
Habelino Sawakih
WAMENA (PB.COM) – Film Pesta Babi bukan sekadar karya seni atau dokumentasi kehidupan masyarakat pedalaman Papua. Bagi Habelino Sawaki, SH., MSi (Han), alumni Universitas Pertahanan Negara RI, film ini adalah jembatan pesan yang dirancang untuk sampai ke telinga pemimpin tertinggi negeri. Dalam pernyataan pers yang disampaikan di Wamena hari ini, Habelino menuangkan lima harapan mendalam jika Presiden Prabowo Subianto bersedia meluangkan waktu untuk menyaksikan karya tersebut—sebuah langkah yang diyakini dapat mengubah cara negara berinteraksi dengan tanah dan masyarakat adat di tanah Papua.
Mendengar Suara yang Jarang Terdengar di Istana
Harapan pertama yang disampaikan Habelino adalah agar Presiden Prabowo melihat film ini sebagai ajakan tulus untuk mendengar suara-suara yang selama ini kerap terpinggirkan dan jarang sampai ke ruang-ruang istana negara. Menurutnya, sebesar apa pun proyek pembangunan yang digagas pemerintah, semuanya akan kehilangan arah dan makna jika tidak berpijak pada kenyataan hidup yang ada di kampung-kampung, di tengah masyarakat yang merasakan langsung dampak dari setiap kebijakan.
“Jika beliau menonton, kami berharap pesan itu dibawa kembali ke dalam rapat kabinet: bahwa kebijakan yang baik tidak lahir hanya dari meja rapat di Jakarta, melainkan dimulai dari duduk bersama, berdialog, dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat adat,” tegas Habelino. Mendengar sebelum memutuskan, lanjutnya, adalah bentuk penghormatan paling dasar dan sederhana yang seharusnya ditunjukkan negara kepada seluruh rakyatnya, tanpa terkecuali.
Evaluasi Proyek Besar: Ketahanan Pangan Tanpa Menambah Luka
Isu pembangunan proyek strategis nasional, khususnya terkait program ketahanan pangan yang digalakkan di berbagai wilayah Papua, menjadi sorotan utama dalam harapan kedua. Habelino menegaskan, ketahanan pangan adalah kepentingan nasional yang mutlak dan harus didukung seluruh elemen bangsa. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan tersebut tidak boleh dibangun di atas luka yang belum sembuh, apalagi mengorbankan hak-hak masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.
Melalui film Pesta Babi, Habelino berharap Presiden Prabowo terdorong untuk memerintahkan peninjauan ulang secara menyeluruh terhadap seluruh tahapan pelaksanaan proyek besar di wilayah ini. Mulai dari proses pembebasan lahan, penetapan dan mekanisme pemberian ganti rugi, hingga keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan—semuanya perlu dikaji ulang agar tidak ada lagi ketidakadilan yang terulang. “Negara menjadi kuat dan dihormati justru ketika ia berani mengakui kekurangannya dan memperbaiki jalannya sendiri di tengah perjalanan,” ujarnya.
Menemukan Titik Temu: Kedaulatan Pangan dan Kehormatan Masyarakat Adat
Poin ketiga menyoroti keseimbangan yang sering kali dianggap sulit disatukan: antara tugas negara menjaga kedaulatan pangan nasional, dan kewajiban menjaga kehormatan serta hak hidup masyarakat adat. Habelino mengacu pada prinsip yang sering disampaikan Presiden Prabowo, bahwa tanah air harus dijaga sepenuhnya.
“Kami berharap Bapak Presiden melihat makna yang lebih luas dari kalimat itu. Menjaga tanah air bukan hanya soal batas wilayah atau produksi pangan, tetapi juga berarti menjaga tanah tempat orang Papua hidup, bertani, beribadah, dan mewariskan budaya mereka kepada anak cucu,” jelasnya. Bagi Habelino, ketika kedua tugas ini disatukan dalam satu kebijakan yang bijak, pembangunan tidak lagi akan dirasakan sebagai ancaman atau gangguan. Sebaliknya, pembangunan akan berubah menjadi gerakan kerja sama dan kemajuan bersama antara negara dan masyarakat.
Dialog Setara: Memulihkan Kepercayaan yang Retak
Sering kali, komunikasi antara pemerintah pusat dan masyarakat daerah berjalan satu arah—sebagai serangkaian instruksi atau ceramah. Melalui harapan keempat, Habelino mendesak agar film ini menjadi pendorong utama lahirnya budaya dialog yang jujur, terbuka, dan setara.
Dialog yang dimaksud bukan sekadar pertemuan formal di mana pemerintah datang membawa solusi yang sudah jadi. Lebih dari itu, Habelino berharap Presiden Prabowo mendorong seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk turun ke lapangan dengan membawa dua hal utama: telinga yang mau mendengar dan kemauan tulus untuk memahami konteks lokal. “Hanya dari percakapan dua arah seperti itulah, kepercayaan yang selama ini retak akibat kesalahpahaman atau ketidakadilan, bisa perlahan disambung kembali,” tambahnya.
Warisan Sejarah: Pemimpin yang Membangun dan Merawat
Pada akhirnya, harapan terbesar dan terluang yang disampaikan Habelino Sawaki berkaitan erat dengan jejak sejarah yang akan ditorehkan Prabowo Subianto sebagai pemimpin bangsa. Jika kehadiran presiden dalam menyimak kisah di balik film ini kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata yang berpihak pada pengakuan hak dan keadilan sosial, maka sejarah akan mencatatnya dengan cara yang berbeda.
“Beliau akan dikenang bukan hanya sebagai pemimpin yang berhasil mempercepat laju pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga sebagai pemimpin yang berani mendengar dan peduli,” tutup Habelino. Di sinilah letak harapan terbesar masyarakat Papua: bahwa negara hadir di tengah mereka bukan sebagai kekuatan yang menaklukkan atau menguasai, melainkan sebagai pelindung yang merawat rakyatnya, di mana pun mereka berada, dengan rasa keadilan yang sama.
Film Pesta Babi kini menjadi lebih dari sekadar karya tontonan; ia telah berubah menjadi surat terbuka yang menanti tanggapan pemimpin negeri. Tanggapan yang bisa menjadi titik balik hubungan antara negara dan masyarakat adat di tanah Papua. (ADM)






























