Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli (pakai topi hitam), didampingi Bupati Jayawijaya, Wakil Bupati Yahukimo, Esau Miram dan unsur forkopimda menemui para korban pertikaian di Posko Yahukimo. Bupati Yahukimo dan rombongan dalam kesempatan itu memberikan bantuan kemanusiaan berupa uang dan bahan makanan.

WAMENA (PB.COM) – Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus memberikan respons tegas terkait peristiwa pertikaian yang terjadi di Woma, wilayah Kabupaten Jayawijaya, pada Kamis (14/5/2026). Tindakan kekerasan yang menimbulkan korban jiwa, termasuk anak-anak dan kaum ibu, itu dinilainya bukan lagi bagian dari perang adat, melainkan perbuatan keji yang melanggar nilai kemanusiaan.
‎
‎Pernyataan sikap itu disampaikan Bupati Didimus yang turut didampingi Wakil Bupatinya Esau Miram, usai mengikuti rapat koordinasi yang melibatkan unsur Forkopimda Provinsi Papua Pegunungan, serta jajaran pimpinan daerah dan unsur keamanan dari Kabupaten Lanny Jaya, Jayawijaya, dan Yahukimo, di Wamena, Minggu (17/6/2026). Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Pangdam, Danrem, serta perwakilan Polda setempat guna mencari solusi atas ketegangan yang terjadi.
‎
‎Dalam keterangannya, Bupati Didimus mengecam keras tindakan brutal yang terjadi. Ia menegaskan, apa yang terjadi tidak dapat dibenarkan dengan alasan adat istiadat. Menurutnya, masyarakat dari suku Yali dan Mek sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan akar masalah perselisihan, namun justru menjadi sasaran serangan saat sedang tidur, sementara tempat tinggal mereka dibakar.
‎
‎”Ini adalah tindakan sepihak yang sangat keji, sadis, dan tidak berperikemanusiaan. Korban melibatkan anak-anak dan ibu-ibu. Ini pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan dan murni pemberlakuan hukum rimba yang tidak terhormat,” tegas Bupati Didimus.
‎
‎

Suasana rapat koordinasi yang melibatkan unsur Forkopimda Provinsi Papua Pegunungan, serta jajaran pimpinan daerah dan unsur keamanan dari Kabupaten Lanny Jaya, Jayawijaya, dan Yahukimo, di Wamena, Minggu (17/6/2026).

Dalam forum koordinasi tersebut, Bupati Yahukimo juga secara tegas menolak dan melarang penerapan tradisi “bayar kepala” atau uang darah. Ia menilai praktik itulah yang selama ini merusak tatanan sosial, memicu konflik berulang, dan menjerumuskan masyarakat pada lingkaran kekerasan tanpa akhir.
‎
‎”Kami sepakat bersama seluruh kepala daerah dan unsur pengamanan: tidak ada lagi praktik bayar kepala di masa mendatang. Hal ini harus dihentikan demi kebaikan bersama,” ujarnya menegaskan.
‎
‎Pasca peristiwa itu, Bupati Didimus langsung mengunjungi posko kemanusiaan warga Yahukimo untuk memberikan dukungan moril. Ia mengimbau seluruh warganya agar tidak terprovokasi dan terjebak dalam siklus balas dendam. Ia mengingatkan bahwa sesama masyarakat Papua adalah keluarga besar, sehingga setiap masalah sebaiknya diselesaikan melalui dialog dan akal sehat.
‎
‎”Saya minta seluruh masyarakat melepaskan pengampunan, jangan simpan dendam. Serahkan segala keadilan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” pesannya.
‎
‎Bupati juga meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat, menjelaskan bahwa lokasi kejadian di Woma secara administratif masuk wilayah Kabupaten Jayawijaya, dan berjarak sekitar 100 kilometer lebih dari batas wilayah Kabupaten Yahukimo. Meski demikian, karena korban yang terdampak adalah warga Yahukimo dari etnis Yali dan Mek, Pemerintah Kabupaten Yahukimo tetap bergerak cepat memberikan perlindungan dan penanganan.
‎
‎Sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan, Pemkab Yahukimo menyalurkan bantuan senilai Rp500 juta ditambah 4 ton beras untuk korban terdampak. Bantuan ini kemudian dilengkapi oleh Pemkab Jayawijaya yang turut menyalurkan bantuan senilai Rp100 juta dan 1 ton beras guna penanganan darurat.
‎
‎

Penyerahan bantuan kemanusiaan kepada korban pertikaian di Wamena dari pemerintah kabupaten Yahukimo

Guna memulihkan kondusivitas keamanan, masyarakat Yahukimo yang diwakili oleh kepala suku, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan tokoh gereja telah mengeluarkan pernyataan sikap bersama. Mereka mendesak penegakan hukum yang tegas, termasuk menerapkan larangan total membawa senjata tajam maupun senjata tradisional di seluruh wilayah perkotaan, baik bagi warga Yahukimo maupun warga Lanny Jaya.
‎
‎Pemerintah Kabupaten Yahukimo memastikan akan terus mengawal proses pemulihan keamanan dan berencana melakukan kunjungan ke berbagai kelompok masyarakat lainnya. Langkah ini diambil untuk menjamin seluruh warga dapat kembali hidup berdampingan secara damai, aman, dan sejahtera. (ADM)

Facebook Comments Box