Senyum Bahagia anak-anak di distrik Holuwon saat foto bersama Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli dan rombongan usai proses rekonsiliasi. Proses belajar mengajar didaerah itu dipastikan akan Kembali berjalan dengan normal.

YAHUKIMO (PB.COM) – Upaya memulihkan luka sosial pasca pembunuhan seorang guru di Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo, akhirnya memasuki babak penting. Pemerintah daerah, tokoh gereja, serta masyarakat setempat menggelar rekonsiliasi terbuka pada Minggu (15/03/2026), sebagai langkah memulihkan hubungan sosial sekaligus memastikan keamanan bagi tenaga pendidik di wilayah tersebut.

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli hadir langsung di Distrik Holuwon bersama sejumlah pejabat daerah dan tokoh gereja untuk mengikuti proses rekonsiliasi yang diprakarsai gereja, pemerintah, dan masyarakat. Rekonsiliasi ini menjadi respons atas peristiwa tragis pembunuhan ibu guru Melani Wamea yang sempat mengguncang masyarakat pada Oktober 2025 lalu.

Dalam pertemuan yang berlangsung di lingkungan gereja tersebut, turut hadir Presiden Usman Kobak bersama pimpinan yayasan pendidikan di bawah naungan Gereja Injili di Indonesia.

Komitmen Bersama Menjaga Daerah Injil

Bupati Didimus Yahuli mengatakan bahwa rekonsiliasi ini merupakan momen penting untuk memulihkan kepercayaan serta memastikan bahwa tragedi serupa tidak akan pernah terulang kembali.

“Semua tokoh masyarakat di sini sudah sepakat di dalam gereja bahwa kejadian pembunuhan terhadap guru itu tidak akan terulang lagi. Ini harus menjadi yang pertama dan terakhir,” ujar Didimus Yahuli.

Menurutnya, Distrik Holuwon dan Distrik Hilipuk merupakan wilayah pelayanan gereja yang berada dalam satu Klasis GIDI Holuwon. Karena itu, masyarakat di wilayah tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

“Ini daerah Injil. Karena itu masyarakat wajib menjaga keamanan dan ketertiban. Anak-anak harus bisa sekolah dengan bebas dan guru-guru harus diterima dengan baik,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa sejak kejadian tragis tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah merasakan duka mendalam. Namun melalui rekonsiliasi ini, seluruh tokoh masyarakat, gereja, dan pemerintah telah menyatakan komitmen bersama.

Kesepakatan tersebut bahkan dituangkan dalam bentuk pernyataan bersama yang ditandatangani para tokoh masyarakat di dalam gereja sebagai simbol tanggung jawab kolektif menjaga keamanan para guru.

Pelaku Ternyata ODGJ

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Didimus juga mengungkapkan fakta terbaru terkait pelaku pembunuhan ibu guru tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan aparat penegak hukum serta pemeriksaan medis, pelaku berinisial EB diketahui merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Kami juga mau sampaikan bahwa setelah diselidiki, pelaku pembunuhan itu ternyata mengalami gangguan jiwa berdasarkan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Jiwa di Abepura,” kata Didimus Yahuli.

Informasi tersebut, lanjutnya, diperoleh dari laporan resmi pihak kepolisian.

Dengan fakta tersebut, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya melihat persoalan ini dari sisi kemanusiaan, tanpa mengabaikan proses hukum yang berjalan.

Selain itu, sebagai bagian dari proses pemulihan sosial, masyarakat suku Yali di wilayah tersebut telah melakukan pendekatan adat kepada keluarga korban.

“Masyarakat Yali di sini sudah secara adat datang meminta maaf kepada keluarga besar ibu guru yang meninggal dunia,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli juga menegaskan bahwa dalam kondisi apa pun tindakan pembunuhan tidak dapat dibenarkan, terlebih jika korbannya adalah seorang guru yang datang untuk melayani pendidikan anak-anak di daerah. Ia menekankan bahwa setiap tindakan kekerasan harus diproses sesuai hukum yang berlaku agar memberikan efek jera serta menjadi pelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali di Yahukimo.

Rekonsiliasi untuk Memulihkan Kepercayaan

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli didaulat memberikan sambutan disela rekonsiliasi bersama di distrik Holuwon.

Kasus pembunuhan yang menimpa Melani Wamea pada 10 Oktober 2025 sempat memicu kekhawatiran di kalangan tenaga pendidik di wilayah pedalaman Yahukimo.

Namun melalui kerja sama berbagai pihak, pelaku akhirnya berhasil diamankan setelah menyerahkan diri kepada aparat.

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito sebelumnya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Distrik Holuwon yang telah berperan aktif membantu kepolisian.

“Polda Papua memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Distrik Holuwon yang telah berperan aktif membantu kepolisian sehingga pelaku bersedia menyerahkan diri,” ujarnya pada Desember 2025.

Proses penyerahan diri tersebut melibatkan pendekatan persuasif dari berbagai unsur, mulai dari aparat kampung, pemerintah distrik, pemerintah daerah, anggota DPR, hingga dukungan masyarakat setempat.

Keberhasilan itu menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan aparat keamanan sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah pegunungan Papua.

Pendidikan Tetap Berjalan

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli dan rombongan melihat langsung bangunan sekolah di distrik Holuwon. Proses belajar mengajar didaerah itu dipastikan akan Kembali berjalan dengan normal

Usai kegiatan rekonsiliasi, Bupati Didimus Yahuli juga meninjau pembangunan ruang kelas sekolah dasar milik Yayasan Pelayanan Papua Nenda (Yapenda) yang sebelumnya sempat terhenti akibat peristiwa pembunuhan guru tersebut.

Kunjungan tersebut menjadi simbol bahwa pemerintah daerah ingin memastikan aktivitas pendidikan di wilayah Holuwon dapat kembali berjalan normal.

Selain itu, Bupati juga menyerahkan sejumlah bantuan kepada Masyarakat, diantaranya  berupa beras sebanyak 1.100 ton sebagai bentuk dukungan pemerintah kepada warga di wilayah tersebut.

Bupati Didimus Yahuli menegaskan, keamanan bagi tenaga pendidik menjadi prioritas pemerintah daerah karena pendidikan merupakan fondasi penting bagi masa depan generasi muda Yahukimo.

Dengan rekonsiliasi yang telah disepakati bersama, pemerintah daerah berharap Distrik Holuwon dan Hilipuk dapat kembali menjadi wilayah yang aman, damai, dan ramah bagi para guru serta tenaga pelayanan lainnya.

“Anak-anak di sini harus bisa sekolah dengan bebas, dan guru-guru harus datang mengajar tanpa rasa takut,” pungkas Didimus Yahuli.

Apresiasi dan Syukur Kadis Pendidikan

Senada dengan Bupati, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo, Akso Balingga yang turut hadir dalam rombongan pemerintah daerah mengungkapkan bahwa tragedi pembunuhan yang terjadi pada Oktober 2025 lalu membawa dampak besar terhadap aktivitas pendidikan di Distrik Holuwon. Ia menjelaskan bahwa sejak peristiwa pembunuhan terhadap guru Melani Wamea di SD John Wilson Holuwon, proses belajar mengajar di sekolah tersebut sempat terhenti karena para guru mengalami trauma. “Sejak kejadian bulan Oktober sampai hari ini tidak ada proses belajar mengajar di SD John Wilson Holuwon. Guru-guru trauma sehingga siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik,” ujarnya.

Namun demikian, ia bersyukur karena proses rekonsiliasi yang dilakukan oleh pemerintah, gereja, dan masyarakat telah membuka jalan bagi pemulihan dunia pendidikan di wilayah tersebut. Dalam kegiatan rekonsiliasi itu, seluruh tokoh masyarakat dari Distrik Holuwon dan Distrik Hilipuk bersama tokoh gereja menyatakan pengakuan bersama atas peristiwa yang terjadi serta berkomitmen untuk menjaga keamanan para guru di masa mendatang.

Menurut Akso, setelah doa dan penguatan yang dipimpin Presiden Usman Kobak, masyarakat menyepakati bahwa tragedi kemanusiaan seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kesepakatan tersebut bahkan dituangkan dalam pernyataan sikap bersama yang ditandatangani para tokoh masyarakat sebagai bentuk komitmen menjaga keamanan wilayah.

Ia memastikan bahwa proses pendidikan akan segera kembali berjalan. Mulai Senin, kegiatan belajar mengajar di sekolah John Wilson Holuwon akan kembali dilaksanakan, baik untuk tingkat PAUD maupun sekolah dasar. Pihak dinas pendidikan juga telah melakukan penyesuaian dengan menunjuk kepala sekolah baru untuk SD maupun PAUD, sementara para guru yang sebelumnya sempat meninggalkan wilayah tersebut kini telah kembali untuk melanjutkan pelayanan pendidikan.

“Puji Tuhan, anak-anak sangat senang karena guru-guru mereka sudah kembali. Ini menjadi tanda bahwa pemulihan sedang terjadi sehingga ke depan mereka bisa belajar dengan baik,” katanya.

Akso menambahkan bahwa keterlambatan proses belajar mengajar selama beberapa bulan tentu berdampak pada proses penilaian akademik siswa, terutama karena saat ini telah memasuki semester genap. Namun pihaknya optimistis para siswa tetap dapat mengejar ketertinggalan sebelum memasuki masa ujian kenaikan kelas.

Di akhir keterangannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Yahukimo serta pimpinan gereja yang telah turun langsung ke wilayah tersebut untuk memberikan penguatan kepada masyarakat.

“Saya selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo menyampaikan terima kasih kepada pimpinan kami, Bapak Bupati, dan juga Presiden GIDI yang telah datang memberikan penguatan, nasihat, dan dorongan agar pendidikan di Yahukimo harus tetap berjalan dan terus maju ke depan,” pungkasnya. (ADM)

 

Facebook Comments Box