-anak sekolah yang ditemuinya.

Menariknya, di setiap kunjungan kerja itu, Meki Nawipa selalu memotivasi anak-anak untuk bangkit menjadi pemimpin di negerinya sendiri. Tentu lewat proses pendidikan: belajar dan terus belajar. Meki sendiri yang seorang anak guru agama, bisa terbang keliling dunia sebagai pilot, dan kini menjadi orang nomor satu di Papua Tengah. Kisah hidupnya, maupun Wakil Gubernur Deinas Geley, tentu menjadi inspirasi dan teladan bagi anak-anak yang mendengarnya.

Pendidikan Gratis Wujudkan Mimpi

Tak hanya hadir memotivasi dengan kata-kata belaka, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley rupanya sedang membuka jalan bagi anak-anak Papua Tengah dari keluarga tidak mampu. Hal itu terlihat dari kebijakan program pendidikan gratis bagi siswa SMP, SMA, SMK, SLB termasuk asrama sekolah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah.

Tercatat pada tahun 2026 ini, Dinas Pendidikan telah menyalurkan anggaran sebesar Rp77,851 miliar khusus untuk membiayai program pendidikan gratis 58.920 siswa/siswi. Program ini terbagi dengan dua fokus besar yaitu menjamin akses pendidikan gratis jenjang SMP, SMA dan SMK, asrama sekolah dan meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan bagi ribuan tenaga pengajar yang bertugas di daerah terpencil maupun pusat kota.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah Nurhaidah, SE, di tahun 2025, program sekolah gratis telah membiayai 132 sekolah SMA, SMK, SLB dengan sebaran siswa sebanyak 26.951 siswa yang tersebar di delapan kabupaten. Sedangkan tahun 2026 kami membiayai lagi SMP sebanyak 148 sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 26.511 anak. Maka total keseluruhan sekolah SLB, SMP, SMA, SMK yang menerima dana BOSDA sebanyak 187 sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 53.951 anak.

Tak hanya untuk siswa pendidikan dasar, pemerintah provinsi papua Tengah juga mulai sejak tahun 2025 telah membiayai 5.216 mahasiswa yang tersebar di 25 kampus se-Papua Tengah untuk membiayai SPP/TKA, PKL dan wisuda.

Selain kebijakan pendidikan gratis, ada beberapa program prioritas pendidikan lain untuk mendukung percepatan penuntasan Anak Tidak Sekolah (ATS) se-Papua Tengah yang masih sangat tinggi. Pertama, kolaborasi program dengan mitra terutama Dinas Pendidikan dari delapan kabupaten, lima yayasan pelopor pendidikan di tanah Papua dan mitra pendidikan lainnya.

Sesuai PP 106 tahun 2021, kewenangan pengelolaan semua satuan pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK sudah menjadi kewenangan kabupaten, sedangkan kewenangan provinsi sudah dibatasi hanya mengelola sekolah luar biasa (SLB). Hampir begian besar sekolah-sekolah yang di pedalaman adalah sekolah YPPGI dan sekolah YPPK, sedangkan di pesisir dominan sekolah YPK.

Kedua, bantuan biaya sekolah berpola asrama. Sejak tahun 2025, Dinas Pendidikan Papua Tengah telah membiayai 13 asrama yang dikelola oleh lembaga keagamaan di Papua Tengah dengan jumlah siswa sebanyak 1.009 anak yang tersebear di enam Kabupaten. Pemerintah Provinsi Papua memfasilitasi anak-anak berprestasi dari keluarga tidak melalui beberapa asrama seperti kerjasama dengan Sekolah Genius Tangerang, asrama Meepa Boarding School di Nabire dan SMA Meepago di Nabire.

Ketiga, Sekolah Sepanjang Hari (SSH). Program SSH sudah dilaksanakan sebagai upaya percepatan pembangunan SDM Papua Tengah melalui penguatan pendidikan yang lebih terstruktur, aman dan terarah sesuai Rencana Pembangunan Papua Tengah. Tahun 2025 melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, ada 10 sekolah dasar yang menjadi pilot project SSH di Papua Tengah yang tersebar di delapan Kabupaten dengan sasaran siswa yang terlayani sebanyak 2.021 siswa.

Keempat, program pengadaan dan penempatan tenaga guru Mapega di daerah 3T. Menurut dia, kekurangan guru di sekolah-sekolah daerah 3T juga menjadi faktor utama banyak anak tidak bersekolah. Data menunjukkan, tahun 2025, provinsi Papua Tengah telah merekrut dan menempatan sebanyak 274 guru di daerah-dareah 3T. Tahun 2026 menambah kuota menjadi 500 tenaga guru Mapega di daerah 3T.

Kelima, penguatan kapasitas guru melalui percepatan RPL dan PPG.
Adanya anak drop out dan anak tidak melanjutnya sekolah ke jenjang berikut karena faktor ekonomi orang tua dan letak geografis, juga disebabkan karena banyak sekolah mengalami kekosongan guru, terutama sekolah-sekolah di daerah 3T. Targetnya, sebelum tahun 2029 sisa 2.175 guru yang belum tersertifikasi bisa kami tuntaskan.

Aneka kebijakan mulia ini harus terus dikawal dan didukung agar berjalan efektif. Sebab ini adalah investasi mahal jangka panjang yang selama ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang selama ini masih menderita di atas tanahnya yang kaya emas. Bayangkan saja, lima atau sepuluh tahun ke depan, berkat pendidikan gratis, di setiap rumah memiliki seorang sarjana yang akan menjadi tiang rumah: tiang yang menopang ekonomi dan pendidikan bagi adik dan anaknya. Ini tentu menjadi jembatan emas peradaban yang membuat anak-anak Papua Tengah yang datang dari keluarga tidak beruntung, berani menggapai mimpi dan cita-citanya. Dan merekalah yang akan kelak tampil memimpin Papua Tengah ke depan.  (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments Box